KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Jiwa di Helaian


__ADS_3

Mari kita kembali ke masa saat Rebecca pingsan.


Setelah sampai di kamarnya, Kaisar meletakkan Adinda dengan hati-hati di ranjang sambil tetap menciuminya dengan erat.


Di lain pihak, Adinda pun tidak ingin melepaskan pelukannya. Kedua kakinya merengkuh pinggang Kaisar dan mengait dengan posesif.


Wanita itu juga mengalungkan kedua tangannya ke sepanjang leher Kaisar yang kuat.


Lidah pria itu bermain, menelusuri setiap relung mulut Adinda. Dan Adinda menyukainya.


Saat ciuman mereka terlepas dan Kaisar menelusuri leher Adinda, menggoda wanita itu dengan kecupan-kecupan yang dalam, sehingga kulit Adinda menjadi kemerahan, Adinda pun terkikik senang. "Rasanya lama sekali aku tidak melihatmu. Biasanya aku setiap hari melihatmu," bisik Adinda sambil mengecup pelipis Kaisar dan kembali merengkuh pria itu.


Tangan Kaisar yang kokoh dan kuat, dengan urat nadi yang menyembul dan tulang yang besar, diselipkannya masuk ke dalam baju Adinda, sentuhan kuat penuh hasrat ke punggung Adinda yang kurus.


Adinda melengkungkan tubuhnya saat kedua ibu jari Kaisar menekan area dadanya.


Kaisar pun meloloskan pakaian wanita itu ke atas. Semuanya tanpa terkecuali.


"Saat kau naik tahta dan jadi milikku, jangan coba-coba kau memakai p4kai4n d4lam saat sedang berdua bersamaku," geram Kaisar.


Adinda menanggapinya dengan tawa geli yang renyah. Tapi tidak lama, tawa itu kembali berubah menjadi d3sahan. Kaisar sedang mengerjai puncak dadanya.


Sampai berapa lama, entahlah, Adinda terlena dengan permainan nakal Sang Raja Zafiry, yang ia rasakan berkali-kali b1rahinya naik, sampai ia rasakan lidah Kaisar di ar4a kewan1taannya, dan Adinda tak kuasa menahan pekikannya saat lidah itu masuk lebih dalam.


Jemarinya yang lentik dan rapuh meremas rambut Kaisar, dan tubuhnya reflek terbuka lebar-lebar untuk Sang Raja.


"Kai…" desisnya di antara nafas yang menderu. "Kai bersatulah denganku," pintanya.


"Ehmh…" hanya terdengar gumaman malas Kaisar di bawah sana.


"Kai, kumohon," kembali Adinda berbisik.


Kaisar menghentikan serangannya, lalu naik ke ranjang. "Nanti dulu, Sayangku…" desisnya sambil menjilati bibirnya. Ia sudah selesai 'makan'. Nectar wangi Ratunya, terasa lebih manis dari cairan apa pun.


Dan matanya berkilat menatap Adinda.


Binatang buas.


Liar dan berbahaya.


Sedang mengincar Adinda.


Saat ia membuka helaian kain di tubuhnya, dan Adinda melihatnya telah siap sepenuhnya, Adinda pikir mereka akan bersatu.


Namun Kaisar menghendaki hal lain.


Dan mendekatkan tubuhnya ke depan wajah Adinda.


Tubuh yang lebih besar dari lengan Adinda. Yang seringkali membuatnya bingung, karena kesakitan dan kenikmatan bercampur jadi satu saat hal itu masuk ke dalam k3wanit4annya.


Tangan Kaisar merengkuh rahang Adinda, memintanya membuka selebar mungkin.


"Lidahmu, di area sini," Kaisar menunjukkan caranya.


Selama beberapa saat Adinda merasa jengah karena ini hal baru baginya. Ia berkali-kali terbatuk saat terlalu bersemangat.


Tapi Ia cepat belajar cara mengoda Kaisar.


