Kapten Arkan

Kapten Arkan
Ch. 5


__ADS_3

Mobil mereka pun berhenti tepat didepan pintu rumah Jendral Baskoro. Arkan dan ibunya pun turun. Setelah mengucap salam, pemilik rumah pun keluar dan menyambut kedatangan mereka.


"Ibu Wijaya, kenapa gak bilang dulu kalau mau main ke sini?"


"Aduh Bu Baskoro, anak saya sudah tidak sabar ingin bertemu calon istrinya." jawabnya sambil melirik Arkan yang jadi salah tingkah.


"Ah, ini Arkan ya? Wah gagah sekali, beruntungnya saya punya menantu seperti kamu nak. Ternyata Kapten yang terkenal itu sungguh tampan."


Arkan tersenyum dan menyapa ibu Baskoro.


"Tapi maaf loh ya nak Arkan. Mithanya gak ada dirumah, dia baru saja pergi pagi tadi."


"Iya gak apa-apa Tante, biar saya tunggu."


"Tapi Mitha tiga bulan lagi baru pulang. Dia ikut sebagai tenaga relawan di desa Mulyosari. Katanya sebuah desa terpencil yang dekat perbatasan. Aduh Tante sedih sekali melihat dia pergi, tapi Papanya malah merasa bangga."


Mulyosari? Bukankah itu desa yang kusinggahi kemarin? Hamka juga masih tinggal di sana. Heh seperti nya dia gadis yang menarik.


"Ya sudah gak apa-apa Tante, anggap saja saya silahturahmi."


"Iya baiklah nak Arkan. Kamu pasti lelahkan? Kamu bisa istirahat dikamar Mitha. Kalian sudah bertunangan, sebaiknya mengenal satu sama lain. Ayo Tante akan mengantarmu ke sana."


Ibu Wijaya mengedipkan matanya kepada Arkan. Arkan hanya menurut saja.


Kamar Mitha sangat luas, seluruh ruangan didominasi dengan warna pink. Mulai tempat tidur, meja rias, meja belajar, lemari, sofa bahkan tirai jendela dan pintu juga berwarna pink. Arkan memandangi setiap foto yang tergantung di dinding kamar.


Ia sangat cantik. Bola matanya yang hitam dengan alis yang tebal. Hidungnya mancung, bibirnya berwarna merah muda, ia tersenyum manis dan menampakkan lesung pipi di bagian kanan. Hmmm Mama pintar memilih menantu. Tapi, rumornya dia adalah gadis manja, cengeng dan egois.


Arkan duduk di depan meja belajar nya, ia mengambil sebuah buku yang tergeletak, lalu membuka lembar demi lembar. Arkan memperhatikan isi buku itu.


Ini sepertinya sebuah diary. Gadis manja itu mencurahkan isi hatinya pada sebuah buku. Huh kekanakan sekali.


Matanya tertuju pada sebuah tulisan tentang alasan kepergian nya. Arkan membacanya sambil tersenyum.


Ternyata dia tidak menyukai perjodohan ini, dan dia pergi ke sana sebagai tindakan protes pada orang tuanya. Tapi tak menyangka, Papanya malah bangga dengan keinginan nya menjadi tenaga relawan. Hahaha.


Arkan merasa terhibur dengan tulisan-tulisan di buku itu. Hingga ia menemukan sebuah gambar aneh dibuku itu, dan diatas gambar terdapat tulisan "calon suamiku".


Arkan tertawa saat memperhatikan gambar itu dengan seksama. Rupanya terlihat jelek, postur tubuhnya gemuk, pendek dengan perut yang buncit. Lalu ada sebuah tulisan.


Aku membencimu walaupun aku tak mengenalmu. Jangankan wajahmu bahkan namamu pun aku tak ingin tau. Aku tak ingin menikah denganmu diusia muda. Aku ingin mencapai cita-cita ku. Kau pria gendut jelek, aku telah membakar fotomu tanpa melihatnya. Aku tak menyesal dan aku puas tidak melihat jelas dirimu yang tua dan buncit itu.


Gadis ini, beraninya dia membakar fotoku bahkan tanpa melihatnya dulu. Ia begitu yakin bahwa aku seorang pria tua yang buncit dan jelek?

__ADS_1


Arkan menatap wajahnya di cermin. Meskipun sekarang aku berusia dua puluh tujuh tahun tapi aku masih terlihat tampan dan gagah.


Hmmm baiklah, karena kau menganggap aku pria tua yang buncit dan jelek, maka aku akan mengikuti alur mu. Hehehe


Tiba-tiba saja Arkan menjadi begitu bersemangat. Ia ingin mempermainkan tunangannya.


"Arkan, kamu masih didalam nak?"


Arkan menutup buku itu dan menyimpan dibalik jaket yang ia pakai. Terdengar suara ribut-ribut dari luar kamar. Arkanpun bergegas keluar.


"Ada apa Ma?" tanyanya heran melihat ibu Wijaya menangis.


"Arkan desa Mulyosari kebanjiran. Mitha dan rekan-rekannya terjebak banjir dipinggiran hutan. Mereka tidak bisa melanjutkan...."


Tiba-tiba ponsel Arkan berdering. Ia pun meminta ijin untuk menjawab telponnya.


