
"Uang buat apa Dinda? Semua uang kamu yang pegang. Abang hanya pegang recehan." Ucap Bang Sanca setengah memelas karena memang begitulah keadaannya.
"Bayar itu lho Bang." Hemas menunjuk sejenis odong-odong untuk pameran di pasar malam.
"Dinda mau naik?" Bang Sanca membelai rambut Hemas.
"Abang yang naik sama om-om bujang..!!" Pinta Hemas.
Untuk sejenak Bang Sanca ternganga. Dia adalah seorang pria gagah ber'pangkat' Armore tetapi harus naik mobil-mobilan yang bahkan untuk duduk saja tidak mungkin di lakukan.
"Serius??" Tanya Bang Sanca tidak percaya.
"Iya Bang, Dinda hanya mau Abang naik mobil-mobilan."
Untuk sesaat Bang Sanca terdiam tanpa suara sampai hela nafas pun tidak terdengar.
"Kenapa nggak yang lain aja. Abang tembakin botol untuk boneka di pasar malam misalnya.." Bang Sanca masih mencoba tawar menawar dengan istri tercinta.
Hemas menggeleng dengan wajah sedih.
"Atau beli makanan, atau apapun yang Dinda mau..!!" Bujuk Bang Sanca masih berusaha keras.
Terlihat akan ada tanda-tanda hujan badai di wajah Hemas dan seketika itu juga Bang Sanca langsung terserang kepanikan yang luar biasa. "Duuhh.. bukannya tadi pada pertemuan ya.. kenapa bisa jadi nyewa odong-odong begini." Gumam Bang Sanca menggaruk kepalanya.
Hemas menghindar tanpa suara dan jelas hal itu adalah sikap khas dari dari seorang wanita yang tengah merajuk yaitu ngambek. Secepatnya Bang Sanca mendekap erat tubuh Hemas lalu sekilas mencium pipinya karena tidak mungkin dirinya akan mengungkapkan rasa rindu di hadapan para anggota. "Ya sudah Abang naik. Nanti sama Priyo juga..!!"
~
Berbekal surat pernyataan kesanggupan mengganti kerusakan, Bang Sanca pun duduk di atas sebuah mobil mini dengan senyum palsu guna menyenangkan hati sang istri tapi tidak dengan Bang Priyo yang pasrah berpegangan pada tiang penyangga mobil dengan hati cemas, takut sekaligus malu karena pakaian kaos lorengnya kini seakan tidak berarti.
"Bu Sanca.. ini sudah apa belum? Malu nih saya di lihatin gadis-gadis." Kata Bang Priyo karena kini senyum palsu Lettu Sanca sudah berubah menjadi tragis. Di iringi lagu anak-anak, suami Hemas itu sudah mual dan muntah.
Tak lama ada seorang wanita memberikan minuman untuk Bang Priyo. Entah siapa dirinya tapi sosok tersebut tersenyum geli menatap wajah Letnan Supriyo.
__ADS_1
"Tegang ya Pak? Padahal anak-anak senang lihat bapak mau menghibur bersama anak-anak.
Bang Priyo masih tercengang sembari menerima minuman dari wanita tersebut.
"Ng_gak juga Bu." Jawab Bang Priyo namun kemudian dirinya tersadar saat melihat wanita tersebut menggendong seorang anak perempuan berusia kurang lebih satu tahun. "Anaknya cantik sekali, mirip mamanya." Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Bang Priyo.
"Masa sih Pak?" Tanya Wanita tersebut dengan senyumnya.
Tak lama seorang ibu bertubuh subur menghampiri wanita tersebut. "Reni mana Ir..!!"
"Ini mbak." Jawab wanita yang ternyata bernama Irni.
"Eehh.. Om Priyo. Nampaknya bahagia sekali main sama Om Sanca."
Bang Sanca diam seribu bahasa tak sanggup menjawab ledekan ibu wadanyon.
"Oiya mbak, kata Pak Priyo wajah Reni cantik sekali seperti Mbak." Kata Irni.
Sontak Bang Priyo gelagapan salah tingkah. Bagaimana tidak, wanita bertubuh gemuk tersebut adalah istri senior yang merupakan atasannya juga.
plaaakk..
Bu wadanyon menepak bahu Bang Priyo sampai tak sengaja pria tersebut jatuh di tengah lingkaran mesin odong-odong.
"Wadooooww.!!!!!" Pekik Bang Priyo.
"Eeeeeeehhh.. maaf Om Pri..!!" pekik Bu wadanyon.
"Paaaakk..!!" Irni yang kaget segera mematikan mesin odong-odong dan menolong Bang Priyo. "Maaf, ada yang sakit nggak?" Tanya Irni.
"Patah tulang pun Abang rela.. asal jangan patahkan hati Abang. Jika adek tak ada yang punya bolehkah adek buat Abang saja?" Rayu Bang Priyo memberanikan diri berinteraksi dengan adik wadanyon. Ia sungguh tidak tau wadanyon punya anak bontot sebab dulu saat ibu wadanyon mengandung atau tidak, ia tidak bisa membedakan.
"Boleh, temui saja Abangnya Irni untuk meminta."
__ADS_1
"Cckk.. kenapa kamu harus jadi adek wadanyon?" Ucap pasrah Bang Priyo.
"Tanyakan saja pada ibu bapaknya Irni, kenapa kami jadi putra putrinya beliau." Irni tersenyum geli melihat gelagat Bang Priyo yang nampaknya enggan 'bermasalah' dengan Abangnya.
"Dimana Abang harus bertanya?"
"Bapak dan Ibu Irni sudah di surga. Abang mau menemui disana?" Kata Irni jauh lebih santai.
"Innalilahi.. Astagfirullah.. ya nggak to, kawin saja belum. Kalau jalur Abang meleset ke neraka bagaimana?? Ada-ada saja tanyanya." Gerutu Bang Priyo. "Hmm baiklah.. nanti malam Abang temui Abangmu."
"Mau apa Bang?"
"Jual keong." Jawab Bang Priyo.
"Hahaha.. Abang lucu."
Seketika Bang Priyo ingin menangis dengan sosok wanita random di hadapannya.
"San.." sapa Bang Priyo pada Bang Sanca yang tubuhnya sudah di sangga Bang Bara saking lemasnya.
"Hmm.."
"Kalau aku jadi kawin sama adik wadanyon ini.. tolong hadiahi aku rumdis kita jangan dempet dan istri kita jangan saling bertemu apalagi sampai bertukar pikiran." Pinta Bang Priyo.
"Lho kenapa? Bukankah lebih bagus kalau mereka akrab??" Tanya Bang Bara bingung.
"Bagus jidatmu.. rumput asrama yang hijau tiba-tiba bisa jadi kering keriput. Yang satu random, yang satu perasa dan yang satu lagi sensi.. selesai sudah." Jawab Bang Sanca.
.
.
.
__ADS_1
.