
“Sebenarnya apa yang terjadi padaku?
Kenapa aku tiba-tiba muncul saat Dave menguasai tubuhku? Biasanya aku selalu
tersadar ketika bangun tidur. Bagaimana bisa aku tiba-tiba muncul disaat Kasih
bersama Kala?”
Kemudian
Abadi teringat saat Kasih dan Kala menunggu busway tadi, Abadi sangat bingung
bagaimana bisa ia berada di sana. Yang terakhir Abadi ingat ia sedang menginap
di rumah Magenta karena pertengkaran dengan mamanya. Dan betapa terkejutnya
Abadi dengan apa yang terjadi pada dirinya. Kondisinya tadi, ia sedang
bersembunyi di balik pohon lebih tepatnya ia sedang mengintip kebersamaan Kasih
dan Kala. Abadi menyadari betapa menyedihkannya kondisinya.
“Goblok ngapain juga gue di sini?
Apa lagi yang dilakuin Dave? Loh itu kan Kasih? Dia ngapain sama Kala? kok bisa
deket gitu? Apaan sih kan bukan urusan gue. Ini kenapa tangan gue lengket
banget ya.” Batin Abadi.
Abadi
pun melihat tangannya sudah penuh dengan tumpahan Americano coffee. Abadi yang
melihat Kasih dan Kala pergi menaiki busway, Abadi pun segera mengikuti mereka.
“Apa
semua ini karena Kasih? Seingat gue semenjak gue kenal Kasih, Dave udah jarang
muncul. Makanya mama suka uring-uringan nggak jelas. Tapi kenapa harus Kasih?
Apa spesialnya Kasih? “
Setelah Abadi banyak berpikir, ia
pun merebahkan tubuhnya. Ia menutup matanya dan meletakkan lengannya diatas
matanya yang tertutup. 30 menit sudah Abadi menghabiskan waktunya hanya untuk
berdiam diri. Abadi pun teringat, sudah berapa lama Dave mulai menguasai
tubuhnya. Ia pun mengecek kalender di ponselnya. Betapa terkejutnya Abadi
ketika menyadari bahwa Dave menguasai tubuhnya selama dua hari. Bagaimana bisa?
Sesingkat itu? Ia melanjutkan dengan membuka tas sekolahnya dan ia menemukan
buku yang tampak asing baginya. Awalnya ia ragu mungkin saja buku itu milik
Magenta yang terbawa olehnya. Karena rasa penasarannya, ia pun membuka buku
itu. Dan betapa terkejutnya Abadi, melihat beberapa lembar foto yang berisi ia,
Magenta, Kala, Sedia, Senja dan Kasih. Namun yang membuat Abadi tak habis
pikir, ia menemukan begitu banyak foto-foto momen kebersamaannya bersama Kasih.
Ada foto latte coffee dan Americano coffee yang berdampingan, foto candid Kasih
saat tersenyum, dan foto kebersamaannya dengan yang lain namun ia tetap berada
didekat Kasih. Yang membuat Abadi marah adalah yang berada didekat Kasih bukan
dirinya melainkan Dave. Waktu mengesankan yang ia habiskan dengan Kasih hanya
saat ia dan Kasih saling mengobati luka. Saat itu Abadi merasakan ketenangan
dalam hidupnya untuk pertama kali. Mungkin itu juga alasan Kasih bisa mencegah
Dave mengendalikan tubuhnya. Ya walaupun cuma sebentar, mungkin dengan ia dekat
dengan Kasih perlahan bisa membuat Dave lenyap dalam hidupnya. Saat Abadi
membalikkan lembar buku, ia menemukan catatan yang ditinggalkan Dave untuknya.
Hai
Abadi, senang juga akhirnya gue bisa melihat dunia. Gue nggak tahu kenapa
akhir-akhir ini gue nggak bisa muncul lagi. Lo lagi ada masalah ya? Oh iya
cewek di foto itu siapa? Kasih? cantik juga, baik pula. Awalnya gue nggak tahu
kenapa lo jarang banget memanggil gue buat gantiin posisi lo. Dan karena Tuhan
yang baik gue menemukan alasannya. Gara-gara Kasih kan? Awalnya gue ragu tapi
setelah melihat tatapan Kasih ke elo, gue bisa menyimpulkan kalau Kasih suka
sama lo. Dan gue tahu akhir-akhir ini keberadaan Kasih berpengaruh dalam kehidupan
lo. Ya walapun gue yakin lo bakal menyangkal perasaan lo sendiri. Kalau Kasih
bisa jadi penyebab gue jarang menggantikan posisi lo, gimana kalau gue buat
Kasih suka sama gue dan secara perlahan lupa sama lo? Why not? Hal yang mudah
bikin Kasih suka sama gue. Gue cowok baik, ramah, cakep, dan pintar. Nah Abadi
yang ada dipikiran Kasih adalah cowok yang pendiam, keras kepala, pemarah dan
kasar. Kalau lo jadi cewek lo juga bakal milih gue kan? See you, Abadi.
