
Sapaan lembut serta senyuman hangat yang terpancar dari wajah ordam wajah begitu bahagia yang terpancar kala gadisnya membuka mata menatap dengan wajah Sendu mata indah yang begitu dirindukan semua orang wajah sendu nan manis yang di rindukan semua orang
Gelak tawa dan senyuman manis yang selalu mengisi hari-hari setiap orang wajah yang telah lama tertidur pulas kini membuka mata mata coklat keemasan berhasil terbuka dengan sempurna mata indah yang selalu ditatap semua orang
Ordam tak hentinya tersenyum ia menjadi orang yang pertama kali Anisa lihat ketika membuka mata namun aneh Anisa hanya memancarkan wajah heran bagai seseorang yang tak mengenal apapun
dengan berani ordam mengelus pipi chubby mulus gadis itu membuat Anisa menatap ordam dengan lembut dan kebingungan ordam melihat itu hanya tersenyum manis menatap dalam gadis yang telah tinggal lama didalam hatinya gadis yang ia tinggalkan dulu karena saran-saran yang ia dengarkan
"Nisa" sapaan lembut keluar dari mulut ordam
Ordam mengusap airmatanya yang terjatuh akibat haru yang terjadi ia masih memiliki harapan besar untuk memiliki Anisa kembali
"Aku,,,,dimana" satu kata yang berhasil Anisa ucapkan
"Kamu di rumah sakit"
"Kamu siapa?" tanya Anisa
Ordam yang mendengar itu mengerutkan keningnya
"kamu tak mengenalku?" ucapnya
Anisa hanya menggelengkan kepala mencoba mengingat namun malah membuat kepalanya terasa begitu sakit
"Agggghh" Rintih Anisa
ordam yang melihat itu panik dan segera memanggil dokter ia khawatir dengan cepat dokter dan beberapa perawat masuk ordam di suruh keluar dari sana
Diluar ordam nampak gelisah menunggu dokter yang tak kunjung keluar dari ruangan Anisa ia takut jika Anisa harus kembali mengalami koma ia tak hentinya menunduk kepalanya berdoa agar Anisa baik-baik saja
"Ordam" teriak Arkana
ordam hanya melirik dan kembali menunduk kepalanya ia sudah menunggu begitu lama
"Nisa dia" lirih nordam
"Semua baik-baik saja" ucapnya
Semua orang menunggu dengan perasaan gelisah tak lama kemudian dokterpun keluar
"Bagaimana dok?" tanya ordam
Dokter hanya menghembus napas sebelum menjelaskan semuanya
"Akibat benturan keras yang dialami oleh kepalanya mengakibatkan nona Anisa kehilangan ingatan sepenuhnya bahkan untuk mengingat kembali itu akan sangat sulit dan jika ia meninggat itu akan menimbulkan trauma dalam dirinya" ucap dokter itu
Huh
Ordam mengusap kasar wajahnya separah itukah akibat dari kecelakaan malam itu Arkana menepuk pundak ordam dan mengajaknya masuk
Ordam masuk mendekat kearah Anisa yang tertidur akibat obat tidur yang di berikan dokter Anisa sempat berteriak ketika memori-memori dulunya terbuka jelas dikepalanya anisa yang dulu memang memiliki trauma yang terus ia pendam
__ADS_1
"Nis,,,trauma apa yang buat kamu kayak gini" ucapnya
Tak berselang lama pintu ruangan Anisa terbuka nampak Lelaki paruh baya dan wanita paruh baya disebelahnya keduanya berjalan mendekati ordam yang sedang ada di dekat anaknya
"Bunda,,ayah" sapa ordam sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Anisa
"Bagaimana keadaan Nisa nak?" tanya bunda
"Nisa baik Bun kata dokter ia kehilangan ingatan tapi ordam janji akan terus menjaga Nisa" ucap ordam menyakinkan
"Astaghfirullah Nisa sayang maafkan kami nak,,kami terlalu jauh darimu" ucapnya penuh sesal
Yah Anisa tumbuh menjadi anak pendiam dan dingin yang menutup segalanya kepada semua orang bagi Anisa tak ada yang perduli dengannya kedua orang tuanya yang sama-sama berkerja membuat Anisa tak memiliki tempat cerita yang baik
