Kapten Arkan

Kapten Arkan
Ch. 6 Pertemuan Pertama


__ADS_3

Arkan menepis tangan Mitha, dan bergeser untuk memberi jarak.


"Kau relawan yang dikirimkan pagi tadi?"


"Iya anda mengenal saya pak? Apakah anda yang dikirim Papa saya untuk membawa saya pulang pak?"


"Siapa Papamu? Aku tak mengenalnya!"


Mitha melirik kanan dan kiri, setelah yakin tak ada orang yang mendengar ia pun memberitahukan identitas nya.


"Saya Mitha, putri Jendral Baskoro!"


Arkan diam dan mengernyitkan keningnya. Matanya menatap tajam ke arah Mitha.


Hah ternyata aku benar, gadis manja inilah yang dipilih Mama untuk jadi istriku. Karena kau tak mengenali tunanganmu sendiri, baiklah kita akan bermain petak umpet di sini.


"Kenapa anda diam pak? Anda mengenal Papa sayakan?"


"Kalau aku mengenal Papamu terus kenapa? Disini aku yang berkuasa!"


"Sombong sekali dirimu! Aku cuma mau pulang, aku gak mau tinggal ditempat kumuh seperti ini!" Mitha mulai menangis lagi.


"Hei kau kenapa menangis? Hentikan tangismu, orang-orang akan berpikir kalau aku menindasmu!"


"Kau memang menindasku! Aku mau pulang! Pokoknya aku harus pulang!" Mitha berteriak sekencang-kencangnya.


"Baik! Bereskan semua barangmu dan pergi dari sini!"


Arkan keluar dari tenda dan membiarkan Mitha yang masih menangis sambil membereskan barang-barangnya. Mitha benar-benar nekat.


Saat matahari bersinar terang nanti, aku harus segera keluar dari tempat ini. Aku gak mau disini, lebih baik aku dinikahkan dengan pria buncit itu.


Mitha keluar dari tenda dan mulai menyusuri hutan. Ia tak menghiraukan teriakan teman-teman nya yang mencoba menahan untuk tidak pergi sekarang.


"Ijin lapor Kapten!" Sersan Sandi pun bertindak.


"Lanjutkan!"


"Gadis itu benar-benar pergi dari..."


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Arkan sudah berlari keluar dan mencoba mengejar Mitha. Arkan bertanya pada semua orang yang melihatnya, mereka menunjuk jalanan yang masih tertutup kabut.


Sementara itu Sersan Sandi pun ikut mengejar kaptennya. Dia masih merasa heran, sejak kapan Kaptennya jadi peduli pada perempuan?


*****


Arkan mengambil jalan pintas dengan menerobos hutan. Menurut perhitungan nya gadis itu belum pergi jauh, aku pasti akan tiba lebih dulu di persimpangan ini. Tak lama kemudian Sersan Sandi datang menyusul nya.


"Kenapa kau mengikutiku Sandi?"


"Wilayah ini sangat berbahaya Kapten!"


"Kau tau tempat ini berbahaya tapi kau malah meninggalkan puluhan orang disana!"


"Aku hanya ingin melindungimu Kapten!"

__ADS_1


"Kau pulanglah, aku akan baik-baik saja. Setelah bertemu gadis itu akan segera kembali."


"Tapi Kapten...!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong.


"Tolong! Tolong aku!"


Arkan dan Sandi mencari sumber suara, sepertinya tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Siapapun kau yang berteriak minta tolong, bersuaralah!" teriak Arkan.


"Tolong aku! Aku dibawah sini!"


Arkan dan Sandi mendekat ke tepi jurang yang lumayan dalam, sepertinya baru saja terjadi longsoran.


"Apakah kau dibawah sana?"


"Iya aku disini, tolong aku!"


Arkan melihat sesosok tubuh yang bergantung pada akar pohon. Arkan pun bergegas turun ke bawah, tapi medannya terlalu licin dan terjal.


"Hati-hati Kapten, itu sangat berbahaya!" teriak Sandi. Arkan mengangguk.


"Bertahanlah, aku akan menolongmu!"


"Aku sudah gak sanggup lagi! Huhuhuhuhu tolong aku! Aku takut!"


"Tenanglah, kau akan baik-baik saja?"


Arkan meminta Sandi untuk kembali ke tenda dan meminta bantuan. Dia tetap akan mencoba turun meskipun sulit.


"Biar aku saja yang turun Kapten!"


"Sersan Sandi laksanakan perintahku!"


"Siap laksanakan Kapten!"


"Tolong aku, huhuhuhuhu..."