Setelah membaca catatan milik Dave
untuknya, ia reflek berteriak dan melemparkan buku dan ponselnya hingga
mengenai cermin di kamarnya dan cermin itu pecah. Entah kenapa ia marah ketika
Dave bilang ia ingin mendekati Kasih dan membuat Kasih melupakannya.
“Berani
banget Dave deketin Kasih? dia pikir dia siapa? Dia cuma bayangan yang singgah di
kehidupan gue. Dia nggak punya hak mengatur dan mengubah kehidupan gue. Dan
Kasih? gimana bisa dia melibatkan orang lain dalam masalah ini?”
“Oke
mulai sekarang Kasih adalah orang terdekat gue yang harus gue lindungin. Gue
juga harus bikin Kasih suka sama gue dengan begitu gue bisa melenyapkan Dave
dari kehidupan gue.”
Aaah,
Abadi merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ia bahkan sampai terjungkal
hingga telapak tangannya mengenai pecahan cermin yang ia hancurkan tadi.
“Gue
harus kuat, gue nggak mau Dave mengendalikan diri gue lagi.”
Abadi
masih saja berperang dengan dirinya sendiri. Ia tidak mau Dave mengubah segala
hal yang ada di hidupnya. Ia tidak mau Dave mengambil Kasih darinya. Namun
tiba-tiba saja sekelebat bayangan ketika Kasih mengatainya sebagai seseorang
yang kasar dan mamanya yang selalu mengharapkan kehadiran Dave memenuhi
kepalanya. Hingga akhirnya Abadi pingsan. Baru sebentar Abadi pingsan ia
tersadar dan bangun. Kemudian ia turun ke dapur untuk makan malam. Disana ia
__ADS_1
sudah melihat Rena yang sedang duduk menunggunya. Tanpa sepatang kata pun Abadi
duduk di depan Rena dan menyantap makan malamnya. Rena sedang memperhatikan
Abadi dengan seksama ia melihat tatapan asing itu lagi.
“Dave?
Iya, dia bukan Adi. Kata Rena dalam hati.” Batin Rena.
“Mama nggak makan?” Tanya Dave yang
sudah berhasil mengendalikan Abadi.
“Ini mama mau makan.”
“Mama seneng kan Dave muncul lagi?”
kata Dave sambil tersenyum sinis.
“Seneng dong, apalagi sebentar lagi
ada ujian.”
“Mama tenang aja, Dave bakal kasih
hasil terbaik seperti biasanya.”
Setelah
percakapan Dave dan Rena terdiam yang terdengar hanya suara sendok dan piring
yang berirama.
“Oh iya, Mama jangan mengharapkan
Abadi kembali dengan cepat ya! Kan ada Dave, anak kebanggaan Mama.” Kata Dave
setelah selesai makan.
Rena
hanya bisa menelan ludah dengan perasaan yang sulit diartikan. Ia merasa memang
Dave adalah anak kebanggannya. Namun ia juga tidak ingin kehilangan Abadi,
anaknya semata wayangnya.
“Sejak kapan saya se-egois ini?”
Batin Rena.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam
dan Kasih sudah menunggu mamanya pulang selama satu jam. Ia mulai khawatir
apakah mamanya masih terjebak macet atau apa terjadi sesuatu yang buruk terjadi
pada mamanya. Namun Kasih segera menepis semua pemikiran buruknya. Tiba-tiba
saja ada seseorang yang memasuki rumahnya. Kasih segera berlari menuju pintu
depan. Dan ternyata orang tersebut adalah mamanya.
“Macet banget Ma?” tanya Kasih sambil memeluk
mamanya.
“Iya.
Ada kecelakaan kecil tadi.”
“Makan
yuk. Kasih udah masak buat mama lho.”
“Oh
iya? Kamu masak apa?” tanya Maya sambil berjalan menuju ruang makan.
“Taraa.
“Aaa
thank you anak mama.”
Kasih
dan mamanya pun melaksanakan makan malam dalam diam.
“Kasih,
gimana hubungan kamu sama Abadi? Lancar kan?”
“Mama
apaan sih, kepo banget.”
“Wajar
dong mama kepo.”
“Iya
deh iya.”
“Jadi
gimana?”
