
Seruni melamun memandangi pengunjung kafenya. Situasi kafe yang dipenuhi pengunjung tidak membuat Seruni beralih menjadi memikirkan pengunjungnya. Tidak biasanya ia seperti ini. Seruni memang sering terlihat seperti melamun, tetapi sebenarnya ia memperhatikan para pengunjungnya. Baik dari kesibukan mereka di depan laptop mereka masing-masing, percakapan dengan rekan di depannya atau bahkan ekspresi mereka. Tak jarang ketika Seruni membantu mengantarkan pesanan, ia mendapati pengamatannya tepat. Entah masalah dengan pekerjaan atau kehidupannya. Mengamati orang lain menjadi hal yang semakin disukai Seruni semenjak ia memiliki kafe. Beberapa pengunjung yang mendapati Seruni mengamatinya justru meminta pendapat Seruni mengenai masalah yang mereka hadapi. Terlebih jika suasana kafe sedang sepi. Memiliki seseorang yang bisa mendengarkan masalah yang mereka hadapi menjadi salah satu alasan yang tidak disadari Seruni kenapa banyak pengunjung yang akhirnya kembali ke Kafe Botani. Tetapi tidak kali ini. Pandangan Seruni kosong karena ia mencoba mengingat apa yang membuatnya mendapat perlakuan yang aneh dari Sri tiga hari ini. Ketika Seruni bertanya mau masa kapa, Sri menjawab sekenanya. Datar, tidak terdengar antusias sama sekali. Seruni menawarkan untuk mengantar Sri untuk senam tera mingguan tetapi ditolak tanpa alasan yang jelas. Seruni mencoba mencari tahu tetapi jawaban mengada-ada dengan nada yang agak tinggi yang didapat oleh Seruni. Seruni tidak mengerti. Beberapa hari belakangan memang ia sering terlambat bangun dari biasanya. Alhasil, Seruni tidak membantu menyiapkan sarapan untuk Rudi. Seruni tidak merasa ini adalah alasan utamanya. Ia harus mencari tahu dan segera memperbaikinya.
Diah menepuk pundak Seruni. Diah mengernyitkan dahinya, merasa aneh karena Seruni melamun di tengah ramainya pengunjung.
“Kamu kenapa?”
Seruni menghembuskan nafasnya berat, mencoba meringankan beban pikirannya. Ia terdiam sejenak, berusaha memutuskan untuk menceritakan masalahnya pada Diah atau tidak.
“Gapapa kok Mba. Agak pusing aja tadi,” jawab Seruni.
Diah menggelengkan kepalanya. Diah memang sering melihat Seruni diam memperhatikan pengunjungnya, tetapi kali ini berbeda. Pandangannya benar-benar kosong. Diah sudah bersama Seruni sedari kecil. Ia paham betul bagaimana pandangan Seruni ketika benar-benar memperhatikan atau kosong. Juga dengan jawaban Seruni tadi. Diah tidak langsung mempercayai apa yang didengarnya. Pasti ada yang tidak beres dan Seruni belum siap untuk menceritakan hal yang mengganjalnya pada Diah.
“Mau minum obat dulu engga? Atau istirahat dulu deh,” ujar Diah.
Seruni menggelengkan kepalanya.
“Aku minta kopi aja mba, dari pagi belum ngopi.”
“Ya udah, nanti kubuatin. Jangan ngelamun ya, ga enak diliat sama pengunjung.”
Seruni menganggukkan kepalanya. Diah kembali ke dapur, ada masakan yang perlu dibuatnya. Seruni teralihkan pada suara gemerincing dari pintu masuk. Lisa masuk ke kafe dengan tas ransel di pundaknya. Lisa terlihat agak lusuh, kantong mata mulai menebal dan tidak seperti biasanya ia berpenampilan. Seruni mencoba tersenyum pada Lisa, berniat membuat salah satu pelanggan setianya ini mendapat aura positif yang sebenarnya juga dipaksakan oleh Seruni untuk terpancar.
“Ni, aku pesen yang biasa ya. Tapi gulanya dikit aja. Cemilannya aku pesen roti bakar gula.”
Seruni mengetik pesanan Lisa supaya tersampaikan ke bagian dapur.
“Ni, aku di luar ya. Mau ngerokok,” ujar Lisa.
“Iya, nanti aku anter.”
