
Disebuah ruangan bernuansa putih seorang gadis cantik berbaring lemah dengan mata yang terus terpejam sudah cukup lama ia tertidur bak putri tidur yang sedang menunggu seorang pangeran datang
Hari terus saja tetap berjalan dengan normal hari demi hari terus berlalu namun tetap saja gadis itu tetap saja terpejam bagai mimpinya begitu indah hingga ia enggan untuk membuka mata
"Sampai kapan kau akan tertidur" lirih seorang pria
Matanya terus berembun melihat gadisnya tetap saja menutup mata ia terus mengusap lembut tangan gadis cantik yang terus tertidur
"Apa mimpimu begitu indah hingga kau tak ingin melihat ku lagi"
"Kau tau aku akan pergi untuk waktu yang lama ku mohon bangun lah"
Pria itu terus saja memandang wajah cantik gadis pujaannya merasa menyesalan dalam hatinya karena tak bisa menjaga gadis itu
Terus terlena menatap wajah gadis yang terlihat cantik dengan Mata tertidur hingga pintu terbuka menampakkan wajah tiga pria yang menatap marah ke arahnya
"Berani kau datang kemari"
"Aku hanya melihat kekasihku" ucap pria itu
"Kekasih kau yang membuatnya begini" ucap salah satu pria tersebut dengan nada tinggi
"Berhenti membuat keributan disini" ucap seorang pria dengan nada dinginnya
Pria-pria tersebut tak lain adalah ALDIN ALVARO ABRAHAM kekasih Anisa
ORDAM SAPUTRA ARGA Mantan kekasih Anisa dan dua temannya ANUGRAHA dan ARKANA pria yang sudah menganggap Anisa seperti adik mereka
Kedua tatapan Aldin dan ordam bak musuh yang saling ingin menyerah satu sama lain
"Untuk apa loh kemari" ketus Aldin pada ordam
Ordam hanya tersenyum sinis menatap remeh pada Aldin
"Gue?tentu karena kami sekelas " ucapnya dengan bangga
Permusuhan antara Aldin dan ordam sudah sering terdengar terlebih lagi keduanya adalah pria yang begitu terkenal Aldin yang sebagai wakil ketua BEM dan ordam sebagai pria dingin yang begitu memukau
Aldin ingin sekali melayangkan pukulan pada ordam namun tangannya dengan cepat di tahan oleh temannya sekelasnya
"Ayo,,jangan buat keributan" ajak temannya
Aldin berbalik menatap Anisa yang masih menutup matanya mengelus lembut tangan wanitanya dan berlalu pergi meninggalkan tiga orang yang selalu menyalahkannya atas apa yang terjadi pada Anisa
Ordam berjalan mendekati bangkar Anisa menatap wajah cantik gadis yang dulu adalah kekasihnya jujur ordam masih memiliki perasaan untuk Anisa namun dulu keduanya memiliki hubungan disaat masih menjadi mahasiswa baru yang di mana jurusannya melarang untuk menjadi kisah
"Nis bangun" lirihnya
__ADS_1
Ia mengusap kasar air matanya ia juga merasakan sakit saat harus pergi secara tiba-tiba meninggalkan gadis yang begitu ia sayang mungkin sekarang bagi Anisa ia adalah orang paling jahat dan begitu ia benci
"Sabar" ucap Nugrah menepuk pundak ordam
Ordam hanya diam ia hanya terus menatap wajah Anisa berharap gadis itu akan segera membuka matanya
waktupun cepat berlalu kini langit sudah menunjukkan senja
"Balik" ajak Arkana
"Kalian balik gue disini" ucap ordam
Keduanya saling tatap ordam selalu menemani Anisa setiap malam bila ditanya kemana Aldin pria itu selalu dilarang oleh Nugrah dan Arkana dengan alasan pria tersebut lah yang membuat Anisa menjadi seperti ini Aldin hanya bisa pasrah baginya bisa melihat Anisa sebentar itu sudah cukup
"Kami pamit "
Ordam hanya menganggukan kepalanya menatap kedua temannya yang benar-benar menghilang dibalik pintu
Kembali menatap gadis yang kini terus memejamkan matanya mengusap lembut pipi chubby gadis itu
"Kau sangat lelah sehingga memilih tertidur dalam waktu yang lama" Lirihnya
Setalah puas memandangi ia pun berdiri dan membaringkan tubuhnya disebuah sopa yang ada di ruangan itu
Disisi lain Aldin nampak gelisah ia harus pergi dalam waktu yang lama apakah ia harus meninggalkan gadisnya ia tak ingin jika Anisa membuka mata namun bukan ia orang pertama yang ia lihat terus melamun menatap lurus kedepan pikiran dan hatinya seperti enggan untuk pergi dari sana
