Kasih Abadi

Kasih Abadi
BAB 5 Luluh


__ADS_3

Aaauu. Teriak seseorang saat Kasih


sedang pemanasan untuk jogging di lapangan basket dekat rumahnya. Kasih pun


mencari sumber suara, betapa terkejutnya Kasih melihat Abadi yang sedang


memegang pergelangan kakinya yang sedikit membiru. Kasih pun berlari kearah Abadi


dan memecah keramaian yang mengelilingi Abadi.


"Abadi? Lo nggak apa-apa?"


Tanya Kasih cemas.


Abadi pun hanya menatapnya bingung. Kasih tak menanggapi


tatapan Abadi dan berusaha membopong Abadi dengan tubuh mungilnya.


"Bantuin kali. Kenapa pada diem


semua." Teriak Kasih kepada teman Abadi yang hanya melihatnya kesusahan


membopong tubuh Abadi. Akhirnya Kasih pun mendapatkan bantuan. Sesampainya di


pinggir lapangan Kasih memegang kaki Abadi yang terluka.


"Sakit?" Tanya Kasih.


"Iyalah memar gini masak nggak


sakit."


"Ih kok nyolot sih."


"Iya maaf. Oh iya lo cewek yang


pernah ngejar-ngejar gue kan?"


"Dih sok keren banget sih."


"Yee lo yang ngejar gue. Sampai


sekarang nih gue nggak inget pernah ngasih duit atau minjemin duit ke elo.


Kenal juga kagak."


"Lah kan udah kenalan, sombong


banget sih. Nih ya gue itu pernah numpahin kopi lo di parkiran, pas kopinya


jatuh lo bilang sepuluh ribu gue. Ya gue kira harganya sepuluh ribu, yaudah


dari pada ribet beli kopi mending gue balikin pake duit aja."


"Mana nggak lo balikin kan?


Akhir akhir ini lo juga nggak pernah ngejar-ngejar gue."


"Capek kali ngejar mulu, gue


sebagai cewek punya harga diri dong. Dan gue juga udah balikin kopi lo."


"Lah kapan? Gue nggak merasa


nerima kopi dari lo."


"Dih kalau mau kopi gratisan jangan


sama gue Bad. Udah gue balikin kali kamis kemarin pas di parkiran."


"Masak sih? Kok gue nggak ingat


ya."


"Lo pinter tapi pikun yak."


"Itu di samping lo apaan?"


Tanya Abadi mengalihkan pembicaraan.


"Kopi Bad. Mau lu?"


"Boleh."


Kasih pun memberikan kopi yang ia bawa kepada Abadi.


"Ih kemanisan nih. Gue kan nggak


suka latte."


"Lo plin plan banget sih. Pas


gue ngasih kopi di parkiran lo bilangnya suka latte."


"Sejak kapan gue suka


latte?"


"Tanya sama diri lo sendiri,


aneh banget sih. Jangan jangan lo punya kembaran ya? Yang gue Kasih kopi waktu


itu kembaran lo? Iya kan?"


"Gue nggak punya kembaran."


"Atau bagian dari diri lo yang


lain?"


Abadi pun kaget mendengar ucapan Kasih dan tanpa


sengaja menyemburkan kopi yang sedang ia minum.


"Jorok banget sih." Kata Kasih


sambil memberikan selembar tissue untuk Abadi.


"Sorry."


"Btw kaki lo masih sakit?"


"Masih lah, kan nggak diobatin.


Lo nya ngomong mulu."


"Gini deh lo ikut ke rumah gue


ya."


"Lah ngapain?"


"Mau diobatin nggak? Lo lihat


sendiri kan di sekitar sini nggak ada warung. Mau beli es batu kemana


gue."


"Es batu buat apaan?"


"Lah buat kompres kaki lo Bad. Kok


gue jadi nggak percaya kalo lo siswa paling pinter di kelas tiga."


"Bawel lo. Jadi mau ke rumah lo


naik apa?"


"Taksi online aja."


Kasih pun membopong Abadi dan membantunya masuk ke


mobil setelah taksi online pesenannya datang.


***


Sesampainya di rumah, Kasih membantu Abadi


untuk duduk di sofa ruang tamunya dan meninggalkan Abadi.


"Mau kemana lo?" Tanya Abadi


sambil menahan pergelangan tangan Kasih. Hal itu pun membuat Kasih semakin


gugup dan jantungnya semakin berdetak lebih kencang. Sebenarnya hal tersebut


sudah dirasakan oleh Kasih sejak ia membopong Abadi.


"Ambil air es buat kompres luka


lo."


Abadi pun mengerti dan melepaskan genggamannya.


Setelah Kasih pergi Maya mamanya Kasih menghampiri Abadi. Abadi pun terlihat


gugup, baru kali ini ia berkunjung ke rumah cewek. Entah apa yang membuatnya


menuruti perkataan Kasih tadi. Di dalam hati kecilnya ia menyesal sudah


membiarkan Kasih menolongnya.