Arkan merangkak mencoba untuk menuruni bibir jurang yang licin. Ia bergantung pada satu akar pohon dan pindah ke akar lainnya. Akhirnya ia berhasil mendekati gadis itu.


"Aku akan menolongmu! Kau pegang tanganku!"


Mitha mencoba meraih uluran tangan Arkan, tapi ia gagal meraihnya. Sementara tangannya yang gemetar sudah tak sanggup lagi untuk memegang akar pohon.


"Ulurkan tanganmu, aku akan memegangnya!"


Mitha mengulurkan tangannya yang gemetaran, Arkan berhasil meraihnya tapi pegangan Mitha terlepas dari akar pohon. Kini ia hanya bisa berharap pada Arkan.


Sialan, akar pohon ini tidak sanggup menahan kami berdua. Tak ada pilihan lain kami harus terjun ke bawah. Elang melihat ke bawah lalu ke atas. Jaraknya tidak terlalu tinggi dan dibawah ada sungai. Kalaupun jatuh kami tidak akan mati, mungkin hanya cedera.


"Hei gadis cengeng, buang tas yang ada di punggungmu!"


Arkan berteriak tapi tak ada jawaban.

__ADS_1


Sepertinya dia pingsan, tak ada pilihan lain. Kami harus terjun ke bawah.


Arkan mengayunkan tangannya, mencoba untuk mengangkat tubuh gadis itu. Setelah ia berhasil memeluknya, Arkan pun melepaskan pegangannya dari akar pohon. Mereka pun jatuh berguling-guling dan masuk kedalam sungai.


Arkan berusaha berenang ke tepi. Ia kesusahan menarik tubuh gadis itu. Arkan melepaskan tas gunung yang menjadi lebih berat setelah basah, lalu berusaha menyadarkan Mitha.


Arkan mengguncang tubuhnya, menepuk kedua pipinya. Mitha pun sadar. Ia mengucek matanya yang sedikit kabur, dan mendorong kuat tubuh Arkan.


"Apa yang kau lakukan!" Mitha mundur dan menutupi tubuhnya yang basah.


"Aku? Aku baru saja menyelamatkanmu gadis cengeng dan kau mendorongku dengan keras!"


Mitha mengingat kejadian sebelumnya.


Aku hampir jatuh ke jurang, dan aku berteriak meminta tolong. Ternyata dia yang sudah menolongku.


Mitha meraih ranselnya yang basah. Ia sangat kedinginan, tapi tak ada satu pakaianpun yang bisa dia pakai. Arkan yang mengetahui nya pun pergi untuk mencari kayu.


"Hei Pak... Anda mau kemana?"


Arkan tak menjawabnya. Mitha pun bangkit dan mengejarnya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku ikut denganmu"


"Tetaplah disini, aku akan mencari kayu"


"Tidak mau, aku ikut!"


Huh, Arkan pun membiarkan Mitha mengikutinya.


"Aaawww... Kakiku!" Mitha meringis kesakitan.


"Ada apa?" Arkan melihat Mitha terjatuh karena jalan yang licin.


"Aku sudah bilang, kau tetaplah disana. Kau benar-benar merepotkan!"


Mitha menunduk sedih. Belum pernah ada orang yang memarahi nya. Tapi kali ini pria ini sudah berulangkali membentaknya. Mitha menangis tanpa suara. Air matanya mengalir sangat deras. Arkan menghela nafas.


"Baiklah maafkan aku. Berhentilah menangis, aku akan memapahmu ke sana"


Mitha menurut saja saat Arkan memapahnya. Ketika ia melingkarkan tangan di leher Arkan, tangannya menyentuh cairan kental yang berbau amis. Mitha melihat tangannya.


Darah! Cairan ini ternyata darah!


Mitha melihat dibalik punggung Arkan, baju bagian belakang nya robek, Mitha memeriksa nya. Tapi Arkan menghalangi.


"Apa yang kau lakukan? Aku baik-baik saja!"


Arkan pun terus berjalan memapah Mitha, tanpa memberikan kesempatan pada Mitha untuk melihat luka di punggungnya.


"Kau duduklah di situ, aku akan menyalakan api untuk menghangatkan badan."


Mitha mengangguk, ia kemudian mengeluarkan beberapa makanan kaleng dari dalam ranselnya. Arkan tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Kau ikut tenaga relawan atau mau piknik? Kenapa isi tasmu makanan semua?"


Mitha tertawa lepas. Arkan begitu terpanah melihat lesung pipinya yang manis.


__ADS_2