Anisa menjadikan Aldin sebagai rumah kedua ketika rumah pertamanya telah menjadi dingin kedua orang tua Anisa yang berkerja jauh diluar kota membuat Anisa tinggal bersama asisten sekaligus pengasuhnya dulu Kedua orang tua Anisa tak mengenal Aldin yang mereka tau hanya ordam karena Anisa sempat mengenal ordam pada orang tuanya
"Bunda yang sabar yah" ucap sang ayah menenangkan istrinya
"tapi yah Nisa"
"Kita buat keluarga baru yang bahagia buat Nisa biarlah Nisa melupakan yang lalu" Ucap ayah
sebagai seorang ayah tentu ia sangat terpukul mendengar cerita yang ordam berikan ia merasa gagal menjadi ia gagal menjaga putrinya
Menatap wajah putrinya dengan dalam betapa ia menyesali perbuatannya tak berselang lama kemudian Anisa membuka matanya mata indah yang terpancar dalam dirinya
"Aggghh" rintih Anisa
"Sayang" sapaan lembut dari bundanya
Anisa hanya terdiam mengerutkan keningnya kepalanya terasa sakit jika ia harus terus memaksa mengingat semuanya
"Ini bunda sayang"
"Bunda?" tanya Anisa
Bundanya hanya mengangguk dan tersenyum manis pada Anisa
"Ini ayah"
"Dan ini kekasih kamu ordam" ucapnya
Degg!!!
jantung ordam berdecak kencang saat bunda Anisa mengenalkan dirinya sebagai kekasih Anisa
"Sayang" sapa ordam dengan lembut
ordam melihat tatapan Anisa yang menatapnya dengan hangat tatapan yang dulu dingin dan tak ingin bicara padanya kini ia dapat melihat tatapan hangat menyejukkan hati
"Kamu?"
__ADS_1
"Ordam " sahut ordam
Kedua orang tua Anisa tersenyum bahagia mereka ingin mengukir kenangan yang indah kambali pada diri Anisa ia tak ingin Anisa tau masa lalunya
Disisi lain nampak saldin sedang duduk termenung entah mengapa ia merasa hatinya gelisah
"Apa Anisa baik-baik saja" gumamnya
sedari tadi ia terus memikirkan Anisa pikirannya terus saja tertuju pada Anisa entah mengapa ia merasa terjadi sesuatu
"Loh bisa duduk nggak sih" tegur Alfin
"Gue gelisah Fin" sahut Aldin
"Din kita baru tiba yakin saja semua baik-baik saja kamu harus fokus biar urusan kita cepat selesai"
Aldin kembali duduk menatap Alfin yng terus meyakinkannya
"Gue pengen lihat Anisa bangun"
"Gue mau jadi orang pertama yang Anisa lihat saat membuka mata" lirihnya
Alfin menepuk pundak Aldin ia tau bagaimana perasaan teman sekaligus sahabatnya itu Alfin tau Anisa adalah harta berharga yang Aldin punya wanita yang ia cintai dengan begitu besar
"Gue udah beritahu dokter apapun perkembangan Anisa dokter itu akan memberikan informasi"
"Ayo istirahat lah"
Ucap Alfin lalu berlalu pergi meninggalkan Aldin
Aldin hanya menatap punggung sahabatnya yang menjauh ia tak tau harus bagaimana
Huh
Menghembus napas kasar Aldin berlalu masuk dan membaringkan diri memejamkan matanya berharap semua baik-baik saja
Dirumah sakit Anisa tertawa lepas dengan berbagai candaan dari ordam
Ordam dengan telaten menyuapi Anisa buah diringu dengan candaan yang membuat Anisa tertawa lepas ordam menarik tangan Anisa dan menatapnya dengan dalam
"Ada apa?" tanya Anisa
"teruslah tertawa dan tetaplah menjadi milikku"
Anisa yang mendengar itu tertawa keras ia tak mengerti maksud dari ordam
"Aku kekasihmu tentu aku akan selalu jadi milikmu" ucapnya dengan senyum manis
Ordam membalas senyuman itu namun dalam hati ia juga memiliki kekhawatiran yang dalam bagaimana jika Anisa mengingat segalanya apakah Anisa akan lebih membencinya
"Apa kau akan membenciku jika kau sudah ingat segalanya" ucapnya dalam hati
__ADS_1
"