KAISAR : The Untold Story

KAISAR : The Untold Story
Telur phoenix


__ADS_3

“Lihat!” Xavier merentangkan tangannya dengan bersemangat. Wajahnya tampak sumringah dan bibirnya menyeringai lebar.


Di depannya ada telur raksasa, tidak terlalu besar, hanya seukuran koper travel. Ukuran yang pas untuk bayi tidur di dalamnya.


Telur itu berwujud sebongkah batu hitam bulat, mengkilat, dan tampak sangat indah. Lumpur tampak belum sepenuhnya dibersihkan dari dindingnya, itu pun tidak mengurangi kilauannya.


“Telur ini akan menetas dalam waktu 3 hari dari sekarang, aku akan mengurung diri di kamar bersama telur ini selama itu. Tolong antarkan makananku ke kamar dan semua pekerjaan dihandle oleh Valentino. Oke?!” kata pria itu.


Valent melirik Kaisar, Kaisar melirik Adinda, dan Adinda melirik Orion.


Orion hanya mencibir.


Mereka tidak tahu apakah itu benar telur Olena atau bukan. Memang ada kilauan bara api saat mata batin kita terbuka, kita dapat melihat menembus isi batu itu. Tapi Valent tidak melihat ada bentukan manusia atau janin, atau setidaknya bentuk burung, tidak ada. Hanya sinar membara yang terpancar dari dalam telur.


Lagipula, yang pernah melihat Olena dalam bentuk telur Phoenix hanya Raja dan Ratu Zafiry.


“Aku beneran nggak ngerti silsilah keluargamu. Yang kandung hanya kamu ya?” batin Valent ke Kaisar.


“Aku pun bingung. Yang kuingat mereka sudah di kamar bayi, entahlah bagaimana ibuku mengeluarkan mereka dari dalam kandungan,” balas Kaisar sambil mengendus-endus batu hitam di depan mereka itu, lalu ia mengernyit karena tak mendeteksi apa pun.


“Bagaimana sih?!” gerutu Valent.


“Memangnya tidak ada di ingatan Albert?”


“Kalau ada, aku tak akan bertanya,”


“Valentino!” seru Xavier memecah keheningan.


“Ya Boss?” desih Valent malas-malasan.


“Siapa gadis cantik ini?” Xavier menatap Orion dengan rasa ketertarikan yang tinggi.


Valent berdehem setengah kesal karena tatapan Xavier yang mesum. Orion sampai merapatkan posisi kancing di bagian dada dengan jengah, walau pun aksinya tak berhasil karena kemejanya kesempitan.


“Sepupuku, kurekrut untuk jadi pelayan pribadi Adinda,”


“Sepupumu dari kerabat yang mana? Kau bukannya dari Canada? Kenapa wajah sepupumu seperti dari Asia Timur?”


“Sepupu jauh dari Pamanku punya adik ipar dan adik iparnya punya bibi, bibinya punya kakek yang imigran dari Mongolia lalu mereka beranak pinak di Canada, kakeknya ini punya sepupu jauh, sudah meninggal, Dan Orion ini adalah cicitnya,” desis Valent asal.


“Adik iparnya Pamanmu yang mana? Pamanmu memiliki 4 adik, dan satu kakak yaitu ayahmu,” kata Xavier.


Valent mengernyit, ia lupa sudah berbohong mengenai silsilah keluarganya yang bagaimana ke Xavier, “Yang pamannya memiliki 4 adik itu kau Xavier, bukan aku,” desis Valent akhirnya.


“Hahahahahah!!” tawa Xavier menggema, “Kau benar, aku hanya bercanda. Siapa tahu kau pernah berbohong padaku,” katanya.


Valent merapatkan rahangnya, Kaisar dengan kesal menyabet paha Valent dengan ekor.


“Jadi...” Xavier memiringkan kepalanya sambil menatap Orion lekat-lekat, “Nanti malam aku mulai mengisolasi diri, bagaimana kalau kamu yang mengantarkan makananku ke kamar, Nona Manis?”


Valent menarik nafas menahan kesal.


Di lain pihak, Orion malah bilang : “Baik Tuan Velladurai,” sambil menunduk menghormat dan tersenyum memikat.


Xavier sampai-sampai tertegun melihat kecantikan Orion yang memang sangat unik, “Kau cantik sekali...” desisnya terpukau.


Valent menatap Orion tak percaya, dengan bibir mengerut.

__ADS_1


Kaisar mengulurkan cakarnya dan menggelindingkan telur di depan mereka sampai terlepas dari pengaitnya dan bergulir ke arah dinding.


“Tidak!!” seru Xavier sambil mengejar telur itu dan salto, lalu berhasil mencegah telur itu membentur dinding. “Apa yang kau lakukan?!” serunya Marah ke arah Kaisar.


“GGGRh!!” seru Kaisar tak mau kalah.


“E-e-eh... Maafkan aku Yang Mulia. Maksudku... hati-hati ya Yang Mulia, ini telur Phoenix,” desis Xavier langsung meringkuk sambil memeluk telurnya.


“Tuan Velladurai,” Orion menghampiri Xavier dan menunduk, memperlihatkan belahan dadanya yang membusung tanpa ragu, “Mari saya bantu mengamankan barang berharga Anda, saya akan bantu membersihkan lumpurnya di kamar mandi, di dalam kamar Anda, ya?” tawar Orion lembut.


Mata Valent terbelalak tak percaya dengan ucapan Orion.