Lisa tersenyum kecil pada Seruni lalu pergi menuju kursi yang ada di depan Kafe Botani. Seruni masih memperhatikan Lisa. Ia mengeluarkan laptop dari tas ransel lalu mendengarkan sesuatu dari laptop. Seruni melihat ke arah dapur, berharap pesanan Lisa segera datang. Ia penasaran dengan perkembangan kasus Rina. Sampai sekarang, Seruni belum mendengar lagi cerita tentang Rina dari Lisa. Situasinya mungkin lebih rumit dari yang diperkirakan Lisa atau bahkan Seruni. Yang jelas mereka berharap Rina segera ditemukan.
Seruni datang mengantarkan pesanan Lisa. Lisa serius mendengarkan sesuatu dari laptopnya sambil sesekali menghisap rokok yang ada di tangan kirinya. Tidak sering Seruni melihat Lisa merokok. Dan jika Lisa merokok, Seruni paham kalau situasi yang dihadapi Lisa cukup berat. Seruni menghidangkan kopi dan roti bakar gula untuk Lisa. Tindakan Seruni menyadarkan Lisa. Lisa melepas headset dari telinganya lalu melihat ke Seruni.
“Makasih ya, Ni.”
“Sama-sama.”
Lisa menyeruput kopinya lalu terdiam sejenak. Seruni masih memperhatikan catatan yang dibuat oleh Lisa. Suara dari headset yang cukup keras membuat Seruni menyadari kalau Lisa sedang melakukan pengamatan mengenai took tanaman yang ada di sebelah kafenya. Catatan dari Lisa menyimpulkan kalau kepergian Rina ikut dipicu oleh kedatangan Rina ke took tanaman tersebut.
__ADS_1
“Lis, aku boleh duduk di sini?”
“Boleh kok, maaf ya kalo aku ngerokok.”
“Gapapa, santai aja.”
Seruni mengatur pernafasannya sejenak, mencoba memberanikan diri untuk menyampaikan maksudnya duduk di depan Lisa.
“Lis, udah ada kabar dari Rina?”
“Belum. Aku udah coba tanya ke orang tuanya lagi tapi masih belum ada kabar.”
Seruni nampak murung. Setelah terakhir kali ia bertanya mengenai Rina di bulan lalu tetapi masih belum ada titik terang.
“Jadi udah berapa lama Rina gak ada kabar?”
“Udah mau empat bulan. Mantan suaminya juga udah nikah lagi sama selingkuhannya sekarang. Gak tau deh gimana kelanjutannya. Bodo amat. Semoga makin susah hidupnya.”
Seruni teringat kalau beberapa bulan yang lalu, Rina sempat menangis hebat di depan kafe bersama Lisa. Seruni tidak menyangka kalau penyebabnya adalah suaminya sendiri. Seketika perasaan jijik muncul di hati Seruni. Ia berharap suami Rina mendapat karmanya suatu hari nanti.
“Terus, kok bisa kamu sambungin ke toko tanaman sebelah?”
Lisa terdiam sejenak. Teringat pemberiannya dulu pada Rina di acara pertunangan Rina.
Lisa berhenti sejenak lalu menghisap rokoknya. Seruni semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Hal-hal mistis selalu menarik perhatian Seruni meskipun ia sendiri cukup penakut. Ia merasa ada hal aneh yang sepertinya memang terjadi karena itu.
“Aku bercanda waktu itu. Bilang kalo tanaman ini bisa buat nutupin dan ngelindungin keluarga kamu dari masalah yang bisa diliat orang luar. Tapi ternyata, malah sebaliknya. Waktu tanaman itu mulai mekar, sifat asli dari suami Rina keluar. Kerjanya makin males, pasif nyari proyekan, sampe akhirnya selingkuh dari Rina. Awalnya aku juga gak percaya, selingkuh sama males mah kalo emang udah dari sananya begitu ya pasti bakal begitu. Tapi Rina waktu itu bilang dia juga pernah didatengin sama orang aneh yang juga beli tanaman itu. Orang itu bilang kalo keluarganya semakin rusak setelah nanem air mata pengantin di rumahnya. Orang itu juga bilang kalo nanti sampe muncul bunglon di tanaman itu, berarti kita yang nanem harus semakin berhati-hati.”
Seruni betul-betul memperhatikan Lisa. Ia sulit percaya hal yang baru didengarnya. Selama ini ia belum pernah mendengar tanaman bisa memberi pengaruh seperti itu.
