Kamu, Aku Dan Dia

Kamu, Aku Dan Dia
26. Salah informasi.


__ADS_3

Setelah ketiga pujaan hati para perwira pergi, para pria bisa menyiapkan bumbu dan memasak dengan tenang. Masakan pun sudah hampir matang dan mereka bisa bernafas penuh kelegaan.


Tiga jam berlalu, belum ada kabar sama sekali dari Hemas, Irni ataupun Dena. Sebenarnya ada rasa cemas dalam hati Bang Sanca karena saat ini sang istri tengah mengandung buah hatinya.


"Jaga masakannya dulu pot, aku mau ke toilet." Pamit Bang Sanca sembari berjalan menuju toilet.


"Hmm.." Bang Priyo menanggapi sambil merokok dan mendengarkan music dangdut.


ddrrtttt... ddrrtttt.. ddrrtttt..


Bang Priyo melirik, ada nomer ponsel yang tidak di kenal siapa pemanggilnya.


"Saaann.. ada telepon..!!!" Teriak Bang Priyo.


"Angkat dulu. Sebentar lagi selesai nih." Kata Bang Sanca.


"Hallo???" Bang Priyo mengangkat panggilan telepon tersebut sesuai perintah Bang Sanca.


"Hallo, kami dengan rumah sakit Bunda Sehat. Saat ini ada korban bernama Nyonya Tadah Hening Masmedayu sedang berada di ruang Zezia...." Kata seseorang di seberang sana.


"Haaaahh.. innalilahi wa innailaihi Raji'un.. Kamar jenazah?????" Pekik Bang Priyo.


Bang Bara yang mendengar berita tersebut langsung mematikan music dangdut.


"Ada apa?" Selidik Bang Bara sampai ikut syok.


"Hemas meninggal, sekarang ada di kamar jenazah." Jawab Bang Priyo tapi saat dirinya akan mengkonfirmasi ulang, panggilan telepon tersebut sudah terputus.


"Aahh yang benar kau Priiii.." Bang Bara segera menghubungi nomer ponsel Dena namun nihil dan tak ada jawaban. "Ya Allah, ada apa ini?" Kepala Bang Bara seketika berdenyut pening.


"Ada apa pot? Panik sekali???" Tanya Bang Sanca yang sudah beres dengan hajatnya.


Bang Bara dan Bang Priyo segera memeluk Bang Sanca. Para anggota lain pun menunduk.


"Sabar ya pot." Kata Bang Bara tidak tega.


"Telepon dari siapa?"

__ADS_1


"Dari rumah sakit Bunda Sehat. Hemas meninggal dunia."


"Hhgghh.." Bak tersambar petir di siang bolong, kepala Bang Sanca terasa berat, dadanya luar biasa terasa nyeri. Ia sampai meremas dadanya dengan kuat karena tak sanggup mendengar kabar buruk tentang istri tercintanya.


"Sabar Dan..!!" Para anggota lain pun memberikan dukungan moril untuk Bang Sanca.


"Dindaa.. istriku.." Air mata Bang Sanca meluncur begitu saja tanpa bisa di cegah. Debat di dadanya begitu kencang. Pandangannya berkunang-kunang. Matanya terpejam menahan nyeri. Tekanan di dalam dadanya seakan menghentikan laju nafasnya. Seketika itu juga Bang Sanca tumbang tak sadarkan diri.


"Sancaaaa...!!!! Tolong bantu saya. Kita langsung di aja menuju rumah sakit Bunda Sehat..!!" Perintah Bang Bara.


~


Didalam mobil, Bang Bara dan Bang Priyo berusaha menyadarkan Bang Sanca. Kepanikan semakin menjadi saat nafas Bang Sanca benar-benar semakin melemah saking syoknya.


Bang Bara dua kali lipat kebingungan saat panggilan teleponnya pada Dena tak kunjung terjawab.


Tak lama akhirnya Bang Sanca sadar juga. Tubuhnya lemas, hujan tangis masih menghias wajahnya, baru saja sadar.. Bang Sanca kembali tak sadarkan diri.


:


"Permisi Pak, bapak mau kemana?" Tanya seorang perawat menghadang iringan 'dukacita'.


"Mau ke kamar jenazah. Bukankah tadi ada korban ibu hamil yang meninggal?" Tanya Bang Priyo.


"Mohon maaf pak, tapi hari ini tidak ada korban meninggal." Jawab security.


"Saya di hubungi rumah sakit ini Pak." Kata Bang Priyo serius.


Akhirnya security mengarahkan Bang Sanca dan rekan untuk mencari informasi di pusatnya.


~


"Baik Pak, atas nama ibu Tadah Hening Masmedayu memang sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit ini, tepatnya di kamar Zezia. Keadaan terakhirnya sudah mulai stabil." Kata pihak resepsionis.


"Alhamdulillah.." untuk kesekian kalinya Bang Sanca lemas tapi kali ini dirinya bernafas lega.


Saat itu juga pandangan mata Bang Sanca dan rekan tertuju pada Bang Priyo.

__ADS_1


Bang Priyo pun tersenyum innocent. "Maaf, aku sedikit salah info."


"Seret dia sampai ke kamar Hemas..!!"


~


Pintu kamar bunga Zezia terbuka. Bang Sanca melihat Hemas terbaring lemas. Ia menghambur memeluk sang istri sembari menumpahkan tangisnya, Bang Sanca yang masih dalam keadaan emosional langsung menciumi seluruh wajah Hemas. "Abang sayang kamu Dinda. Sayang sekali melebihi apapun." Kembali di ciumnya wajah Hemas hingga puas kemudian beralih pada perut sang istri.


"Dinda sudah nggak apa-apa Bang. Maaf Dinda buat repot."


Ternyata tak hanya Bang Sanca saja yang terbawa suasana tapi Bang Bara pun ikut bersedih sampai memeluk Dena dengan erat. "Apa yang terjadi dek?" Tanya Bang Bara.


"Kami ikut lomba makan bakso super pedas. Hemas tidak kuat sampai pingsan, Dena hanya melilit saja sedangkan Irni baru selesai diarenya.


"Allahu Akbar, piye to yoo.. kenapa kalian ini tidak sadar diri. Perut kalian itu sedang membawa bayi." Tegur Bang Sanca tak habis pikir. "Sumpah Abang menyesal setengah mati membiarkanmu pergi tanpa pengawasan. Abang yang salah, Abang yang ceroboh. Abang minta maaf..!!" Penuh sesal Bang Sanca menciumi tangan Hemas dan hal itu membuat hati Hemas luluh seketika.


"Aku juga nyesel San." Kali ini Bang Bara ikut duduk lemas tak sanggup membayangkan apa yang sedang terjadi tadi hingga sampai trio bajing ini bisa di larikan ke rumah sakit.


Para ajudan yang ada disana bingung memposisikan apakah harus tertawa ataukah sedih dengan peristiwa mengagetkan ini.


Setelah keadaan sudah berangsur tenang, Bang Sanca melirik Bang Priyo. "Eeh kuro, puas lu ya buat ulah begini??" nyeri di dadanya berangsur hilang.


"Aku khan sudah bilang, salah dengar sedikit. Masalahnya tadi lagi dangdut koplo yang lu pajang kencang sekali." Kata Bang Priyo berkilah.


"Ide siapa tadi yang dekatkan di telingamu? Volume nya buat tuli telinga." Tegur Bang Sanca.


"Bara kali."


"Laah.. aku lagi tersangkanya." Protes Bang Bara.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2