“Ya
nggak gimana-gimana Ma. Oh iya tapi Abadi udah mulai melunak sama Kasih. dan Mama
tahu nggak sih Kasih pernah lihat Abadi salting pas sama Kasih.”
“Serius
kamu? Jangan-jangan cuma anggapan kamu aja.”
“Ih
serius Ma, masak Kasih bohong.”
“Ya
bagus dong kalau gitu. Jadi anak mama nggak kena friend zone.”
Kasih
pun tertawa mendengar ucapan mamanya.
“Tapi
Ma, Kasih merasa ada yang aneh sama Abadi.”
“Aneh
gimana? Dari awal mama lihat Abadi itu udah kelihatan kok kalau dia anak baik.”
“Omongan
Abadi itu sering berubah Ma. Masak dulu bilangnya suka Latte habis itu pas aku
kasih latte bilangnya suka americano. Eh pas kemarin di café aku pesenin
americano malah pilih yang latte. Plin-plan banget kan Ma.”
“Ya
mungkin sesuai sama suasana hatinya Abadi. Kalau lagi seneng dia pengennya
minum latte tapi kalau lagi bad mood pengennya minum americano. Mama kadang
juga gitu kok.”
“Iya
juga sih tiap Abadi minum latte pasti pas lagi ceria tapi pas minum americano
__ADS_1
ekspresi mukanya pasti kaku banget.”
“Tu
kan udah deh nggak usah dipikirin. Abadi udah mulai menerima kehadiran kamu aja
sebuah kemajuan. Dijalanin aja Kasih, jangan terlalu dipikirkan. Dan ingat
tugas utamanya pelajar adalah belajar.”
“Iya
Mama aku yang paling cantik.”
“Ya
sudah gih kamu ke kamar, istirahat! Biar mama yang beresin.”
“Serius
Ma? Kasih aja deh. Takut Mama capek.”
“Udah
nggak apa-apa lagian kamu kan udah masak. Jadi giliran mama buat beresin.”
“Oke
deh. Good night Mama.”
“Good
night little girl.”
Kasih
melangkah menuju kamarnya dan berbaring di kasur kamarnya.
***
“Bang makan gih? Tuh udah dibikinin
mie instan.” Kata Senja kepada Magenta.
“Siapa
yang bikin?”
“Gue,
siapa lagi. Emang ada orang lain di rumah ini selain gue sama luo.”
“Ambilin
dong. Males nih.”
“Bang
kaki lo buat apaan? Pajangan doang?”
“Dek
ayo dong sekali aja.”
“Tapi
besok beliin ice cream ya.”
“Tapi
jangan yang mahal-mahal.”
“Okee.”
Kata Sedia sambil berlari menuju dapur untuk mengambil mie instan.
Sedari
tadi Sedia memperhatikan kakaknya. Sejak Magenta Pulang, ia terlihat berbeda
lebih tepatnya terlihat sedikit linglung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan
Magenta? Tidak mungkin ia memikiran Senja kan. Sejak kapan Magenta peduli
dengan teman Sedia.
“Bang
nih dimakan mumpung masih hangat.” Kata Sedia.
“Oke
Thank you.” Magenta pun segera melahap mie instan buatan adiknya.
“Bang
lo mikiran apa sih? Masih mikirin Senja.”
“Ngapain
gue mikirin temen lo.”
“Lo
ada masalah apaan sih? Haa? Cerita dong? Masalah apa yang bisa menarik
perhatian abang gue yang super duper cuek ini.”
“Di
lo udah kenal berapa lama sama Abadi.”
“Nggak
tahu persisnya sih Bang. Kan gue kenal juga dari lo.”
“Iya
juga sih. Kenapa gue mendadak bego ya.”
“Bang
jangan bikin gue khawatir dong.”
Mereka
pun melanjutkan makan malamnya. Magenta makan malam sambil matanya tertuju pada
sebuah artikel di laptopnya sedangkan Sedia makan malam sambil matanya tak
lepas dari Magenta.
“Dek
lo bisa berhenti lihatin gue nggak? Mau gue colok?”
“Dih
kasar banget jadi abang.”
“Nah
lo yang bikin risih.”
“Ya
maaf salah sendiri nggak mau cerita.”
Magenta
pun melanjutkan perdebatan kecilnya dengan Sedia. Karena artikel yang akan ia
baca masih loading. Saat perdebatannya berhenti dan ia berniat untuk
melanjutkan sesi makan malamnya, ia justru tersedak dengan artikel yang baru
muncul di layar laptopnya.
“DID?”
kata Magenta terputus-putus karena tersedak. Ia masih tidak percaya dengan apa
__ADS_1
yang baru saja ia baca.