Kapten Arkan

Kapten Arkan
Ch. 7 Bermalam di gua


__ADS_3

Mitha yang menyadari ada sepasang mata tajam yang sedang mengawasi nya pun langsung menutup mulutnya dan menghentikan tawa. Ia melirik Arkan yang masih memandang nya.


"Apakah ada yang salah dengan wajahku pak?"


"Pak? Apakah aku setua itu?"


"Ah baiklah kita belum berkenalan. Aku Mitha"


"Ya aku tau!" jawab Arkan cuek.


"Kau tau? Bagaimana kau bisa tau?"


"Apa kepalamu kemasukan air hingga menjadi bodoh! Bukankah kau yang memperkenalkan dirimu pagi tadi sebagai putri Jendral Baskoro!"


"Lalu siapa kau?"


"Panggil saja aku Kapten!"


"Hem baiklah!"


Mulut Mitha manyun melihat jawaban dingin dari Arkan.


Huh sombong sekali dia. Sungguh menyebalkan! Dia mungkin tak percaya kalau aku adalah putri tunggal dari seorang Jendral. Dia juga belum tau bahwa aku adalah tunangan dari seorang Kapten yang hebat.


Hari semakin sore, belum ada juga tanda-tanda bantuan akan datang. Arkan memutuskan segera mencari tempat untuk bermalam.


Aku harus mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja muncul. Kondisiku sangat lemah jika terjadi bahaya, aku bukan hanya tak bisa melindungi dia, bahkan diriku sendiripun aku tak yakin mampu menjaganya.


Arkan bangkit dan mulai berjalan menyusuri pinggiran sungai. Ia sengaja mencari tempat disepanjang sungai agar tim pencari mudah menemukan mereka.


"Hei kau gadis cengeng! Apa kau akan diam disini sendiri?"


"Kau mau kemana Kapten?"


"Aku akan mencari tempat untuk tidur malam ini!"


Mitha melihat sekeliling nya yang terasa dingin dan menyeramkan.


"Tunggu! Aku ikut Kapten!"


Mitha segera berlari dan menyusul Arkan yang sudah mendahului nya. Setelah cukup jauh berjalan, mereka akhirnya menemukan sebuah gua dipinggir tebing. Arkan memutuskan untuk bermalam disitu.


"Kapten, apakah kau yakin kita akan tidur disini?"


"Aku sangat yakin! Terserah kau mau atau tidak!"


"Tapi tempat ini begitu jorok dan bau!"

__ADS_1


"Hei nona, ini gua bukan hotel bintang lima!"


Mitha terdiam mendengar jawaban Arkan yang ketus dan dingin. Mitha hanya berdiri menatap Arkan yang sibuk mengumpulkan ranting untuk membuat perapian.


*****


Hari sudah malam, suara-suara binatang dari dalam hutan terdengar sangat menyeramkan. Mitha menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Arkan. Dia terlihat sangat ketakutan.


Arkan yang daritadi memejamkan matanya karena menahan sakit di punggungnya pun perlahan-lahan memicingkan matanya dan melihat Mitha yang sudah duduk merapat padanya. Ia ingin menggoda gadis itu. Saat Arkan berusaha meraih Mitha, tiba-tiba ia merasakan nyerih yang sangat hebat pada luka dipunggung nya.


Mitha sangat ketakutan melihat Arkan yang merangkak dan berusaha menyentuh nya.


"Kau... Kau mau apa! Jangan macam-macam padaku, atau Papaku akan membunuhmu!"


Mitha berusaha menakuti Arkan, tapi Arkan tak bisa lagi mendengar ucapan Mitha, ia pun terjatuh tepat dipangkuan Mitha. Mitha menjerit takut.


"Kau laki-laki b*j*ngan! Berani nya mengambil kesempatan! Menyingkirlah! Jangan sentuh aku!" jerit Mitha sambil berusaha mendorong Arkan yang terbaring dipangkuan nya.


"Kau gadis bodoh! Kenapa kau bising sekali! Apa kau ingin binatang buas memangsamu!"


Arkan berusaha bangkit, tapi tubuhnya terasa begitu lemah. Ia pun kembali terjerembab di kaki Mitha.


"Kau pria cabul! Dasar kurang ajar! Menjauhlah, aku sudah menikah! Kau pasti akan dibunuh oleh suamiku!" Mitha mendorong tubuh Arkan dan memukul keras punggungnya.


Mitha meraba tangannya yang basah setelah memukul punggung Arkan, ia baru teringat akan luka parah yang ada disitu. Ia melihat darah membekas ditangannya, dan dipakaian Arkan. Mitha mencoba menyentuh tangan Arkan untuk membangunnya, tapi Arkan tetap diam.


