Kasih Abadi

Kasih Abadi
BAB 10 Sesuatu yang Beum Pernah Terjadi


__ADS_3

            “Sebenarnya apa yang terjadi padaku?


Kenapa aku tiba-tiba muncul saat Dave menguasai tubuhku? Biasanya aku selalu


tersadar ketika bangun tidur. Bagaimana bisa aku tiba-tiba muncul disaat Kasih


bersama Kala?”


Kemudian


Abadi teringat saat Kasih dan Kala menunggu busway tadi, Abadi sangat bingung


bagaimana bisa ia berada di sana. Yang terakhir Abadi ingat ia sedang menginap


di rumah Magenta karena pertengkaran dengan mamanya. Dan betapa terkejutnya


Abadi dengan apa yang terjadi pada dirinya. Kondisinya tadi, ia sedang


bersembunyi di balik pohon lebih tepatnya ia sedang mengintip kebersamaan Kasih


dan Kala. Abadi menyadari betapa menyedihkannya kondisinya.


            “Goblok ngapain juga gue di sini?


Apa lagi yang dilakuin Dave? Loh itu kan Kasih? Dia ngapain sama Kala? kok bisa


deket gitu? Apaan sih kan bukan urusan gue. Ini kenapa tangan gue lengket


banget ya.” Batin Abadi.


Abadi


pun melihat tangannya sudah penuh dengan tumpahan Americano coffee. Abadi yang


melihat Kasih dan Kala pergi menaiki busway, Abadi pun segera mengikuti mereka.


“Apa


semua ini karena Kasih? Seingat gue semenjak gue kenal Kasih, Dave udah jarang


muncul. Makanya mama suka uring-uringan nggak jelas. Tapi kenapa harus Kasih?


Apa spesialnya Kasih? “


            Setelah Abadi banyak berpikir, ia


pun merebahkan tubuhnya. Ia menutup matanya dan meletakkan lengannya diatas


matanya yang tertutup. 30 menit sudah Abadi menghabiskan waktunya hanya untuk


berdiam diri. Abadi pun teringat, sudah berapa lama Dave mulai menguasai


tubuhnya. Ia pun mengecek kalender di ponselnya. Betapa terkejutnya Abadi


ketika menyadari bahwa Dave menguasai tubuhnya selama dua hari. Bagaimana bisa?


Sesingkat itu? Ia melanjutkan dengan membuka tas sekolahnya dan ia menemukan


buku yang tampak asing baginya. Awalnya ia ragu mungkin saja buku itu milik


Magenta yang terbawa olehnya. Karena rasa penasarannya, ia pun membuka buku


itu. Dan betapa terkejutnya Abadi, melihat beberapa lembar foto yang berisi ia,


Magenta, Kala, Sedia, Senja dan Kasih. Namun yang membuat Abadi tak habis


pikir, ia menemukan begitu banyak foto-foto momen kebersamaannya bersama Kasih.


Ada foto latte coffee dan Americano coffee yang berdampingan, foto candid Kasih


saat tersenyum, dan foto kebersamaannya dengan yang lain namun ia tetap berada


didekat Kasih. Yang membuat Abadi marah adalah yang berada didekat Kasih bukan


dirinya melainkan Dave. Waktu mengesankan yang ia habiskan dengan Kasih hanya


saat ia dan Kasih saling mengobati luka. Saat itu Abadi merasakan ketenangan


dalam hidupnya untuk pertama kali. Mungkin itu juga alasan Kasih bisa mencegah


Dave mengendalikan tubuhnya. Ya walaupun cuma sebentar, mungkin dengan ia dekat


dengan Kasih perlahan bisa membuat Dave lenyap dalam hidupnya. Saat Abadi


membalikkan lembar buku, ia menemukan catatan yang ditinggalkan Dave untuknya.


Hai


Abadi, senang juga akhirnya gue bisa melihat dunia. Gue nggak tahu kenapa


akhir-akhir ini gue nggak bisa muncul lagi. Lo lagi ada masalah ya? Oh iya


cewek di foto itu siapa? Kasih? cantik juga, baik pula. Awalnya gue nggak tahu


kenapa lo jarang banget memanggil gue buat gantiin posisi lo. Dan karena Tuhan


yang baik gue menemukan alasannya. Gara-gara Kasih kan? Awalnya gue ragu tapi


setelah melihat tatapan Kasih ke elo, gue bisa menyimpulkan kalau Kasih suka


sama lo. Dan gue tahu akhir-akhir ini keberadaan Kasih berpengaruh dalam kehidupan


lo. Ya walapun gue yakin lo bakal menyangkal perasaan lo sendiri. Kalau Kasih


bisa jadi penyebab gue jarang menggantikan posisi lo, gimana kalau gue buat


Kasih suka sama gue dan secara perlahan lupa sama lo? Why not? Hal yang mudah


bikin Kasih suka sama gue. Gue cowok baik, ramah, cakep, dan pintar. Nah Abadi


yang ada dipikiran Kasih adalah cowok yang pendiam, keras kepala, pemarah dan


kasar. Kalau lo jadi cewek lo juga bakal milih gue kan? See you, Abadi.