Saat mengangkat wajahnya sedikit dan melihat raut wajah kekasihnya mengernyit menahan nikmat, Adinda merasa sangat bahagia.


Jadi ia usahakan sebaik mungkin melayani Sang Raja.


Kaisarnya.


Ia mengeluarkan lidahnya, lalu perlahan ia telusuri area bawah, area tengah, area pangkal, sambil jemarinya menggoda bongkahan di bawahnya.

__ADS_1


Geraman dari Kaisar. Pria itu mengangkat pinggulnya.


"Astaga, tanganmu… sssh…Mulai nakal ya," kekeh Kaisar sambil merengkuh leher Adinda.


Adinda meremas lembut kantong sp3rma Kaisar, sampai Pria itu mendesis dan mengangkat kepalanya.


Setelah merasa ini saatnya, Gadis itu melepas semuanya lalu naik ke pangkuan Kaisar.


Ia sudah sangat basah.


Ia senang melihat pria tangguh di depannya ini tak berdaya.


Ia suka melihat Kaisar menatapnya dengan mendamba seperti ini.


"Ergh!" desisnya kesakitan saat perlahan ia memasukan tubuh Kaisar ke dalamnya. Perlahan, cairan tubuhnya membantunya untuk melahap tubuh pria itu.


Perlahan, erangan berubah menjadi d3sahan.


Perlahan, Adinda bergerak menguasai dirinya.


"Aku mencintaimu… Kaisar-ku," desis Adinda sambil mengernyit menahan perih.


"Kamu terlihat sangat cantik saat ini," Kaisar mendongak sambil menyingkirkan rambut Adinda dari leher wanita itu.


Dan mereka bergerak beriringan, dari tempo lambat, sampai akhirnya gerakan mereka semakin cepat.


Setelah beberapa lama Kaisar merasa kekasihnya sudah kepayahan, Adinda berkali-kali menegang, entah berapa kali wanita mungil di depannya ini mengalami pelepasan. Jadi ia lepaskan tubuh Adinda, dan ia baringkan di sebelahnya.


"Adinda, jangan tidur dulu," desis Kaisar.


"Aku tak kuat lagi," gumam Adinda.


"Bersiaplah, aku akan membuatmu kaget,"


"Apa maksudmu…?" gumam Adinda sambil menutupi matanya dengan punggung tangannya.


Dan pekikan itu berubah jadi teriakan saat Kaisar memasukinya dan bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diperkirakan Adinda. Bahkan untuk bernafas pun Adinda tidak sempat.


Belum sempat kejutan itu dipikirkan Adinda, Kaisar sudah mencabut tubuhnya lalu menekuk tubuh Adinda dengan mudah menghadap ke arahnya dan memasukinya kembali.


Rasanya Adinda akan kehilangan kesadaran. Bukan karena ia kecapekan, tapi karena berkali-kali spotnya tersentil sampai-sampai tubuhnya lunglai.


Yang Adinda ingat di saat terakhir, tubuh Kaisar menekan kuat perutnya dari dalam. Sampai Adinda reflek menghujamkan kukunya di bahu Sang Raja. Rasa nyeri yang melandanya seperti sesuatu memaksa merangsek masuk ke dalam.


Kaisar pun mengirimkan benihnya ke dalam rahim Adinda.


Disertai keluhan nikmat pria itu saat menjelang lepasnya gairah.


**


Dengan tangan masih gemetaran, Adinda meminum air yang disodorkan Kaisar. Tenggorokannya langsung terasa sakit saat air mengalirinya. Berapa lama ia berteriak-teriak? Berapa banyak lenguhan yang dikeluhkannya? Sampai-sampai tenggorokannya kering begini…


Dan di depannya, Kaisar bahkan bergerak seakan tidak terjadi apa pun barusan.


Adinda mengamati tubuh kekasihnya itu. Kaisar mengenakan kimono dari sutra, dengan talinya diikat asal-asalan di area pinggang sehingga dadanya terbuka.