Mitha menyentuh tubuh Arkan yang menggigil, ia meraba kening Arkan.


Oh tidak, tubuhnya panas sekali! Dia demam, sepertinya luka dipunggung nya cukup parah.


Mitha berusaha membuka pakaian Arkan, tapi kesusahan karena Arkan dalam posisi tengkurap. Mitha pun mengambil pisau dipunggung Arkan dan merobek bajunya. Mitha terbelalak melihat luka yang lebar dan dalam dipunggung Arkan.


Apa yang harus kulakukan? Luka ini sangat parah, apakah dia akan mati disini?


Mitha teringat dengan ransel yang dibawanya tadi. Ia pun membongkar isinya dan menemukan kotak P3K. Mitha menyiram luka Arkan dengan alkohol, lalu membersihkan nya dengan kapas. Setelah itu ia mengambil sebotol obat biru dan menyiramkan nya dipunggung Arkan yang terluka. Mitha pun membungkus luka itu dengan perban.


"Aku hanya bisa melakukan ini. Maafkan aku jika menyakitimu. Aku bukan seorang dokter."


Mitha menggumam dan mengompres kening Arkan yang panas.


Aku harus memegang kain ini untuk mengompres keningnya. Sungguh melelahkan, dia belum bisa tidur terlentang dengan luka separah itu.


Tiba-tiba tubuh Arkan bergetar hebat, ia menggigil kedinginan, hal itu membuat Mitha sangat ketakutan.


"Hei, Kau Kapten sombong! Bangunlah! Kau jangan mati disini! Aku takut sendirian!"


Mitha berusaha untuk menghangatkan ruangan sempit itu, ia menambah ranting kayu agar api tetap menyala. Tapi Arkan masih kedinginan.

__ADS_1


"Hei pria angkuh, bangunlah! Buka matamu! Kamu gak boleh mati!"


Mitha menggoyangkan tubuh Arkan, berharap ia akan membuka matanya. Arkan berusaha membuka matanya, ia melihat Mitha yang menangis.


"Kau berisik sekali!" Arkan bergumam lemah.


Mitha terbelalak senang.


"Kau masih hidup Kapten? Syukurlah! Aku sangat senang!"


Refleks Mitha memeluk Arkan yang masih telungkup. Arkan meringis kesakitan.


"Ah maafkan aku Kapten! Aku tak bermaksud lain. Aku juga sudah menikah."


"Kau sudah menikah?" Arkan mengernyitkan keningnya.


"Ya, aku sudah menikah!" Mitha menunjukkan jari manisnya yang mengenakan cincin berlian pertunangannya dengan Arkan.


Arkan terkekeh geli. Ia tak menyangka begitu takutnya gadis ini hingga mengaku sudah menikah. Aku akan menggodanya.


"Bukankah kau bilang kau baru bertunangan dengan seorang pria jelek, botak dan gendut?" ejek Arkan seraya berusaha untuk duduk.


Mitha berusaha membantunya untuk duduk.


"Ah aku berbohong padamu!" jawab Mitha tertunduk malu.


"Oh ya? Lalu siapa suamimu?"


"Suamiku juga seorang tentara, ia seorang Kapten hebat yang ditakuti dimedan perang!"


Arkan tersenyum dan mengangguk-angguk.


"Boleh aku tau namanya? Barangkali aku mengenal suamimu. Apa ciri-ciri nya seperti yang kau sebutkan itu jelek, gendut dan botak?"


Wajah Mitha merona mendengar ucapan Arkan. Mitha melirik wajah Arkan yang duduk dihadapannya.


Dia sangat tampan walau sedang sakit dan terluka parah. Warna kulitnya yang gelap, postur tubuh yang tinggi dan berisi berpadu dengan hidung mancung dan sepasang alis tebal dengan sorot mata yang tajam. Dia benar-benar sangat mempesona.


"Kenapa kau diam? Kau belum menjawab pertanyaanku?" tanya Arkan membuyarkan lamunannya.


"Pertanyaan yang mana?" balasnya pura-pura bodoh.


"Suamimu. Orang seperti apa dia? Siapa namanya. Barangkali kami saling mengenal."


"Bukankah aku sudah bilang, dia seorang kapten perang yang hebat. Dia anak dari temannya Papaku, putra Pak Wijaya. Kau mengenalnya?"


Arkan mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Gadis ini benar-benar tak mengenalku, tunangannya sendiri. Hahhahahahaa, aku akan menunggu sampai kapan permainan ini berakhir.


__ADS_2