Kapten Arkan

Kapten Arkan
Ch. 2


__ADS_3

Setelah dua jam berada di salon, Mitha pun selesai dirias oleh penata profesional. Ibu Baskoro sangat puas dengan hasilnya. Putrinya terlihat sangat cantik.


"Baiklah sayang, kita harus segera pulang. Kita harus bersiap-siap untuk menyambut keluarga besan."


Mitha diam saja. Ia merasa tak ada gunanya membantah, untuk sementara aku harus mengikuti arus dulu.


Setelah sampai dirumah, mereka disambut oleh pak Baskoro yang sedang duduk membaca koran ditemani oleh secangkir kopi. Ia terperanjat melihat putri kecilnya yang manja dan cengeng itu berubah menjadi gadis cantik yang sangat anggun mempesona.


"Putri Papa cantik sekali. Papa yakin putra pak Wijaya pasti akan tergila-gila padamu nak" ujar Pak Baskoro bangga.


Mitha memaksakan senyumnya. Dia takkan mungkin bisa melawan kehendak Papa nya. Sebagai seorang jenderal, Papanya sangat di hormati dan disegani, beliau terkenal disiplin, tegas, dan bijaksana. Namun sebagai seorang ayah dia juga sangat memanjakan putri tunggalnya.


"Ayo sayang kita harus mengganti pakaian dengan yang lebih baik, agar terlihat elegan."


Lagi-lagi Mitha hanya menurut saja. Ia menghampiri meja makan yang penuh dengan hidangan lezat. Beraneka rasa minuman dan camilan. Mitha mengernyitkan keningnya.


Acara pertunangan tanpa pria, tapi sudah semewah ini. Bagaimana nanti saat resepsi pernikahan nya? Mungkin satu batalyon dibikin geger sama Papa.


Mitha memasuki kamar tidurnya dan mendapati sebuah gaun mewah yang sangat indah di ranjangnya. Ia juga melihat satu set perhiasan mahal dan sepasang sepatu kaca.


Astaga, Papa Mama kalian sungguh berlebihan. Apakah pria itu begitu istimewa hingga aku harus menggunakan barang-barang mahal seperti ini?


"Mitha ayo cepat di coba gaunnya, kamu pasti terlihat semakin cantik nak." ibu Baskoro tersenyum senang.


"Mitha pakai gaun yang biasa aja Ma, ini terlalu mewah untuk Mitha."


"Eh jangan sayang, kamu harus pakai ini. Ini semua pemberian dari Ibu Wijaya. Nanti dia kecewa kalau tidak kamu pakai."


Pemberian dari pria itu? Apa dia begitu kaya? Dia pasti seorang bujang tua yang menjomblo sepanjang hidupnya. Mama kenapa begitu tega menjodohkan putrimu yang cantik ini dengan pria jelek seperti itu.


*****


Malam hari pun tiba, keluarga Pak Baskoro bersiap-siap menyambut kedatangan calon besannya Pak Wijaya. Raut bahagia terlihat jelas di wajahnya. Dia selalu bersikap ramah sejak tadi.


Pak Wijaya dan keluarga nya pun datang bersama dengan rombongan. Mereka membawa banyak bingkisan.


"Wah ini Mitha ya? Kamu cantik sekali, sayangnya anak Tante tidak bisa hadir, kalau dia melihat kamu pasti dia akan jatuh cinta."


Ibu Wijaya sangat puas melihat tampilan Mitha yang menggunakan pakaian dan perlengkapan darinya. Mitha hanya tersenyum menanggapi nya.


Ibu Wijaya sangat cantik dan anggun walau sudah tua, pak Wijaya juga terlihat gagah walau sedikit gendut. Ah tapi aku tidak tau bagaimana rupa laki-laki yang dijodohkan padaku. Semoga saja parasnya menurun dari ibu Wijaya, lalu bagaimana jika ia buncit seperti pak Wijaya? Ah kalian benar-benar orang tua yang kejam.


Acara pertunangan pun dimulai, Ibu Wijaya menyematkan cincin berlian pilihan putranya sendiri dijari manis Mitha. Mereka semua bertepuk tangan bahagia kecuali Mitha.


"Mitha, kamu sudah tau anak Tantekan yang akan jadi suami kamu?"


Mitha mengangguk, "sudah Tante" jawabnya berbohong.

__ADS_1


Mamanya memang memberikan selembar foto pada nya, tapi karena marah Mitha merobek-robek foto itu menjadi serpihan dan membakar nya bersama sampah.


"Mereka adalah pasangan serasi Bu Wijaya, putra Bu Wijaya sangat gagah dan tampan cocok dengan Mitha yang anggun."


"Mama jangan terlalu memuji, belum tentu anak Tante Wijaya mau menerima Mitha."


"Tante yakin anak Tante pasti bakal klepek- klepek-klepek sama kamu sayang. Dia baru berangkat bertugas diperbatasan, berdoalah semoga calon suamimu baik-baik saja dan segera kembali dengan selamat. Tante tak sabar ingin melangsungkan pernikahan kalian, dan tak sabar untuk menimang cucu, ya kan Bu Baskoro."


