
Anisa terus merincau menyebutkan kata dia semua orang di buat pada perilaku Anisa yang menurut mereka aneh bunda Anisa terus menangis melihat putrinya seperti ini
"Tenang nak" Isak bunda Anisa
Beberapa perawat serta dokter datang dan menyuntikan obat penenang pada Anisa barulah Anisa tertidur pulas semua yang melihat itu bernapas lega
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya ayah Anisa
"Semua baik-baik saja hanya saja Anisa selalu berusaha keras untuk mendapatkan ingatannya mohon tolong jangan memaksanya untuk mengingat itu semua " ucap dokter tersebut
Orang tua Anisa berdiri di dekat bangkar putrinya melihat Anisa yang tertidur akibat obat penenang yang diberikan hati orang tua mana yang tak terluka melihat putrinya seperti ini
"Maafkan ordam bunda" ucap ordam dengan penuh penyesalan
"Ini bukan salahmu nak" ucap bunda tulus
"Tapi ordam gagal jagain Nisa"
Bunda Anisa hanya diam mengelus lembut tangan putrinya yang terdapat selang infus disana buliran bening terus mengalir membasahi pipinya
"Bunda makan dulu " ajak suaminya
"bunda tidak lapar ayah" tolaknya
Ayah Anisa hanya menghembuskan napas kasar begitu sulit membujuk istrinya itu
"Bunda makan lah biar ordam yang jagain Nisa" ucap ordam
"Tapi bunda tak lapar" kekeh Bunda Anisa
"Ordam biarlah ayah akan menemani bunda" ucap ayahnya
Ordampun tak bisa berkata lagi ia memilih untuk pamit ingin mengurus orang yang telah membuat Anisa seperti ini
Ordam berjalan dengan penuh amarah tiba parkiran rumah sakit ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang begitu sepi hingga tiba di sebuah rumah kos kecil yang putri tempati
"Putri" teriak ordam dari luar
Putri yang sedang asik menonton terkejut mendengar teriakkan itu ia bangun dengan tubuh bergetar ia tau akibat ulahnya pasti membuat ordam begitu marah
Dengan langkah kaki yang gemetar putri tetap melangkah keluar berusaha mengatur napasnya untuk menemui ordam hingga tiba di depan pintu membuka pintu terdapat ordam yang menatapnya dengan tajam bak singa yang ingin memakan mangsanya
Putri mencoba tersenyum manis pada ordam namun dengan sigap ordam menarik tangannya dengan kasar dan menghempasnya dengan kasar ketanah semua tetangga yang menyaksikan itu tak berani akibat tatapan tajam ordam
Putri Begitu gemetar sekarang ia dapat melihat tatapan amarah dalam mata ordam
"Ordam g-gue"
"Diam" teriak ordam
Dengan emosi ordam mencekik leher putri dengan kehabisan akal putri yang mulai kehabisan napas memukul tangan ordam berharap dilepaskan
Ordam melepas cekik itu membuat putri berbatuk dan menarik napas dalam-dalam jika ordam masih terus mencekiknya mungkin saja ia sudah tiada sekarang
"Ini peringatan sekali lagi loh buat Nisa celaka gue nggak akan senggang suruh Daddy gue keluarin Luh dari kampus" ucap ordam berlalu dari sana
Dengan ketakutan putri menatap kepergian ordam dan bergegas lari dan mengucin pintu melampiaskan seluruh amarahnya dengan melempar barang-barang yang ada dalam kosnya
__ADS_1
Tiba dirumah sakit ordam dengan cepat menuju ruangan Anisa membuka pintu melihat Anisa sedang duduk dengan beberapa buah di pangkuannya Anisa menatap ordam lalu tersenyum manis ordam membalas senyuman itu dan berjalan mendekati Anisa
mengambil buah yang akan Anisa makan dan menyuapinya
"Kenapa tak menelpon ku hm" saut ordam dengan lembut
"kata bunda kamu sedang mengurus sesuatu " ucapnya
"Sesibuknya aku dirimu tetap yang terpenting" ucapnya sambil mencubit gemas hidung Anisa
Anisa hanya terkekeh ia begitu bahagia ordam selalu ada didekatnya
"Apa kamu bahagia?" tanya ordam