“Aku udah nyoba nanya ke Nek Susi yang julana di took itu, tapi dia juga gak tau ke mana Rina pergi. Dia bilang cuman nasihatin Rina aja sebentar terus Rina pergi dari toko. Beberapa kali aku nungguin siapa tau ada orang aneh yang muncul di deket toko tanaman tapi sampe sekarang belum pernah liat dengan mata sendiri.”
Seruni terdiam sedih. Ia tidak menyangka pelanggannya ini harus menghadapi kejadian seperti itu. Sering ia berkomunikasi dengan Rina dulu tetapi tidak pernah ia bercerita mengenai masalah dengan suaminya.
“Kalo bisa, kamu jangan beli apa-apa dulu ya di sana. Takutnya ada apa-apa. Semoga sih engga, tapi jaga-jaga aja.”
Seruni menganggukkan kepalanya perlahan sambil mendoakan yang terbaik bagi Rina di dalam hatinya.
...****...
__ADS_1
Seruni berjalan meninggalkan kamarnya sambil mengeringkan rambut. Jam menunjukkan pukul lima sore dan seperti biasa, Sri sudah sibuk di dapur. Segera Seruni menuju halaman belakang untuk menaruh handuknya dan membantu Sri. Seruni mencoba positif, kali ini Sri akan bersikap seperti biasanya dan tidak akan bersikap dingin padanya. Dengan mantap, Seruni berjalan mendekati Sri yang sibuk memotong daun bawang untuk sop ayam yang dimasaknya.
“Bu, yang belum apalagi?”
Sri melirik pada Seruni. Tampak ekspresi Sri masih dingin pada Seruni.
“Siapin piring.”
Hanya dua kata itu yang keluar dari Sri, padahal Seruni melihat masih ada tempe dan tahu yang belum digoreng oleh Sri. Seruni menghembuskan nafas, mencoba menenangkan dan memberanikan dirinya sebelum berkata-kata lagi.
“Tempe sama tahunya mau sekali Seruni gorengin gak Bu?”
Sri menggelengkan kepalanya perlahan.
“Gak usah, Ibu aja.”
Seruni menelan ludahnya. Sepertinya Sri masih memiliki sesuatu yang membuatnya kecewa pada dirinya. Seruni mencoba bersabar dan akan coba bertanya pada Rudi nanti malam. Seruni mengambil piring lalu pergi ke ruang makan untuk menyiapkan makan malam. Tak berapa lama, Rudi datang. Rudi memperhatikan istrinya sembari masuk ke dalam rumah. Ia mengernyitkan dahinya melihat Seruni yang menyiapkan piring dengan ekspresi sedih. Ingin rasanya Rudi menanyakan segera keadaan Seruni tetapi sepertinya Seruni terlalu terfokus pada aktivitasnya sekarang hingga mengabaikan Rudi. Rudi beranjak menuju kamar, berusaha tidak mengganggu Seruni. Ya, ia perlu berbicara dengan Seruni setelah makan malam.
...****...
Seruni dan Rudi berbaring di tempat tidur mereka menatap langit-langit kamar. Lampu tidur menerangi meraka, membuat suasana menjadi nyaman untuk beristirahat. Rudi melihat ke arah Seruni, mencoba membuka percakapan.
“Kamu tadi kenapa? Beberapa hari ini kayanya ada yang beda deh.”
Seruni menoleh pada Rudi.
“Selain aku yang beda, ada yang kerasa beda lagi gak?” Seruni bertanya balik.
Rudi mengernyitkan dahinya. Ia berusaha memikirkan apalagi yang berbeda di keluarganya saat ini. Beberapa saat Rudi terdiam, tidak menemukan jawaban dari pertanyaan Seruni.
“Udah ketemu belum jawabannya?”
Rudi menggelengkan kepalanya perlahan. Seruni mengatur nafasnya.
“Ibu beberapa hari ini agak aneh sama aku. Kalo kutanya suka agak ketus jawabnya.”
Rudi melongo tidak percaya mendengar perkataan Seruni. Ia tidak menyangka cerita rekan-rekan kerjanya mengenai pertikaian antara mertua dan menantu akan terjadi secepat ini pada keluarganya.
“Mas, apa Ibu udah tau kalo kita nunda punya anak ya?”
__ADS_1
Rudi tidak menjawab. Ia tidak ingin keluarganya rebut secepat ini, apalagi keadaan dirinya yang menjadi penyebabnya. Rudi memikirkan sesuatu. Ia harus segera memberitahu keadaannya pada Ibu sebelum Seruni semakin terseret di masalah ini.
...****...