Kaisar mengulum tawanya melihat wajah Valent yang seperti kebakaran jenggot.


“Waaah! Baiklah!” tanpa ragu, Xavier mengiyakan tawaran Orion, lalu meraih tangan gadis itu untuk berdiri. “Kalau ada gerakan sedikiiiiit saja, kau panggil aku saja ya manis? Aku mau ke ruang mesin sebentar untuk memeriksa senjata mana yang akan kugunakan untuk menjaga telurnya,”


“Baik Tuan,” Orion tersenyum licik.


“Apa sih...” dengus Valent.


Jelas sekali kalau ia terbakar api cemburu.


Dan Kaisar sangat suka melihat Valent yang tampak tersiksa.


**


“Hei, Princess,” desis Kaisar saat Adinda sudah kembali ke kamarnya.


Dalam wujud Harimau, ia mengitari ranjang Adinda dan duduk di sebelah nakas. Matanya menatap Adinda dengan lembut seakan amat sayang ke gadis di depannya ini.


“Terima kasih telah melindungi adikku,” kata Kaisar lagi.


Kaisar mengangguk.


Lalu berubah menjadi manusia dan beranjak ke sebelah gadis itu.


Ia memeluk Adinda dengan lembut dan hangat, bibirnya mengecup perlahan dahi gadis kesayangannya itu.


Pipi Adinda bersemu merah, lalu mendongak.


“Kau bilang memiliki 50 selir,” desis Adinda.


“Jangan bahas itu dulu,”


“Aku mau bahas yang itu,”


“Kau masih dalam kondisi lemah, aku melarang adanya pertengkaran tak jelas,”


“Pertengkaran apa, Cyril. Bukan itu yang kumaksud,”


Kaisar diam, lalu mengelus pipi Adinda, “Kau memanggilku Cyril,”


“Ya, itu namamu kan? Mungkin mulai sekarang Valent juga akan sering memanggilmu dengan nama kecilmu, bisa saja dia akan memanggilmu dengan julukan-“


“Woy Kaisar Cyril! Ada yang mau kubicarakan!” Valent mendobrak masuk kamar Adinda.


Kaisar menghela napas kesal, lalu menatap tajam ke arah Valent, “Tidak bisakah kau menjaga kesopananmu dengan mengetuk dulu?!”

__ADS_1


“Mengetuk apa? Memang ada pintu? Lagipula ngapain kau di sini? Memang kalian sudah resmi menikah, seenaknya saja ke kamar gadis tanpa berpakaian pula, Hah?!”


“Itu yang ada di belakangmu pintu raksasa, lihat dong. Pakai mata lihatnya jangan pakai batin, nanti jadi Mata Batin,”


“Tidak lucu, Yang Mulia. Kenapa Orion bertingkah aneh? Dia menggoda Xavier! Aku muak sampai hampir saja kulempar Kitab Zafiry ke muka Xavier!” Seru Valent.


Tepat saat itu, Orion masuk ke kamar Adinda sambil menatap Valent dengan tajam. Lalu dia langsung maju menuju Kaisar, “Kak, Aku minta selembar bulu Harimau-mu,”


“Oke,” jawab Kaisar sambil menyerahkan beberapa helai ke tangan Orion,”


“Untuk apa?” desis Valent curiga.


“Kau akan tahu nanti,”


“Semua aksi harus atas sepengetahuanku,” gerutu Valent.


“Sejak Albert di dalam tubuhmu, kau adalah anak buahku,” Kaisar menyeringai.


“Apa? Yang benar saja,” desis Valent.


“Aku kaan ke kamar Xavier,” desis Orion segera berbalik.


“Orion, Tunggu,” Valent menarik lengan Orion. Gadis itu hanya menatapnya dengan sendu.


“Apa?” desisnya pelan.


“Ada apa denganmu,”


“Tidak ada apa-apa,”


“Aku salah apa?”


“Tidak salah apa-apa,” desis Orion lagi sambil langsung menunduk dan beranjak pergi.


“Orion, tunggu dulu,”


“Aku mau ke kamar Xavier, keburu malam,”


“Apa maksudmu, Hah?!” desis Valent, “Kenapa kau tiba-tiba berubah? Setidaknya kau jelaskan padaku agar aku bisa memperbaiki kesalahan, jangan hanya diam begini!”


“Sudah kubilang kau tidak salah,”


“Orion!”


“Oke!” Orion menepis tangan Valent dan menghadapnya, “Maaf tapi perasaanku ke Albert belum berubah,”


Valent diam dan mencerna.


Dia menunggu kalimat selanjutnya.


Rasanya seperti guntur baru saja menyambar tubuhnya. Dadanya langsung bergemuruh.


“Gabriel... aku mencintai Albert sejak kecil. Di mataku, dia baru meninggal sebulan yang lalu, bukannya 200 tahun lalu. Dan...” Orion menggelengkan kepalanya. Dia hampir menangis, “Kamu benar, aku bercinta denganmu tapi aku mencintainya. Jadi kurasa... aku tidak ingin membuatmu sakit hati lagi,”


“Hah?”


“Aku kerja dulu,” desis Orion cepat sambil setengah berlari meninggalkan kamar Adinda.

__ADS_1


Valent hanya bisa ternganga melihatnya.


“Apa yang... terjadi?” ia berbalik ke arah Kaisar dan Adinda yang menatap mereka berdua dengan alis terangkat.


__ADS_2