KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Para Ksatria


__ADS_3

Pangeran...


Pangeran, aku mencintaimu.


Sungguh, aku tidak bermaksud menjebakmu.


Tapi kau mengecewakanku...


Kau anggap apa kedekatan kita selama ini?


Salahkah aku berharap?


Agha, selir utama, menangis di depan altar pemujaan bagi Pangeran Cyril, di ruang Doa.


Saat itu, Orion sedang melintas karena akan mengganti bunga di depan patung kedua orang tuanya.


Tapi, hidungnya menangkap sesuatu yang tidak beres.


Beberapa orang yang tidak ia kenal, aroma manusia yang asing, ada di sekitarnya.


Jadi gadis itu mengubah dirinya menjadi wujud manusia agar tidak mencolok. Wujud manusianya mungil dan kurus. Mudah menyelinap di antara pilar-pilar.


Dan saat itulah, Orion melihat banyak orang yang tidak ia kenal. Pakaian mereka bukan khas Zafiry. Dengan bahan yang kualitasnya payah dan bau pesing yang mencolok. Bahkan yang terlihat lebih ‘rupawan’ dari kawanannya saja, di mata Orion tampak menyedihkan.


Juga... bau mesiu yang kental.


Senjata yang tersampir di punggung mereka hanya onggokan kayu. Sekali remas saja bisa hancur, menurut Orion.


Tapi...


Dalam waktu dekat, bau manusia yang datang semakin kuat. Menandakan kalau jumlahnya semakin banyak.


Perasaan Orion langsung tidak enak.


Agha menghampiri salah satunya.


“Lakukan seperti yang telah dibicarakan. Buat seakan semua kematian tampak normal,” desis Agha.


“Baik Nyonya. Kapal untuk Anda sudah menunggu. Kemasi hartamu secepat mungkin. Sisanya kami yang urus,” kata salah seorang di antaranya.


“Bagaimana dengannya?” tanya Agha.


“Itu urusan kami dengannya. Katanya, kamu tidak boleh tahu terlalu banyak, Nyonya. Itu bisnis kami dengannya,”


Agha mendengus kesal, lalu berjalan pergi ke sisi satunya dan menghilang.


Dan saat itu, Orion pun langsung berlari menuju Kakaknya, Pangeran Cyril.


**


Penglihatan yang diperlihatkan Orion begitu jelas di mata Kaisar saat adiknya itu menggigit lengannya.


Dengan sendu ia menatap Adinda yang sedang duduk di depannya.


“Kai...” panggil gadis itu.


Kaisar tak menjawab, ia juga tak tahu harus apa.


“Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini. Jangan berani-beraninya kau samakan aku dengan yang dilakukan leluhurku. Mengenal mereka pun tidak. Hal itu tidak adil bagiku,” kata Adinda tegas.

__ADS_1


“Adinda,” desis Kaisar.


“Kau pikirkan saja dulu, Kai. Maaf aku butuh ketenangan. Bisa tolong tinggalkan aku?”


“Adinda, perasaanku padamu masih sama,”


“Begitukah? Kamu yakin?”


Kaisar pun menghela napas panjang, “Tapi... tampaknya memang harus kupikirkan lagi semuanya,”


“Kamu tidak sakit hati?”


“Entahlah... aku merasa ada hal ganjil di penglihatan Orion,”


“Apakah itu?”


“Ada dua orang yang berkhianat di sini, dan Agha hanya perantaranya. Oke, perbuatannya memang salah, ia yang bertugas membuka gerbang. Tapi aku merasa ada otak yang belum kuketahui selama ini,”


Mereka terdiam.


“Kai, katakan padaku,” desis Adinda setelahnya. Gadis itu menghampiri Kaisar dan duduk di pangkuannya, “Apa ada yang bisa kulakukan agar bisa membuktikan kalau aku tidak ada hubungannya dengan semua ini?”


“Maksudmu?”


“Aku melihat cara Orion mentransfer ingatannya padamu, tadi. Apa ada cara seorang manusia biasa sepertiku dapat memperlihatkan segala yang kuketahui selama hiduku padamu?”


“Ada caranya,”


“Apa itu?”


“Bercinta denganku,”


“Oh... baiklah, kalau itu bisa mem-“


“Aku cuma bercanda, Princess. Caranya tidak se-ekstrim itu,” kekeh Kaisar.


Adinda mencibir, “Kau ini, di saat begini masih bisa bercanda,”


Kaisar memeluk Adinda dengan lembut dan membenamkan wajahnya di leher gadis itu. “Kau mau aku tahu semua yang telah kau lalui selama ini? Semua yang kau ketahui? Semua rahasia terdalammu?”


