KAMU DIA DAN FAKULTAS PERTANIAN ITU

KAMU DIA DAN FAKULTAS PERTANIAN ITU
Bab 7


__ADS_3

Arkana melajukan motornya membela jalanan menuju rumah sakit tempat Anisa dirawat dalam pikirannya ia terus terbayang perkataan Aldin yang membekas dihatinya


"Loh itu pecundang yang bersembunyi dibalik kata seorang Kakak"


"Shittt" gumam Arkana menghentikan motornya


Arkana menghentikan motornya di sebuah taman ia memilih untuk menengkan diri duduk seorang diri ia membuka handphone dan menatap galeri begitu banyak foto dirinya dan Anisa saat masih menjadi Maba Anisa yang begitu mungil mengemaskan membuatnya jatuh hati namun sayang sebelum mengungkapkan perasaannya Anisa lebih dulu dekat dengan ordam


Arkana mengubur perasaannya begitu dalam ia tau Anisa akan bahagia bersama pilihannya itulah mengapa ia menganggap Anisa seperti adiknya ia selalu ingin berada dekat Anisa selalu ingin menjadi tempat nyaman Anisa untuk bersandar


Arkana perna begitu marah saat ordam memutuskan Anisa ia dengan susah menguatkan Anisa menemani Anisa agar ia tak terlalu memikirkan patah hatinya saat itu Arkana pikir itu adalah kesempatan dan berharap Anisa mengerti perasaannya namun sayang bagi Anisa dia hanyalah seorang kakak


Arkana kerap kali mengutarakan perasaannya namun selalu saja Anisa menganggap itu adalah candaan semata


"Loh emang nggak perna nyadar yah" gumamnya sambil melihat fotonya bersama Anisa


Arkana menutup mata mengingat semua kenangan yang ia lalui bersama Anisa begitu banyak perhatian yang ia berikan namun mengapa Anisa hanya menganggap dirinya kakak entah itu salahnya ataukah Anisa yang memang tak memiliki perasaan


Ia terus disana hingga waktu senjapun berakhir Arkana yang merasa cukup akhirnya bangkit dan berlalu dari taman itu


Disisi lain tepatnya di rumah sakit ordam dengan telaten menyuapi Anisa makan Anisa telah sadar namun belum di perbolehkan untuk pulang


"Ordam Arkana mana?" tanya Anisa


"Sebentar lagi akan tiba" jawab ordam


Anisa memang kerap kali menanyakan Arkana bila pria itu tak berada di sisinya entahlah Anisa merasa nyaman bila ada Arkana Anisa juga sering cemburu bila Arkana dekat dengan wanita lain


"Kenapa melamun hm" ucap Arkana yang telah ada di depan pintu


Anisa yang tadinya murung mengembangkan senyum merenggangkan tangan Arkana yang tau itu berjalan mendekati dan memeluk Anisa entahlah Anisa selalu melakukan itu pada Arkana


"Kenapa kau lama" ketus Anisa


"Aku membelikan ini untukmu" ucap Arkana sambil menunjuk buah kesukaan Anisa


"Yeyy" senang Anisa


Ordam yang melihat itu hanya bisa diam sejujurnya ia merasa cemburu dengan kedekatan Anisa dan Arkana namun ia tak bisa berbuat apapun karena Anisa akan jauh memilih Arkana


"Pelan-pelan tak ada yang merebutnya darimu" ucap ordam sambil mengelap sudut bibir Anisa


Anisa tak menjawab mulutnya penuh dengan buah semangka yang Arkana bawah untuknya Anisa begitu suka buah itu dan Arkana akan selalu membawakan buah itu untuknya


"Habis" ucapnya murung


Arkana mendekat dan mengacak gemas rambut Anisa


"Nanti beli lagi oke" ucapnya


"Ocee" ucap Anisa dengan tangan berbentuk O


Arkana hanya terkekeh melihat tingkah lucu Anisa tingkah yang selalu ia lihat dan tingkah yang selalu membuatnya jatuh pada perasaan yang dalam


"Kapan aku pulang?" tanyanya

__ADS_1


"setelah kamu sembuh" ucap ordam


"Nisa baik-baik saja ordam" bantah Anisa


"Baik apanya kamu tadi pingsan dan banyak darah yang keluar dari hidungmu"


"Arkana Nisa mau pulang" ucapnya meminta pembelaan


"No,,kau pulang setelah kau Sembuh" tegas Arkana


Anisa yang mendengar itu seketika menjadi murung ordam hanya menghela napas panjang dan mendekati Anisa merangkup kedua pipi Anisa


"Jangan bersedih,,besok kita akan pulang" ucapnya


"Janji?" tanya Anisa


"Janji"


