Kafe Botani & Lidah Mertua

Kafe Botani & Lidah Mertua
Hari Bahagia


__ADS_3

Sri duduk memandangi Rudi dan Seruni yang ada di depannya menghadap Pendeta Simon. Matanya berkaca-kaca, melihat anak laki-laki satu-satunya ini akhirnya menikah. Entah berapa kali Sri bertanya pada Rudi kapan ia menikah dan berapa kali juga ia mendengar anaknya ini berkata “Nanti dulu, Bu. Kita masing-masing masih mau fokus kerja.”. Bosan ia mendengar kalimat itu. Sri sudah berjanji pada mendiang suaminya untuk terus bersama kedua mereka hingga semua sudah menikah dan menyaksikan bagaimana cucu mereka nanti bertumbuh. Rita, anak pertama sudah berkeluarga dan ikut bersama suaminya di Kalimantan lima tahun yang lalu. Vina, anak kedua menikah tiga tahun yang lalu dan tinggal di dekat rumah Rudi. Semenjak Rudi membangun rumahnya sendiri dengan empat kamar tersedia, Sri memutuskan untuk menjual rumah yang dulu ia bangun bersama suaminya. Rumah yang luas seperti itu sudah tidak cocok untuk ia tempati sendiri. Sri sebenarnya masih sanggup untuk mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari tetapi anak-anak melarangnya. Terutama Rudi. Setelah berkali-kali meyakinkan Ibunya untuk tinggal di rumahnya, Sri akhirnya luluh dan menuruti permintaan Rudi. Dengan satu syarat. Syarat yang sudah berhasil dielak Rudi berkali-kali. Rudi harus segera menikah dengan Seruni dan tidak boleh menunda momongan. Memang terdengar egois, tetapi Sri merasa itu sepadan dengan paksaan Rudi untuk tinggal di rumahnya. Sri tidak mau terus berlama-lama di rumah Rudi dan akhirnya tetap sendiri, tanpa ada menantu atau cucu yang menemani.


Sri cukup akrab dengan Seruni. Ia menghargai kerja kerasnya untuk mengurus kafe yang ia bangun dari nol. Terlebih keadaan Seruni yang seorang yatim piatu dari bayi. Seruni mendapat beasiswa untuk kuliah, presentasi kafenya berhasil dibiayai perusahaan kopi dan teh dan akhirnya sangat mandiri. Beberapa kali Sri mendengar cerita dari Seruni yang mengirimkan beberapa penghasilannya untuk Panti Jompo Cahaya Maria. Hal ini juga yang menyebabkan Diah pergi ke kota dan membantu Seruni di kafe. Dalam hatinya, Sri bersyukur mendapat menantu seperti Seruni. Sri menganggap Seruni bukan lagi pasangan yang sepadan untuk Rudi. Seruni lebih dari itu. Air mata berlinang membasahi pipi Sri. Rudi mencium kening Seruni selepas mereka mengucapkan janji suci di dalam Rumah Tuhan. Beberapa tamu undangan bahkan ada yang bertepuk tangan. Agak heran Sri mendengar tepuk tangan tersebut tapi ia hiraukan saja. Toh pada akhirnya Rudi memiliki teman hidup dan Sri tidak lagi sendiri di rumah.


...****...


Sri duduk di kursi khusus keluarga samping pengantin. Hari ini ia merasa begitu bahagia. Satu persatu tamu mulai mendatangi gedung pernikahan Rudi dan Seruni. Beberapa ia kenal (karena memang Sri undang sendiri), beberapa tidak. Keluarga pengantin duduk di seberang kiri, dekat tangga turun dari tempat pengantin bersanding. Rita dan Vina bersama keluarga mereka masing-masing duduk di sana. Karena tidak ada keluarga langsung dari Seruni, kursi untuk keluarganya diisi oleh Dini dan Lusi. Diah duduk di samping Seruni, bertindak sebagai wali keluarga Seruni. Jika Sri masih agak canggung dengan Seruni, beda halnya dengan Diah. Sri dan Diah akrab dan sering bertukar cerita. Diah yang sebelumnya ikut bekerja membantu di Panti Jompo Cahaya Maria terbiasa berkomunikasi dengan lansia. Mereka terkadang memasak bareng di akhir pekan, bermain halma, atau Diah ikut mengantar Sri untuk mengikuti senam tera bersama para lansia di Gereja. Seruni yang tinggal satu kos bersama Diah awalnya ragu untuk meminta izin pada Sri agar Diah bisa ikut tinggal di rumah nanti, tapi siapa sangka ternyata Sri yang meminta langsung agar Diah ikut tinggal bersama di rumah Rudi nanti. Rudi tidak keberatan dengan hal itu, terlebih setelah menyaksikan sendiri kedekatan Ibunya dengan Diah. Setidaknya ada yang membantu untuk di rumah dan kafe Seruni nanti.


