Kafe Botani & Lidah Mertua

Kafe Botani & Lidah Mertua
Bulan Madu


__ADS_3

Hanya tujuh hari waktu yang didapatkan Rudi untuk berbulan madu Bersama Seruni. Awalnya, ia hanya mendapatkan waktu libur tiga hari. Tapi setelah Rudi menyelesaikan berbagai macam lemburan yang diberikan oleh Pak Rahmat, Rudi akhirnya diberi waktu cuti yang lebih lama dan akomodasi tambahan dari Pak Rahmat. Hotel berbintang sesuai rancangan Rudi dan mobil rental disiapkan untuk Pak Rahmat untuk tangan kanannya ini. Rudi merencanakan bulan madu di Yogyakarta. Pak Rahmat sebenarnya heran dengan pilihan Rudi, kenapa dengan waktu cuti yang lama dan tidak terpotong dari jatah cuti tahunannya ini justru ia memilih destinasi yang bisa dibilang dekat. Tetapi Pak Rahmat memilih untuk tidak menanyakannya dan berharap Rudi dapat menikmati hadiah pemberiannya nanti.


Rudi memiliki alasan tersendiri kenapa ia memilih Yogyakarta. Ia berencana untuk mengajak Seruni untuk mengunjungi tempat-tempat yang dulu mereka datangi selama setahun berpacaran di Yogyakarta. Rudi bertemu dengan Seruni di akhir masa kuliahnya. Seruni yang merupakan mahasiswi baru pada saat itu menarik perhatian Rudi tetapi Rudi sadar kalau waktunya di kampus tidak akan lama lagi dan akhirnya memilih fokus untuk menyelesaikan skripsinya.


Jodoh tidak kemana. Rudi dan Seruni yang sama-sama aktif di Persekutuan Mahasiswa Kristen di Fakultas Teknologi Pertanian justru semakin sering berkomunikasi karena organisasi tersebut sering meminta bantuan pada Rudi untuk pengadaan acara-acara tahunan mereka. Rudi pun sering datang pada acara Retreat tahunan yang diadakan oleh PMK, sembari menyempatkan untuk menyaksikan event kesenian yang sering diadakan di Yogyakarta menjelang akhir tahun. Melalui dua acara itulah akhirnya Rudi memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Seruni. Awalnya, Rudi tidak ingin hubungan mereka diketahui oleh anggota PMK lainnya karena takut membuat mereka menjadi tidak enak untuk meminta bantuan padanya untuk acara Retreat. Tetapi karena mereka yang ketahuan ketika mengantri tiket festival film oleh beberapa anggota PMK yang ingin menonton film lainnya akhirnya membuat mereka tidak bisa menutupinya lagi. Syukurlah semua berjalan lancar dan akhirnya mereka menjadi pasangan suami istri.


Rudi selesai membantu menata pakaian di dalam koper untuk dibawanya nanti bersama Seruni. Seruni mengambil HP lalu memesan taksi online untuk menuju ke stasiun. Rudi berkacak pinggang, melihat sekitarnya untuk mengingat apa yang tertinggal.


“Udah semua kan?” tanya Seruni.


“Harusnya sih udah semua,” jawab Rudi.


Seruni berjalan mendekati Rudi lalu melihat serius pada suaminya.


“Terus apa yang belum?”


Rudi mencium bibir Seruni dengan cepat lalu kembali mundur.


“Cium paginya.”


Seruni mengernyitkan dahinya. Ia merasa aneh dengan kelakuan Rudi yang lebih centil dari biasanya. Sri memperhatikan dari belakang. Ia tersenyum kecil melihat kelakuan suami istri ini. Harapannya yang kemarin sempat pergi kini telah kembali.


“Bentar lagi nyampe taksinya. Udah ayo dibawain barang-barangnya,” ajak Seruni.


Rudi mengambil dua koper dan Seruni mengambil satu koper sisa. Seruni dan Rudi terkejut ketika di arah jalan keluar mereka melihat Sri sudah ada di depan pintu. Mereka berdua tersenyum canggung, menyadari semua kejadian yang sebelumnya terjadi disaksikan oleh Sri.


“Udah semua?” tanya Sri.


“Harusnya sih udah semua, Bu,” jawab Seruni.