"Kapten Arkan!"


"Siap Komandan!"


"Mohon maaf kami harus mengganggu liburanmu. Daerah perbatasan mengalami musibah yang besar, ada tenaga relawan yang terjebak disana. Kau dan pasukanmu diperintahkan untuk segera menuju lokasi!"


"Siap laksanakan Komandan!"


"Siap Komandan!"


Arkan kembali ke ruangan ditempat Ibu Wijaya dan ibunya duduk. Disana sudah ada Pak Baskoro dan ayahnya.


"Maaf, saya harus berangkat bertugas. Saya akan mengamankan korban banjir diperbatasan"


"Ah benarkah? Nak Arkan selamatkan anak Tante, kamu harus menjaga dia baik-baik, dia calon istrimu"


Arkan mengangguk, setelah berpamitan pada semuanya. Arkan pun menelpon rekan timnya dan bersiap berangkat menuju perbatasan. Arkan mencoba menghubungi Hamka. Tapi tidak bisa tersambung.


Setelah semua berkumpul, mereka pun berangkat menuju perbatasan dengan menggunakan pesawat tempur milik kesatuan. Arkan masih terus mencoba menghubungi Hamka, dan kali ini bisa tersambung, tapi Hamka tak menjawab nya.


Elang terus menelponnya.


"Kapten!"


"Hamka, kau baik-baik saja?"


"Ya Kapten, kami mengungsi ke bukit bekas markas dulu. Aku membawa mereka ke sini untuk sementara."

__ADS_1


"Syukurlah, terimakasih Hamka. Bagaimana kondisi disana? Apakah ada jalan yang bisa dilewati? Kami sudah tiba di landasan."


"Situasi masih para Kapten, air masih tinggi. Untuk sementara jalan-jalan belum bisa dilewati."


"Apa kau tau ada sekelompok relawan yang baru tiba disana?"


"Iya Kapten, mereka berhasil kami selamatkan. Sekarang mereka disini membantu korban yang cedera"


"Baiklah, bantu aku untuk tetap melindungi mereka. Aku akan berusaha secepatnya untuk menjemput kalian."


"Baik Kapten, tapi kami kekurangan bahan makanan, tenda darurat dan selimut Kapten."


"Aku mengerti, aku akan meminta pilot menurutkan kami di bukit itu. Kau pandulah jalan dan lokasi untuk pendaratan helikopter. Aku membawa semua kebutuhan itu."


"Siap Kapten!"


Arkan dan pasukan nya pun masuk kembali ke dalam helikopter. Meraka akan langsung menuju ke lokasi perbukitan. Arkan menerima pesan kalau landasan tidak bisa digunakan karena terendam banjir. Arkan dan pasukan pun mempersiapkan tangga darurat untuk turun dari helikopter.


Setelah helikopter menurunkan ketinggian nya, mereka pun melemparkan barang-barang dan makanan yang dibutuhkan. Lalu mereka turun satu persatu. Dibawah sana Hamka dan penduduk desa lainnya sedang mengumpulkan barang-barang dan makanan.


Arkan dan sepuluh orang rekannya pun langsung terjun mengamankan para korban.


Malam itu juga mereka bekerja keras untuk mendirikan tenda darurat sebagai tempat berlindung dari hujan. Hingga menjelang subuh mereka masih sibuk membuat tenda dan perapian untuk menghangatkan. Sebagian pasukan berjaga-jaga dari binatang buas. Samar-samar cahaya matahari mulai menerobos dari celah dedaunan. Banjir juga sudah sedikit surut.


Di tenda sebrang terdengar suara ribut-ribut. Ternyata itu adalah kelompok relawan yang diutus sebagai tenaga kesehatan dan pendidikan. Masih terdengar suara gaduh dari sana dan sesekali terdengar suara tangisan.


Arkan baru teringat bahwa tunangannya ada dalam kelompok itu. Arkan pun menghampiri tenda mereka. Dia mencari informasi dari orang yang berdiri diluar tenda.


"Apa yang terjadi? Apakah ada yang terluka?"


"Tidak Pak, itu... mmm ada tenaga relawan yang minta dipulangkan."


"Dia mau pulang bahkan sebelum memulai tugasnya?!"


Orang itu mengangguk takut. Arkan menerobos masuk ke dalam tenda. Ia melihat seorang gadis yang basah kuyup sedang menangis memeluk tasnya.


"Kalian keluarlah, aku akan bicara padanya!"


Dua orang temannya pun bergegas keluar dari tenda. Gadis itu mendongak menatap Arkan. Ia senang melihat orang berseragam tentara muncul dihadapan nya.


Pasti orang ini anak buah Papa, aku tau Papa pasti menyelamatkanku.


"Kau orang yang menjemputku pulang?" tanya Mitha semangat sambil menyentuh lengan Arkan.

__ADS_1


Ah jadi ini wajah asli dari tunanganku? Dia tetap terlihat manis walaupun polos tanpa make up. Hahaha baiklah anak manja, aku akan mendidikmu disini sebelum kau menjadi istriku. Ini lokasi aman bagiku untuk mengerjaimu, karena Papamu tidak bisa memantau ku. Hehehe


__ADS_2