Kafe Botani & Lidah Mertua

Kafe Botani & Lidah Mertua
Ibu Rumah Tangga


__ADS_3

Mentari mulai turun dari singgasananya, bersiap hendak berganti posisi dengan rembulan. Pedagang-pedagang khas jajanan malam mulai berkeliling, siapa tahu ada keluarga yang tidak sempat menyiapkan makan malam. Perlahan, mobil taksi online mulai mendekati rumah Seruni. Sri khidmat menyirami tanaman-tanaman yang ada di halaman depan. Rutin, dua kali sehari ia menyirami tanaman-tanaman tersebut layaknya Ibu memberi makan anaknya. Jika bisa dilakukan tiga kali sehari, mungkin ia akan melakukannya. Tetapi ia sadar kalau menyirami tanaman di siang hari adalah kegiatan yang percuma. Seruni turun dari mobil menuju rumahnya sambil membawa tanaman lidah mertua. Penuh harap, ia melangkah menuju Sri dengan ekspektasi semua akan baik-baik saja setelah tanaman diberikan padanya.


“Sore Bu,” ujar Seruni sambil tersenyum.


Sri melihat ke arah Seruni lalu menganggukkan kepalanya, membalas ucapan selamat sore dari Seruni. Perhatian Sri terpusat pada tanaman yang dibawa oleh Seruni. Ingin rasanya ia tersenyum, melihat tanaman yang dibawa oleh Seruni. Seruni berjalan mendekati Sri lalu menyodorkan tanaman lidah mertua pada Sri. Sri menaruh selang penyiram tanaman lalu menyambut tanaman yang diberikan oleh Seruni.


“Ini Bu, dikasih tanaman sama toko sebelah kafe. Katanya ditunggu, siapa tau mau main-main juga ke sana,” ujar Seruni sambil sedikit berbohong.


Sri memandangi tanaman pemberian Seruni. Ia belum memiliki lidah mertua di sini dan memang berniat juga untuk menambah koleksinya. Sekali lagi Sri ingin tersenyum tetapi gengsi dan sakit hatinya masih terlalu unggul.


“Makasih.”


Dingin jawaban Sri pada Seruni. Seruni tetap tersenyum, mencoba positif mungkin efeknya masih belum muncul.


“Malam ini kita makan di luar aja ya Bu,” ujar Seruni.


“Iya bebas.”


Seruni kembali tersenyum lalu masuk ke dalam rumah. Dalam hatinya, ia berharap untuk segera melihat efek dari tanaman lidah mertua. Seruni melihat Rudi yang baru keluar dari kamar sambil mengalungi handuk.


“Mas, jadi ‘kan nanti?”


Rudi menengok ke Seruni sambil mengeringkan rambutnya.


“Iya. Kamu mandi dulu sana. Bentar lagi aku mau manasin mobil.”


Rudi meninggalkan Seruni untuk menaruh handuknya. Seruni berjalan memasuki kamar, bersiap untuk makan malam di luar bersama keluarganya.


...****...


Seruni menarik selimutnya. Ia lupa untuk mengaktifkan timer AC sebelum tidur. Dinginnya AC kamar membuatnya malas untuk bangun tetapi Seruni teringat sesuatu. Ini hari minggu dan ia harus segera menyiapkan sarapan sebelum berangkat beribadah. Enggan, Seruni membuka kelopak matanya lalu melihat ke arah jam dinding. Masih jam lima pagi. Cukup waktu untuk dirinya menyiapkan sarapan bagi keluarganya. Setelah beberapa peregangan di kasur, Seruni bangkit dari kasur dan meninggalkan Rudi yang masih tidur.


Seruni masuk ke dapur dengan mukanya yang agak basah setelah mencuci mukanya. Ia bersiap untuk membuat roti bakar, sekedar pengganjal di pagi hari sebelum mereka berangkat beribadah lalu makan setelah itu. Seruni juga memasak air panas siapa tahu ada yang perlu menggunakan air panas untuk keperluannya di pagi hari. Perlahan, Seruni mengolesi roti dengan mentega sebelum ditambahi isian lainnya. Suara langkah berat perlahan mendekati Seruni di dapur. Seruni menoleh ke sumber suara dan ia melihat Sri berjalan mendekatinya.