"Iya Bu Wijaya, saya juga sudah tak sabar jagain cucu, biar rumah ini jadi rame dengan suara anak-anak."


Mama Mitha baru dua puluh tahun, dan Mama sudah berharap punya cucu. Kalian merenggut masa mudaku yang indah.


Setelah berbasa-basi dan makan malam bersama, akhirnya keluarga pak Wijaya pun pamit pulang. Mitha menghela nafas lega. Ia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya tanpa menghiraukan bingkisan-bingkisan dari Ibu Wijaya.


*****


Diperbatasan Kapten Arkan bersiap untuk menemui pimpinan pemberontak, ia berniat untuk melakukan negosiasi demi menghindari kontak senjata.


"Kalian dengarkan perintahku, lakukan sesuai yang direncanakan. Aku akan datang sendiri ke markas mereka, kalian bersiaplah diposisi masing-masing. Ingat yang paling utama berusaha sebisa mungkin untuk melindungi diri kalian sendiri!"


"Siap laksanakan Kapten!"


"Sersan Sandi, bantu aku pasangkan rompi yang berisi bom itu"


"Ah Kapten, sebaiknya aku saja yang menyusup ke sana. Ini terlalu berbahaya."


"Kau berani memerintah Kaptenmu?!"


"Bersiaplah, kau lindungi aku dengan baik, jika pertempuran tak bisa dihindari kau tembak aku tepat di dadaku!"


"Tidak Kapten! Kami akan berjuang menyelamatkanmu dari sana."


"Apa kalian semua mau mati?! Tembak bom yang melekat di badanku dan kalian mundurlah sampai bantuan datang! Kalian mengerti?!"


"Tidak Kapten! Kami akan maju bersamamu walaupun harus mati!"


"Baiklah kalau begitu, aku akan berjanji untuk tetap hidup demi nyawa kalian!"


"Praka Ihsan pandu jalanku menuju markas Hamka Hambali!"


"Siap laksanakan Kapten!"


Para prajurit pun berpencar menuju tempat persembunyian mereka masing-masing. Kapten Arkan yang terkenal jago perang dan membuat taktik pun berjalan dengan penuh percaya diri.


"Kapten, markas mereka ada dibalik bukit. Jika kita terus mendekat mereka pasti akan menembak kita."


"Baik, Praka Ihsan kau tetap di sini. Aku akan maju sendiri. Ingat, lindungi dirimu. Jika terdesak mundurlah, sisakan satu peluru untukmu!"

__ADS_1


"Siap Kapten!"


Arkan melangkah maju sambil mengibarkan bendera putih. Salah satu anggota pemberontak itu pun berteriak.


"Siapa kau?! Angkat tanganmu!"


"Aku Arkan, aku sudah mengangkat tanganku. Aku ingin bertemu pimpinan mu!"


"Berani sekali kau mengantarkan nyawamu sendiri!"


"Aku tidak ingin berperang, aku hanya ingin bertemu pimpinan kalian."


"Tidak bisa! Kau mau membodohi kami?!"


"Kalian bisa memeriksaku, aku tidak membawa senjata apapun. Aku hanya ingin bertemu pimpinan kalian."


"Periksa dia! Bunuh jika dia membawa senjata!"


Seseorang bergerak maju untuk memeriksa Arkan. Belum sampai orang itu menyentuh nya, Arkan berteriak keras.


"Hamka Hambali keluarlah!"


Plakkk...


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arkan.


"Berani nya kau memerintah pimpinan kami!'


Tak lama seorang pria tinggi besar dan berkulit hitam keluar dari sebuah bangunan. Dia menatap tajam ke arah Arkan. Dia memberi hormat dan berjalan mendekat.


"Kapten Arkan, suatu kehormatan bisa bertemu denganmu"


Arkan membalas jabatan tangan nya. Ia pun dibawa masuk oleh Hamka.


"Tak kusangka akhirnya kau datang juga Kapten. Tapi kau sangat terlambat!"


"Tidak ada kata terlambat bagiku Hamka!"


"Hahahaha, kau masih saja begitu dingin dan kejam Kapten! Aku bangga pernah bekerjasama dalam tim mu!"


"Aku sering mendengar cerita tentangmu, tapi aku tak percaya kau bisa melakukan itu. Namun sekarang semuanya terjawab, kau benar-benar bagian dari pemberontak!"


"Sssttttt pelankan suaramu Kapten! Aku tak ingin kau dibunuh oleh anak buah ku!"


"Aku siap demi kedamaian negaraku!"


"Kapten Arkan, kau begitu muda, pintar dan berbakat sungguh sayang jika harus gugur dalam pertempuran. Aku menawarkan kerjasama padamu."

__ADS_1


"Aku yang ingin menawarkan kerjasama padamu Hamka!"


"Menarik sekali, Kapten hebat yang terkenal sebagai mesin pembunuh ingin bekerjasama denganku. Katakanlah Kapten!"


__ADS_2