Kapten Arkan

Kapten Arkan
Ch. 4


__ADS_3

Mitha yang masih saja tak bisa menerima pertunangannya dengan pria yang tak disukainya. Ia pun memutuskan untuk ikut mendaftarkan diri sebagai relawan tenaga pendidik untuk sebuah desa di pedalaman. Ia sibuk berkemas untuk keberangkatan nya besok. Ibu Baskoro yang mengetahui nya pun terlihat begitu khawatir, tapi Pak Baskoro malah tersenyum bangga.


"Pa, Mitha itu putri kita satu-satunya, kok Papa tega sih lihat anak sendiri pergi dari rumah ke tempat yang tidak tahu seperti apa. Mama khawatir Pa, ayo dong Papa bicara pada pihak kampus." rengek ibu Baskoro pada suaminya.


"Ma ini keinginan Mitha sendiri, lagian itu menandakan bahwa putri kita sudah dewasa, ia ingin mandiri dan mengabdi, kenapa kita harus melarang? Papa setuju kalau Mitha mau ikut sebagai relawan, Papa bangga. Tapi tentu saja Papa tidak akan membiarkan anak kita tanpa pengawasan."


"Maksud Papa?"


"Mama tenang saja, putri kita pasti aman disana."


Dengan berat hati Mitha pun mereka pun melepaskan kepergian putri semata wayangnya. Ibu Baskoro tak henti-hentinya mengusap air mata yang terus mengalir dikedua pipinya. Pak Baskoro pun turut merasa haru, ia berusaha meyakinkan istrinya untuk tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


Setelah pesawat yang membawa Mitha dan timnya lepas landas, Pak Baskoro pun membawa istrinya pulang. Tapi sampai dirumah, ibu Baskoro malah menangis meraung-raung didalam kamar Mitha. Pak Baskoro pun hanya membiarkan istrinya melampiaskan rasa sedihnya.


*****


Hari telah siang Arkan dan Sandi pun bersiap untuk pulang ke markas pusat. Mereka meninggalkan Hamka yang memutuskan untuk menetap sementara didesa itu.


Setelah menempuh perjalanan panjang melalui darat, air dan udara mereka pun akhirnya tiba di bandara pusat kota. Ya untuk keluar dari desa itu mereka harus naik kapal tradisional untuk menyebrangi sungai, kemudian naik angkutan umum untuk bisa sampai ke kota.


"Huuuhhhh akhirnya kita kembali lagi ke sini"


"Kapten apa yang akan anda lakukan untuk mengisi liburan ini?"


"Hmmm belum ada rencana, tapi aku harus bertemu dulu dengan calon mertuaku."


"Apa?! Mertua?!" teriak Sandi terkejut.


"Sssttttt, apa kau ingin seluruh orang di bandara ini tau?!" bentak nya.


"Maaf Kapten, aku hanya terkejut. Kapten akan menikah? Bukankah selama ini kapten jomblo?"


"Ini keinginan orang tuaku Sandi. Mereka telah melamar seorang gadis untukku."


"Kapten menerimanya?"


Arkan mengangkat kedua bahunya dan bergegas meninggalkan Sandi.

__ADS_1


"Kapten tunggu!" Sandi berusaha mengejar.


Setelah menjajari langkah kaki Arkan, Sandipun mengulurkan tangan memberi selamat.


"Selamat Kapten, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang Ayah."


Hahahaha, Arkan tertawa keras.


"Apa kau bodoh? Aku belum menikah dan aku pun tak tau wanita seperti apa yang dipilihkan oleh orang tuaku. Aku hanya tau bahwa dia putri seorang jendral yang manja."


"Putri Jendral yang manja? Bukankah itu sangat merepotkan Kapten?"


"Ya kau benar, dia pasti wanita yang merepotkan! Maka kau bersiaplah untuk menjadi ajudannya nanti."


"Ah Kapten sebaiknya anda mencari orang lain untuk menjadi ajudannya. Aku lebih baik berada di garis depan peperangan."


Mereka pun saling tatap, membayangkan betapa reportnya menghadapi seorang gadis yang manja, banyak aturan dan permintaan, apalagi ia seorang putri Jendral. Setelah sadar dari lamunan, mereka pun tersenyum kecut.


