Kafe Botani & Lidah Mertua

Kafe Botani & Lidah Mertua
Alasan Sebenarnya


__ADS_3

Seruni membuka matanya. Beberapa jemaat sudah mulai keluar dari dalam gedung gereja sedangkan Pendeta Simon dan majelis jemaat pendamping ibadah sudah berdiri di pintu keluar untuk menyambut jemaat dengan jabatan tangan. Seruni menyalami Rudi yang ada di sampingnya. Rudi membalas dengan mencium kening Seruni. Kali ini Seruni tidak menyalami Sri. Sri ikut tinggal bersama Vina selama akhir pekan ini da baru akan diantar pulang setelah ibadah selesai. Vina tidak beribadah di gereja yang sama dengan Rudi. Ia ikut beribadah di gereja Martin yang terletak agak jauh dari rumah Seruni dan Rudi. Seruni dan Rudi lalu berjalan mendekati Pendeta Simon untuk bersalaman. Pendeta Simon melihat-lihat ke sekitar Seruni dan Rudi.


“Selamat hari minggu Mba Seruni, Tuhan memberkati.”


“Selamat hari minggu Pak.”


“Loh, Ibu gak ikut?”


“Ibu ibadah sama Mba Vina, Pak,” jawab Rudi.


“Oalah. Oke deh kalo gitu. Tolong disampein juga ya buat senam tera minggu depan.”


“Iya Pak, nanti saya sampein.”


Seruni dan Rudi lanjut menyalami majelis pendamping lalu keluar menuju mobil mereka. Jam yang menunjukkan pukul sepuluh pagi membuat mereka harus segera membeli cemilan untuk dihidangkan ke Keluarga Vina yang akan datang nanti siang.


“Untung Mba Diah gereja pagi tadi ya,” ujar Rudi.


“Iya. Seenggaknya ada yang beberes dulu. Sekarang udah di kafe lagi kayanya,” kata Seruni.


Rudi menyalakan mesin mobilnya, bersiap untuk beranjak dari parkiran gereja.


“Ke toko roti yang biasa kan?” tanya Rudi.


“Iya, Semoga belum terlalu rame,” jawab Seruni.


Rudi dan Seruni lalu perlahan meninggalkan gereja menuju toko roti.


...****...


Rudi memotong brownies yang tadi dibelinya bersama Seruni. Perlahan ia mencoba menyamakan potongannya agar sama ukurannya. Seruni memperhatikan kerjaan suaminya ini sambil berkacak pinggang. Seruni telah menyelesaikan pekerjaannya untuk menyusun roti dan cemilan lainnya. Disusun sedemikian rupa sehingga makanan yang manis terpisah dengan yang gurih. Seruni menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Rudi kesusahan.


“Mau tak bantu gak?”


“Bentar, Mas nyoba sendiri dulu.”


Tidak heran potongan Rudi buruk. Rudi memotong dari bagian pinggir brownies.

__ADS_1


“Dari tengah dulu, baru nyesuain dari situ,” ujar Seruni.


Rudi terdiam sejenak, mencerna informasi dari Seruni. Hasil potongan yang ia buat dari pinggir memang tidak memiliki ketebalan yang sama. Rudi mendecak, kenapa cara yang dikatakan Seruni tadi tidak terpikirkan olehnya.


“Iya bener lagi.”


Seruni tertawa kecil melihat tingkah Rudi. Terdengar suara mobil sampai di depan pagar rumah.


“Ayo ayo ayo cepet waktunya tinggal sedikit lagi kontestan Rudi.”


“Bentar-bentar chef, nanggung. Nanti saya dimarahin istri saya kalo gak rapi.”


“Yaudah aku nyambut tamu agung dulu,” ujar Seruni lalu meninggalkan Rudi sambil membawa piring.


“Tamu agung,” ulang Rudi sambil tersenyum.


Seruni membuka pintu pagar lalu menyalami Vina lalu mengelus kepala Ruth, anak dari Vina dan Martin, yang tertidur di pelukan Vina.


“Rewel gak Mbak?”


Seruni nyengir mendengar pertanyaan Vina. Seruni lanjut menyalami Martin yang membantu Sri berjalan. Sri tampak sedikit kesal karena ia merasa bantuan Martin masih belum diperlukannya.


“Met hari minggu, Mas. Met hari minggu, Bu.”


Sri mengangguk merespon ucapan Seruni.


“Selamat hari minggu juga. Tuhan memberkati,” ujar Martin.


