
Seruni mengadu gembok pagar dengan slot pagar. Rudi berdiri di belakang Seruni, menjaga barang bawaan mereka. Hampir seminggu mereka berbulan madu, baru di perjalanan pulang mereka baru sadar tidak membawa kunci rumah.Seruni kembali membunyikan pagar. Ia tetap menjaga ketukannya, tidak berniat untuk membuat tetangga-tetangga terbangun dari tidurnya meskipun sudah lewat dari jam subuh.
“Aku manjat deh, coba dari pintu rumah,” ujar Rudi yang lalu menaiki pagar rumah.
Seruni menduga dengan waktu seperti ini kemungkinan Diah pergi belanja di pasar. Yang jadi pertanyaan, apakah Diah pergi belanja dengan Sri. Seruni mencoba menghubungi Diah seraya Rudi mengetuk pintu rumah. Beberapa kali Rudi mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban dari penghuni rumah.
“Halo, Mba. Mba ini lagi belanja? Sama Ibu? Oalah, ya udah deh. Ini kita nunggu aja di depan.”
Rudi yang ikut memperhatikan percakapan Seruni dengan Diah akhirnya memutuskan untuk kembali ke depan pagar. Seruni duduk bersender pada pagar. Perutnya yang sudah kosong berharap ada Tukang Bubur yang lewat hari ini. Rudi ikut duduk dekat Seruni lalu mendengar bunyi gemuruh dari perut Seruni. Rudi melirik ke arah Seruni, berniat usil pada dirinya tapi tak lama perut Rudi pun ikut berbunyi. Seruni dan Rudi saling melirik.
“Kok bisa ya lupa bawa kunci?” tanya Rudi.
“Aku udah nanya sebelum berangkat kamu malah gombal.”
Rudi nyengir. Memang benar Seruni sudah menanyakan hal itu sebelumnya pada Rudi sebelum mereka berangkat. Dari jauh terdengar suara mangkok keramik yang beradu dengan sendok. Reflek, Seruni dan Rudi melihat ke sumber suara. Rudi bangkit lalu melambai ke arah Tukang Bubur. Seruni ikut bangkit lalu menunggu kedatangan Tukang Bubur. Tukang Bubur semakin mendekat lalu berhenti di depan Seruni dan Rudi. Kursi plastik yang ia bawa di atas gerobak disiapkannya di depan Seruni dan Rudi.
“Bubur ayam atau bubur sop ayam?” tanya Rudi pada Seruni.
“Bubur sop ayam deh, biar anget.”
Rudi menganggukkan kepalanya.
“Pak bubur sop ayamnya dua.”
“Komplit Pak?” tanya Tukang Bubur.
“Saya gak make kacang, Pak,” ujar Seruni pada Tukang Bubur.
Tukang Bubur menganggukkan kepalanya. Tanpa basa-basi, Tukang Bubur segera membuatkan pesanan dari Seruni dan Rudi. Seruni dan Rudi duduk di kursi. Sesekali Seruni menghangatkan dirinya dengan menggesekkan kedua telapak tangannya.
“Besok kamu udah masuk?” tanya Seruni pada Rudi.
“Udah. Langsung lembur malah kayanya,” jawab Rudi tidak semangat.
“Ya udah, hari ini mau nyantai di kafe dulu? Aku juga mau ngecek kafe sih nanti sore.”
“Boleh deh. Mba Diah di kafe juga cuman sampe jam tiga kan? Biar ada yang nungguin Ibu.”
Tukang Bubur berbalik badan sambil menyajikan bubur sop ayam pada Seruni dan Rudi.
“Makasih ya Pak,” ujar Seruni.
“Pak, minta sambelnya ya,” ujar Rudi.
“Oh iya,” Tukang Bubur kembali sambil menyodorkan mangkok plastik berisi sambel.
__ADS_1
“Makasih Pak.”
Sinar matahari mulai menyinari area perumahan. Beberapa pintu rumah mulai terbuka, menandakan hari sudah harus dimulai. Seruni dan Rudi sudah menghabiskan makanan mereka. Mereka duduk santai, mencoba menurunkan makanan yang baru saja disantapnya agar segera dicerna. Tak berapa lama, Diah dan Sri datang mendekat dengan mobil. Tukang Bubur dengan cekatan memindahkan gerobak bubur menjauhi pagar. Rudi bangkit dari tempat duduk lalu membayarkan sejumlah uang pada Tukang Bubur.
“Makasih ya Pak.”
“Iya sama-sama.”
Tukang Bubur berjalan melanjutkan berjualan. Belum jam enam tapi sudah mendapat tiga puluh ribu tentu ia berharap banyak pada hari ini. Diah selesai memarkirkan mobilnya lalu keluar mobil bersama dengan Sri.
“Bu,” ujar Rudi sambil menyalami Sri.
“Syukurlah udah nyampe,” balas Sri.
“Sehat kan Bu?” tanya Seruni setelah menyalami Sri.
“Puji Tuhan, sehat.”
“Ni, maaf aku tadi lupa naruh kuncinya di keset,” ujar Diah meminta maaf.
“Gapapa Mba, kita yang lupa bawa juga kok,” balas Seruni.
Sri tidak memperhatikan apa yang dibicarakan oleh Seruni, Rudi dan Diah. Ia terfokus pada Seruni, melihat menantunya ini terlihat sangat Bahagia. Banyak senyuman selama percakapan terjadi. Tentu Sri berharap apa yang diidamkannya bisa segera terjadi.
...****...
“Ni, nasinya tolong dipindah ke mangkok nasi ya,” ujar Sri.
