
Hampir seminggu Seruni dan Sri tidak bertegur sapa. Sri selalu menjauhi Seruni ketika Seruni mencoba mendekatinya secara personal. Meskipun tidak sesering menjauhi Seruni, Sri juga mendiamkan Rudi. Ia hanya berkomunikasi dengan anak laki-lakinya ini secukupnya. Bahkan lebih banyak Rudi yang aktif. Sri tidak pernah memulai pembicaraan, semua berdasarkan inisiatif Rudi saja. Ini juga yang membuat suasana rumah sunyi selama ini. Semua serba canggung, seperti suasana kelas di hari pertama sekolah.
Seruni membuka matanya dengan enggan. Hari sabtu ini ia merasa malas untuk bangun. Seruni sadar ia harus segera bangun untuk membantu Diah belanja keperluan kafe dan dapur rumahnya. Seruni melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Tidak ada lagi waktu bagi Seruni untuk menunda berangkat bersama Diah. Seruni bangkit dari tempat tidurnya perlahan, tidak ingin membangunkan Rudi lalu bersiap menjalani kegiatannya.
Seruni yang sudah siap berangkat ke pasar menyempatkan dirinya menyiapkan cemilan untuk Sri di dapur. Mertuanya sendiri sudah bangun dan berada di halaman depan menyirami tanaman. Satu tangkap roti diolesi oleh mentega secara merata oleh Seruni. Ia berencana membuatkan roti bakar untuk Sri. Berharap situasi setidaknya menjadi lebih melunak setelah selama seminggu ini ia sudah mencoba berlaku baik pada Sri. Tak berapa lama, Sri datang mendekati arah Seruni. Dengan yakin Sri berjalan mengabaikan Seruni menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Sri mengambil piring kecil dan selai untuk dirinya sendiri. Segera ia mengambil setangkap roti untuk diolesi selai. Tentu saja untuk dirinya sendiri. Ia tidak berniat untuk memakan roti buatan Seruni. Diah yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku dua orang ini. Diah sadar, seberapa banyak usaha yang dilakukan Seruni saat ini mungkin belum bisa untuk melunakkan hati Sri.
“Ni, ayo,” ujar Diah pada Seruni ketika ia selesai membuat roti bakar.
Seruni melihat ke arah Diah, tidak terlalu antusias lalu berjalan mendekati Diah.
“Bu, kami ke pasar dulu ya,” ujar Diah pada Sri.
“Ya, ati-ati.”
Diah dan Seruni pergi meninggalkan Sri. Diah melirik ke Seruni, paham raut wajah Seruni yang kosong tidak berada bersama Diah saat ini. Ada hal yang lebih penting dipikirkannya.
...****...
Seruni duduk di kursi kafe yang masih sepi karena memang belum buka. Seruni dan Diah menaruh barang belanjaan untuk kafe terlebih dulu sebelum mereka pulang supaya lebih efisien. Diah menyeruput teh panasnya, mencoba menenangkan diri. Beberapa orang melewati pintu depan kafe sembari berlari kecil. Akhir pekan ini banyak dimanfaatkan orang untuk berolahraga untuk sekedar menyegarkan pikiran mereka dari pusingnya beban pekerjaan. Diah keluar dari arah dapur menuju Seruni sambil membawa secangkir teh. Diah duduk lalu menyeruput tehnya. Ia memperhatikan Seruni yang kosong meratapi orang berlalu Lalang melewati depan pintu kafe.
“Udah mau seminggu ya diem-dieman semua?”
Seruni menganggukkan kepalanya sambil terus melihat ke arah pintu. Diah menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepala.
“Ya udah, sabar aja. Aku juga gak tau harus gimana,” ujar Diah.
Seruni kembali menyeruput tehnya.
“Salah kami juga malah boong ke Ibu,” ujar Seruni.
Diah tidak menanggapi. Ia paham ini pilihan yang dipilih oleh Seruni dan Rudi sendiri. Sudah seharusnya mereka paham akan berakhir seperti ini. Diah melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kafe akan dibuka pukul 10 pagi. Masih ada waktu yang cukup untuk menyiapkan segala keperluan kafe di akhir pekan yang kemungkinan akan penuh seperti akhir pekan pada biasanya. Diah lalu teringat sesuatu.
“Kalian udah nyoba minta maaf bareng lagi ke Ibu?”
Seruni menganggukkan kepalanya.
“Udah, tapi ya masih gitu.”
“Semoga bentar lagi udahan lah ya marahnya. Gak baik serumah diem-dieman gitu.”
Seruni kembali menganggukkan kepalanya, berharap semua kembali normal seperti dulu. DIah bangkit dari duduknya dan diikuti Seruni. Mereka berjalan menuju dapur untuk menaruh gelas bekas mereka minum lalu meninggalkan kafe. Di samping kafe, toko tanaman sudah buka dan bersiap untuk menghadapi pembeli di hari ini.
...****...
__ADS_1
Seruni melihat ke arah Lisa yang mengetik di kursi luar kafe. Ia teringat sesuatu yang mungkin bisa dilakukan dirinya untuk memenangkan hati Sri. Untuk itu, ia perlu menunggu Dini menyelesaikan pesanan dari Lisa. Tidak ada salahnya untuk mencoba ini. Seruni membawakan pesanan Lisa dengan penuh harap. Ia berharap Lisa sedang menyusun penyelidikannya sehingga bisa bertanya lebih lanjut mengenai toko tanaman sebelah.
