KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Operasi


__ADS_3

“Pangeran!!”


“Putri!!”


“Bawakan infus!”


“Siapkan ruangan operasi!”


“Bagaimana bisa terjadi?”


“Pangeran Conrad bagaimana?!”


“Siapkan peralatan!”


“The Wizard, Putri Olena, apa kalian butuh dokter bedah dari universitas?”


“Semua tenang,”


“Doakan yang terbaik,”


Sekitar 15 jam kemudian.


Suasana saat itu hening, hanya ada sorot lampu. Hening yang mencekam, sampai-sampai semua takut nafas mereka terdengar dan memecah konsentrasi Valent.


“Gunting,” desis Valent.


Olena mengulurkan sebuah gunting padanya, lalu kembali menunduk sambil memasang konsentrasi.


“Pinset,” desis Valent sambil menoleh untuk memeriksa mesin electrosurgical, mesin yang bisa mengalirkan arus listrik, biasa digunakan untuk mencegah pasien kehilangan terlalu banyak darah.


Stabil.


Lalu Olena memeriksa ventilator paru-paru,


Stabil juga.


Dengan wajah khawatir, Valent menatap ke tempat tidur satunya. Di ujung sana, di belakang Olena, ada tubuh Harimau Raksasa yang terbaring tak bergerak.


Hanya ada tarikan nafasnya yang perlahan naik dan turun.


“Dia juga stabil,” desis Olena berusaha menenangkan Valent.


Valent menarik nafas, lalu kembali menunduk sambil mengambil kasa.


DEG.


Valent berhenti. Ia memfokuskan pendengarannya.


Hening, hanya ada suara mesin penunjang.


Lalu ia kembali mengambil perban, untuk membalut luka di leher Orion.


Sementara Olena sedang meracik ramuan sihir yang terbuat dari bulu mereka dan sedikit sisik Hatred Orion untuk menyembuhkan luka lebih cepat.


“Sudah siap,” Olena mengambil alat suntik dan memasukkan ramuan ke dalamnya, lalu memeriksa dosisnya.


Valent memegangi kasa dan mempersilahkan Olena untuk menyuntikkan ramuan sihir sebelum membalut lagi.


DEG.


Valent diam lagi.


Beberapa saat.


DEG.


DEG.


DEG.


Bunyi jantung.

__ADS_1


Bukan suara jantung Orion. Ini lebih lemah dan terasa seperti di kejauhan.


Dan sepertinya terdengar jamak. Lebih dari satu.


“Kenapa?” bisik Olena menyadari perubahan sikap Valent.


Valent melayangkan pandangan ke segala arah.


Hanya ada mereka berdua di sana.


DEG.


Valent memeriksa mesin penunjang kehidupan.


Stabil.


“Kau dengar itu?” tanya Valent.


“Dengar apa?” tanya Olena.


DEG.


“Suara itu, kau tak dengar?”


Olena diam sebentar. “Sepi di sini,”


“Aku yakin sekali mendengar suara debar jantung,” desis Valent.


“Jantungmu, mungkin?”


“Kalau begitu seharusnya aku dari tadi mendengarnya dong,”


“Benar juga. Suaranya seperti apa?”


“Lemah dan... banyak,”


“Banyak?”


“Ya,”


“Ya, aku yakin sekali. Bahkan sekarang aku mendengarnya,”


Olena lalu beranjak ke belakang, dan mendorong sebuah mesin ke dekat mereka. Sementara Valent sudah selesai membalut luka di leher Orion sambil mengecek pernafasan gadis di depannya itu yang kini wujudnya seekor ular hitam raksasa.


“Coba periksa,” kata Olea sambil menyerahkan gagang yang tergantung di mesin itu.


“Mesin USG?”


“Ya,” kata Olena, “Kalau ada keanehan, bisa terdeteksi,”


Sambil menuruti Olena, Valent mengernyit merasa aneh, “Kita ini penyihir dan siluman, masa yang begini bergantung ke alat manusia,”


“Kalau energi mereka sangat lemah, kita tak bisa mendeteksinya, Gabriel. Kita juga memiliki keterbatasan,” kata Olena. Ia menolak untuk memanggil Valent dengan nama ‘Valent’ atau ‘Albert’, karena seperti Orion, Olena beranggapan kalau kedua nama itu milik orang lain. Energi yang dikeluarkan Valent juga berbeda dari energi yang dikeluarkan Albert. Valent lebih enerjik dan terstruktur.


“Dan kita juga terlalu capek untuk menyalurkan tenaga dalam. Bisa-bisa malah kita yang pingsan,” lanjut Olena.


