
"Untung saja ini Bang Priyo.. kalau sampai berani Abang lakukan melamar perempuan lain, besok pagi Abang muntah paku." Ancam Hemas.
Bang Sanca menelan salivanya dengan susah payah. "Yo nggak to sayang. Nggak ada lah yang menyaingi cantiknya istri Abang." Ucap genitnya sembari merayu rayu si pujaan hati.
Hemas memalingkan wajahnya mendengar rayuan Bang Sanca yang amat sangat jarang sekali ia dengar, tak bisa di cegahnya wajah merah merona tersipu malu.
Melihat sang istri mulai salah tingkah, ada rasa bergetar dalam dada. Desiran panas sungguh menggoda hingga dirinya tidak mendengar kata-kata Om Abimanyu yang tengah 'meminta' Irni untuk menjadi istri dari Lettu Priyo.
"Bukan begitu San?" Tegur wadanyon saat Bang Sanca sibuk sendiri dengan istrinya.
"Siap Dan.. saya setuju."
Para hadirin tertawa terbahak saat Bang Sanca menjawab dengan gelagapan dan bingung di tengah acara. Tapi tidak dengan Hemas yang melirik jengkel. Raut wajahnya berubah drastis.
"Baiklah kalau begitu sudah di putuskan, kalau sampai Priyo tidak serius dalam hubungan ini maka Sanca yang akan menggantikan." Goda wadanyon.
"Lho.. astaga.. ada apa ini Dan?" Tanya Bang Sanca mulai panik apalagi Hemas yang sensitif tidak bisa menyembunyikan wajahnya.
"Makane jangan ribut sendiri, kalau istri nangis malah dadi g*b**k ndadak to." Gumam Bang Bara.
Seluruh yang hadir menjadi tertawa melihat wajah panik seorang Armore yang nyalinya hilang saat berhadapan dengan istri. Armore adalah pria yang tidak pernah pilih lawan bahkan keputusannya mutlak dan tidak pernah meleset, hanya saja kali ini sangarnya tertiup angin lantaran bumilnya.
"Yank.. itu hanya bercanda. Jangan ngambek ya..!!" Bujuk Bang Sanca.
"Sudaah.. nggak apa-apa, kita lanjut saja. Yang susah Sanca, bukan kita." Kata Bang Priyo sembari menggigit kue nagasari kesukaannya. Tawanya merekah karena lamarannya sudah berhasil di terima.
"Betul, lanjut saja. Yang celaka Sanca, bukan kita." Imbuh Bang Wilang.
"Ya Tuhan jahatnya kalian. Saya menderita di sini karena acaranya Priyo. Kenapa saya jadi tumbalnya." Protes Bang Sanca.
__ADS_1
"Dimana-mana namanya tumbal itu pasti yang ganteng dulu." Kata Bang Priyo.
"Sombong ya lu, awas aja. Malam pertamamu ku acak-acak..!!!!" Ancam Bang Sanca.
***
Sepulangnya dari acara lamaran, Bang Sanca masih terasa kaku karena Hemas masih menghindarinya. Ia memilih duduk di sofa sambil mengatur nafasnya karena ada rasa mual yang merangkak naik dari lambungnya.
'Waaaahh gawat, pasti nesu tenan iki.'
Setiap ada hal yang bersinggungan dengan dirinya entah rasa cemas, kepikiran Hemas secara berlebihan pasti rasa mual selalu melanda.
'Adek jangan marah sama Papa donk.. Papa janji nggak nakal dan nggak akan buat Mama nangis. Buat Mama tenang ya nak..!!'
Tak lama Hemas keluar dari dalam kamar, istri Lettu Sanca itu masih menekuk wajahnya, saat pandangan mereka saling bertemu.. Hemas mendengus kesal.
"Ya Allah, galake tenan.. Lanang opo wedhok yo?" Gumam Bang Sanca.
"Dindaaa....."
Hemas melirik Bang Sanca. "Apa???? Nggak usah merayu..!!"
"Abang belum bicara apapun, ini juga baru mau merayu." Kata Bang Sanca.
"Dinda nggak akan tergoda."
Bang Sanca menunjukan layar ponselnya dan menunjukan nominal uang. "Ini hasil dari Abang dinas luar kemarin. Mau nggak?" Bisik Bang Sanca lembut penuh dengan godaan yang menyesatkan.
"Semua???" Tanya Hemas.
__ADS_1
"Iya donk.. semuanya buat istri Abang tersayang." Jawab Bang Sanca memainkan alisnya. "Hmm.. Abang kasih bonus lagi deh..!!"
"Berapa?" Hemas seakan melakukan adegan tawar menawar dengan Bang Sanca.
"Lima puluh persen dari gaji plus tunjangan. Mauu???? Tapi ada syaratnya." Kata Bang Sanca kini memasang wajah licik.
"Apa?"
"Dinda harus mau Abang cium, di kamar..!!" Bisik Bang Sanca sembari mendekap Hemas dari belakang. Ia mengusap perut Hemas yang sudah terlihat membuncit, dalam penglihatannya saat ini Hemas dua kali lipat lebih seksi dan menggairahkan dari sebelum istri kecilnya itu mengandung.
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Bang Sanca memperlihatkan lagi nominal yang ada di ponsel.
Tanpa persiapan, Hemas berbalik badan dan mengalungkan kedua lengannya di belakang leher Bang Sanca. "Okeeyy Om.. bayarannya cocok. Mau ngamar sekarang??"
"Huuusshh... Astagfirullah hal adzim, nakal begini belajar darimana????" Tegur Bang Sanca sampai kaget mendengarnya. Tingkah nakal Hemas seketika membuatnya kacau balau namun tak bisa di pungkiri gairah nya pun ikut merangkak naik.
"Dari Om San." Jawab Hemas memandangi wajah Bang Sanca kemudian tersenyum genit. "DP dulu donk Om. Nanti Om kabur."
"Lailaha Illallah.. tambah kurang ajar aja kamu Dinda. Kamu belajar begini darimana???????" Rasa gemas Bang Sanca semakin menjadi.
"Dari Film luar yang Abang punya. Judulnya 'Booking Me'." Jawab Hemas kini berwajah sepolos sutra.
"Oohh gitu, okeee.. Abang sikat kamu sampai puas. Ini hukuman karena kamu lancang buka file terlarang punya Abang. Sekarang rasakan sensasi pertemuan kembali dengan Om Sanca..!!" Bang Sanca mengangkat tubuh Hemas dan membawanya ke dalam kamar.
Di luar baru saja ada yang akan mengetuk pintu namun segera mengurungkan niatnya karena melihat Hemas dan Sanca begitu bahagia. Hatinya bagai tertusuk belati, ia berpegangan pada bingkai pintu. Setelah dirasa hatinya mulai kuat, dirinya pun beranjak pergi.
.
.
__ADS_1
.
.