KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Sang Serigala


__ADS_3

"Hey Luis, aku menemukan lempengan aneh di balik LED," Gallard menggeser lampu LED di atas sana.


"Duh, bentuknya seperti apa? Kau ini berat sekali sih, lututku sampai gemetaran!" Luis meringis menahan bobot Gallard yang memang sedang berdiri di atas bahunya. Karena kubah di atas mereka tingginya sekitar 4 meter.


"Semacam lempengan kaca dengan aliran sirkuit dari emas," Gallard menarik lempengan itu ke bawah, ternyata bisa ditarik sampai berbentuk seperti wadah kaca. "Mungkin aku harus meletakkan bulu dan darah Boss Kais ke dalamnya…"


"Boss Kais?" desis Luis.


"Ada pembaca yang memanggil Kaisar begitu, lebih baik nama panggilannya dibandingkan Bang-Kai,"


"Kau atur lah… Jangan keenakan nangkring di badanku, kau bukan lutung!" gerutu Luis.


"Dan kau bukan si buta dari goa hantu," timpal Gallard.


Gallard mengambil bulu hitam Kaisar yang dengan hati-hati ia selipkan di kantong bajunya, lalu meletakkan bulu hitam Kaisar ke dalam mangkuk.


Bulu itu bereaksi ke aliran sirkuit emas, lalu berubah menjadi membara bagaikan bulu api.


"Bulunya terbakar!" seru Gallard.


"Darahnya bagaimana?!"


"Sebentar, aku lagi ketakutan!" desis Gallard panik. Lalu dengan gemetaran ia ambil tissue khusus yang tertoreh darah Kaisar,lalu ia goreskan ke lempengan di samping bulu yang terbakar.


"Bro! Lantainya bergoyang! Turun dong!" seru Luis.


"Astaga! Kau bawa saja aku keluar!"


Jadi Luis pun dengan masih tetap menggendong Gallard di bahunya, setengah berlari keluar dari kubah.


Dengan terpana mereka melihat lantai kubah terbuka setengahnya, ada tangga ke bawah.


"Oke… sekarang tinggal menutupnya lagi tapi dengan menyelipkan penahan pintu," desis Gallard.


"Dan kita tempelkan peledak di tempat yang sudah ditandai,"


"Cepat selesaikan, aku lapar…"


Mereka bahkan tidak terpikir untuk masuk lebih dulu.


Padahal mereka tahu di bawah itu ada berton-ton emas.


Dan saat ini tidak ada yang memperhatikan mereka.


Sampai tahap itu mereka setia kepada Valent.


**


Setelah meletakkan semua peledak, mereka berdua mengendap-endap keluar dari mansion.


Walau pun berpakaian ala polisi, tapi sebisa mungkin mereka tidak terlihat. Karena memang situasinya sedang sangat kacau. Semua orang berusaha membangunkan para anggotanya yang pingsan karena bius Orion, dan semua cctv secara misterius rusak.


"Ayo bro!" bisik Luis sambil mengambil jalur yang jarang dilewati orang, lewat selasar samping.


"Sebentar, aku tempelkan beberapa peledak di sini," desis Gallard.


"Jangan kelamaan, aku mau pipis,"


"Kau selesaikan saja urusanmu di pohon!"


"Aku bukan anj1ng!"


"Ribet sekali sih hidupmu," gerutu Gallard sambil berlutut dan mengaktifkan peledak di bawah jendela yang tidak terlihat orang.


Sejenak, ia melirik ke atas.


Dan mata birunya menatap sesuatu yang tidak biasa.


Jendela itu mengarah ke air mancur yang ada di tengah bangunan. Area taman dalam. Dan di sana, duduk di pinggir air mancur terdapat sosok.


Entahlah laki-laki atau perempuan. Rambutnya panjang keperakan tapi badannya kokoh dan dilihat dari ukuran betisnya mungkin tingginya sekitar 2 meter.


Wajahnya cantik. Seperti laki-laki pemeran film kungfu kolosal. Kalo di Jepang biasa disebut Bi-Shounen. Tapi Gallard tahu orang itu laki-laki karena posturnya gagah, walaupun memang tubuh Kaisar jauh lebih besar.


