KAMU DIA DAN FAKULTAS PERTANIAN ITU

KAMU DIA DAN FAKULTAS PERTANIAN ITU
Bab 3


__ADS_3

Seminggu telah berlalu kini Anisa telah bersiap untuk kekampus ingatan Anisa benar-benar tidak dapat kembali kehidupan masa lalu berbeda dengan masa kini


Anisa telah siap dengan pakaian kasualnya hari ini adalah hari pertama ia kembali kekampus meski tak mengingat apapun Anisa akan tetap berusaha untuk menghapal nama teman-temannya Anisa menuruni tangga melihat kedua orang tuanya sedang berada di meja makan


"Ayah bunda" sapa Anisa


"Sayang duduklah" ucap bunda


Jika dulu Anisa selalu sarapan sendiri pagi ini berbeda Anisa bisa menikmati sarapan dengan kehangatan keluarga pengasuh Anisa yang melihat itu terharu ia tau bagaimana Anisa menjadi gadis dingin dan tak pernah bicara


"Sayang kamu berangkat sama ordam?" tanya ayahnya memecah keheningan


"Iya ayah "


Tak ada sautan lagi ketiganya fokus menghabiskan sarapannya hanya ada suara dering sendok yang terdengar


"Assalamualaikum" ucap seorang pria


"Waalaikumsalam kemari nak" ucap bunda


pria tersebut tak lain adalah ordam yang datang menjemput kekasihnya


"sarapan lah dulu"


"Ordam sudah sarapan bunda" tolak ordam dengan ramah


"Baiklah"


"Bunda ayah Nisa berangkat " pamit Anisa


"Hati-hati sayang"


"ordam pelan-pelan saja bawah motornya" ucap ayah memperingati


"Iya ayah"


Keduanya pun berlalu dan berjalan menuju mobil


Setibanya dikampus ordam dan Anisa menjadi pembicaraan hangat pagi ini banyak yang merasa keduanya cocok


"Wow mereka comeback"


"Pasangan serasi"


Banyak juga dari mahasiswa yang mengetahui bahwa Anisa saat ini telah hilang ingatan ordam telah menyampaikan semuanya pada semua mahasiswa hingga tak ada yang berani membuka suara tentang hubungan ordam dan Anisa serta hubungan Anisa dan Aldin


keduanya terus berjalan dengan tangan yang terus bergengaman bagai ordam takut jika Anisa pergi darinya tepat di perjalanan keduanya berpapasan dengan teman-teman Aldin


"Anisaa" teriak salah satu wanita disana


Anisa menghentikan langkah dan berbalik menatap heran pada gadis didepannya


"Loh udah sadar bagus banget Aldin pasti senang" ucapnya sambil memeluk Anisa


Anisa hanya diam membeku ia tak mengenali Aldin raut Anisa seolah mengatakan siapa Aldin apa hubungan dirinya dan Aldin


ordam yang melihat itu segera melepaskan pelukan teman Aldin pada Anisa lalu menatap dingin pada wanita yang berani bicara seperti itu


"Nisa ayo" ajak ordam


Anisa tak menghiraukan itu ia masih terdiam membeku entah mengapa hatinya seolah mengenal nama tersebut ia mencoba mencari memori dulu namun tak menemukannya membuat kepala Anisa menjadi pusing dan hampir terjatuh dengan sigap ordam menahan tubuh Anisa yang hampir ambruk dan jatuh

__ADS_1


"Jangan memaksa untuk memikirkannya hm" ucap ordam dengan lembut


Ordam menarik lembut Anisa ia tak ingin Anisa berlama-lama disana sepanjang jalan Anisa hanya terus diam kepalanya terasa sakit


Setibanya di kelas Anisa memilih duduk ordam dengan telaten memijat kepala Anisa dengan lembut ia tau Anisa merasa sakit kepala akibat memikirkan sesuatu


"Aldin"


"Orang yang membuatmu celaka" ucap Arkana tiba-tiba


ordam sontak melihat dengan tatapan penuh pertanyaan Arkana hanya mengangguk kan kepalanya


"Apa itu benar?" Tanya Anisa seolah tak percaya


Arkana berjalan mendekati Anisa mengusap lembut rambut wanita yang ia anggap adik ia berbohong ia tak ingin Anisa berusaha mengingat Aldin yang berujung pada kesehatannya lagi


"Kau tak percaya padaku?" bukannya menjawab Arkana justru bertanya kembali pada Anisa