Rudi mencoba menahan tawanya. Ia tahu Seruni sedang mengejek dirinya dengan jawaban tadi.


“Ibu mau dibawain apa nanti?” tanya Seruni.


“Ga usah repot-repot. Nikmatin aja bulan madunya. Wes, nunggu di depan aja,” jawab Sri.


Sri berbalik badan lalu meninggalkan depan kamar diikuti Seruni dan Rudi.


...****...


Seruni membuka matanya. Di tengah kesadarannya yang belum pulih, Seruni memandangi sekitarnya. Seruni mengagumi kemewahan kamar hotel yang disiapkan oleh Pak Rahmat. Seruni menarik selimut tebal yang disiapkan oleh hotel untuk menutupi badannya yang tidak memakai sehelai pakaian apapun. Teringat betul sebelum tidur selimut sudah terpasang dengan benar dan adil. Dengan hanya ada Rudi di sampingnya dalam keadaan telanjang pula, sudah pasti suaminya yang memonopoli selimut hingga Seruni bangun begitu pagi. Seruni mencatat dalam pikirannya, siapa tahu suatu saat nanti lupa. Jangan tidur telanjang dan menggunakan AC setelah berhubungan ****.


Seruni melihat ke arah Rudi yang masih tidur dengan, tanpa merasa kedinginan sama sekali. Seruni tersenyum kecil, melihat Rudi yang terlihat seperti anak kecil dalam tidurnya. Sekuat tenaga, Seruni menarik selimut dari arah Rudi dan menyelimuti dirinya sendiri. Seruni tersenyum, berhasil membalas kelakuan suaminya. Rudi mengernyitkan dahinya. Tak lama ia meringkuk telanjang, mencoba menghangatkan diri dari dinginnya AC kamar hotel.


...****...


Seruni dan Rudi keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk Soto Sapi Ngadiran lalu segera memesan soto dan beberapa gorengan tempe. Ada alasan kenapa Rudi memilih tempat sebagai tempat sarapan. Seruni mengenalkan warung soto ini padanya dulu. Rudi termasuk konservatif dalam mengonsumsi makanan. Jika ia sudah merasa cocok dengan suatu tempat, ia tidak akan pindah untuk mencoba makanan lain. Seruni yang kala itu baru beberapa bulan berpacaran dengan Rudi akhirnya berhasil meyakinkan Rudi untuk mencoba warung soto dan beberapa tempat makan lainnya yang ada di Yogyakarta jika nanti Rudi cuti dan mereka bertemu lagi. Ternyata cocok. Rudi yang awalnya ragu dengan tampilan warung soto Ngadiran akhirnya jatuh hati dengan rasa soto sapi yang disajikan oleh warung tersebut.


Seruni dan Rudi selesai dengan sarapan mereka. Jam menunjukkan pukul Sembilan pagi, masih tersisa banyak waktu yang bisa mereka habiskan berdua. Rudi sengaja tidak memberitahu tujuan mereka akan ke mana pada Seruni. Ia hanya akan memberitahu tujuan ketika akan mulai pergi ke tujuan baru. Seruni melihat ke arah Rudi.


“Jadi abis dari sini mau ke mana lagi, mas?”


“Jam sepuluh nanti kamu ada kelas, kan? Ya aku anter ke kampus lah abis ini,” jawab Rudi.


Seruni menggelengkan kepalanya sambal tersenyum.


“Ngapain coba ke kampus?”


“Udah, ikut aja. Nanti juga tau maksudnya,” ujar Rudi.


Seruni tersenyum kebingungan sembari melihat Rudi pergi meninggalkan meja mereka.


...****...

__ADS_1


Rudi memarkirkan mobilnya di luar Fakultas Teknologi Pertanian. Mereka yang sudah bukan lagi mahasiswa di kampus tentu tidak boleh memarkirkan mobilnya dengan bebas. Terlebih ini hari minggu, bagian luar hanya menjadi pilihan mereka. Rudi dan Seruni keluar dari mobil dan berjalan menuju dalam kampus. Seruni mengikuti Rudi yang berjalan di depannya. Terlihat ada beberpa motor yang terparkir di dalam kampus. Bukan pemandangan yang asing sebenarnya, beberpa mahasiswa memang ada yang menggunakan hari minggu mereka untuk berkegiatan di kampus. Oleh karena itu, Agar tidak ketahuan dan diberikan berbagai macam pertanyaan, Rudi memilih menaiki tangga untuk mencapai lantai dua. Seruni mengenali ke mana tujuan akhir Rudi. Ia tersenyum sambal terus mengikuti Rudi. Rudi berhenti di lab pangan dan gizi lalu berbalik badan untuk melihat ke Seruni. Rudi mendapati Seruni tersenyum padanya.