Dan yang paling penting… Matanya berwarna merah dan membara di tengah gelap malam.

__ADS_1


Bersinar dan mencolok bahkan dari jarak beberapa meter dari posisi Gallard.


Sosok itu duduk tenang sambil menatap ke arah menara 3. Ia sepertinya menunggu sesuatu.


Entah kenapa, Gallard reflek keluar dari koridor dan menghampiri sosok itu.


Setelah dekat ia menyadari kalau pakaian si pria misterius adalah… Seragam Abizar Azzarro.


Organisasi Mafia nomor 1 di Ruby Country.


Pria berambut keperakan itu menoleh sedikit ke arah Gallard yang menghampirinya. Ia tetap tenang dan bahkan tersenyum tipis ke arah Gallard.


"Selamat Malam, Pak Polisi," sapanya kalem. Sebuah sapaan yang terasa sangat aneh. Karena situasi dimana semua orang panik, ia malah duduk tenang di tengah taman.


"Anda apanya Boss Kaisar?" tanya Gallard langsung.


"Kaisar? Dari kerajaan apa?" tanya sosok itu.


Gallard menyadari kalau Kaisar bukanlah nama asli, seingatnya itu memang nama pemberian Xavier.


"Hm… Kalau Orion bagaimana? Anda kenal?"


"Ah!" sosok itu bangkit dan berdiri. Ya tingginya setara Kaisar saat menjadi manusia, hampir 2 meter. Sampai Gallard mendongak dan mundur selangkah saat pria itu menghampirinya.


"Adikku bersamamu? Aku sedang mencarinya. Karena aroma-nya sangat kuat di mansion ini kupikir dia ada di sini,"


"Tadinya dia memang di sini tapi berhasil kami selamatkan," kata Gallard.


"Dan 'kami' ini siapa?" tanya pria asing itu.


Ada sesuatu yang berbeda di diri pria ini, yang membuat Gallard urung memberikan informasi.


Kaisar dan Orion bersikap seakan mereka kebingungan pada awalnya. Menganggap kalau mereka masih hidup di masa lalu, dan kini sedang tersesat. Banyak penyesuaian sikap yang harus mereka lakukan.


Tapi pria di depannya ini, seakan telah melalui banyak hal bertahun-tahun. Ia menguasai keadaan, ia tetap tenang dan menganggap semua adalah bagian dari prediksinya. Seakan dia tahu banyak rahasia.


"Siapa nama Anda, beritahu aku dulu baru aku infokan siapa kami," kata Gallard.


Pria itu mencondongkan tubuhnya, lalu mengendus Gallard dari jauh.


Ada taring di antara giginya.


"Aroma wine, khas Velladurai," kata pria itu.


Gallard ternganga.


"Velladurai memiliki wangi anggur bercampur mesiu yang khas. Tapi ada lagi bau yang berbeda di tubuhmu…"


Gallard mundur selangkah lagi.


"Ada bau… Tembakau dan cengkeh. Lalu ada wangi madu,"


"Em… Iya itu wangi sabun yang kupakai mandi, bisa jadi itu parfumku," Gallard mundur lagi selangkah.


Semakin Gallard mundur, semakin pria itu mendekat.


Dan wajah pria itu perlahan berubah.


"Aku tahu bedanya parfum dan aroma tubuh seseorang. Hidung serigalaku tidak bisa dibohongi," desis pria itu.


Wajahnya berubah bengis dan menakutkan.


Hidung dan mulutnya berubah menjadi semacam moncong. "Apalagi... aroma siluman dari negeri tempatku dilahirkan,"


Dan tangannya tumbuh cakar hitam yang tajam, ukurannya juga memanjang.


Gallard tahu, ini waktunya lari.


Jadi pria itu berbalik badan, lalu lari secepat ia bisa. Lewat jendela di depannya, ia bisa melihat pria tadi berubah menjadi serigala hitam raksasa dan sedang melompat ke arahnya.


