Kamu, Aku Dan Dia

Kamu, Aku Dan Dia
28. Tegang sempurna.


__ADS_3

"Mau apa?"


"Dinda pengen ngendarain mobil keliling kota. Bosan nih di rumah aja." Kata Hemas dengan wajah penuh kesungguhan hati.


"Maksudnya Dinda yang nyetir nih?" Tanya Bang Sanca.


"Iya"


'Ya Allah, ini kenapa jadi begini sih??? Masalah begal baru kelar, sekarang malah ketenangan hatiku harus di begal istriku.'


"Bukannya Dinda nggak bisa menyetir ya?" Hati-hati sekali Bang Sanca berbicara dengan Hemas.


"Bisa Bang." Jawab Hemas terdengar sangat meyakinkan.


"Oohh ya sudah ayo jalan..!!"


"Tapi mobil remote control Bang." Lagi-lagi jawaban Hemas terdengar begitu meyakinkan.


Ingin rasanya hati Bang Sanca kesal tapi apa daya lawan bicaranya tidak sebanding dengan dirinya. Hati mana yang tidak di paksa sabar berhadapan dengan bumil yang terkadang suka membuatnya mendadak darah tinggi.


"Kalau begitu Abang saja yang nyetir." Ajak Bang Sanca sembari menggandeng tangan Hemas.


Hemas mengibaskan tangan Bang Sanca dan memasang wajah cemberutnya.


"Iki piye to karepe? Dinda nggak bisa nyetir, nggak mungkin lah Abang biarkan Dinda nyetir sendiri. Bisa-bisa malah kita bablas holiday di UGD." Kata Bang Sanca.


"Buktinya kita hampir kena begal. Itu tandanya Abang, Bang Bara dan Bang Priyo nggak bisa nyetir.. jadi biar Hemas yang nyetir. Mungkin kalau perempuan yang nyetir nggak akan jadi sasaran begal." Ucap Hemas dengan pemikiran jitu versi dirinya sendiri.


Disana Bang Bara dan Bang Priyo yang menguping tiba-tiba sudah pucat pasi cemas sendiri memikirkan permintaan istri Letnan Sanca.


"Dindaa.. Abang bukannya mau meremehkan, Abang tau Dinda bisa melakukan semua, tapi tolong tidak untuk saat ini." Bujuk Bang Sanca.


Hemas mengangguk mantap membawa wajah tanpa dosa. "Ya sudah, berarti nanti sore." Jawabnya kemudian menjauh dari Bang Sanca.


Bang Bara tak menggubris apapun tentang masalah sahabat dan mantan kekasihnya itu, ia terus fokus pada para begal.

__ADS_1


"Kalau kalian tidak mau saya penjarakan.. lebih baik sekarang kalian bertiga bahu membahu membersihkan lapangan batalyon beserta lingkungannya. Kalau sampai ada yang terlewat, saya kirim kalian menuju jeruji besi..!!" Ancam Bang Bara.


"Iya Pak."


"Ampuuunn Paaakk..!!!"


"Saya nggak lagi-lagi ngebegal..!!!!!"


...


Sore hari tiba. Bang Bara ketar-ketir melihat Hemas menggenggam kunci mobil di tangan sedangkan Bang Priyo sudah memakai peci, dirinya tobat mendadak dan ingat segala do'a bahkan do'a pelebur dosa.


"San, lu khan nggak bisa nolak permintaan istri. Tapi lu jangan nolak permintaan gue ya. Kalau nanti ada apa-apa sama gue.. tolong sampaikan sama emak gue di kampung. Anaknya yang paling ganteng ini tetap cinta emak. Tanah yang di Gombong boleh di jual tapi kalau anaknya yang genteng ini sehat, sertifikat tanahnya mau aku gadaikan dulu.. jadi modal buatin cucu." Pesan Bang Priyo.


Bang Sanca yang mendengarnya sontak merasa sangat kesal. Di saat genting seperti ini bisa-bisanya Bang Priyo melempar guyonan yang membuatnya semakin tegang menghadapi Hemas.


"Ayo masuk ke mobil, nggak usah nunggu Dinda..!!" Kata istri Letnan Sanca itu.


"Allahu Akbar.. ini sih lebih menegangkan dari naik kora-kora." Gumam Bang Bara. "Eehh San, kenapa daritadi diam saja??" Bang Bara sampai menyenggol lengan Bang Sanca.


~


"Bismillah..!!" Bang Sanca berpegangan erat pada pintu mobil. "Allahu Akbar, nyalakan lampu richting arah kiri dulu baru belok, jangan terbalik..!!!!!" Kata Bang Sanca sampai mulas saking tegangnya. "Lampu sein mu salah arah ndhuk, itu kanan..!!"


Bang Priyo sudah hampir muntah sedangkan Bang Bara memilih memejamkan mata dan memperbanyak do'a dalam hati.


"Abang jangan buat bingung. Makanya Abang gampang di begal, arahannya membingungkan..!!" Protes Hemas.


"Dinda yang nggak paham..!!"


"Iiihh Abaaaaaanngg..!!" Hemas kesal dan melirik Bang Sanca yang terus bicara sejak awal perjalanan tadi.


"Laahdalaaahh.. lihat depanmu ada warung ketoprak..!!!!!!"


"Baaaang.. takuuuuttt..!!!!!" Teriak Hemas.

__ADS_1


Secepatnya Bang Sanca mengendalikan laju mobilnya dan menepikan ke tepi jalan. Sungguh saat ini jantungnya berdebar sangat kencang, ia begitu mencemaskan Hemas, rasa ketakutan menyelimuti hatinya. Baru saja mulutnya terbuka, Hemas menepak pahanya sekuat mungkin.


"Abang gimana sih, itu bahaya. Kita semua bisa celaka. Lebih baik Dinda les privat saja sama ahlinya." Ucap Hemas kemudian memalingkan wajahnya.


Bang Sanca bersandar lemas. Bahkan saking kagetnya, untuk mengambil air minum di sampingnya pun rasanya tak mampu. "Hhhhhh.. suwe-suwe aku mati enom ngerasakne kowe dek..!!!"


"Jadi Abang nggak sayang sama Dinda lagi???" Hemas kembali melirik Bang Sanca dengan tatapan penuh intimidasi.


Bang Sanca menepuk dahinya. "Astagfirullah.. Ya Allah, kamu lahirnya kapan sih nak. Papa stress kalau harus ribut sama Mamamu." Gerutu Bang Sanca antara kesal dan pasrah.


Disadari atau tidak akhirnya Bang Bara dan Bang Priyo terkikik mendengar pasutri di depan mereka meskipun sebenarnya mereka juga sempat merasakan jantung jauh dari kata aman.


.


.


.


.


Mohon jawaban sebagai bentuk peningkatan performa.


* Apakah tata bahasa Nara mudah di pahami.


* Apakah peralihan tanda baca untuk peralihan waktu juga bisa di pahami.


* Lebih suka tokoh wanita dewasa normal / usia sepadan / usia jauh lebih tua / sifat kekanak-kanakan.


* Suka tokoh pria dewasa sewajarnya / pria dewasa yang dingin, kaku dan penyayang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2