*****


"Arkan, Mama sudah bertemu gadis itu. Dia sangat cantik. Mama yakin kalau kalian akan menjadi pasangan yang serasi."


Arkan hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sementara itu Pak Wijaya pun ikut menyelah ucapan istrinya.


"Ma, putra kita baru saja tiba. Sebaiknya biarkan dia beristirahat dulu, nanti baru dibicarakan lagi."


"Ah iya Mama lupa karena terlalu senang. Sayang beristirahatlah dulu, nanti malam kau harus ke rumah calon mertuamu" ujar ibu Wijaya menggoda.


Arkan tak menjawab ocehan ibunya, ia mendekati ibunya mengecup pipinya dan pamit untuk beristirahat di kamarnya.


Mama begitu senang dengan pertunangan ini. Sepertinya beliau tak sabar untuk memiliki seorang menantu. Andai kakak masih hidup, dia pasti sudah menikah dan memiliki anak. Mama pasti bahagia, tapi sekarang dia hanya bisa mengharapkan cucu dariku. Huh gadis seperti apa yang mereka pilihkan untukku? Aku tidak pernah dekat dengan seorang gadis sebelumnya, aku juga tidak tau bagaimana bersikap didepan mereka. Jika ia benar-benar anak yang manja, aku pasti akan kewalahan. Huh sepertinya lebih mudah menghadapi musuh di medan perang. Aku harus menemuinya. Aku harus bisa menghadapinya.


Arkan pun bangkit dari tidurnya, ia beranjak keluar dari kamar dan mencari Mamanya.


"Ma... Mama...!"


"Eh sayang sudah bangun, sini makan dulu Mama udah siapin makanan kesukaanmu."

__ADS_1


Arkan menarik kursi didepan meja makan. Ia duduk sambil mencomot perkedel kentang favoritnya. Ia ingin bertanya pada ibunya tentang calon istrinya, tapi ia takut nanti ibunya pasti akan mengejeknya. Arkan pun mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, tapi tak melihat ayahnya. Ibunya yang memperhatikan pun bertanya.


"Kau cari siapa nak?"


"Papa dimana Ma?"


"Oh Papa ke rumah Pak Baskoro, katanya mereka akan pergi memancing bersama. Nanti malam kau ke rumah Pak Baskoro jemput Papamu."


"Baiklah Ma."


"Makanlah dulu, setelah itu kau harus beristirahat untuk memulihkan kesehatanmu. Nanti malam kita ke rumah calon istrimu, kita akan membahas tanggal pernikahan kalian."


Arkan hanya mengangguk tanda setuju. Sejak kepergian kakaknya Arkan jadi lebih penurut. Ia selalu merasa tak tega jika harus membantah dan membuat ibunya sedih.


Setelah menghabiskan makanannya Arkan pun kembali ke kamarnya. Masih tersisa waktu dua jam untuk menjemput ayah nya.


Baru saja Arkan memejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamarnya digedor.


"Arkan, Mama boleh masuk nak?"


"Iya Ma, masuklah."


"Kau masih lelah nak?"


Arkan menggeleng lembut.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang nak, Mama sudah tak sabar ingin mempertemukanmu dengan menantu Mama."


"Tapi Ma, Papakan belum pulang. Lagian Arkan harus jemput Papa dulu nanti."


"Gak apa-apa sayang, kita langsung tunggu aja dirumah calon mertuamu, nanti biar Papamu menyusul ke sana. Biar Mama telpon Papa dulu, kamu bersiaplah."


Arkan mengangguk dan mempersiapkan diri. Sepuluh menit kemudian, Arkan pun membawa ibunya pergi menuju rumah calon besannya.


Ini bukankah jalan menuju rumah Jendral Baskoro? Apakah kami akan menjemput Papa dulu? Atau jangan-jangan calon mertuaku itu Jendral Baskoro? Astaga gawat, putri Jendral Baskoro terkenal sangat cengeng dan manja. Habislah aku, mana mungkin aku bisa menindas gadis itu nanti, bisa-bisa aku ditempeleng oleh Jendral Baskoro jika sesuatu terjadi pada putrinya.


Huh, semoga tebakanku salah.

__ADS_1


__ADS_2