Kamu, Aku Dan Dia

Kamu, Aku Dan Dia
27. Ketegangan kecil.


__ADS_3

Dua iringan mobil akhirnya kembali pulang setelah dokter menyatakan para istri sudah dalam keadaan stabil dan sehat wal afiat.


Irni masih cemberut kesal karena kejadian heboh yang memalukan tadi apalagi semua keributan terjadi karena ulah calon suaminya sendiri.


"Sudahlah sayang, ini masalah sepele." Bujuk Bang Priyo sembari menyetir dan mencolek dagu Irni.


"Sepele bagaimana sih Bang, Abang bikin berita palsu kalau Hemas meninggal."


"Itu bukan berarti palsu, Abang hanya sedikit salah dengar." Bang Priyo masih membela diri karena kejadian tadi.


"Salah dengar yang sesat. Hemas memang sehat walafiat tapi Sanca nyaris modiiiaaarr gara-gara kamu." Ucap gemas Bang Bara.


Bang Priyo membuang nafas panjang namun wajahnya seakan tiada penyesalan. Ia melirik Bang Sanca yang sedang tidur di bangku belakang. Hemas yang bersandar di bahu Bang Sanca nyatanya lebih membuat nyaman sahabatnya itu.


"Awaaaaass Priii..!!!!!!!" Tegur Bang Bara saat melihat seorang wanita tergeletak di tengah jalan.


Secepatnya Bang Priyo menginjak rem full. Ia melongok melihat sosok yang terkapar di tengah jalan. Bang Priyo bersiap membuka pintu.


"Jangan Pri..!! Ada yang aneh..!!" Cegah Bang Bara. Namun saat mereka masih menerka situasi, beberapa orang mengepung mobil Bang Sanca.


"Turun..!!!!!" Bentak pria disana.


Bang Sanca membuka mata mendengar keributan tersebut. "Ono opo Bar??" Bang Sanca bertanya lirih karena nyawanya masih belum genap.


"Begal coy." Jawab Bang Bara santai.


"Turuuuun..!!!!!" Bentak pria itu lagi.


Bang Priyo mengarahkan Irni agar bertukar posisi dengan Bang Bara di bangku tengah kemudian dirinya memasang wajah memelas. "Sabar Baang." Kata Bang Priyo mengulur waktu.


"Kenapa duduknya pindah????"

__ADS_1


"Ada apa sih Bang, kami ini orang susah." Bang Sanca mengatur bantal leher untuk Hemas agar istrinya tidak syok kemudian berpindah ke arah tengah disisi bangku Dena, sedangkan Dena mematung di tempat duduknya karena terlalu gugup.


"Kalau kalian memang benar susah nggak mungkin pakai mobil sebagus ini."


"Kami memang orang susah Bang. Sudah di atur." Jawab Bang Sanca akhirnya membuka kaca mobilnya lalu menarik salah satu kepala begal dan menjepitnya. "Jalan Pri..!!!!!"


Satu orang lagi yang mencoba menghalangi pun sempat di tarik kepalanya dan di jepit Bang Priyo sama seperti Bang Sanca.


"Apa kalian tidak punya pekerjaan yang bisa di banggakan??" Tegur Bang Bara.


"Jangan ikut campur kau..!!!!" Teriak seseorang di samping Bang Bara dan bersiap akan memecah kaca mobil dengan parang tapi Bang Bara masih mampu menangkisnya.


Tak menunggu waktu lama akhirnya Bang Sanca mengaktifkan fitur kejut listrik hingga ketiganya tersengat arus listrik. Meskipun tidak mematikan tapi rasanya cukup menyakitkan. Saat itu Hemas terbangun dan melihat tiga kepala tersangkut di pintu.


"Baaang..!! Ada apa ini???" Pekik Hemas.


"Nggak apa-apa Dinda. Ini namanya latihan ketangkasan." Jawab Bang Sanca tenang.


...


"Tahan dulu di pos. Besok pagi saya sendiri yang akan beri pelajaran..!!" Perintah Bang Sanca


"Siaaap..!!"


:


Hemas gemetar ketakutan saat mengetahui ternyata ketiga pria tersebut adalah begal. Tubuhnya lemas dan nyaris tidak sanggup berkata-kata.


"Kamu kenapa? Begal nya sudah di amankan. Apalagi yang kamu takutkan.


"Takut ya takut Bang, mereka bawa senjata tajam untuk merampok." Jawab Hemas masih gemetar.

__ADS_1


"Kalau berpikir jangan terlalu jauh. Kita sudah aman. Jangan mikir yang tidak penting..!!"


Malam itu Bang Sanca menemani Hemas hingga bisa kembali tidur pulas. Ia mengesampingkan lebih dahulu masalah begal yang sudah membuat para istri sangat ketakutan.


***


Dengan wajah sangarnya Bang Sanca berhadapan dengan para begal itu. "Sekarang kalian peluk pohon di hadapan kalian..!! Kalian sayangi layaknya kekasih setelah itu kalian pamit pada kekasih kalian itu lalu setelahnya.. kalian merangkak sampai ke lapangan dan hitung bulu landak yang ada di mini zoo belakang Batalyon. Sekarang..!!!!!" Perintah Bang Sanca.


Para anggota menahan tawanya mendengar cara Bang Sanca menghukum para preman. Hukuman itu tak lain karena Bang Sanca sangat kesal melihat pria yang masih sehat, segar dan bugar namun malah memilih tindakan keji untuk bekerja.


...


Hemas melintas di sekitar mini zoo untuk menyiram tanaman sayur milik batalyon. Karena sang istri tengah berada disana, Bang Sanca pun menghampiri.


"Itu kenapa Bang?"


"Hitung bulu landak. Biar kapok, punya pekerjaan kok begal." Jawab Bang Sanca.


"Bukannya pekerjaan itu sama seperti Abang. Kadang suka ambil upeti diam-diam. Kadang suka pakai kekerasan." Kata Hemas melirik Bang Sanca dengan wajah imutnya.


"Iisshh.. kamu ini. Itu karena Abang lagi nggak ada kerjaan. Lagi pula kamu sendiri yang minta kekerasan. Kangmas amung manut wae kersane Gusti Ayu Hemas." Bang Sanca mencolek gemas dagu sang istri.


"Maass..!!" Untuk pertama kalinya Hemas menyapa Bang Sanca dengan nada manja seperti ini.


"Dalem Dinda sayang." Balas Bang Sanca.


"Dinda pengen sesuatu. Boleh??"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2