KAMU DIA DAN FAKULTAS PERTANIAN ITU

KAMU DIA DAN FAKULTAS PERTANIAN ITU
Bab 4


__ADS_3

Aldin terus termenung perasaan sedang diguncang kegelisahan bagaimana tidak ia melihat wanitanya bersama mantan kekasih wanita itu pikirannya terus bertanya-tanya apakah Anisa tetap mengingatnya atau kah justru Anisa telah melupakan dirinya


"Jangan ngelamun Mulu" ucap Alfin


"Gue kepikiran Anisa Fin" ucapnya


"Fokus Din supaya kita cepat balik dan loh bisa jelasin semua pada Anisa"


"Ayo kita belajar lagi" ajaknya


Aldin yang memang miliki Wajak ambis pada nilai membuatnya selalu cuek pada Anisa jika menyangkut nilai baginya prestasi lebih penting dari apapun walau tak dipungkiri ia mencintai Anisa namun sikap ambisius yang ia miliki membuat Anisa biasa merasa sendiri


Disisi lain Anisa tengah fokus mendengar penjelasan dari dosen melirik pada Tasya yang tengah menutup matanya Anisa hanya terkekeh entah mengapa ia merasa lucu pada temannya itu


"Sya bangun ih" ucap Anisa mencubit tangan Tasya


"Awww,,sakit nis" ketus Tasya memanyunkan bibirnya


"Loh Napa tidur sih"


"Ngantuk tau lagian mata kuliah ini membosankan" ucapnya sambil menguap


"Hhhh ini seru tau kita akan turun lapangan lagi" ucap Anisa senang


"yah skincare gua hancur lagi" ucapnya


Setelah selesai Anisa membereskan mejanya tak berselang lama ordam datang mendekati dan mengelus lembut rambut Anisa


"Mau kekantin?" tanyanya dengan lembut


Anisa melirik pada Tasya yang sedang menutup mata mengucang keras bahunya membuat Tasya terkejut


"An*irr"


ordam melotot pada Tasya yang mengeluarkan kata-kata begitu pada Anisa sementara Anisa hanya terkekeh


"Mau ke kantin nggak?" ajak Anisa


"Yahiayalah gue lapar " ucap Tasya


Saat Tasya akan menarik tangan Anisa ordam dengan cepat menepisnya dan menggenggam tangan Anisa dengan posesif Tasya yang melihat itu memutar bola malasnya


"Ckk dasar bucin" ucap Tasya melangkah pergi


"Ayo sayang" ucap ordam lembut


Anisa hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki ordam sepanjang jalan keduanya menjadi pusat perhatian tak banyak yang tidak tau bahwa ordam dan Anisa dulu adalah mantan kekasih yang dikabarkan kembali dekat


"Gimana nasib Aldin yah"


"Mungkin efek hilang Ingatan"


Dan masih banyak lagi Anisa yang selalu mendengar nama Aldin mengerutkan keningnya nama itu selalu dilontarkan dan ia dengar sepanjang jalan ia menjadi bingung sendiri tentang hubungannya dengan Aldin Dulu


setibanya keempat orang tersebut mereka menduduki salah satu bangku paling pojok kedua pria itu pergi memesankan makanan untuk para wanita


"Gue mau nanya boleh nggak?" ucap Anisa memecahkan keheningan


"Tanya apa?" ucap Tasya


"Aldin itu siapa sih?"


Tasya membeku ia sudah diberitahukan oleh Arkana bahwa Tasya tidak boleh memikirkan apapun karena saraf otak yang masih bermasalah


"E-anu"

__ADS_1


Tasya bingung harus menjawab apa ia tak ingin Anisa seperti dulu lidah Tasya mendadak kaku ia bingung harus menjawab apa pada Anisa yang terus memaksanya untuk memberitahukan dirinya


"Kamu ingin tau?" ucap ordam tiba-tiba


Melihat ordam Tasya bernafas lega dan langsung meminum minuman yang Arkana berikan hingga kandas rasanya ia ingin segera berlalu dari sana


Anisa menatap ordam dengan tatapan penuh tanya ia berharap mendapatkan jawaban yang ia inginkan


"Makan lah dulu" ucap ordam menyuapi Anisa


"Aku bisa"


"Hutss"


Anisa hanya pasrah menerima suapan yang ordam berikan dalam hati Anisa tetap bertanya tentang siapa Aldin dan apa hubungan dirinya


"Jangan memaksa untuk dipikirkan"ucap Arkana dengan lembut


Arkana mengusap pucuk kepala Anisa ia tau Anisa bingung namun ia tak ingin mengambil resiko yang membahayakan Anisa lagi baginya ordam bisa menjaga Anisa dengan baik


"Aku kenyang" ucap Anisa


Ordam dengan telaten mengusap lembut sudut bibir Anisa perlakuan itu tak luput dari mata para mahasiswi yang berteriak histeris bagaimana tidak siapa yang tak ingin mendapat pria manis seperti ordam namun cinta ordam telah habis pada Anisa


"Aku ingin kekelas" ucap Anisa


"Gue ikut" ucap Tasya


"Hati-hati nanti aku menyusul " ucap ordam mencubit gemas hidung Anisa


Anisa berjalan bersama Tasya sesekali diringu canda tawa hingga keduanya di berhentikan oleh salah satu teman Aldin


"Dasar murahan" ucapnya


Anisa yang mendengar itu mengerutkan keningnya ia tak mengerti apa maksud dari gadis yang berada dihadapannya ini