“Tenaga dalam, terasa seperti film kungfu,”


“Ya aku juga sering lihat. Film itu kan hanya berusaha menampilkan kalau adegan seperti itu sebenarnya nyata dan bisa, tapi dikemas dalam cinematography jadi pesannya dapat tersalurkan ke yang dituju saja, sementara masyarakat menganggapnya lelucon. Untuk melindungi rahasia kuno mereka,”


“Kau dan teorimu, pasti kau dulu jenis yang dijauhi banyak orang ya...” desis Valent.


Olena mencebik, “Aku terlalu kutu buku, kerjaku hanya baca buku dan browsing internet,” gumamnya.


“Hey, Lena...” Valent mengangkat wajahnya dan menatap Olena, “Tidak banyak dari ingatan Albert yang menampilkan dirimu,”


Olena mengangguk, “Aku ini Phoenix. Aku lebih suka menyendiri di goa,”


“Jadi kau dan Albert juga jarang bertemu,” sambil mengobrol Valent menapa layar USG untuk memeriksa kerusakan jaringan di dalam tubuh Orion. Mereka tidak memiliki banyak alat seperti scanning dan rontgent, karena keadaannya sangat mendesak. Anak buahnya hanya bisa mengusahakan alat-alat ini yang dipinjam dari universitas kedokteran terdekat.


“Terus terang saja, Gabriel. Aku lebih banyak bertemu kamu dibanding Albert. Saat ini kita bahkan sudah bersama selama 15 jam, hampir 16 jam. Rekor bagiku. Dulu, Paling lama aku bersama seseorang sekitar 1 jam, itu pun dengan Conrad yang saudara kembarku sendiri,”

__ADS_1


“Kenapa begitu?”


“Aku segan dengan orang lain,”


“Kau seorang putri,”


“Putri ketiga nyaris tidak memiliki tanggung jawab apa-pun tapi mendapat banyak fasilitas dari kerajaan. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk sengaja aktif bersosialisasi,”


“Itu namanya introvert. Versi akut,” gumam Valent.


“Hm, bisa jadi,” desis Olena menyeringai.


“Astaga,”


“Aku tidak separah itu,”


“Bukan itu yang kumaksud,”


“Ya?”


Valent mengulurkan tongkat USG ke arah Olena, “Kau lihat sendiri dan pastikan kalau aku belum gila,”


Tapi wajah Valent terasa berbeda saat menyerahkan alat itu.


Lalu pria itu duduk di lantai sambil menutupi wajahnya. Tapi Olena bisa melihat senyuman di bibirnya.


Olena pun menelusuri tubuh Orion beberapa saat.


Dan sampai di bagian perut...


“Orion hamil...” Olena terperangah, “Ya Tuhan, anakmu ada 13!”


Valent mengangkat wajahnya dengan terperangah, “Ada berapa?!”


“Paling tidak, ada selusin telur di situ!” seru Olena.


“Tadi kulihat cuma satu!” Valent merebut alat USG dari tangan Olena.


“Dari sisimu hanya terlihat 1, kau coba lihat dari sisiku dan agak ke bawah!” Olena menunjuk ke layar.


Valent kembali menelusuri perut Orion sambil menatap layar USG. Sambil mulutnya komat-kami menghitung.


“Kau benar... ada 13... Wah gila!” kekeh Valent.


“Kalian ini berisik sekali, ini ruang operasi! Biarkan aku tidur dengan tenang!” sahut Kaisar dari ujung sana. Ia terbangun karena suara berisik Valent dan Olena.


“Bro! Bro jangan tidur dulu bro!!”


“Kau ini...” Kaisar mengeluh sambil kembali meletakkan kepalanya di ranjang.


“Kau akan punya keponakan!”


“Apa?” ia kembali mengangkat kepalanya.


**


Jangan berusaha mencariku, tempatku bukan di duniamu. Percayalah, kamu satu-satunya yang kucintai sampai akhir hayatku.


Adinda menatap kertas itu. Kertas dengan tulisan tangan yang klasik.


Terletak di atas mejanya.


Sebuah kode,


Sesuai dengan yang telah diberitahukan.


Saat kertas itu ada, jadi rencana B telah direncanakan.


Ia sudah tahu sebelumnya, tapi saat ini tiba, nyatanya hatinya tetap saja terasa sesak.


Kalau ada rencana B, jadi Conrad sudah berhasil memukul mundur Kaisar. Sesuatu yang sangat tidak diharapkan Adinda.

__ADS_1


Tapi kalau Adinda ikut mereka, bisa jadi akan memakan lebih banyak korban.


Namun gadis itu belum tahu, kalau sebenarnya Kaisar hampir saja menang, kalau bukan karena kecerobohan Xavier.


__ADS_2