"Tentu" ucap Anisa dengan senyum termanisnya
Ordam dengan telaten menyuapi buah yang Anisa inginkan
"Sudah aku tak ingin lagi" keluh Anisa
"Baiklah sekarang tidurlah" saut ordam
"Aku ingin pulang" ucap Anisa dengan manja
Ordam mengelus rambut Anisa dengan lembut
"Kata dokter kamu boleh pulang besok sekarang istirahat lah setelah kamu sembuh aku akan membawamu jalan-jalan oke"
"Janji" ucap Anisa mengulurkan jari kelingkingnya
Ordam tersenyum dan menyatukan jari kelingkingnya pada Anisa
"Yeyyy" senang Anisa
Anisa menuruti permintaan ordam ia berbaring dan menutup matanya ordam mengecup singkat pucuk kepala Anisa memberikan tanda kasih sayang pada gadis itu
Setelah ia rasa Anisa telah terlelap iapun menduduki sopa yang ada di sana membaringkan diri dan menutup mata menemani gadisnya yang telah terlelap
Disisi lain Aldin yang nampak tak bersemangat pasalnya berita-berita tentang kedekatan ordam dan Anisa terus ia dengar membuatnya semakin ingin cepat kembali
Brakkk
Aldin yang sudah tak tahan lagi membanting barang yang ada di depannya Alfin yang melihat itu terkejut ia berjalan mendekati Aldin
"tenang Din" ucap Alfin
"Tenang bemana Alfin hah" bentak Aldin
"Tahan emosi loh jangan buat semua kacau"
"Gue mau balik besok" ucap Aldin
"Nggak Aldin kita balik setahun lagi" cegah Alfin
"Gue mau ketemu Anisa" bentak Aldin
"Loh mau usaha loh sia-sia hah"
__ADS_1
"Gue nggak perduli pokoknya besok gue tetap balik" ucap Aldin berlalu dari sana
Huh
Alfin mengembuskan nafas kasar jika Aldin telah begitu ia tak bisa lagi berbuat apapun selain mengikuti kemauan sahabatnya itu
Iapun bergegas masuk mengikuti Aldin yang ternyata telah bersiap memasukan barang-barang kedalam koper
"Kalau loh mau tetap disini terserah gue balik sendiri" ucap Aldin
"Gue akan ikut loh" ucap Alfin
Aldin hanya melirik dan tersenyum ia tau sahabatnya itu selalu ada disampingnya
"Thanks"
Alfin hanya mengangguk dan mulai membereskan barang bawaannya keduanya telah memutuskan untuk pulang kembali besok Aldin sudah tak tahan lagi ia ingin menemui Anisa segera mungkin
Haripun telah berlalu kini Aldin dan Alfin tengah berada di bandara keduanya sebentar lagi keduanya akan segera kembali dan menemui Anisa
Disisi lain Anisa tengah bersiap untuk pulang dari rumah sakit disana tengah ada bunda dan ordam yang datang menjemputnya
"Yeyy pulang" senang Anisa
Ordam tersenyum dan mengelus lembut rambut Anisa
"Kamu senang" ucap ordam
Anisa mengangguk kepalanya tersenyum bahagia
"Ingat Nisa setelah ini jangan lagi berpikir keras" ucap bundanya
"Iya bunda Nisa janji" ucap Anisa
"Ordam akan menjaga Nisa dengan baik bunda" ucap ordam
"Terimakasih nak bunda percaya padamu"
Ketiganya pun berlalu keluar dari ruangan untuk menuju rumah beberapa saat mobil yang ordam kendarai tiba di rumah bernuansa klasik yang berdiri kokoh berlantai dua
Ordam dengan hati-hati mengengam tangan Anisa berjalan masuk kedalam rumah
"Bunda ordam pamit dulu" pamit ordam
Ordam hanya mengantarkan Anisa sampai dalam rumah ia tak mungkin mengantarkan Anisa hingga kamar bisa-bisa ia jadi santapan ayah Anisa
"Hati-hati nak" ucap bunda Anisa
"Aku pamit dan jangan lupa minum obat" ucapnya pada Anisa
Anisa hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada ordam yang telah berlalu pergi setelah itu Anisa dituntun oleh bundanya menuju kamar
"Istirahat lah nak"
Bunda Anisa berlalu dan menutup pintu kamar anaknya
Anisa bukannya tidur ia memilih untuk berkeliling mencari sesuatu yang ingin ia ketahui hingga ia menemukan sebuah album yang bertulis namanya dan satu nama
__ADS_1
"Aldin" gumamnya