"Emang benarkan ia tuh wanita murahan" tekan gadis itu


"Atas dasar apa loh bilang gue murahan" tanya Anisa dengan dingin


Gadis itu tersenyum sinis menatap Anisa dari bawah hingga atas Anisa yang memiliki tubuh pendek dan mungil itu membuat para kaum Adam banyak yang terpesona olehnya


"Loh kalau udah punya cowok jangan ganggu cowok gue dong" tekan wanita itu


"Cowok apaan sih"


"Gue ceweknya ordam" teriak wanita itu


Anisa diam mencoba mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar berusaha mengingat namun malah membuat kepalanya menjadi pusing


"Anisa loh mimisan" ucap Tasya panik


Dari kejauhan ordam melihat itu bergegas berlari mendekati Anisa ordam tiba tepat waktu menangkap tubuh Anisa yang jatuh tak sadarkan diri


ordam menatap tajam pada wanita yang telah membuat Anisa seperti ini wanita itu melihat tatapan ordam menjadi takut ia tau telah membuat ordam marah


"Awas loh" tekan ordam


Ordam mengendong tubuh Anisa membawanya menuju parkiran yang tak ingin berlama lama menjalankan mobilnya menuju rumah sakit ia begitu panik ketika darah dari hidung Anisa terus keluar bingung entah apa yang harus ia perbuat


"Bertahan nis aku mohon" lirihnya


Setibanya di rumah sakit ordam dengan keras berteriak memanggil dokter beberapa perawat membawa Anisa menuju UGD ordam duduk lesu diluar menunggu kabar tentang Anisa


tak berselang lama Tasya dan Arkana tiba dirumah sakit keduanya menghampiri ordam yang tengah duduk menunduk kepalanya

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Nisa?" tanya Arkana


Ordam hanya menggeleng kepalanya Arkana mengeluarkan napas berat sedangkan Tasya sudah mulai menangis ia merasa gagal menjaga sahabatnya itu


"M-maaf gue nggak bisa jaga Nisa" ucapnya dengan buliran air mata


Arkana yang melihat itu menarik Tasya dalam dekapannya Tasya terus menangis menyalakan dirinya sendiri dengan sabar Arkana mengusap punggung wanita itu membiarkannya menumpahkan segala serah hatinya


"Ini bukan salah loh " ucap Arkana lembut


"Tapi Nisa tadi sama gue dan putri "


Tasya tak bisa melanjutkan kata-katanya yah wanita tadi bernama putri yang dikabarkan pernah dekat dengan ordam namun ordam tak memberikan kejelasan pada status mereka bagi ordam putri hanya teman sedangkan putri selalu meanggap lebih dari itu


Cukup lama ketiganya menunggu dokter pun keluar ordam dengan cepat berdiri dan menghampiri dokter dengan wajah khawatir


"Bagaimana keadaan Nisa dok?" tanya ordam


"Pasien sepertinya perna mengalami kecelakaan besar?"


Ordam mengangguk kepalanya pertanda mengiyakan perkataan dokter tersebut


"Saraf kepala nona tak stabil jadi sebisa mungkin jangan membuatnya harus mengingat ingatannya kembali biarlah seperti ini asal nyawa nona tidak terancam" ucap dokter tersebut


Setelah menjelaskan ketiganya pun berjalan masuk Anisa telah dipindahkan keruang rawat bunda anisapun telah di hubungi ordam merasa sakit harus melihat Anisa menutup matanya kembali namun kata dokter ini hanya berapa jam saja


"Bangun Nisa" ucap ordam


Dialam lain tampaknya dialam mimpi Anisa melihat pria tampan dengan wajah yang penuh cahaya Anisa menatap sekeliling taman bunga yang menghiasi Anisa bagai terhipnotis dengan keindahan yang ada tanpa sadar pria itu telah berada di sisinya


"Kau suka?" tanya pria itu


Anisa terkejut mendengar pria itu


"Kamu?"


"Aku kekasihmu"


"Ordam?" panggil Anisa


"Tidak Anisa aku bukan ordam apa kau tak mengingat ku?" tanya pria itu dengan nada sedih


Anisa hanya menggelengkan kepalanya Anisa juga tak bisa melihat dengan jelas wajah pria ini yang begitu terang bagaimana cahaya


"Apa kau bahagia bersama pria itu?" tanya lagi


Anisa benar-benar tak mengerti apa maksud perkataan pria ini ia begitu bingung


Tangannya dipengan dengan lembut oleh pria yang ada dihadapannya ini


"tanya pada hatimu Anisa siapa aku dan siapa yang kau cintai"


"Aku akan selalu ada dibelakang mu meski pria itu yang kau pilih " ucapnya dengan tersenyum


Pria itu melangkah pergi menjauh dari Anisa Anisa yang melihat itu berusaha mengejar langkah pria itu namun Kilauan cahaya membuat pandangannya menutup


Anisa membuka matanya menatap sekeliling melihat wajah panik ordam yang ada disana


"Aku


"Sayang kau tak apa?" tanya ordam dengan khawatir


Anisa Hanya menggeleng kepalanya ia masih bingung apakah tadi ia bermimpi namun ia merasa mimpi itu nyata


"Siapa pria itu" lirih Anisa

__ADS_1


Anisa menatap pojok yang terdapat bunga disana Persih bunga yang ada ditaman bunga dimimpinya


"D-diaa"


__ADS_2