“Bu, mau rotinya isi apa?” tanya Seruni.


“Bebas.”


Sri berjalan mengambil gelas untuk minum lalu meninggalkan Seruni. Seruni mengernyitkan dahinya. Rasa ragu mulai muncul karena jawaban Sri masih sama seperti kemarin. Singkat, padat dan tidak ramah. Larut dalam pemikiran ini, Seruni tidak menyadari bunyi dari teko yang sedari tadi dipanasi. Sigap, sesosok perempuan bergerak menuju sumber suara dan mematikan kompor. Rudi menepuk pundak Seruni, mencoba menyadarkan isrtinya.


“Kamu masih ngantuk?”


Seruni menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


“Fokus ngolesin mentega.”


Rudi melirik tidak percaya pada Seruni lalu menuangkan air panas tersebut di gelas yang sudah diisi kopi dan gula oleh Seruni.


“Kamu mau sekalian?”


“Boleh, Mas. Teh aja, gak usah make gula.”


Rudi mengambil pot teh lalu menuangkan daun teh di dalamnya. Agak kehijauan warna yang didapat, tidak seperti teh hijau dalam bentuk kantong. Rudi memberikan gelas berisi teh pada Seruni lalu duduk di dekat Seruni.


Sambil menyeruput kopinya, Rudi memperhatikan Seruni. Ada yang aneh dengan istrinya ini. Seruni balas melihat pada Rudi. Seruni sadar sedari tadi ia terus diperhatikan Rudi.


“Kenapa, Mas?”


Rudi menggelengkan kepalanya, mencoba meyakinkan Seruni kalau tidak terjadi apa-apa. Ingin rasanya Rudi mengutarakan apa yang dirasakannya tetapi ia merasa waktunya belum pas. Mungkin waktu pulang dari Gereja menjadi waktu yang pas.


“Mba Diah ibadah jam pagi lagi ya?” tanya Rudi.


Seruni menganggukkan kepalanya.


“Nanti siang ada yang booking kafe buat reuni kecil-kecilan. Makanya nanti abis kita makan bareng juga bakal langsung ke kafe.”


Giliran Rudi menganggukkan kepalanya. Ganti jadwal, utarakan apa yang dirasanya janggal pada Seruni berganti jadi sore.


“Sekarang kafe nerima bookingan reuni?” tanya Rudi.

__ADS_1


“Masih nyoba sih, Mas. Gak tau bakal ada lagi apa engga. Ini juga kita nerima gara-gara udah kenal sama yang bookingnya.”


Rudi tersenyum kecil mendengarnya.


“Emang mereka mesen makanan apa aja? Lodeh?”


Seruni melirik sinis pada Rudi yang terkekeh-kekeh. Asing baginya mendengar reuni dengan konsumsi sayur lodeh.


“Lebih ke kue-kue. Mereka makan beratnya di tempat lain.”


Seruni beranjak dari tempat duduknya lalu memanggang roti yang sudah disiapkannya.


“Tapi lucu juga sih kalo ada reunian begitu,” ujar Seruni.


“Kafemu mau jadi kafe alam? Malah jadi kayak menu makan abis outbound, kurang ikan asin sama tempe tahu,” balas Rudi.


“Ya siapa tau kan di deket Panti nanti kita bisa bikin juga. Gak jauh dari situ kan ada sungai yang lumayan bagus juga.”


Rudi bergumam. Ia baru menyadari hal ini. Mungkin bisa dilakukannya suatu saat nanti.


“Aku pensiun muda aja apa ya biar bisa langsung kita lakuin bareng?”


Seruni mendecak lalu menggelengkan kepalanya.


“Ini acara reunian kecil aja belum tau berhasil apa engga udah mau ninggalin yang pasti.”


“Bercanda. Tapi ya boleh juga kapan-kapan dicoba.”


Seruni membawakan roti panggang yang sudah jadi dibuatnya untuk dihidangkan pada Rudi.


