
Bulan tidak menunjukkan diri malam ini, rintik hujan dan awan gelap pun membuat suasana begitu mencekam. Ditanah perbatasan negara ini, para prajurit sedang sibuk membangun camp sementara. Ya, mereka baru saja tiba di tempat yang terpencil ini untuk mengamankan daerah yang sedang rusuh akibat peperangan demi kemerdekaan daerah mereka.
Untuk sementara mereka menetap dipinggiran hutan, jarak tempuh untuk sampai di pos masih cukup jauh, sementara hari mulai gelap. Tim khusus yang dipilih ini berjumlah sepuluh orang, mereka adalah pasukan yang terlatih, dipimpin langsung oleh seorang kapten yang terkenal sadis dan berdarah dingin terhadap musuh.
"Ijin lapor Kapten, tenda darurat sudah selesai didirikan. Laporan selesai!"
Sersan Sandi yang memimpin pendirian camp sementara menghadap kapten mereka yang masih sibuk membaca peta.
"Baik, perintahkan prajurit untuk beristirahat sejenak, namun tetap waspada. Atur orang untuk menjaga setiap sudut camp!"
"Siap laksanakan, kapten!"
Para prajurit pun bersiap beristirahat. Tak lupa juga mengatur jadwal untuk menjaga setiap sudut lokasi camp mereka.
Malam ini mereka lewati dengan kondisi yang darurat. Mereka makan makanan seadanya dan minum air yang bercampur dengan hujan. Satu hari penuh mereka melakukan perjalanan menuju titik lokasi pertempuran. Mereka memilih jalur darat dan berjalan kaki berkilo-kilo meter agar kedatangan mereka tidak terdeteksi oleh musuh.
"Prajurit!" teriak Kapten.
"Siap Kapten!"serentak mereka menjawab dan berdiri memberi hormat.
"Kalian beristirahatlah. Dua jam ini biar aku dan Sersan Sandi yang berjaga, dua jam berikutnya giliran kalian. Besok subuh kita lanjutkan perjalanan!"
"Siap laksanakan Kapten!"
Semua prajurit bergegas memasuki tenda untuk beristirahat. Sementara sang Kapten dan Sersan nya duduk didepan tenda dan bermandikan air hujan.
"Kapten, sebaiknya anda beristirahat, biar saya dan Pratu Agi yang berjaga."
"Tidak apa-apa, biarkan para prajurit beristirahat, besok tugas berat akan memakan banyak tenaga."
"Baik Kapten, apakah anda ingin minum sesuatu Kapten?"
"Apa yang bisa kau berikan padaku selain air hujan ini Sersan."
"Ah benar Kapten, hujan nya cukup deras kita tidak bisa menyalakan api. Jangankan untuk memasak makanan bahkan menghangatkan badan pun kita tak bisa."
"Bersyukurlah Sersan, dengan hujan ini setidaknya kita tidak repot-repot mencari sumber air untuk minum. Kau hanya tinggal membuka mulutmu saja."
"Siap Kapten!"
__ADS_1
*****
Malam semakin larut, rintik hujan pun mulai reda. Hembusan angin dan suara gesekan daun dirimbunnya hutan membuat hawa dingin menggigit kulit.
Subuh ini mereka melanjutkan perjalanan menuju markas perbatasan. Jalanan berlumpur dan semak belukar pun tak menghalangi langkah kaki mereka.
Sekitar tengah hari merekapun tiba di markas. Mereka disambut dengan antusias. Prajurit yang tersisa diperbatasan hanya lima orang.
Mereka pun keluar dan memberi hormat pada Kapten.
"Selamat datang Kapten. Laporan sementara situasi aman terkendali!"
"Baik laporan diterima! Perkenalkan saya Kapten Arkan dan mereka pasukan khusus yang berada langsung dibawah komando saya, mulai hari ini saya jugalah yang akan memimpin kalian! Mari kita bekerjasama!"
"Siap laksanakan Kapten!"
*****
Setelah beristirahat dan makan siang, merekapun mulai membahas masalah pertempuran yang menewaskan pimpinan tim sebelumnya. Mereka terjebak di situasi yang sulit hingga memaksa kapten mereka harus bertempur hingga akhir hayatnya demi persatuan ibu Pertiwi.
"Saya turut berduka atas gugur nya rekan kita Kapten Andri. Untuk menghindari tipuan dari mereka yang kedua kalinya kita harus lebih banyak menggunakan taktik dalam strategi perang. Sebaiknya kita menghindari kontak senjata dengan mereka. Aku akan melakukan mediasi dengan pimpinan mereka, siapa diantara kalian yang bertanggung jawab untuk membaca lokasi?"