Aldin melihat tangan yang menyodorkan minum padanya ia hanya mengambil minum itu dengan lesu
"Gue tau apa yang loh pikirin" ucapnya
"Gue takut saat gue pergi Anisa bangun" lirihnya
"Tapi ini penting buat masa depan dan demi jurusan loh satu-satunya orang yang bisa bawah nama jurusan dengan baik"
"Gue nggak bisa Nisa butuh gue"
Aldin mengusap rambutnya dengan kasar ia sangat prutasi bagaimana bisa ia harus meninggalkan cintanya demi masa depannya
"Ini nggak lama kok" ucap temannya menyakinkan
"Setahun itu lama" teriaknya
"Sabar bro gue cuma mau yang terbaik untuk loh dan masa depan semuanya"
"Loh pikir-pikir lagi tenangin diri loh" ucapnya melangkah masuk kedalam
Aldin terus menatap langit air matanya tak terasa jatuh membasahi pipinya pikiran dan hatinya nampak tak sejalan bagaimana ia harus mengambil keputusan
__ADS_1
Menatap langit sambil memejamkan mata penyesalan tentu ada pada dirinya mengingat bagaimana wanitanya tertabrak karena ulahnya wanitanya yang genap 3 bulan belum membuka matanya
mengambil ponsel dan menatap wanita cantik yang sedang tersenyum dengan manis mengusap wallpaper handphonenya ada rasa sakit yang ia alami
"apa kamu marah"
"Bukalah matamu ku mohon"
"Jangan buat aku berada dalam ruang penyesalan"
Tetes demi tetes air matanya turun membasahi pipinya,,setelah di rasa puas ia memutuskan untuk masuk dan membaringkan diri menatap sekeliling ruang yang penuh dengan foto dirinya dan Anisa nampak Anisa yang begitu bahagia
...****************...
Pagi menjelang Aldin telah siap untuk berangkat keluar kota untuk pertukaran mahasiswa sebelum itu ia memutuskan untuk pergi melihat dan pamit pada gadisnya yang masih terbaring menutup mata
Tibanya ia disana ia dapat melihat gadis cantik yang masih berbaring dengan selang infus di tangannya tersenyum hangat pada gadis itu senyuman yang tak pernah dibalas kan
"Ngapain loh" ketus seseorang
Aldin hanya menatap tajam pada pria yang sedang duduk di sopa sedangkan yang ditatap seolah tak perna takut akan tatapan itu
"Loh ngapain disini" tekan Aldin
"Jagain Nisa "
keduanya beradu tatap bak ingin memakan satu sama lain keduanya tak pernah akur terlebih lagi saat Aldin tau Ordam adalah mantan kekasih dari Anisa
Tatapan tajam dan dingin yang diberikan satu sama lain bak seseorang yang akan menerkam mangsanya melihat itu dengan cepat Aldin di tarik oleh temannya
Mengdekati bangkar nisa gadis yang masih saja terus terlelap Aldin membelai pipi pulus kekasihnya tatapan tajam kini berubah menjadi tatapan yang sendu melihat gadisnya yang begitu tak berdaya gadis cantik yang selalu tersenyum manis padanya menyapanya dengan suara indahnya
Huh
Aldin menghela napas berat ia kini harus meninggalkan kekasihnya ia berharap kekasihnya sadar dan mengantarkan kepergiannya
"Bangun nis" ucapnya dengan pelan
Tak terasa air matanya yang tak bisa ia tahan kini jatuh membahasi pipinya ia tak perduli dengan dua orang yang melihatnya menangis ia Begitu lemah jika harus berhadapan dengan gadisnya
"Al" ucap temannya
Aldin hanya melirik dan menganggukkan kepalanya menatap dan mencium kening Anisa dengan begitu lama melampiaskan segala rindu dalam hatinya
Tanpa sadar ordam melihat tangan Anisa yang mulai bergerak namun ia tak ingin jika Aldin mengetahui itu ia berharap Anisa sadar saat Aldin benar-benar pergi ia telah merencanakan sesuatu
Aldin yang tidak mengetahui itu berlalu pergi ia tak bisa jika harus berlama-lama jika tidak mungkin hatinya akan begitu berat untuk meninggalkan gadisnya ordam yang melihat Aldin pergi hanya tersenyum sinis ia berjalan mendekati Nisa yang sudah merespon dengan pergerakan tangannya
__ADS_1
"Nis" ucapnya dengan lembut