Tamu mulai menyantap hidangan yang disediakan oleh pasangan yang berbahagia. Beberapa kedai mulai sibuk mengisi ulang bahan makanan yang diperlukan untuk memenuhi permintaan tamu undangan. Seruni dan Rudi terlihat tidak khawatir, mereka sudah memperhitungkan sedemikian rupa sehingga memperkecil kemungkinan stok makanan akan habis sebelum waktunya. Mereka justru berharap makanan yang disiapkan berlebih sehingga dapat mereka bagikan nantinya pada siapapun yang perlu dan mau. Seruni melirik ke arah Sri yang masih tersenyum lalu menyentuh tangan Sri.


“Bu, mau makan dulu enggak?” tanya Seruni pada Sri. Rudi ikut melihat ke Ibunya. Jam yang sudah menunjukkan tengah hari menyadarkan Rudi untuk mengingatkan Ibunya makan.


“Iya Bu. Makan aja dulu,” tambah Rudi.


“Bareng sama Mba Diah sekalian Bu,” Seruni mencoba meyakinkan.


Sri terdiam sejenak. Perutnya memang sudah lapar, tetapi ia masih mau ada di kursi ini. Diah yang sedari tadi memperhatikan tiga orang yang ada di kanannya ini mulai paham lalu bangkit dari duduknya menghampiri Sri.


“Bu, saya mau makan dulu. Ibu mau ikut enggak?” tanya Diah.


“Ya udah, aku ikut sekalian makan,” jawab Sri.


Seruni dan Rudi tersenyum mendengar jawaban Sri dan inisiatif dari Diah. Perlahan Sri bangkit dan Diah menjaga Sri selama perjalanan mereka menuju tempat keluarga untuk makan siang.


“Aman wes, gak telat makan,” ujar Seruni.


Rudi tersenyum mendengar perkataan istrinya.


“Udah mulai ya ini jadi menantunya?” tanya Rudi dengan nada bercanda.


“Buatku ya udah. Kalo buat kamu ya gak akan pernah mulai,” jawab Seruni sekenanya.


Rudi menahan tawanya. Ia tidak ingin terlihat aneh di depan banyak tamu di depan mereka dengan tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban istrinya. Seruni tersenyum melihat suaminya mencoba menahan tawa. Ia tahu bahwa jawabannya tadi akan membuat Rudi tertawa terbahak-bahak pada situasi normal. Bagi beberapa orang, jawaban seperti itu tidak akan diterima dengan mudah. Seruni yang sudah lama berdamai dengan keadaannya merasa kalimat itu biasa saja karena meskipun tanpa keluarga langsung, ia sudah memiliki penggantinya di Panti Asuhan. Bahkan beberapa saudaranya dulu ada yang datang di pernikahannya ini. Oleh karena itu, Seruni hanya menjawab seperti itu pada orang yang sudah paham satu sama lain. Rudi dan Seruni berdiri dari tempat duduknya begitu melihat beberapa tamu undangan mulai menaiki tangga pelaminan. Rudi dan Seruni tersenyum bersalaman dengan tamu. Mereka mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan ucapan selamat dari tamu-tamu. Terlihat tamu undangan juga tersenyum puas, mungkin senang dengan hidangan yang tadi mereka santap. Setelah menyelesaikan maksud tujuan mereka bertemu pengantin, tamu undangan meninggalkan pelaminan satu persatu. Rudi melirik ke arah Seruni.


“Kamu laper gak?” tanya Rudi.


“Aslinya iya sih, Mas. Tapi takutnya pas kita makan malah ada yang mau foto,” jawab Seruni.