“Emang kapan kita mau pindah ke Jogja?”


Rudi mengernyitkan dahinya sambil bergumam. Ia berlagak berpikir keras menanggapi pertanyaan Seruni. Tentu Seruni tersenyum kecil tidak percaya kalau suaminya ini berpikir sekeras itu di pagi hari untuk menjawab pertanyaan sembarang.


“Umur empat puluh lah nanti kita pindah.”


“Semangat ya kerjanya, jangan lupa nyari alesan yang bagus buat bos-bosmu nanti.”


...****...


Dini dan Lusi membereskan gelas dan piring yang ada di meja. Sesekali, Lusi menguap karena tidak biasanya di hari minggu ia sudah berada di kafe dari jam delapan pagi. Seruni yang baru saja kembali dari dapur merasa tidak enak pada dua pegawainya ini. Jam kerja mereka yang baru masuk jam tiga di hari minggu harus berubah khusus untuk acara reuni ini.


“Dini, Lusi, maaf ya kalian jadi harus masuk pagi,” ujar Seruni.


Dini dan Lusi menengok pada Seruni. Mereka tersenyum canggung, merasa kalau keletihan mereka begitu terlihat di mata Seruni.


“Gapapa Kak, kita juga kosong kok pagi ini. Kaget aja ini makanya ngantuk,” ujar Lusi.


Seruni menghembuskan nafasnya.


“Uang lemburnya nanti langsung minta aja ya pas kalian mau pulang. Besok juga kita bukanya jam sebelas aja. Biar kalian bisa istirahat dulu.”


“Makasih Kak,” ujar Dini sambil tersenyum.


Seruni membalas senyuman dari Dini dan Lusi. Ia tidak tahu apa tindakannya tadi sudah layak dan sepadan bagi pegawainya, ia hanya berharap sudah bertindak adil dengan jadwal mereka yang harus berganti di minggu ini.


“Aku bantuin Mba Diah di dapur lagi ya.”


“Iya Kak,” jawab Lusi.


Seruni masuk ke dalam dapur, melihat Diah yang sibuk mencuci piring dan gelas. Tujuan asli Seruni bukan untuk membantu Diah. Ada sesuatu yang ingin diceritakan pada kakaknya ini.


“Mba….”


Diah yang sudah menyelesaikan tugasnya lalu mengeringkan tangannya. Dari nada yang didengar oleh Diah, ia sadar ada yang mengganjal bagi Seruni.


“Kenapa?” jawab Diah sambil menengok ke Seruni.


Seruni terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia paham betul Diah tidak menyenangi hal-hal klenik.

__ADS_1


“Mba kamu udah liat taneman baru yang kubeliin buat Ibu?”


Diah mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat meja tanaman yang dilihatnya tadi pagi. Ia merasa memang ada yang baru di situ.


“Lidah mertuanya itu kamu yang beli?”


“Aku dikasih sama Ibu Susi, yang punya toko sebelah. Tadinya aku mau beli ‘kan, tapi katanya gak usah. Gratis.”


“Oalah. Baik emang Bu Susi. Nanti kita gantian ngasih kue juga aja ke Bu Susi.”


Seruni berdecak, mengatur pernafasannya lalu bersiap menceritakan yang sebenarnya.


“Mba tau gak alesanku kenapa ngasih itu ke Ibu?”


Diah mulai curiga, sepertinya ada yang tidak beres.


“Mba inget Lisa gak, pelanggan kita yang temennya Rina? Lisa itu cerita kalo dia curiga taneman di tempat Bu Susi itu punya kekuatan ajaib. Bisa ngubah sifat dari orang yang nerima taneman itu. Nah, aku ngasih taneman itu ke Ibu maksudnya biar Ibu bisa berubah gitu ke kami, gak jutek lagi."


Diah menjadi tidak antusias, cenderung kecewa.


“Tapi tadi pagi Ibu tuh masih sama kaya kemarin-kemarin. Jutek sama aku.”


Diah berpangku tangan, bersiap untuk menjawab apa yang dikeluhkan oleh Seruni.


