Kapten Arkan

Kapten Arkan
Ch. 3


__ADS_3

Arkan mendekatkan duduk nya pada Hamka. Ia berniat menjalin kerjasama dengannya.


"Aku akan menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan untuk kita. Jika kau setuju aku berjanji akan melindungimu dan membersihkan nama baikmu."


"Hmmm aku percaya padamu Kapten, kau prajurit yang paling setia dan bisa diandalkan!"


"Ya, atas nama persahabatan kita baik dimasa lalu, sekarang dan selamanya."


"Hal ini tak semudah itu Kapten. Aku bukanlah satu-satunya pemimpin dalam pemberontakkan ini. Aku juga punya seorang pemimpin yang punya kekuasaan lebih luas dariku."


Bagus, dia mulai terpancing. Aku harus mengorek informasi yang lebih dalam darinya.


"Kerjasama inilah yang aku tawarkan padamu kawan. Aku ingin kau kembali pada kedamaian negaramu, aku ingin kau bisa menjalani hidup ditempat yang lebih baik bersama istri dan anakmu, tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti ini."


"Hahahhah, kau terlalu naif Kapten. Apa kau ingat apa yang sudah negara lakukan padaku? Lima tahun yang lalu, aku ikut berjuang bersamamu, membela kesatuan negara yang kau cintai ini Kapten! Lalu apa yang kudapatkan? Negara ini menjadikan aku dan keluargaku sebagai umpan, lalu mereka membuatku sebagai kambing hitam, inikah balasan dari negara yang kubela hingga hampir mati Kapten?! Bahkan istri dan anakku pun sangat membenciku!"


"Aku memahami kekecewaanmu kawan, tapi bukan negara ini yang bersalah padamu, melainkan orang-orang berkuasa yang dipercaya oleh negara. Mereka menyalahgunakan wewenang yang mereka punya. Ayolah kembali bersamaku, aku berjanji akan mengusut tuntas kasusmu dan membawa orang yang memfitnahmu ke jalur hukum! Aku juga berjanji satu hal lagi padamu, aku akan membawamu berkumpul dengan keluargamu!"


"Kembali pada keluargaku? Mereka bahkan sudah menganggap aku mati! Aku sudah tak bisa lepas dari jeratan ini Kapten, kau datang terlambat! Aku sudah terlalu lama menunggumu! "


"Maafkan aku karena baru menjalankan perintah! Tapi ini belum terlambat, aku akan berada dipihakmu untuk mengungkap semua kebohongan mereka! Percayalah!"


"Mendekatlah Kapten!"


Hamka berbicara menggunakan kode rahasia yang dulu mereka pelajari bersama. Ia menyerahkan kode-kode itu pada Arkan.


"Aku bergantung padamu Arkan!"


Arkan menganggukkan kepala.


"Maafkan orangku yang tadi memukulmu."


"Ah aku tau, kau sebenarnya sosok pria yang lembut, benarkan? Aku pasti menepati janjiku Hamka, asal kau bisa bekerjasama denganku!"


"Aku percaya padamu Kapten! Bersiaplah, aku menunggu pasukan Cobra Merah menjemputku!"


Arkan memberi hormat, dan bersiap kembali ke markas. Ia tak menyangka Hamka bisa bertindak sejauh ini. Arkan membawa mundur pasukannya.


*****


Setelah mengatur strategi penangkapan Hamka Hambali, mereka pun mulai mempersiapkan skenario.

__ADS_1


Malam ini mereka akan mengintai markas musuh dari jauh, lalu akan menyerang pasukan pemberontak secara mendadak pada saat menjelang subuh.


Arkan berada digaris depan. Ia memerintahkan pasukannya untuk lebih waspada. Hingga waktu yang ditunggu pun tiba, mereka menggempur pasukan pemberontak yang mulai lengah karena rasa kantuk.


Dor...dor...dor...


Suara tembakan terdengar saling bersahutan memecah keheningan ditengah hutan. Pasukan Arkan berhasil menerobos masuk ke markas musuh, mereka meledakkan gudang senjata mereka.


Duuaaarrr....


Asap hitam mengepul, api mulai merembet ke bangunan lain. Arkan dengan cepat membawa Hamka menghilang dibalik kepulan asap. Dua jam penuh mereka bertempur nyaris tanpa perlawanan.


"Bawa mereka yang masih hidup ke camp, ikat mereka dan masukkan ke sel!"