“Sodara-sodaramu dari panti dulu udah dateng?” tanya Rudi.


“Harusnya sih bentar lagi. Kalo Pak Rahmat?” balas Seruni.


“Katanya sih nanti agak siangan dia datengnya,” jawab Rudi.


Rudi memperhatikan sekitarnya, terlihat tamu undangan masih fokus menyantap hidangan dan beramah tamah.


“Sekarang aja deh, kayanya aman ini,” ujar Rudi.

__ADS_1


“Ya udah lah, biarin aja kosong gapapa,” balas Seruni sambil tertawa kecil.


Seruni dan Rudi bergerak menuju tempat makan keluarga. MC keheranan memperhatikan pasangan suami istri ini. Merasa diperhatikan, Rudi melihat ke arah MC lalu mengisyaratkan kalau mereka ingin makan sebentar. MC menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Rita menggelengkan kepalanya tersenyum kecil sambil memangku Alvin, anak satu-satunya. Seruni dan Rudi tersenyum sambil mengelus perut mereka masing-masing.


“Cepet makan sana,” ujar Rita yang kemudian lanjut menyuapi Alvin.


Seruni dan Rudi duduk di dekat Sri dan Diah yang menyantap makanan mereka masing-masing. Sri melihat ke arah pengantin baru tersebut lalu mengambil gelas yang berisi air putih. Perlahan Sri menyeruput air lalu kembali menaruh gelas di meja.


“Jangan lama-lama loh, Nang. Ga enak nanti kalo ada tamu yang nunggu mau nyelametin,” Sri mengingatkan.


Seruni bangkit lalu mengambilkan makanan untu Rudi dan dirinya sendiri.


“Iya, udah bilang kok tadi ke MCnya,” jawab Rudi sambil memperhatikan makanan yang disiapkan oleh Seruni.


“Makasih ya Istriku. Paham banget sih porsinya segimana.”


“Mikisih yi Istriki,” cibir Seruni lalu duduk di kursinya.


Diah tersenyum melihat kelakuan adiknya ini.


“Sekalian aja lah ya nanti kita duduknya lagi. Gapapa ‘kan Bu?” tanya Diah.


“Iya gapapa.”


“Selamat siang untuk keluarga yang berbahagia dan tamu undangan semuanya. Izinkan saya menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur yang ada di sini.”


Keyboardist mulai memainkan intro lagu dan disusul dengan pemain saksofon. Beberapa tamu ada yang terhenti untuk memperhatikan lagu yang akan dinyanyikan sebentar lagi. Mungkin mereka memiliki kenangan tersendiri dengan lagu yang akan dinyanyikan. Diah ikut bersenandung mengiringi Penyanyi. Sri melihat ke arah Diah, senang dengan senandung Diah.


“Kamu gak mau nyanyi nanti?” tanya Sri.


Diah tertawa mendengar pertanyaan Sri.


“Enggak lah Bu, kabur nanti tamu-tamunya.”


“Ngawur. Enak gitu kok suaramu,” ujar Sri.


Seruni dan Rudi selesai makan. Mereka bersandar di kursi, menenangkan diri dulu setelah makan.


“Udah?” tanya Diah.


“Bentar Mba. Belum turun ini loh,” jawab Rudi.


Seruni melihat ke arah pintu masuk. Ia mengernyitkan dahinya, mencoba memfokuskan pandangannya.


“Mba, itu Bu Ratna sama Mba Susi ‘kan ya?”

__ADS_1


Diah ikut melihat ke arah pintu masuk.


“Iya bener. Ada Gina sama Lulu juga itu.”


“Ya udah. Udah yuk balik lagi,” ujar Seruni.