“Kamu piker yang gitu-gitu beneran ada? Emang Bu Susi itu siapa? Dia nenek biasa yang pengen ngisi hari tuanya sama jualan taneman. Udah itu aja. Gak mungkin lah taneman yang dijualnya bisa ngubah sifat orang.”


Seruni terdiam mendengar jawaban Diah. Diah terus menatap adiknya dengan serius, seserius kalimat yang akan disampaikannya.


“Kalo kamu mau Ibu jadi baik lagi, ya udah. Coba kamu sementara di rumah aja dulu. Gak usah ke kafe dulu. Biar aku sama Dini sama Lusi yang ngurus kafenya. Kamu fokus ngedeketin Ibu, minta maaf sama coba lebih ngertiin dia lagi. Baru juga berapa bulan nikah, masa kamu make cara-cara begitu. Untung itu taneman ga ngasih efek apa-apa, coba kalo bahaya?”


Seruni menunduk kesal denga napa yang dilakukannya. Ia lupa kalau hal yang dilakukannya itu tidak mencerminkan hal yang akan dilakukan di keluarga.


“Udah ya, besok kamu nurut sama aku. Gak usah ke kafe dulu, fokus pendekatan ke Ibu. Yakin deh, pasti nanti baikan lagi.”


Seruni menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Diah. Beberapa minggu ke depan, waktunya menjadi ibu rumah tangga.


...****...


Rudi mengganti-ganti saluran TV di dalam kamar. Sesekali ia melirik ke Seruni yang duduk mengeringkan rambutnya, berniat untuk memulai apa yang direncanakannya tadi pagi. Seruni bangkit dari tempat duduknya, juga bersiap untuk menceritakan keputusannya untuk tidak ke kafe beberapa minggu ke depan. Seruni tiduran sambil melhat ke Rudi dengan serius.


“Mas, kayanya aku beberapa minggu nanti ga ke kafe dulu.”


Rudi mengernyitkan dahinya, kaget dengan perkataan Seruni.


“Aku tadi udah ngobrol ke Mba Diah masalah ini. Kalo gak gini, kayanya bakal lama deh aku bisa deket lagi ke Ibu.”


“Kamu serius?”


Seruni menganggukkan kepalanya dengan mantap.


“Semuanya kuserahin ke Mba Diah. Dini sama Lusi juga udah paham kok sama kerjaan mereka. Aku gak bisa begini terus sama Ibu.”


Mereka berdua diam, hanya ada suara TV yang terdengar.


“Aku baru pertama kali ini punya keluarga beneran, Mas. Aku gak mau sampe kacau gara-gara aku yang gak bisa adaptasi.”


Rudi tidak nyaman dengan jawaban Seruni. Bukan karena tidak terima, tetapi karena merasa tertampar dengan jawaban tersebut. Rudi sadar mungkin ia juga yang kurang menjembatani hubungan Seruni dengan Ibunya. Seharusnya Rudi bisa berbuat lebih, seharusnya ia bisa menjadi kepala keluarga yang baik.


“Mas, kok diem aja? Gapapa kan aku milih gini?”


Rudi melihat ke arah Seruni.


“Iya gapapa. Mas yang minta maaf, mungkin selama ini Mas kurang banget buat jadi jembatan kamu ke Ibu. Nanti tak coba ngobrol sama Ibu juga ya biar ngerti.”


Seruni tersenyum mendengar jawaban Rudi. Ia merasa senang, setidaknya suaminya serius menganggap ini dan mau lebih terlibat lagi di proses adaptasinya.


“Makasih ya, Mas.”


Rudi tersenyum pada Seruni, berusaha menenangkan dan meyakinkan istrinya. Dalam hatinya, Rudi juga tenang mungkin ia tidak perlu lagi menanyakan apa yang mau ditanyakannya tadi pagi. Rudi melebarkan lengan dan Seruni menyandarkan kepalanya di lengan Rudi.

__ADS_1


“Kayanya kita perlu liburan sekeluarga, deh,” ujar Rudi.


...****...


__ADS_2