“Ngapain ke sini?” tanya Seruni.


“Kamu inget gak terakhir kali kita di sini itu ngapain?” Rudi balas bertanya.


Seruni tersenyum lepas. Ia teringat kejadian empat tahun lalu.


“Waktu kamu minggu pagi udah di sini buat nemenin aku ngambil data ulang skripsiku yang gagal?” jawab Seruni.


Rudi tersenyum.


“Kita kan sekarang udah nikah. Harusnya saling jujur & terbuka dong. Sekarang aku mau nanya, walaupun dulu kamu udah bilang ke aku. Kamu dulu kenapa sampe seniat itu dateng buat nemenin aku?” tanya Seruni.


Rudi nyengir mendengar pertanyaan Seruni.


“Dulu aku bilangnya aku abis ada kunjungan dari Kulon Progo ya?”


“Kayanya iya. Tapi kamu boong kan?”


Rudi menggaruk kepalanya.


“Iya. Aku emang sengaja niatin buat nemenin kamu ambil data. Kenapa? Aku juga ga tau kenapa. Kalo dipikir-pikir, besoknya libur juga engga. Tapi tetep aja kunekatin buat dateng. Bodo sih sebenernya, gimana coba kalo dulu ternyata abis aku dateng malah beberapa hari setelahnya kita putus?”


Seruni mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Rudi.


“Lah, kok sampe ke situ mikirnya. Kita kan udah nikah sekarang,” ujar Seruni kebingungan.


“Yang pasti, saat itu aku lagi bosen sama kerjaanku.”


Seruni menganggukkan kepalanya.


“Kalo kubilang aku juga dateng karena aku udah yakin sama kamu, kamu bakal bilang aku boong gak?” tanya Rudi.


“Awas ya kalo nanti gombal-gombalnya makin ilang tiap tahunnya.”


Rudi tersenyum mendengar respon Seruni.


“Kalo kamu inget kejadian di sini, kamu inget dong abis itu kita ke mana?” tanya Rudi.


Seruni terdiam sejenak, mencoba mengingat.


“Pantai Gesing?”


Rudi menganggukkan kepalanya. Rudi menggenggam tangan Seruni lalu mereka berjalan bersama meninggalkan depan lab. Dalam hatinya, Seruni masih bingung kenapa untuk mengunjungi pantai tersebut Rudi harus terlebih dulu mengajaknya ke lab.


...****...


Perjalanan menuju Pantai Gesing yang bisa ditempuh selama satu setengah jam ternyata memakan waktu sampai tiga jam karena akhir pekan. Rudi dan Seruni sebenarnya juga tidak terlalu terburu-buru dalam perjalanannya. Beberapa kali mereka berhenti untuk makan siang dan beristirahat sejenak, meluruskan punggung yang terus duduk. Rudi dan Seruni berjalan pelan menyusuri pantai. Suasana pantai cukup ramai, banyak keluarga yang berkunjung untuk mengisi batin mereka sebelum menghadapi kesibukan mereka esok harinya. Rudi dan Seruni menikmati setiap langkah yang mereka jalani. Belum ada kata yang terlempar dari mereka. Kali ini, Seruni mulai mengetahui arah yang dituju Rudi. Kapal terbengkalai yang ada di depan mereka. Terakhir kali mereka ada di pantai ini, kapal tersebut masih terhias dengan cat yang menyolok mata. Warna biru, putih dan merah yang dulu mengkilap kini mulai pudar. Rudi dan Seruni sampai di depan kapal. Rudi terus memandangi kapal tersebut sedangkan Seruni memperhatikan Rudi.


“Terus gimana? Kamu mau aku duduk di kapal kayak dulu lagi?” tanya Seruni.


“Masih kuat engga ya?”


Seruni langsung coba naik ke kapal dan duduk di sana.


“Masih kuat kan?”