"Ahh,,aku percaya" ucap Anisa tersenyum


Sejujurnya entah mengapa hati Anisa seolah ragu merasa bahwa perkataan Arkana adalah bohong tapi ia tak mengingat apapun


"Anisaaaaa" teriak seorang wanita dengan suara cemprengnya


Semua yang mendengar itu menutup telinganya lalu menatap tajam pada wanita yang sama sekali tak merasa bersalah


"Gue rindu" ucapnya memeluk Anisa dengan kencang


"G-gue nggak bisa napas" ucap anisa terbata-bata


Ordam dengan kasar melepas pelukan wanita itu setelah lepas Anisa menarik napas dalam-dalam rasanya ia hampir kehilangan napas


"Kebiasaan" ketus ordam


Wanita itu hanya menatap sinis pada ordam yang tak pernah takut sama ordam yang memiliki segala kekuasaan bahkan kampus ini adalah milik Daddynya ordam


"Maaf yah gue kesenangan loh udah masuk kampus hari ini" ucapnya


Anisa bingung jujur ia tak mengenali wanita ini


"Gue lupa" ucap wanita itu mengdepuk jidatnya


"Gue Tasya"


"Tasya?" Tanya Anisa


Tasya mengangguk kepalanya "Nggak usah dipikiran entar gue di salahin sama cowok loh" ucapnya


Anisa hanya tersenyum ia mengira orang yang dimaksud Tasya adalah ordam namun ternyata bukan


"Aku lapar" ucap Anisa dengan manja pada ordam


Tasya yang melihat itu mengerutkan keningnya yang Tasya tau anisa selalu ketus jika ordam mengajaknya bicara tapi mengapa sekarang ia menjadi manja


"Tunggu Anisa bukannya "


belum sempat menyelesaikan ucapannya dengan cepat Arkana menutup mulutnya dan menatap tajam


Anisa melihat itu mengerutkan keningnya apa yang ingin Tasya katakan


"Ayo sayang " ucap ordam menarik lembut tangan Anisa

__ADS_1


"Aggggh,sakit bang*at" ucap Arkana saat Tasya mengigit tangannya


"Tangan loh bau terasi" ketus Tasya


"Awas yah loh" sinis Arkana


"Gue nggak takut,,kenapa kalian bohong sama Anisa hah" bentak Tasya


"Siapa yang bohong sih,Anisa tuh hilang Ingatan mungkin cuma ordam yang ia ingat " elak Arkana


"masa sih" ucap Tasya tak percaya


Tasya masih ingin bertanya namun arkana sudah pergi dari sana membuat Tasya kesal dan mentankan kakinya


Dikantin menjadi hebo melihat perlakuan ordam pada Anisa


"sosweet banget sih"


"Serasi yah dari pada sama yang satu"


Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan mahasiswa yang terlontar


ordam tak memperdulikan itu ia dengan telaten menyuapi Anisa meski Anisa sudah mengatakan ia bisa sendiri tapi ordam tetap saja menolak


Dari kejauhan meja teman-teman sejurusan Aldin sedang duduk menyaksikan ordam dan Anisa yang seperti pasangan kekasih


"Anisa udah putus yah sama Aldin?" ucap salah satu dari mereka


"Perasaan belum deh"


Salah satu dari mereka diam-diam memotret Anisa dan ordam lalu mengirimnya pada Aldin


"Katanya dia tuh hilang Ingatan"


"Hah"


"Ia lah bayangin aja dia kecelakaan bagaimana tuh kepala sudah banyak terbentur" ucap wanita


"Kasihan banget sih Aldin"


Disisi lain


Aldin yang menerima foto tersebut mengepalkan tangannya ia tau pasti ordam lah yang membuat Anisa menjadi seperti ini


Huh


"Ada apa?"


Aldin tak menjawab ia menunjukkan sebuah foto dimana anisa sedang asik di suap oleh ordam


"Gue harus segera balik "


"Anisa milik gue dan dia mencoba merebut"


"Tahan emosi loh kita nggak tau bagaimana kondisi Anisa sekarang "


"Gue denger kata dokter Anisa hilang Ingatan mungkin saja hanya ordam yang ia ingat"


Aldin tak menjawab ia memilih diam dan membuka ponselnya menatap raut Anisa dengan sendu bagaimana bisa Anisa melupakannya


"Tunggu gue Anisa" gumamnya

__ADS_1


__ADS_2