"Yeyy,,sayang ordam" ucapnya


Arkana yang mendengar perunturan Anisa entah mengapa ia merasakan sakit dalam hatinya ia hanya bisa tersenyum kecut saat melihat Anisa dan ordam bercanda


"Arkana sini" panggil Anisa


Arkana melihat ke arah Anisa yang memanggilnya berjalan mendekati


Cup


Arkana terkejut dengan apa yang dilakukan Anisa ia mencium pipi kanan Arkana menatap Anisa yang sedang tertawa melihat wajah arkana yang merah padam akibat malu


"Kenapa apa aku tak boleh melakukan itu?" bukannya menjawab Anisa kembali bertanya


"lupakan saja"


"Hahahaha,,ordam tolong" ucap Anisa


ketiganya tertawa lepas didalam ruangan tersebut tanpa disadari diluar sana ada Aldin yang tak sengaja mendengar itu semua ia tersenyum getir biasanya Anisa akan selalu tertawa lepas bersamanya namun sekarang


Aldin memilih meninggalkan rumah sakit dan pergi ketaman yang dekat Aldin menatap boneka yang ia bawah untuk Anisa


"Gue boleh duduk?" sapa seorang wanita


"Loh siapa?" tanya Aldin dengan nada dingin


"Gue Niken" ucap wanita itu mengeluarkan tangan


Aldin tak menerima uluran tangan itu membuat wanita itu menarik tangannya kembali menatap lurus ke depan


"Gue tau apa yang loh alami" ucap wanita itu memecah keheningan malam


"Nggak usah sok tau" ketua Aldin


wanita yang bernama Niken itu hanya tersenyum kecil


"Cinta seperti itu kita hanya perlu mengambilnya dengan penuh keberanian atau lepaskan dengan penuh keikhlasan"

__ADS_1


Perkataan dari Niken membuat Aldin menoleh pada wanita yang duduk sebelahnya Aldin mengerutkan kening begitu tak mengerti apa yang wanita ini katakan


"Gue nggak ngerti" ucap Aldin


"Loh tatap langit dan lihat bintang yang paling terang" ucap Niken


Aldinpun menoleh dan melihat bintang yang ditunjuk oleh Niken


"Anggaplah itu cintamu yang jauh dari jangkauan tangan"


"Gue tau ini sulit tapi seperti bintang yang nggak bisa kita ngapai anggap saja cintamu seperti itu setidaknya meski tak dingapai kita masih bisa melihat keindahannya dari jauh"


"Cinta tak harus dipaksa dan cukup melihat dia dari jauh itu lebih dari bahagia " ucapnya


Setelah mengucapkan itu Niken berlalu tanpa pamit Aldin masih bingung ia terus menatap bintang yang bersinar


"Anisa milik gue jadi gue harus rebut Anisa kembali" gumamnya


Aldin pun berlalu dari taman dan kembali menuju ruangan Anisa


Sementara diruangan Anisa sedang terlelap dengan rambut yang diusap halus oleh ordam pintu terbuka dan menangkap Aldin yang masuk ordam langsung memberikan tatapan tajam pada Aldin


"Mau apa lagi sih loh" tekan Arkana


"Santai bro gue cuma mau lihat cewek gue" ucap Aldin dengan santai


"Dia tidur" ketus ordam


"Minggir" ucap Aldin


"Apaansih loh hah" bentak ordam yang sudah tersulut emosi


"Anisa cewek gue" tekan Aldin


"Kalau dia cewek loh,,loh nggak mungkin ninggalin dia saat masih koma dan pergi"


"Itu demi masa depan gue" bantah Aldin


"Hahaha loh lebih mentingin itu dibanding Anisa yang belum sadar hah" bentak ordam


"Sudah cukup Anisa sedang istirahat plis jangan buat dia kepikiran lagi" ucap Arkana


Keduanya pun kembali terdiam arkana menarik tangan Aldin keluar dari ruangan Anisa


"Lepas" bentak Aldin


"Berhenti buat Anisa seperti ini loh nggak lihat hah Anisa tersiksa jika harus mengingat semuanya" Ucap Arkana mencoba menahan emosinya


"Salah kalian,,kalian bohong sama Anisa kalau ordam ada pacar Anisa"


"Loh nggak salah hah loh dimana saat Anisa sadar dan satu lagi tolong jangan paksa Anisa biarlah nanti dia yang mengingat sendiri" ucap Arkana lalu pergi meninggalkan Aldin


"Shittt" gumam Aldin


Aldin menarik kasar rambutnya ia dilema harus berbuat apa ia memutuskan untuk pergi dari rumah sakit

__ADS_1


__ADS_2