Rudi nyengir melihat kelakuan istrinya lalu bersandar sambal bertopang dagu, memandangi Seruni.


“Kamu gak naik?”


“Engga deh, takut gak kuat kalo berdua.”

__ADS_1


“Udah, coba aja. Mau napak tilas kok nanggung-nanggung.”


Perlahan, Rudi menaiki kapal lalu duduk berhadapan dengan Seruni.


“Nah, masih kuat kan? Terus kita mau ngapain lagi abis ini?”


“Ya ngobrol lah, sampe es kelapanya dateng,” jawab Rudi.


“Aku boleh nanya?”


“Boleh dong.”


Terlihat dari kejauhan, Ibu penjual es kelapa melihat sekitarnya sambil membawa dua buah es kelapa. Ia berusaha mencari di mana Rudi dan Seruni berada.


“Bukannya aku gak ngehargain rute bulan madu yang kamu buat ya. Ini aku penasaran aja. Kamu gak buat bulan madu kita full napak tilas gini kan?” tanya Seruni.


Rudi tertawa mendengar pertanyaan Seruni. Ia sadar, cepat atau lambat pertanyaan ini akan muncul.


“Engga kok, cuman hari ini aja. Maaf ya kalo kesannya kayak cuman muasin egoku aja hari ini.”


Ibu penjual es akhirnya melihat Rudi dan Seruni yang duduk di atas kapal lalu berjalan mendekati mereka.


“Kamu ngerasa ada yang aneh gak dari kegiatan kita hari ini. Hari minggu, abis sarapan kita ke kampus terus ke sini. Sama persis kayak empat tahun lalu.”


Seruni mulai mencoba merangkai segala kemungkinan yang muncul di pikirannya. Ibu penjual es datang mendekati Rudi dan Seruni.


“Mas, ini pesenannya ya.”


“Makasih ya Bu. Kembaliannya ambil aja,” ujar Rudi sambal memberikan selembar lima puluh ribu pada Ibu penjual es.


“Makasih ya Mas.”


“Iya, sama-sama.”


Ibu penjual es berjalan meninggalkan Rudi dan Seruni. Rudi mulai menyeruput es kelapa yang dipesannya sembari menunggu apa yang akan diucapkan Seruni.


“Udah kepikiran belum?”


“Belum. Aku cuma ngerasa harinya sama aja,” jawab Seruni sembari meraih es kelapanya untuk diminum.


“Kamu sadar gak kalo kita ngelakuin hal yang sama dari empat tahun yang lalu ini di tanggal dan bulan yang sama?


Seruni berhenti meminum lalu terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Rudi mengingat itu semua.


“Masa sih?”


Rudi mengeluarkan HPnya, lalu membuka catatan yang ia buat di kalender HP. Rudi menunjukkan hasil catatannya pada Seruni. Seruni tersenyum. Rudi mengingat kejadian empat tahun lalu dan memang sengaja membuat rute ini.


“Bener kan?” kata Rudi sembari mengantongi HPnya.


Seruni terus tersenyum sembari mengaduk es kelapanya. Entah semanis apa jadinya minuman yang ada di genggaman Seruni.


“Kalo aku mau usul kita tiap tahun ngelakuin ini di tanggal dan bulan yang sama kamu mau engga? Gak tau sih sampe kapan kita kuat ngejalaninnya, mungkin anak kita nanti bakal bosen juga terus gak mau ikut. Tapi kamu gak perlu nanya kesanggupanku gimana buat ngejalanin ini tiap tahun sama kamu,” ujar Rudi.


Seruni tersenyum memandangi mata Rudi, tidak menjawab. Rudi ikut tersenyum. Kedua pasangan baru ini larut dalam momen ini. Tanpa perlu kata-kata dari Seruni, Rudi mengetahui apa jawaban dari Seruni.


...****...


Rudi dan Seruni duduk di dalam mobil, bersiap untuk meninggalkan Pantai Gesing. Seruni melihat ke arah Rudi yang bersiap untuk memacu mobilnya.


“Abis ini mau ke mana? Ke kosku kayak empat tahun lalu?” goda Seruni.


“Ada hotel bagus kok malah mau ke kosan. Lagian dulu di kos juga gak ngapa-ngapain,” jawab Rudi sambil tersenyum membalas godaan Seruni.

__ADS_1


...****...


__ADS_2