“Ya, aku ingin kau percaya padaku,” kata Adinda. “Aku tidak ingin dituduh macam-macam,”


“Dengan izinmu akan kulakukan. Tapi mungkin akan berbekas seumur hidup di kulitmu,”


“EH?’


“Aku akan menggigitmu dan menghisap beberapa cc darahmu, mungkin rasanya bisa sakit karena aku tidak memiliki kemampuan afrosidiak sebagai penghilang rasa sakit seperti Orion. Setelah itu kau akan lemas dan tidur seharian untuk pemulihan diri,”


**


Luis, Gallard dan sekitar 10 orang lain berjaga di depan kamar Adinda dengan gugup dan ketakutan.


“Apa yang sedang kita hadapi ini?” desis Luis sambil mengangkat tangannya, yang juga gemetar, dan menyulut rokoknya. Itu pun butuh waktu lama untuk mempresisikan posisi api dan ujung batang rokok.


“Aku sudah curiga sejak Kaisar datang ke sini,” kata Gallard pelan sambil menempelkan pipinya ke laras senjatanya. “Hewan semacam itu tidak ada di dunia itu, tidak normal. Dan tingkahnya bukan sejatinya hewan. Pasti ada sesuatu yang lain, yang salah, yang tidak seharusnya ada,” desisnya.


“Kita sudah di sini sekarang, perlukah kita kabur?” tanya Luis mulai ragu.


“Aku entah kenapa percaya pada Boss Valent. Dia tidak mungkin mencelakai kita. Aku berhutang budi banyak sekali padanya. Kalau dia jahat sudah dari dulu ia menelantarkan aku,”

__ADS_1


“Kita hampir terbunuh dimana-mana karena perintah Xavier. Tapi Boss Valent selalu ada, bahkan turun langsung ke lapangan memastikan keselamatan kita,” tambah Luis.


“Dan... sikap Kaisar saat di Quon. Kau perhatikan?” tanya Gallard.


“Ya, Lard... kentara sekali kalau ada yang sedang dicarinya. Kaisar dan Boss Valent sedang mencari sesuatu yang penting, tapi mereka tidak ingin Xavier tahu,”


Gallard mengangguk pelan.


Ia menatap yang lain yang juga sedang mendengarkan.


Semua mengangguk setuju.


Cklekk!


Pintu kamar Adinda dibuka.


Yang pertama mereka lihat adalah sosok pria, tinggi sekali, dan berkulit coklat.


Matanya merah membara, dan tatapannya tajam.


Wajahnya tidak biasa, saking tampannya.


Bagaikan dewa, dia menatap satu persatu orang di depannya.


“Luis, Gallard, Alfredo, dan Echo...” desisnya, “Kalian berempat ikut aku,” katanya kemudian.


“Sementara sisanya tolong perbaiki kerusakan yang ada, sebelum Xavier pulang. Jackal, kau yang pimpin pengaturan. Kau memiliki kemampuan dekorasi yang baik,”


Yang namanya Jackal tentu saja menaikkan alisnya. Kenapa orang ini bisa tahu?!


“Jangan lupa atur juga perabotan di kamar baruku,”tambah pria misterius itu.


“Kamar baru??” tanya Jackal tak mengerti.


Namun semua baru mengerti saat pria itu berubah menjadi sosok Harimau Hitam.


“Kaisar??!” seru semua kaget.


Harimau berjalan dengan anggun menyusuri koridor. Luis sampai ngompol saking ketakutannya.


“Aku akan ke kamar Valent, setelah membersihkan dirimu, kita bertemu di sana. Empat orang yang tadi kusebutkan,” kata Kaisar melalui telepati.


“Oh Tuhan...” desis Gallard masih limbung karena bingung dan takut.


**


Kala itu semua menatap Kaisar dengan tegang. Harimau hitam itu duduk tenang sambil menjilat winenya yang dituang ke atas mangkuk.


Valent bahkan tidak berani mengganggu Kaisar, Orion hanya duduk menunduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


Sementara 4 anak buah yang lain juga duduk diam dengan salah tingkah.


"Tadinya kami berpikir akan menyusup berdua saja. Tapi setelah melihat penjaga yang ditugaskan, besar kemungkinan kami akan ketahuan. Mereka ada di berbagai sudut, mereka meneliti segalanya," kata Valent sambil menunjuk lokasi yang ditunjukan drone mereka. Layar besar dengan metode sentuh mewarna rapat malam itu.


"Boss, untungnya bagi kita apa?" tanya Gallard. Dijelaskan maksud dan tujuan menghancurkan kastil Quon malah membuatnya berhitung.


Kaisar berhenti menjilati wine.


Ia juga menyadari hal itu sekarang.

__ADS_1


Patutkah melibatkan banyak orang untuk urusannya sendiri?


__ADS_2