"Baik, ikut aku ke ruang kerja. Kita bahas strategi selanjutnya untuk menghadapi mereka tanpa peperangan, yang lain lanjutkan kegiatan kalian. Sersan Sandi ikut dengan saya juga!"
"Siap laksanakan Kapten!" jawab mereka serempak.
*****
Disisi lain seorang gadis cantik terlihat uring-uringan karena akan dijodohkan oleh Papanya.
Papa benar-benar tega, aku masih sangat muda dan dia sudah ingin aku menikah. Apa Papa sudah tak sayang lagi padaku? Aku benci, benci sekali. Emangnya ini jaman Siti Nurbaya apa, dijaman semodern ini masih aja main jodoh-jodohan. Mama juga asal setuju-setuju aja. Kesel ih. Aku harus membatalkan perjodohan ini.
"Mitha... Mitha, kamu didalam sayang?"
Itu suara Mama, huh aku pura-pura tidur saja. Aku masih marah pada Mama.
Kreeekkk...
Pintu kamar Mitha terbuka, Ibu Baskoro pun masuk kedalam kamarnya. Dia tersenyum melihat putrinya yang meringkuk dibalik selimut.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak kuliah hari ini?"
Mitha diam saja, dia menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.
"Mitha sayang, kamu gak boleh bersikap begitu sama Papa dan Mama, kami melakukan ini demi kebaikan mu nak."
Mitha bangkit dari tidurnya, dia menghempaskan selimut dari tubuhnya.
"Kebaikan macam apa Ma? Papa menjodohkan Mitha dengan orang yang gak Mitha kenal! Mitha gak mau Ma!" jawabnya sengit.
"Sayang, pria yang dipilih Papamu bukan pria sembarangan. Dia orang yang hebat juga punya prestasi yang bagus."
"Prestasi bagus? Dalam bidang apa Ma? Berperang, dia selalu pergi bertugas untuk berperang, dan Mitha akan selalu ditinggalkan sendiri, iya kalau dia kembali dalam keadaan hidup, Mitha gak mau jadi janda Ma."
Mitha menggigit ujung bibir nya. Dia tak berani membayangkan kalau sampai ia menjadi janda diusia yang sangat muda.
"Mitha menjadi istri seorang prajurit negara memang tidak mudah sayang, kita harus dituntut untuk kuat, tegar, mandiri dan ikhlas. Mama yakin kamu bisa sayang."
"Mitha bukan Mama yang bisa begitu kuat saat ditinggal Papa pergi berperang. Mitha takut Ma, Mitha gak mau jadi istri prajurit."
Mitha mulai meneteskan air matanya. Dia menangis berharap agar ibunya mau membatalkan perjodohan ini.
Mitha, kau masih manja dan kekanak-kanakan, Mama juga tidak ingin melihatmu sedih, tapi maksud Papamu juga baik. Dia ingin kau menjadi dewasa, mandiri dan tidak egois. Mungkin ini memang salah Mama karena terlalu memanjakan mu.
Ibu Baskoro masih memeluk putri tunggalnya saat suaminya masuk ke kamar Mitha.
"Mitha, malam ini keluarga Pak Wijaya akan datang untuk melanjutkan pertunangan. Untuk sementara pernikahan nya akan ditunda karena putra pak Wijaya mendadak berangkat bertugas diperbatasan. Kamu persiapkan dirimu!" perintah Pak Baskoro tegas.
Air mata Mitha semakin deras mengalir. Keputusan Papa kali ini sepertinya tidak bisa diganggu gugat. Padahal biasanya Papa selalu menuruti semua keinginanku.
Huhuhuhuhu... Sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Mama juga tidak mungkin menolongku. Aku harus bertunangan dengan pria yang tak ku kenal, bahkan malam ini dia juga tidak akan hadir, bagaimana jika dia itu pria jelek, buncit dan botak.
"Sudahlah sayang hapus air matamu. Mama akan mengajakmu keluar untuk berias. Kamu harus tampil cantik malam ini."
"Untuk siapa Ma? Bukankah dia tidak akan datang malam ini?"
"Untuk calon mertuamu sayang. Mama dengar putra pak Wijaya adalah orang yang gagah dan tampan. Mama yakin dia sangat cocok dengan putri Mama yang paling cantik."
Huh... Mitha mencibir ucapan Mamanya. Namun dia tak bisa membantah. Diapun menurut saja saat Mamanya membawa ke salon untuk berias.
__ADS_1