“Lis, ini ya pesanannya.”
“Makasih ya Ni.”
Seruni memperhatikan apa yang sedang dikerjakan Lisa. Catatannya mengenai toko tanaman semakin banyak dan meyakinkan. Seruni mengatur nafas, mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya pada Lisa.
“Lis, aku duduk di sini gapapa? Ada yang mau aku tanyain ke kamu.”
Lisa tersenyum pada Seruni dan mempersilakan Seruni duduk.
“Kenapa Ni?”
“Aku boleh nanya-nanya ke kamu?”
“Masalah apa?”
Seruni terdiam sejenak. Ia ragu apa Lisa mau bercerita mengenai toko tanaman dan memberikan informasi mengenai kekuatan dari tanaman yang ada di toko tersebut kepadanya.
“Gimana Ni? Kok diem?”
“Hm, maaf ya kalo aku nanya ini. Aku penasaran aja Lis. Kamu udah ada kabar masalah toko taneman di sebelah kafe ini?”
“Dari beberapa info yang aku coba cari, emang ada yang ngalamin perubahan setelah mereka beli taneman di sana, Ni. Ada yang perubahannya negatif kayak Rina sama orang misterius itu, ada juga yang perubahannya positif.”
Seruni mulai tertarik ketika mendengar ada yang mendapat hasil positif.
“Nah, aku sendiri belum tau gimana pastinya. Soalnya ini fifty fifty banget. Tapi, positif dan negatifnya ini signifikan. Ada yang sampe naik jabatan, ada juga yang nasibnya sama kayak Rina. Makanya, besok aku mau coba buat beli taneman juga di sana buat aku sendiri. Bener engga nasibku bakal berubah setelah beli taneman.”
Seruni menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia sudah bulat untuk membeli tanaman.
“Kamu kenapa tiba-tiba nanya masalah toko taneman, Ni? Kamu gak ada niatan buat beli di situ kan?”
Seruni memandang kosong, tidak menjawab pertanyaan Lisa.
“Ni?”
...****...
Susi bersiap untuk menutup tokonya. Beberapa tanaman yang ia pajang di luar mulai dimasukkan ke dalam toko. Perlahan ia berjalan sambil mengangkat pot kecil yang berisi tanaman Pakis Jepang. Seruni yang memperhatikan Susi dari seberang lalu mendekatinya dan mengangkat pot kecil yang berisi tanaman Lidah Mertua, bermaksud untuk membantu Susi. Susi mengernyitkan dahinya, kaget dengan kedatangan Seruni.
“Eh, Nak Seruni. Udah gak usah repot-repot. Ibu bisa sendiri kok,” ujar Susi.
__ADS_1
Seruni tersenyum pada Susi.
“Gapapa kok Bu. Gak ngerepotin.”
Susi tersenyum memperhatikan Seruni yang ikut membantunya membereskan tanaman.
“Gimana kafe Nak Seruni hari ini? Ngelembur lagi?” tanya Susi.
“Kemungkinan iya Bu. Tapi ini mau pulang dulu, gentian sama Mba Diah.”
“Ooh, yang bantuin di dapur itu ya?”
“Iya Bu.”
Seruni memperhatikan keadaan toko tanaman milik Susi. Dipikir-pikir, baru kali ini ia masuk dan melihat langsung keadaan dalam toko tanaman ini.
"Ada yang Nak Seruni suka?” tanya Susi.
Seruni tersenyum kecil pada Susi. Ia tidak menyangka Susi dapat membaca maksud pikirannya.
“Saya mau beli taneman Bu buat mertua saya. Kira-kira yang coco kapa ya?”
Susi bergumam, berpikir tanaman apa yang cocok. Beberapa kali ia mengecek tanaman yang ada di tokonya.
“Mertua Nak Seruni suka taneman juga? Kira-kira yang kayak gimana?”
“Saya kurang paham masalah taneman juga sih Bu. Ibu ada saran gak?”
“Hm, taneman yang Nak Seruni bantu bawa ke sini kayanya cocok.”
“Lidah mertua?”
Susi menganggukkan kepalanya. Seruni memandangi tanaman yang tadi ditaruhnya. Entah mengapa ia merasa cocok dengan tanaman tersebut, terlebih dengan namanya yang menggambarkan kepada siapa tanaman tersebut akan diberikan.
“Berapa Bu harganya?”
“Gratis. Ibu juga belum pernah ngasih taneman ke Nak Seruni ‘kan sebagai tanda saling kenal dulu waktu Nak Seruni buka kafe?”
Seruni melongo mendengar jawaban Susi.
“Udah, Nak Seruni bawa aja.”
Seruni bingung dengan kejadian ini. Semua berjalan terlalu mulus, tanpa halangan dan biaya sepeser pun. Susi tersenyum pada Seruni yang masih melongo memikirkan efek apa yang akan ia dapat dari tanaman ini. Tentu saja ia berharap mendapat efek positif dan tidak berakhir seperti Rina.
__ADS_1
...****...