Seruni, Rudi, Sri dan Diah beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing menuju pelaminan. Seruni tidak menyangka kalau Bu Ratna juga ikut datang ke resepsi pernikahannya. Dulu, Bu Ratna yang memaksa Seruni untuk melanjutkan pendidikannya hingga kuliah. Seruni yang tadinya ingin ikut membantu Panti Asuhan ditolak oleh Bu Ratna. Bu Ratna yang selalu mengusahakan untuk mendatangi pembagian raport anak-anak Panti Asuhan bersikeras agar Seruni untuk melanjutkan pendidikannya. Sayang jika nilai-nilai Seruni yang bagus tidak dimanfaatkan untuk mencari beasiswa atau berkuliah dengan biaya yang lebih murah. Seruni akhirnya mengikuti kemauan Bu Ratna dan akhirnya ada di gedung ini. Seruni, Rudi, Sri dan Diah sudah berada di posisi mereka masing-masing. Seruni bersiap untuk menyambut Bu Ratna dan saudari-saudarinya yang sudah semakin dekat. Sri menyambut jabatan tangan Bu Ratna. Bu Ratna memeluk Sri, tersenyum bahagia.


“Saya Ratna. Ibu Kepala Panti Asuhannya Seruni dulu, Bu. Selamat ya Bu, Saya doakan yang terbaik buat Keluarga Ibu juga,” ujar Bu Ratna.


“Iya makasih juga ya Bu. Ibu udah ngerawat Seruni sampe sekarang udah sukses.”


Bu Ratna menganggukkan kepalanya lalu lanjut menjabat tangan Rudi dan memeluknya. Seruni tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Bu Ratna. Matanya berkaca-kaca, ia fokus menahan air mata turun membasahi pipinya. Bu Ratna kali ini ada di hadapan Seruni. Mereka mematung, saling berpandangan. Seketika teringat kejadian lalu-lalu yang mereka alami bersama. Seruni tak kuasa menahan air matanya. Segera ia memeluk Bu Ratna dan menangis. Bu Ratna tersenyum sambil mengelus pundak Seruni. Perlahan air matanya mengalir.


“Bu, makasih ya Bu,” ujar Seruni.


“Iya Ni. Sama-sama. Jadi keluarga yang baik ya. Saling menopang dan mengerti.”


Seruni dan Bu Ratna melepaskan pelukan mereka. Seruni menganggukkan kepalanya sambil mencoba tersenyum. Gina dan Lulu segera mendekati Seruni dan gantian merangkul Seruni. Bu Ratna bergeser ke Diah dan juga saling berpelukan.


“Selamat ya. Langgeng terus,” ujar Gina.


Mereka bertiga lalu melepaskan pelukan mereka.


“Makasih ya Gin.”


“Cepet punya momongan juga ya,” ujar Lulu sambil tersenyum.


Seruni tertawa mendengar perkataan Lulu.


“Gampang lah itu. Kita masih fokus kerja dulu,” ujar Seruni.


Sri mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Seruni. Apa benar yang barusan ia dengar? Sri terdiam, mencoba positif kalau jawaban Seruni tadi hanya basa-basi. Rudi tersenyum pada orang yang akan segera mendekatinya. Pak Rahmat datang dan bersiap menyalami keluarga Rudi. Sri memaksa tersenyum pada Pak Rahmat. Ia masih belum bisa menerima perkataan Seruni tadi. Pak Rahmat lanjut menyalami Rudi dan Seruni sambil tersenyum bahagia. Senang melihat pegawai kepercayaannya ini menikah juga.


“Selamat ya Rudi, Seruni. Langgeng selalu, dikuatkan dalam berkeluarga, segala rencana yang disusun bisa tercapa dan disegerakan kalau ingin punya anak,” ujar Pak Rahmat sambil tersenyum.


Rudi dan Seruni tertawa mendengar ucapan dari Pak Rahmat. Mereka sepertinya sudah lupa dengan permintaan Sri.


“Makasih ya Pak buat doa-doanya. Kalau buat yang momongan masih nanti kok Pak,” ujar Rudi.


“Iya Pak. Kami masih pengen fokus kerja dulu,” Seruni menambahkan.


Pak Rahmat tertawa mendengar jawaban dari pasangan baru ini.


“Ya bebas. Yang penting kalau memang udah diberi kepercayaan sama Tuhan ya disyukuri,” ujar Pak Rahmat.


Sri semakin tidak fokus. Kalimat yang ia dengar sebelumnya dari Seruni sebelum Pak Rahmat datang ternyata benar. Rudi dan Seruni sudah bermaksud untuk menunda memiliki anak. Sukacita yang sedari pagi dirasakan Sri perlahan menghilang. Menghilang karena jawaban yang dua kali Sri dengar.

__ADS_1


__ADS_2