
Seperti pagi biasa pagi ini Anisa telah bersiap untuk kekampus memakai make up tipis yang menambah kecantikan dirinya
"Cantik" gumamnya
Setelah ia rasa sempurna Anisa berlalu keluar dari kamar menuruni tangga melihat kedua orang tuanya yang ada di sana tentu satu orang lagi ordam pria itu datang untuk bergabung sarapan bersama keluarga Anisa
"Pagi kesayangan" sapa ayahnya
Anisa tersenyum manis kemudian duduk di samping ordam
"untukmu" ucap ordam memberikan roti selai yang telah ia buat
"Terimakasih" ucap Anisa
Keempatnya pun sibuk menghabiskan sarapannya tak ada yang saling bicara hanya ada keheningan hingga Anisa meneguk susu buatan bundanya
"Ayo" ajak Anisa
"Ayah bunda ordam bawah Anisa " pamit ordam
"Hati-hati nak" ucap bundanya
sepasang kekasih itu berlalu menuju parkiran rumah Anisa ordam dengan manis membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Anisa masuk
Disisi lain diparkiran kampus Aldin tengah tiba menunggu Anisa berulang kali ia menatap gerbang berharap Anisa telah tiba entah mengapa ia tengah menunggu begitu lama tak berselang lama mobil yang ordam kendarai tiba diparkiran kampus ordam dengan cepat turun dan berlalu membuka pintu mobil dan menyambut Anisa dengan begitu manis
Aldin yang melihat itu berlari mendekati Anisa ia begitu rindu pada wanita yang sekarang tengah berdiri dihadapannya Anisa yang melihat kedatangan Aldin mengerutkan keningnya bukannya berkata Aldin langsung menarik Anisa dalam dekapannya
Mengusap lembut punggung gadis yang begitu ia rindukan bahkan buliran air mata telah jatuh membahasi pipinya
"Anisa" ucapnya dengan Isak tangis
Anisa yang mendapatkan perlakuan itu diam membeku ia tak tau harus berbuat apa ia bahkan masih tak mengingat siapa pria yang berani memeluknya ini
"Lepas" tekan Anisa
Mendengar itu Aldin terdiam melepaskan pelukan dari wanitanya ia menatap Anisa dengan tatapan sendu apa yang terjadi pada gadisnya pikirnya
"Kenapa Anisa?" tanya Aldin tak percaya
"Loh siapa sih datang-datang langsung meluk gue " ketus Anisa
"Aku Aldin pacarmu" ucapnya
"Apasih pacar gue itu ordam bukan loh jangan ngaku-ngaku deh" kesal Anisa
"Dia bohong Anisa semua yang ia katanya bohong kamu nggak boleh percaya ucapnya plis Anisa ini gue pacar kamu" ucapnya
"Cukup yah nggak usah ngaku bisa nggak sih" ucap Anisa berlalu dari sana
Aldin yang melihat itu mencoba meraih tangan Anisa namun dengan cepat ordam menahannya Aldin memberikan tatapan tajam pada ordam
"Loh udah buat anisa begini" tekan Aldin
"Nisa baru keluar dari rumah sakit jadi berhenti buat dia harus mengingat masa lalu" ucap ordam dengan santai dan berlalu dari sana
Aldin hanya diam melihat kepergian ordam yang mengengam tangan Anisa Aldin tak percaya apa betul Anisa tak mengingatnya sama sekali
__ADS_1
Arkana yang melihat itu dari jauh berjalan mendekati Aldin menepuk pundak pria itu
"Gue tau ini sulit tapi ini demi kebaikan Nisa" ucap arkana kemudian pergi dari sana
Anisa yang nampak kesal masuk dengan cemberut kedalam ruang kuliah Tasya yang melihat itu mengerutkan keningnya biasanya Anisa selalu tersenyum bahagia namun pagi ini seperti ada yang telah merusak mood wanita itu
"Loh kenapa sih masih pagi juga" tanya Tasya
"Gue kesal tau " ketus Anisa
"Kesal kenapa?" tanya Tasya dalam mode keponya
"Tadi tuh ada cowok ngaku jadi cowok gue mana meluk lagi kan gue jadi kesal" papar Anisa
"Hah" Tasya begitu terkejut mendengar perunturan Anisa
Tasya mengenal Anisa dari dulu ia sangat tau Anisa tak suka jika ia harus di sentuh oleh pria yang sama sekali tak ia kenal baginya itu sangat tidak sopan tapi Tasya begitu penasaran siapa pria yang berani pada Anisa
"Siapa sih?" tanyanya lagi
Sebelum sempat Anisa menjawab ordam telah tiba di sana mengusap lembut kepala Anisa ia tau saat ini Anisa sangat kesal ordam tak ingin kejadian tadi membuat Anisa harus berusaha mengingat kepingan kenangan yang akan membuat kejadian kemarin terulang
"Jangan pikirkan apapun oke" ucapnya dengan lembut
"Tapi dia siapa?" tanya Anisa