DZING!!


sebuah peluru melesat di samping Gallard dan mengenai bahu si serigala raksasa.


"GROAAR!!" teriakan marah si serigala raksasa memicu perhatian semua orang di dalam mansion.

__ADS_1


Semua orang langsung menuju ke taman dalam.


"Bro! Kesini!!" Luis menarik Gallard. Ia menenteng senapan laras panjang. Rupanya Luis yang tadi menembak makhluk itu. Wajahnya sama tegangnya dengan Gallard.


"Luis!!" Gallard memeluk Luis, "Kau menembaknya! Kupikir aku bakal mati!!"


"Aku tadinya ragu untuk menembaknya kupikir dia kebal peluru seperti Kaisar! Ternyata dia terjatuh!"


"Yeah! Siluman juga memiliki kekurangannya masing-masing," desis Gallard.


"Siluman, bro?! Makhluk itu siluman?"


"Aku yakin sekali," Gallard menipiskan bibirnya, "Kemungkinan dia ada hubungan saudara dengan Kaisar dan Orion. Warna mata mereka sama. Tapi yang ini versi yang lebih berbahaya. Dia memakai seragam Abizar Azzarro,"


"Hah?!"


"Ayo cepat pulang dulu!" seru Gallard sambil berlari keluar.


Kekacauan yang terjadi membuat mereka dengan mudah pergi dari sana. Semua orang bersiaga dengan senjatanya, berlarian memburu sosok msterius yang saat banyak orang datang langsung kabur ke arah seberang.


Luis dan Gallard menyusup ke salah satu mobil polisi yang mesinnya masih menyala, lalu kabur dari sana.


"TIM A!! TIM A!!" seru Luis memakai earpiecenya, yang memang disepakati boleh digunakan kalau mereka sudah keluar dari area mansion untuk menghindari penyadapan.


"TIM A di sini," suara Kaisar.


"Boss Kais! Kami berhasil!" seru Luis.


"Orion, bakar semuanya,"


Saat itu, Orion yang memang menunggu di salah satu pohon besar di area taman luar mansion, menyadari suatu aura yang sangat kuat memancar seketika dari dalam bangunan.


Insting itu tadinya tidak ada, namun sekejab, ia merasakan energi siluman yang sangat kuat.


Berbarengan dengan itu, terdengar teriakan binatang buas dari dalam mansion.


Sementara Kaisar, Valent, dan beberapa ornag lain menunggu di tempat terdekat bersama 4 truk besar.


Orion yang sedang tertegun akibat kejadian aneh, sadar kalau harus menjawab aba-aba dari Kaisar.


"B-baik Kak," dan dengan gagap ia menjawab, lalu merubah tubuhnya menjadi ular besar sambil merayap turun dengan cepat ke tanah.


Dengan ekornya ia menekan tombol merah.


Bom yang dipasang oleh Gallard dan Luis meledak berurutan.


Orion masuk dan menghembuskan nafas apinya. Bagaikan naga yang mengeluarkan kobaran dari dalam mulutnya.


Gadis itu membakar semuanya.


Orang-orang berlarian keluar.


Bom membuka jalan akses menuju menara 3 lebih cepat dengan cara memecah bangunan-bangunan di depannya. Api dari Orion memaksimalkan aksi mereka untuk meluluh lantakkan semua lebih cepat


Saat itu truk milik Valent dengan sukses masuk melewati area yang sudah dirancang tidak terkena bom dan api. Langsung menuju menara 3 untuk mengangkut semua emas Zafiry.


"Orion…"


Seseorang memanggil Orion. Suara laki-laki.


Orion menoleh ke belakang.


Tapi tidak ada siapa pun.


Tapi ia kenal suara itu…


"Kak Conrad?" desisnya.


Ia melayangkan pandangan ke segala arah. Ia tidak melihat siap-siapa.


BUUM!! Ledakan dari menara dua.


Perhatian Orion teralihkan.


Gadis itu lalu kembali fokus ke pekerjaannya, membakar semuanya.

__ADS_1


__ADS_2