Guratan otot terpahat sempurna yang menggoda untuk ditelusuri jemari. Rambut hitamnya yang panjang melebihi bahu. Tebal dan lembut.


Adinda suka saat meremas helaiannya di antaranya jari-jarinya.


Lalu Kaisar mengernyit, dan mendongak ke atas.


Ia membaui sesuatu.


"Apa yang kau bawa?" tanyanya setelahnya.

__ADS_1


Seharusnya dari awal ia menyadari hal ini, tapi mereka sedang dalam kondisi terlena. Bau khas yang sangat dikenalnya.


Dan Kaisar pun heran Olena tidak membahas apa pun mengenai sesuatu yang dibawa Adinda.


Ataukah,


Olena sudah tahu tapi ia membiarkan Kaisar menyadarinya sendiri…?


Helaian rambut putih Conrad, tersimpan di dalam sapu tangan di dompet Adinda.


"Astaga…" desis Kaisar saat mengambil benda itu. "Conrad, maafkan aku…" desisnya kemudian dengan air mata yang langsung menitik.


**


"Kau kenapa?" Gallard memeluk Olena dan belakang dan mencium leher wanita itu.


Lagi-lagi Olena menangis di atap.


Kini ia menangis menatap ke arah Kastil Velladurai.


"Kau sudah sejam di sini. Ini durasi menangis terlamamu," desis Gallard sambil membalik tubuh Olena agar menghadapnya dan menghapus air mata kemerahan wanita itu.


"Conrad," isak Olena.


"Ini Conrad yang mana?"


"Conrad-Ku,"


"Apa yang terjadi?"


"Dia mau bunuh diri…"


"Apa maksudmu?"


"Gale, dia menitipkan helaian rambutnya ke Adinda. Tampaknya ia menitipkannya pada Adinda untuk diserahkan kepada Kak Cyril,"


"Aku tak mengerti apa dampaknya?"


"Helaian rambut Conrad yang sama, digunakan untuk membunuh orang tua kami, juga untuk membunuh ibunda Adinda. Saat ia menyerahkannya ke Sang Raja, itu berarti dia ingin rambut itu digunakan. Helaian rambut, atau bulu kami, sangat tajam,"


"Dan itu berarti…?"


"Berarti… Conrad memberikan restunya untuk Perjanjian Darah, juga sekaligus ingin agar Kak Cyril membuat senjata dari helaian itu, digabung dengan bulu kami bertiga, agar tercipta suatu senjata,"


Olena menatap Gale dengan pilu, "Masalahnya... Conrad juga menitiokan jiwanya di helaian rambutnya. Itu berarti, saat kami meleburnya, kami juga melenyapkan jiwanya," isakan Olena semakin kencang.


"Astaga... dia sampai harus bunuh diri," Gale memeluk Olena dengan erat sambil mengecup dahi wanita itu.


"Tapi setelah ini, kami bisa dengan mudah membunuh Conrad si Iblis... tak ada jalan lain Gale, tak ada..."


**


"Kakak… Jiwaku berada di helaian rambut ini. Saat rambutku tersampaikan padamu, ketahuilah aku merestuimu dan Adinda untuk menikah dengan Perjanjian Darah. Juga, saat rambutku dan rambut para pewaris tahta terbentuk menjadi pedang, saat itulah aku akan terbunuh… Jadi kamu bisa tanpa ragu melenyapkan sosok Iblis Serigala Hitam, karena saat itu aku sudah mati,"


Kaisar menyadari pesan Conrad.


Terpatri jelas berbentuk mantra di helaian rambut itu.


Mantra itu perlahan hilang ditiup angin.


Conrad ingin agar rambutnya dijadikan bahan senjata.


Wasiat terakhir adiknya…


Jadi, setelah senjata ini terbentuk, Kaisar tidak akan ragu lagi menyerang Sang Iblis dan anteknya.

__ADS_1


"Panggil Adik-adikku ke sini," ujarnya ke salah satu rakyatnya, "Ah iya, juga si Master Pongah itu,"


**


__ADS_2