            Setelah membaca catatan milik Dave


untuknya, ia reflek berteriak dan melemparkan buku dan ponselnya hingga


mengenai cermin di kamarnya dan cermin itu pecah. Entah kenapa ia marah ketika


Dave bilang ia ingin mendekati Kasih dan membuat Kasih melupakannya.


“Berani


banget Dave deketin Kasih? dia pikir dia siapa? Dia cuma bayangan yang singgah di


kehidupan gue. Dia nggak punya hak mengatur dan mengubah kehidupan gue. Dan


Kasih? gimana bisa dia melibatkan orang lain dalam masalah ini?”


“Oke


mulai sekarang Kasih adalah orang terdekat gue yang harus gue lindungin. Gue


juga harus bikin Kasih suka sama gue dengan begitu gue bisa melenyapkan Dave


dari kehidupan gue.”


Aaah,


Abadi merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ia bahkan sampai terjungkal


hingga telapak tangannya mengenai pecahan cermin yang ia hancurkan tadi.


“Gue


harus kuat, gue nggak mau Dave mengendalikan diri gue lagi.”


Abadi


masih saja berperang dengan dirinya sendiri. Ia tidak mau Dave mengubah segala


hal yang ada di hidupnya. Ia tidak mau Dave mengambil Kasih darinya. Namun


tiba-tiba saja sekelebat bayangan ketika Kasih mengatainya sebagai seseorang


yang kasar dan mamanya yang selalu mengharapkan kehadiran Dave memenuhi


kepalanya. Hingga akhirnya Abadi pingsan. Baru sebentar Abadi pingsan ia


tersadar dan bangun. Kemudian ia turun ke dapur untuk makan malam. Disana ia

__ADS_1


sudah melihat Rena yang sedang duduk menunggunya. Tanpa sepatang kata pun Abadi


duduk di depan Rena dan menyantap makan malamnya. Rena sedang memperhatikan


Abadi dengan seksama ia melihat tatapan asing itu lagi.


“Dave?


Iya, dia bukan Adi. Kata Rena dalam hati.” Batin Rena.


            “Mama nggak makan?” Tanya Dave yang


sudah berhasil mengendalikan Abadi.


            “Ini mama mau makan.”


            “Mama seneng kan Dave muncul lagi?”


kata Dave sambil tersenyum sinis.


            “Seneng dong, apalagi sebentar lagi


ada ujian.”


            “Mama tenang aja, Dave bakal kasih


hasil terbaik seperti biasanya.”


Setelah


percakapan Dave dan Rena terdiam yang terdengar hanya suara sendok dan piring


yang berirama.


            “Oh iya, Mama jangan mengharapkan


Abadi kembali dengan cepat ya! Kan ada Dave, anak kebanggaan Mama.” Kata Dave


setelah selesai makan.


Rena


hanya bisa menelan ludah dengan perasaan yang sulit diartikan. Ia merasa memang


Dave adalah anak kebanggannya. Namun ia juga tidak ingin kehilangan Abadi,


anaknya semata wayangnya.


            “Sejak kapan saya se-egois ini?”


Batin Rena.


***


            Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam


dan Kasih sudah menunggu mamanya pulang selama satu jam. Ia mulai khawatir


apakah mamanya masih terjebak macet atau apa terjadi sesuatu yang buruk terjadi


pada mamanya. Namun Kasih segera menepis semua pemikiran buruknya. Tiba-tiba


saja ada seseorang yang memasuki rumahnya. Kasih segera berlari menuju pintu


depan. Dan ternyata orang tersebut adalah mamanya.


“Macet banget Ma?” tanya Kasih sambil memeluk


mamanya.


“Iya.


Ada kecelakaan kecil tadi.”


“Makan


yuk. Kasih udah masak buat mama lho.”


“Oh


iya? Kamu masak apa?” tanya Maya sambil berjalan menuju ruang makan.


“Taraa.


“Aaa


thank you anak mama.”


Kasih


dan mamanya pun melaksanakan makan malam dalam diam.


“Kasih,


gimana hubungan kamu sama Abadi? Lancar kan?”


“Mama


apaan sih, kepo banget.”


“Wajar


dong mama kepo.”


“Iya


deh iya.”


“Jadi


gimana?”


