Kapten Arkan

Kapten Arkan
Ch. 8 Bertemu regu penyelamat


__ADS_3

Arkan masih saja tak mengaku bahwa dialah putra dari Pak Wijaya. Dia masih terus berencana untuk menggoda gadis cantik dihadapan nya.


"Oh jadi kau menantu dari Pak Wijaya? Kapan pernikahan kalian berlangsung? Kenapa aku tak tahu?" tanya Arkan menyelidik.


"Ah, kami belum mengadakan resepsi. Suamiku tiba-tiba dikirim untuk bertugas diperbatasan, jadi kami menunda acaranya."


"Bukankah kau melarikan diri kesini karena kau tak menyukai kapten jelek itu?"


Mitha terkejut mendengar pertanyaan Arkan.


"Ah kau salah paham. Aku bukan tak menyukai nya, aku hanya belum siap menikah muda. Aku masih ingin menikmati masa-masa indahku."


"Hmmm apakah dia mengekang kebebasanmu?"


"Ah tidak."


"Apakah dia merenggut masa mudamu? Merampas kesenanganmu? Atau terlalu mengaturmu?"


Mitha kembali menggeleng. Ia merasa jengah karena Arkan terlalu banyak bertanya.


"Lalu bagaimana denganmu Kapten? Apa kau sudah beristri?"


Arkan tersenyum dan menggeleng.


"Aku terlalu sibuk berperang, bahkan tak ada satu perempuan pun yang mau dekat denganku."


"Kenapa? Kau tampan dan hebat!" puji Mitha polos.


"Entahlah, mungkin mereka takut menjadi janda diusia muda."


"Ya kau benar. Aku juga sebenarnya takut menjadi janda diusia muda. Tapi aku tak punya pilihan."


"Aku akan menikahimu jika kau menjadi janda diusia muda." sahut Arkan menggoda nya.


Wajah Mitha bersemu merah. Jantungnya berdesir lembut saat ia mendengar ucapan itu.


Seandainya Papa belum menjodohkanku. Ah tidak, seandainya kami bertemu lebih cepat, aku pasti akan menolak pertunangan ini dan memilih lari dengan dia. Astaga Mitha apa yang kau pikirkan. Kau baru saja mengenal dia, bagaimana jika dia berbohong.


"Sekarang sudah larut. Kau tidurlah duluan."


Suara Arkan mengejutkan nya. Mitha mengangguk dan tertidur dihadapan Arkan. Karena terlalu lelah Mitha pun terlelap pulas, hingga tak sadar saat Arkan membelai rambutnya dan mengusap pipinya.


Kau sangat ceroboh. Bagaimana bisa kau tertidur begitu lelap saat bersama pria asing didekatmu. Syukurlah aku yang bersamamu saat ini. Kau bahkan tak tau bahwa suami yang kau sebutkan itu sekarang ada dihadapanmu? Kau benar-benar gadis yang menarik.


Arkan mencium lembut kening Mitha, lalu merebahkan tubuhnya dalam posisi miring menghadap Mitha. Ia masih saja mengagumi wajah cantik dan lembut itu.


Mama benar-benar hebat, dia memilih calon menantu dengan kualitas tinggi.


Hingga Arkan pun ikut terlelap disamping Mitha.


*****


Esok paginya sinar matahari menerobos masuk ke dalam mulut gua. Arkan terbangun dengan senyum mengembang dibibirnya. Ia melihat Mitha yang masih tertidur sambil memeluk nya. Ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah Mitha. Mitha melenguh pelan. Arkan pun berpura-pura tertidur.


Mitha mengerjapkan matanya, dan seketika terperangah saat ia tersadar. Buru-buru ia menarik tangannya dari tubuh Arkan yang pura-pura tidur.


Astaga apa yang kulakukan? Kenapa aku tidur sambil memeluk dia? Oh Tuhan, bukankah aku baru saja mengaku kalau aku sudah menikah. Habislah aku kali ini, dia pasti akan mengira kalau aku wanita murahan.


"Kau sudah bangun?" tanya Arkan lembut.


"Kau... kapan kau bangun?"


"Aku? Sejam yang lalu." jawabnya santai.


Apa? Dia bangun sejam yang lalu? Itu artinya dia bangun lebih dulu dari aku dan dia pun tau kalau aku tidur sambil memeluk nya. Aduh Mitha... mau ditaruh dimana mukamu.

__ADS_1


"Bersiaplah kita harus segera keluar dari gua, agar regu penyelamat bisa menemukan kita."


"Tapi kau masih sakit Kapten." sahut Mitha berusaha bersikap wajar.


"Bukankah kau bisa memapahku Nyonya Wijaya?"


Mitha mengangguk malu. Ia merasa tak layak disebut sebagai Nyonya Wijaya.


"Ah panggil aku Mitha Kapten!"


"Hmm aku takut suamimu yang hebat itu akan membunuhku jika dia tau aku sangat tidak sopan pada istrinya."


Mitha pun diam saja dan mulai memapah Arkan keluar dari gua. Mereka pun kembali menyusuri pinggiran sungai berharap segera bertemu dengan regu penyelamat.


