
Setelah ada keputusan dari pertimbangan kilat, Bang Sanca mengutarakan hasilnya. "Begini saja, bagaimana kalau Abang yang masak..!!" Tanya Bang Sanca memberikan usulan.
"Memangnya Abang bisa masak?" Hemas terdengar meremehkan Bang Sanca.
"Yang ada seharusnya Abang tanya begitu sama kamu Dinda.. memangnya Dinda bisa masak?"
"Bisa lah, kenapa Abang meremehkan sekali." Gerutu Hemas sudah memasang wajah berkerut tidak terima atas tuduhan Bang Sanca. "Yang Abang makan setiap hari itu apa kalau bukan hasil karya Dinda setiap harinya."
Bang Sanca menghela nafas panjang. Ia mengusap dadanya karena tidak ingin terpancing ucap Hemas yang kini mudah berubah mood.
"Heeh San, bojomu sekarang ngamukan yo?" Bisik Bang Priyo mulai waspada.
"Jangan tanyaaaa.. aku nggak bisa jawab kalau musuhnya jebolan power rangers begini." Bang Sanca ikut berbisik di telinga Bang Priyo.
"Kenapa bisik-bisik?????" Tegur Hemas saat merasa dirinya 'terdzolimi'.
"Nggak Dinda, ini lho.. si Priyo penasaran sama resep bumbu ikan kuah asam milikmu." Kata Bang Sanca mencoba mengalihkan amarah Hemas.
"Oohh bilang donk, sini Dinda ajari." Hemas tersenyum malu tapi Bang Priyo sudah ingin pingsan saja rasanya saking takutnya.
~
Bang Sanca, Bang Bara dan Priyo ingin menangis sekaligus pingsan melihat bumbu yang di siapkan Hemas untuk acara memasaknya kali ini.
"Innalilahi, ini mah acara pembunuhan masal yang terencana." Gumam Bang Sanca.
Para pria kembali mengelus dada melihat banyaknya bumbu di atas meja.
__ADS_1
"Ini bumbunya ya Abang-abang."
Ada bawang merah, bawang putih, tomat, cabe keriting, cabe rawit, terasi serta jeruk limau dalam jumlah tidak terkira. Bang Sanca melirik kedua rekannya yang ternganga melihat hamparan calon bumbu di atas meja. Tau situasi semakin tidak baik, Bang Sanca pun beralih mendekati sang istri dan mendekapnya penuh kelembutan.
"Hmm.. sayang. Abang nggak bilang kalau Dinda nggak bisa masak nih ya, tapi.. Dinda khan dedang hamil. Ada baiknya Dinda istirahat saja dan Abang yang memasak. Dinda hanya tinggal duduk diam di ruangan sambil melihat FTV dan menunggu Abang selesai memasak." Bujuk Bang Sanca dengan penuh kelembutan.
"Nggak apa-apa Bang, Dinda nggak capek Bang." Tolak Dinda.
Bang Sanca membuang nafas panjang, membujuk istri kecilnya memang bukan perkara mudah dan pastinya harus memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi.
"Dindaa.. kalau Dinda yang masak nanti bumbunya berubah jadi sambal terasi." Tetap dengan mode hati-hati Bang Sanca berusaha membujuknya. "Naah, begini aja deh. Ini Abang modalin, Dinda belanja dulu ke mall. Main ajak Dena sama Irni lah.. beli baju hamil sana..!!" Bang Sanca memberikan kartu Atm-nya yang lain pada Hemas.
Dengan rasa ragu Hemas menerimanya. "Benar nih Bang, bagaimana kalau semua uang di kartu ATM ini Dinda pindahkan ke kartu ATM milik Dinda, atau Dinda kuras habis seluruh harta Abang?" Ancam Hemas dengan wajah jail dan nakal penuh ancaman.
"Ambil saja, habiskan. Abang kerja buat Dinda sama anak-anak kita. Siapa yang akan menghabiskan kalau bukan kalian. Ya sudah, pergi sana.. beli apa yang Dinda mau." Kata Bang Sanca membuat mimik wajah Hemas berubah seketika.
Melihat cara Bang Sanca menyayangi istrinya, Bang Bara pun ikut mengambil kartu ATM di dompetnya. "Kamu juga dek. Pergilah untuk refreshing, jangan mikir kegiatan kantor yang tidak ada habisnya."
"Ini untuk Dinda." Gaya Bang Priyo mengikuti gaya bahasa Bang Sanca menyapa lembut istri kesayangan.
"Benar nih Bang???" Wajah Irni nampak sumringah.
"Iya lah, nanti traktir teman-teman ya. Sanca sering nggak punya uang." Kata Bang Priyo dengan serius.
Bang Sanca sampai melongo mendengarnya, wajahnya memerah menahan rasa malu. Baru saja ingin menjawab, Hemas sudah mencubit pinggangnya.
"Iihh.. Abang kenapa buat malu sih. Berapa hutang Abang??"
__ADS_1
"Nggak ada sayang. Nanti Abang urus lah. Sekarang cepat pergi jalan-jalan. Jangan urus Abang lagi." Pinta Bang Sanca sudah meninggalkan lirikan penuh ancaman untuk Bang Priyo yang tertawa penuh kepuasan.
Akhirnya ketiga wanita mau kembali pulang juga. Para suami pun menghela nafas lega.
Tak lama setelahnya Bang Priyo balik melirik Bang Sanca. "San, transfer satu setengah juta donk ke rekening ku..!!" Pintanya.
"Laah memangnya kenapa pot?" Tanya Bang Sanca.
"Ini tanggal tua, isi di kartu ATM yang di bawa Irni hanya tersisa dua puluh tiga ribu rupiah saja. Kasihan lah calon mamanya anak-anak kalau mau bayar isinya zonk. Tau sendiri khan lu.. kemarin gue baru lamaran." Jawab Bang Priyo.
"Aahh lu Pri, ada-ada saja. Begitu tadi lu ngeledek gue di hadapan para istri. Keterlaluan lu ya.." gerutu Bang Sanca.
"Bawel lu, cepat transfer. Anggap aja lu bayar utang." Kata Bang Priyo.
"Eehh lap ingus. Utang apaaa??"
"Wah, lu belaga lupa. Gue pernah nyelametin lu dari serangan ibu-ibu di pasar ya gara-gara lu ngutil buah pir." Kata Bang Priyo.
"Muke gile. Itu eluu Tong." Bang Sanca sampai mengambil ranting kayu untuk menghajar Bang Priyo.
"Hwahahahaha.... Galak benar lu. Cepat di transfer, gue tunggu transferan utang lu."
"Ya Tuhan. Dosa apa aku ini sampai ketemu makhluk macam Supriyono Kurowo." Gumam Bang Sanca.
.
.
__ADS_1
.
.