“Ya


nggak gimana-gimana Ma. Oh iya tapi Abadi udah mulai melunak sama Kasih. dan Mama


tahu nggak sih Kasih pernah lihat Abadi salting pas sama Kasih.”


“Serius


kamu? Jangan-jangan cuma anggapan kamu aja.”


“Ih


serius Ma, masak Kasih bohong.”


“Ya


bagus dong kalau gitu. Jadi anak mama nggak kena friend zone.”


Kasih


pun tertawa mendengar ucapan mamanya.


“Tapi


Ma, Kasih merasa ada yang aneh sama Abadi.”


“Aneh


gimana? Dari awal mama lihat Abadi itu udah kelihatan kok kalau dia anak baik.”


“Omongan


Abadi itu sering berubah Ma. Masak dulu bilangnya suka Latte habis itu pas aku


kasih latte bilangnya suka americano. Eh pas kemarin di café aku pesenin


americano malah pilih yang latte. Plin-plan banget kan Ma.”


“Ya


mungkin sesuai sama suasana hatinya Abadi. Kalau lagi seneng dia pengennya


minum latte tapi kalau lagi bad mood pengennya minum americano. Mama kadang


juga gitu kok.”


“Iya


juga sih tiap Abadi minum latte pasti pas lagi ceria tapi pas minum americano

__ADS_1


ekspresi mukanya pasti kaku banget.”


“Tu


kan udah deh nggak usah dipikirin. Abadi udah mulai menerima kehadiran kamu aja


sebuah kemajuan. Dijalanin aja Kasih, jangan terlalu dipikirkan. Dan ingat


tugas utamanya pelajar adalah belajar.”


“Iya


Mama aku yang paling cantik.”


“Ya


sudah gih kamu ke kamar, istirahat! Biar mama yang beresin.”


“Serius


Ma? Kasih aja deh. Takut Mama capek.”


“Udah


nggak apa-apa lagian kamu kan udah masak. Jadi giliran mama buat beresin.”


“Oke


deh. Good night Mama.”


“Good


night little girl.”


Kasih


melangkah menuju kamarnya dan berbaring di kasur kamarnya.


***


            “Bang makan gih? Tuh udah dibikinin


mie instan.” Kata Senja kepada Magenta.


“Siapa


yang bikin?”


“Gue,


siapa lagi. Emang ada orang lain di rumah ini selain gue sama luo.”


“Ambilin


dong. Males nih.”


“Bang


kaki lo buat apaan? Pajangan doang?”


“Dek


ayo dong sekali aja.”


“Tapi


besok beliin ice cream ya.”


“Tapi


jangan yang mahal-mahal.”


“Okee.”


Kata Sedia sambil berlari menuju dapur untuk mengambil mie instan.


Sedari


tadi Sedia memperhatikan kakaknya. Sejak Magenta Pulang, ia terlihat berbeda


lebih tepatnya terlihat sedikit linglung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan


Magenta? Tidak mungkin ia memikiran Senja kan. Sejak kapan Magenta peduli


dengan teman Sedia.


“Bang


nih dimakan mumpung masih hangat.” Kata Sedia.


“Oke


Thank you.” Magenta pun segera melahap mie instan buatan adiknya.


“Bang


lo mikiran apa sih? Masih mikirin Senja.”


“Ngapain


gue mikirin temen lo.”


“Lo


ada masalah apaan sih? Haa? Cerita dong? Masalah apa yang bisa menarik


perhatian abang gue yang super duper cuek ini.”


“Di


lo udah kenal berapa lama sama Abadi.”


“Nggak


tahu persisnya sih Bang. Kan gue kenal juga dari lo.”


“Iya


juga sih. Kenapa gue mendadak bego ya.”


“Bang


jangan bikin gue khawatir dong.”


Mereka


pun melanjutkan makan malamnya. Magenta makan malam sambil matanya tertuju pada


sebuah artikel di laptopnya sedangkan Sedia makan malam sambil matanya tak


lepas dari Magenta.


“Dek


lo bisa berhenti lihatin gue nggak? Mau gue colok?”


“Dih


kasar banget jadi abang.”


“Nah


lo yang bikin risih.”


“Ya


maaf salah sendiri nggak mau cerita.”


Magenta


pun melanjutkan perdebatan kecilnya dengan Sedia. Karena artikel yang akan ia


baca masih loading. Saat perdebatannya berhenti dan ia berniat untuk


melanjutkan sesi makan malamnya, ia justru tersedak dengan artikel yang baru


muncul di layar laptopnya.


“DID?”


kata Magenta terputus-putus karena tersedak. Ia masih tidak percaya dengan apa

__ADS_1


yang baru saja ia baca.


__ADS_2