*****


Setelah cukup merasa lelah, merekapun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.


"Kapten! Anda baik-baik saja?"


Sersan Sandi dan beberapa penduduk desa sudah berada dibelakang mereka.


"Sandi! Kenapa kau begitu lambat!" bentak Arkan marah.


"Maaf Kapten! Kami menghentikan pencarian karena hujan lebat dan medan yang curam."


"Baiklah bawa kami kembali ke markas."


Sandi bersiap memapah Arkan tapi ia ditolak.


"Kau bantulah putri Jendral itu! Bawakan ransel yang dibawanya!"


Sandi mengangguk, dia mengambil ransel itu dengan pandangan tidak suka pada Mitha.


Mitha yang merasa cemas pun memberanikan diri untuk datang menjenguk Arkan, tapi ia dilarang oleh Sandi.


"Aku ingin melihat Kapten."


"Kapten sedang istirahat, dia tidak boleh diganggu!" jawabnya ketus.


"Sebentar saja, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih."Mitha memaksa.


"Mengucapkan terimakasih setelah membuat Kapten terluka parah! Bahkan hampir merenggut nyawanya!" Sandi membentak Mitha dengan galak.


Mitha menunduk sedih. Air mata sudah menggenang dipelupuk matanya. Ia tak menyangka bahwa Arkan akan menderita luka separah itu. Mitha pun kembali dengan langkah gontai.


"Mitha... kamu Mitha kan?" sebuah suara mengejutkan nya.


Mitha menatap orang yang menegurnya.


"Paman Hamka?" Mitha seakan tak percaya dengan yang dilihat nya.


"Kenapa bisa ada disini?"


"Mitha ikut sebagai tenaga relawan dari regu pendidik paman. Paman kenapa ada disini?"


Hamka berbisik pada Mitha.


"Tolong rahasiakan keberadaan paman dari semua orang."


Tanpa banyak tanya, Mitha mengangguk.


"Kamu ngapain datang ke tenda kesehatan? Kamu sakit?" tanya Hamka cemas.


Mitha menggeleng, ia menatap Sandi yang juga menatapnya penuh kebencian.

__ADS_1


"Mitha mau menjenguk teman Mitha yang sakit paman, tapi Mitha gak boleh masuk." jawabnya sedih.


"Siapa yang berani melarangmu?"


Mitha menunjuk Sandi yang berjaga di depan tenda. Hamka tersenyum dan menarik Mitha untuk masuk.


"Kebetulan paman juga mau lihat teman paman didalam."


"Tapi paman...". Mitha masih merasa takut dan bersalah pada Sandi.


"Jangan takut, Sandi itu temen paman."


Mitha pun menurut dan mengikuti Hamka menuju tenda.


"Sandi biarkan dia masuk, dia keponakanku juga putri Jendral Baskoro."


"Huh memangnya kenapa kalau dia anak Jendral? Dia baru saja membahayakan nyawa Kapten!"


Hamka terlihat sedikit terkejut, tapi sesaat kemudian dia mengubah raut wajahnya.


"Ayolah, kebetulan aku juga akan menjenguk Kapten!"


"Ah baiklah!" Sandipun akhirnya mengalah dan mengijinkan Mitha masuk.


Sesampainya didalam Mitha melihat Arkan yang tertidur dalam posisi duduk diatas ranjang kayu yang keras. Mitha merasa sangat kasihan.


"Mitha mana temanmu yang sakit?"


Mitha menunjuk Arkan yang sedang menatapnya.


"Kau mengenal Kapten? Bagaimana kalian bisa berteman?" Hamka terlihat sangat antusias.


Pukkkk...


Sebuah botol air mineral yang sudah kosong menimpuk punggung Hamka.


"Sejak kapan kau menjadi orang yang suka bergosip Hamka!"


"Hahaha Kapten! Jangan terlalu galak! Kau menakuti keponakan ku!"


Hamka dan Mitha mendekati Arkan lalu duduk dipinggir ranjang kayu.


"Suatu kehormatan bagi saya bisa dijenguk oleh anda Nyonya Wijaya!" Arkan menyambut kehadiran Mitha.


"Nyonya Wijaya? Mitha kau sudah menikah?"


"Ah paman, itu... Mitha...emm..."


"Kau belum tau Hamka? Dia sudah menjadi menantu Pak Wijaya. Bagaimana kau menjadi paman, keponakan menikah saja kau tak tau!"


"Pak Wijaya? Kalau begitu kalian...."


Buru-buru Arkan memotong ucapan Hamka.


"Ah Nyonya Wijaya bisa tolong panggilkan Sandi kemari!"


"Baiklah Kapten."


Saat Mitha pergi, Arkan pun menceritakan secara ringkas soal dia dan Mitha.


"Kau harus ingat Hamka, jaga rahasia ini!"


"Kau terlalu kejam Kapten! Keponakan ku gadis yang baik!"


"Tenanglah, aku tak akan menyakiti nya."

__ADS_1


__ADS_2