"Dia bukan siapa-siapa sayang" ucap ordam berusaha meyakinkan
"T-tapi"
"Nisa" panggil Arkana
"Hmm" sahut Anisa
Arkana tersenyum membela rambut panjang Anisa bagi Arkana Anisa seperti anak kecil yang selalu ingin dimanja ia tak perna sekalipun membiarkan siapapun membuat Anisa menangis entah itu karena ia menganggap Anisa adik ataukah hatinya menaruh perasaan lain pada gadis yang memiliki senyum manis itu
"Jangan pikirkan apapun pikirlah kesehatan dirimu dan juga bunda oke" ucapnya dengan lembut
Anisa langsung memeluk Arkana bagi anisa pelukan Arkana adalah tempat ternyaman untuk membuatnya merasa tenang Arkana dengan sabar mengusap lembut kepala Anisa
"Tapi dia memelukku" ucap Anisa dengan manja
"Aku akan mengurusnya asal kau tak boleh pikir yang berat" ucapnya
"Terimakasih " ucap Anisa tulus
Arkana mencubit hidung Anisa dengan gemas kemudian melirik pada ordam
"Nisa" panggil ordam
Anisa tersenyum pada ordam melepaskan dekapan dari Arkana dan berlalu memeluk erat kekasihnya itu
"Aku mencintaimu" ucap ordam
"Aku juga"
Selang berapa lama dosen masuk dan memulai materi dan pembagian kelompok untuk praktikum lapangan untunglah Anisa selalu mendapatkan Arkana ordam dan Tasya yang menjadi kelompoknya keempat itu memang tak pernah terpisahkan
__ADS_1
ordam mengajak Anisa dan yang lain menuju kantin diperjalanan Anisa terus berbicara tentang Praktikum yang akan mereka lakukan hingga tiba di kantin keempatnya memilih duduk
"Anisa" sapa seseorang pada Anisa
Anisa yang mendengar itu melihat siapa yang menyapanya menatap tak suka pada Aldin yang sedang tersenyum membawa makanan kesukaan Anisa
"Ini makanan kesukaanmu" ucapnya
"Nggak gue nggak suka" ketus Anisa
Aldin tak menyerah ia duduk disamping Anisa kemudian mengengam erat tangan Anisa
Anisa memberontak berusaha melepaskan tangan dari Aldin namun Aldin enggan untuk melepaskannya
"Lepas" bentak Anisa
"Cukup Anisa" ucap Aldin dengan nada tinggi
Anisa yang mendengar itu terkejut dan menunduk entah mengapa ia tak suka jika ada yang berbicara dengan nada tinggi padanya
Tanpa sadar Anisa mulai menangis ia bahkan sampai gemetar ketakutan Aldin yang merasakan itu merasa bersalah
"Maafkan aku" lirihnya
"Lihat aku Anisa apa kau tak meninggat ku apa aku tak ada dalam ingatan mu sedikit saja Anisa ingat aku,aku mohon"
Anisa menatap Aldin entah dari mana kepalanya tiba-tiba pusing kepingan bayangan putih mulai terputar dalam pikirannya ordam yang melihat itu berlari mendekati Anisa begitu pun dengan Arkana
"Sakit" lirih Anisa
Kepalanya seperti terputar merasakan sakit luar biasa bahkan hidungnya mulai mengeluarkan cairan merah ordam panik mendekati Anisa
"Nisa jangan paksa untuk ingat apapun" ucap ordam
namun Anisa semakin kesakitan hingga jatuh tak sadarkan diri ordam dengan cepat mengangkat tubuh anisa dan berlalu keluar dari kantin Aldin yang melihat itu ingin segera mengejar langkah kaki ordam namun satu bopeman mendarat pada wajah tampan
"Puas loh hah" bentak arkana yang marah
"Gue udah bilang tadi tapi loh nggak denger "
"gue cuma mau Anisa ingat gue" tekan Aldin yang begitu marah
Lagi-lagi Arkana memukul wajah Aldin hingga mengeluarkan darah Aldin yang tak terima itu juga memukul wajah arkana dengan keras
"Jauhi Nisa" bentak arkana
"loh bukan siapa-siapa Anisa" tekan Aldin
"Gue kakaknya"
Mendengar itu Aldin tertawa kemudian menatap tajam pada Arkana
"Loh pikir gue nggak tau hah loh sembunyiin perasaan loh lewat kata Kakak"
"Banci loh,,loh pecundang yang nggak mau perjuangin perasaan loh dan memilih menjadi kakak untuk cewek yang loh suka" tekan Aldin dengan penuh amarah
Arkana hanya terdiam ia melihat itu Aldin tersenyum puas ia tau bagaimana perasaan Arkana pada Anisa namun arkana berusaha menutupi semuanya
__ADS_1
Arkana tak menghiraukan perkataan Aldin ia memilih pergi dari sana menuju parkiran ia akan menyusul Anisa
"Gue emang suka sama Nisa tapi bagi gue kebahagiaan Anisa jauh lebih penting karena cinta tak harus memiliki bukan" gumamnya dalam hati