Seruni mempersilakan Martin dan Sri masuk ke rumah. Ia menggelengkan kepalanya melihat respon Sri masih sama seperti sebelum ia meninggalkan rumah.


...****...


Seruni datang sambil membawa nampan berisikan teh. Sri memangku Ruth yang sudah terbangun. Mereka berdua saling tersenyum, seakan menikmati minggu yang setengah hari lagi akan habis. Vina dan Martin memakan brownies yang terhidang di meja sambil memperhatikan Sri yang asik bermain dengan Ruth. Seruni duduk di samping Rudi sambil memegangi tangannya. Ini pertama kali ia menghabiskan minggu siang bersama keluarga besar. Bukan berarti ketika Seruni menghabiskan minggu di panti asuhan tidak dianggap seperti keluarga, ini berbeda. Kedekatan yang ia rasakan saat ini adalah sesuatu yang dibuatnya bersama dengan Rudi. Kedekatan ini adalah kedekatan yang perlu ia jaga sebaik mungkin.


“Anak pinter anak pinter,” ujar Sri sambil melirik pada Seruni dan Rudi.


Seruni dan Rudi teringat sesuatu yang beberapa hari ini mereka coba lupakan. Rudi mengatur pernafasannya, jika suasana memburuk maka ia akan bertindak.

__ADS_1


“Rud, kamu gak mau cepet-cepet punya anak juga?”


Rudi tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Ibunya. Vina cepat melirik ke Seruni lalu melihat ke Sri.


“Ya sabar Bu. Kan baru sebulan juga,” Vina mencoba membantu.


Seruni kaget ternyata Vina siap membantu mereka dengan jawabannya. Seruni dan Rudi saling melirik, berharap jawaban dari Vina berhasil menahan Sri.


“Iya, Ibu tau. Tapi kalo ditunda-tunda juga kan ga bakal kejadian juga,” balas Sri.


Vina mendecak meringis. Sepertinya usahanya gagal. Martin diam, ia bingung harus bagaimana. Sepertinya ia satu-satunya yang belum mengetahui masalah ini.


“Iya Bu, sabar ya. Ini kita masih sibuk juga,” jawab Seruni.


Seruni memandang dingin ke Seruni. Ia bersiap melontarkan respon dari pembelaan Seruni. Sekejap, Seruni merasa takut. Entah kalimat apa yang akan didengar.


“Kalian yang sibuk atau kamu yang sibuk di kafe? Kan ada Diah yang bisa ngehandle di kafe?”


Suasana ruang tamu hening. Ruth memandangi keluarganya yang ada di sekelilingnya, kebingungan karena perubahan suasana yang begitu cepat. Seruni menunduk sedih. Vina dan Martin semakin bingung. Mereka tidak menyangka akan seperti ini. Rudi erat menggenggam tangan Seruni. Ia siap menghadapi Ibunya.


“Bu, udah. Kita nunda bukan gara-gara Seruni sibuk,” ujar Rudi.


Sri beralih pada Rudi. Tak sabar ia ingin mengetahui apa yang menjadi penyebabnya.


“Terus apa? Kamu mau alasan apalagi buat ngelindungin Seruni?”


Rudi menghembuskan nafas. Ia siap denga napa yang akan terjadi selanjutnya.


“Hasil tes kesuburanku jelek, Bu. Ga ada hubungannya sama Seruni. Aku penyebabnya.”


Sri terdiam mendengar jawaban Rudi. Martin mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna apa saja yang baru didengarnya. Ia merasa begitu tertinggal dengan keluarga besarnya ini.


“Kok kamu gak jujur ke Ibu? Kamu gak nganggep Ibu atau gimana?”


Sri terdengar emosi dengan hal yang disembunyikan Rudi. Selama ini ia merasa sudah mencoba sebijak mungkin pada anak-anaknya hingga mereka sudah dewasa. Sri menyerahkan Ruth pada Vina. Ekspresi Sri kosong, tidak tahu harus bagaimana lagi. Dalam hatinya ia merasa apa mungkin ini hanya satu dari sekian hal yang ditutupi oleh anak-anaknya dari dirinya. Seruni menunduk dengan matanya yang berkaca-kaca. Bukan sedih karena ia merasa gagal sebagai istri, tetapi karena ia tidak menyangka perkumpulan dengan keluarga bisa menjadi seperti ini. Sri meninggalkan ruang tamu, tanpa berkata apa-apa lagi pada anak-anaknya. Ia letih denga napa yang baru saja dihadapinya. Belum lagi dengan beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi di belakang dirinya.


...**** ...

__ADS_1


__ADS_2