"Siap laksanakan Kapten!"


Sersan Sandi menghampiri Arkan yang masih mengamati sekelilingnya.


"Ijin lapor Kapten, target utama apakah berhasil lolos?"


"Sersan Sandi, bersiaplah untuk peperangan yang lebih gila selanjutnya! Sekarang ledakan markas pemberontak ini, ratakan dengan tanah, jangan ada satu puing pun yang tersisa! Lemparkan mayat-mayat mereka kedalam nya!"


"Siap Kapten!"


*****


Arkan masih belum berkemas, hal ini membuat pasukan nya heran.


"Kapten, apakah kita tidak jadi pulang?"


"Oh kalian kembalilah lebih dulu. Ada hal yang masih harus kuselesaikan. Sampaikan pada Praka Ihsan, istirahat dengan baik hingga lukanya pulih."


"Baik Kapten!"


Para prajurit pun kembali ke kesatuan mereka. Tapi Sersan Sandi membatalkan kepulangan nya.


"Sandi? Kenapa kau kembali?"


"Aku akan kembali bersamamu Kapten"


"Aku sebenarnya ada hal yang kurahasiakan dari kalian! Aku ingin menyelesaikan nya sendiri!"

__ADS_1


"Bawa aku bersamamu Kapten!"


"Ini sangat berbahaya Sandi, tidak hanya mengancam nyawa tapi karir dan nama baik!"


"Aku siap Kapten!"


"Ah baiklah, aku akan membawamu!"


Mereka berjalan menyusuri hutan, dalam perjalanan Arkan menceritakan tentang misi yang akan mereka hadapi selanjutnya. Sandi hanya diam mendengarkan. Mereka kembali ke markas pemberontak yang sudah hangus terbakar. Arkan berhenti sebentar, dia melemparkan sebuah benda yang terbuat dari logam diantara puing.


"Kita harus segera pergi, sebelum tim investigasi tiba!"


"Baik Kapten!"


Mereka melanjutkan perjalanan hingga jauh menuruni bukit dan tiba disebuah gua dekat pinggiran sungai. Mereka telah disambut oleh Hamka.


"Arkan, aku tau kau takkan mengecewakan ku!"


"Bersiaplah Hamka, aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman!"


Mereka kembali berjalan menyusuri pinggiran sungai. Terus berjalan hingga mereka menemukan sebuah perkampungan yang masih jauh dari kata modern.


Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Awalnya penduduk desa ketakutan, tapi setelah mencoba berkomunikasi dengan pemimpin desa tersebut mereka pun menyambut dengan hangat.


"Terimakasih untuk semua warga desa yang bersedia menerima kedatangan kami. Perkenalkan saya Kapten Arkan, dan kedua rekan saya Sersan Sandi dan Sersan Hamka"


Hamka yang namanya disebut sebagai Sersan menatap haru pada Arkan yang merupakan rekan berjuang ditim nya dulu.


Warga desa pun sibuk, menyiapkan hidangan dan tempat tinggal untuk mereka. Arkan sedang berbincang-bincang dengan ketua suku di sana. Tak lama merekapun pamit untuk beristirahat.


"Hamka, sebaiknya kau lebih berhati-hati. Aku sudah melaporkan berita kematianmu pada komando pusat, aku juga sudah membuang benda milikmu diantara puing bangunan dan mayat yang terbakar."


"Terimakasih untuk semua ini Arkan."


"Aku yakin berita ini takkan bertahan lama, jika mereka sampai mengerahkan tim forensik dan memeriksa DNA berita kematian palsumu akan terungkap."


"Aku mengerti, aku akan mempersiapkan identitas baruku. Untuk sementara aku akan berlindung didesa ini dulu hingga situasi kondusif. Aku akan menghubungimu jika aku memulai pergerakan."


"Baiklah kita harus beristirahat, besok kami harus kembali ke markas pusat."


Suasana hening menyelimuti ruangan kecil itu. Desa ini sangat terpencil, jauh dari jangkauan. Aliran listrik mereka pun terbatas. Mereka masih menggunakan kamar mandi umum dan WC umum. Fasilitas pendidikan dan kesehatan juga sangat minim.

__ADS_1


Entah kenapa terbersit dipikiran Hamka untuk mencoba memajukan desa ini. Sembari tinggal disini tak ada salahnya jika aku turut memperbaiki nya.


__ADS_2