“Iya, Bu.”
Seruni berpindah dari meja makan untuk menyediakan nasi. Tak berapa lama, Rudi datang mendekati meja makan setelah menyalakan TV yang ada di seberang meja makan. Rudi melihat makanan yang akan disantapnya sebentar lagi. Ia merasa ada yang kurang. Rudi lalu pergi mengambil gelas dan berpapasan dengan Seruni.
“Ada apa. Mas?”
“Mau ambil gelas.”
“Oh iya, makasih ya Mas. Aku naruh ini dulu,” ujar Seruni seraya meninggalkan Rudi.
Rudi mengambil tiga gelas kaca dari dalam lemari perabotan makanan lalu kembali menutupnya dan bergegas kembali ke meja makan. Sesampainya di meja makan, ia melihat nasi sudah tersedia di piringnya. Seruni membagikan nasi untuk keluarganya. Tidak banyak nasi yang ia taruh dalam piringnya, Seruni merasa masih kenyang dengan apa yang disantapnya pagi tadi. Segera Seruni berpindah ke meja Sri untuk menuangkan nasi.
“Segini cukup, Bu?” tanya seruni setalah menuangkan satu sendok nasi.
“Udah, cukup. Makasih ya,” balas Sri.
“Sama-sama, Bu,” ujar Seruni sambil tersenyum lalu kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Seruni, Rudi dan Sri mulai menyantap makan siang mereka. Tenang, mereka makan. Hanya suara pembawa berita yang membacakan berita siang hari yang terdengar berbicara. Beberapa kali Sri melirik ke arah Seruni. Ia berusaha agar tidak diketahui oleh Seruni. Sri dalam lubuk hatinya sedang mengumpulkan keberaniannya. Ada pertanyaan penting yang harus segera disampaikannya di momen ini. Sri berhenti menyantap makan siangnya lalu melihat ke arah Seruni.
“Ni, makasih ya batiknya. Malah repot bawain oleh-oleh pas bulan madu,” ujar Sri.
“Gak papa kok Bu, kan itu juga sekalian pad kita lagi belanja,” balas Seruni.
Seruni dan Sri saling tersenyum. Seruni belum menyadari akan ke mana percakapan ini mengarah.
“Gimana bulan madunya, seneng gak? Ke mana aja?” tanya Sri.
Senyum di bibir Seruni mulai menjadi cenyuman canggung. Ia mulai menyadari ke mana percakapan ini akan mengarah.
“Main-main aja kok Bu, keliling tempat wisata sama tempat pacarana dulu,” jawab Rudi.
Seruni menghembuskan nafasnya, merasa lega karena sudah diselamatkan oleh suaminya ini.
“Oh, mampir ke Panti juga?” tanya Sri.
“Mampir bentar aja Bu, udah agak malem soalnya,” jawab Seruni.
“Ibu sehat kan?”
“Puji Tuhan sehat. Sebulan dua kali masih kontrol juga Bu.”
“Syukurlah.”
Seruni akhirnya sadar. Hidangan yang dipilih Sri untuk makan siang adalah hidangan untuk menambah kesuburan. Kali ini, Seruni merasa gagal sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan pangan dulu. Seruni, Rudi dan Sri kembali melanjutkan makan siang mereka. Jawaban netral yang didapatkan oleh Sri membuatnya semakin penasaran. Ia hanya berharap jawaban tadi bernada positif dan memuaskan bagi dirinya.
...****...
Sri mengarahkan siramannya ke rerumputan yang ada di taman. Sri mencoba membasahi semua rumput agar mendapat nutrisi yang merata. Sri berpindah ke meja tanaman. Situasi rumput yang basah membuatnya berjalan dengan pelan. Pernah beberapa kali ia hampir terpleset karena licinnya rumput dan sandalnya yang terkena air. Perlahan, Sri mengatur volume air yang keluar dari selang. Ia tidak mau membuat Aglaonema yang dimilikinya tidak kebanyakan air. Sri tidak ingin warna Aglaonema yang indah merah menyala berubah menjadi layu kekuningan karena terlalu banyak air. Harus lembab, tanpa banyak air yang tergenang. Lima pot Aglaonema yang tersusun rapi di meja tanaman telah dibasahi dengan baik. Sri kembali ke kran air lalu mematikannya. Sri selesai dengan kegiatan rutin sore harinya. Saatnya untuk bebersih dan bersiap untuk mengikuti persekutuan lansia di Gereja.
Sri berjalan menuju arah kamarnya. Di dekat kamar Seruni dan Rudi, ia terhenti sejenak. Sri mengernyitkan dahinya. Sebisa mungkin ia tidak ingin ketahuan oleh Seruni dan Rudi karena pintu yang tidak mereka tutup sepenuhnya.
“Iya Mas, aku baru sadar juga kalo menu tadi buat kesuburan.”
“Loh, iya ya?”
“Iya.”
Tidak terdengar suara percakapan untuk beberapa saat. Sri mencoba lebih berkonsentrasi, takut kehilangan apa yang dibicarakan Seruni dan Rudi.
“Semoga Ibu ga sadar ya kalo kita nunda buat punya anak,” ujar Seruni.
Sri terdiam tidak percaya. Ternyata yang didengarnya dulu ketika resepsi pernikahan memang benar. Sri berjalan menjauhi kamar Seruni dan Rudi. Dalam hatinya, Sri kecewa dan bingung. Kenapa mereka sampai menyembunyikan rencana mereka darinya. Apa yang salah dari dirinya? Apakah salah untuk berharap segera memiliki cucu supaya bisa menemani dirinya di rumah?
__ADS_1
...****...