"Temannya Kasih ya?" Tanya


Maya.


Oh namanya Kasih. Nama yang lumayan bagus. Kata Abadi


dalam hati.


"Iya tante, saya Abadi."


Kata Abadi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Oh ini yang namanya Abadi. Kata Maya di dalam hati.


"Maya, mamanya Kasih."

__ADS_1


Jawab Maya yang memperkenalkan dirinya juga.


"Kaki kamu kenapa Abadi?"


Lanjut Maya.


"Keseleo Tante, pas main basket


tadi."


"Wah udah dikompres? Makanya


lain kali kalau main basket hati-hati."


"Belum dikompres Tante. Iya lain


kali Abadi akan hati hati."


"Kamu santai aja sama saya, nggak


perlu pake bahasa seformal itu."


"Baik Tante."


"Oh iya belum dikompres ya. Saya


ambilin air dingin ya."


"Udah diambilin Kasih kok Tante."


"Oh gitu, kamu tadi udah


sarapan?"


"Belum."


"Ya sudah kamu tunggu di sini ya


biar saya siapin sarapan sama sekalian panggil Kasih."


"Waduh nggak usah repot repot


tante."


"Santai aja Abadi. Anggap seperti


rumah kamu sendiri."


Ini adalah suasana rumah yang selama ini Abadi


inginkan Tante. Kata Abadi dalam hati.


"Kasih lama banget sih? Sudah


ditungguin Abadi tuh."


"Ih mama kok tahu?"


"Iya dong. Apa sih yang nggak


mama tahu."


"Kasih ke depan dulu ya Ma."


Maya pun hanya menanggapi Kasih dengan anggukan dan


senyuman lembutnya.


"Maaf Bad rada lama tadi. Nih


diminum dulu."


"Lo emang biasa ngasih tamu air


putih Kas?"


"Ya nggaklah. Lo itu baru


selesai olahraga, nggak baik buat kesehatan kalau langsung minum es. Yaudah sih


tinggal minum aja."


"Iya iya bawel banget."


Kasih pun duduk di samping Abadi sambil mengompres


kaki Abadi dengan air dingin.


"Oh iya kok lo main manggil gue Abadi


sih? Kan gue senior lo."


"Masih jaman istilah senior


junior. Harusnya lu itu suka gue panggil Abadi. Kan serasa seumuran, lumayan


kan hemat setahun umur lo."


"Serah lo deh."


terdiam dan Kasih fokus mengompres kaki Abadi.


"Kasih, Abadi sarapan dulu


yuk."


"Eh nggak usah Tante, Abadi


ngerepotin lagi."


"Sudah nggak apa-apa santai aja


kalo sama saya."


"Udah yuk sarapan, kalau lo


pingsan gue yang repot."


Abadi pun mengikuti Kasih dan maya menuju ruang makan.


Mereka pun makan sambil berbincang.


"Abadi nanti saya anterin


sekalian ya."


"Waduh nggak usah Tante. Abadi


udah banyak ngerepotin hari ini."


"Nggak apa-apa kok Abadi, saya


sama Kasih sekalian mau jalan jalan."


Abadi pun menuruti permintaan Maya dan pulang diantar


Maya.


***


Kasih, nama yang nggak pernah


terbayangkan bakal hadir dalam hidupku. Bawel, satu kata yang melekat pada


dirinya. Orang pertama yang memperhatikanku lebih dari mama. Orang yang selalu


mengejarku selama beberapa hari terakhir ini. Dan saat dia berhenti, tanpa


sadar aku kehilangan kehadirannya. Baik, cantik, senyumnya manis, perfect


banget.


"Ini kenapa gue jadi mikirin Kasih


ya. Dan kenapa senyum tu bocah manis banget. Abadi apa-apaan sih lo. Ini otak


berhenti bentar bisa nggak sih. Capek mikir gue."


Abadi pun terus bergulung dengan selimutnya. Iya


semakin sebal karena Kasih telah memenuhi pikirannya.


"Dan kenapa jantung gue jedug


jedug kagak jelas ya. Kayak habis lari maraton."


Setelah satu jam bertengkar dengan pikirannya, Abadi pun


tertidur pulas.


*****


Dudududu...dududududu...


Senandung Kasih saat berjalan di


koridor sekolah menuju kelasnya. Ia bersenandung sambil loncat loncat


kegirangan. Masa bodoh orang lain mau berkata apa. Yang terpenting, hari ini Kasih


gembira. Dan tanpa disangka Kasih pun tersandung kaki kursi dan terjatuh tepat


dihadapan seseorang yang sedang duduk di sana.


"Aaau." Rintih Kasih.


"Makanya jalan yang bener."


Kata Abadi sambil melanjutkan membaca buku yang sempat tertunda karena Kasih.


"Ini kalau di drakor gue pasti


udah ditangkep. Jadi nggak sakit gini."


"Ya lo ngebayanginnya di drakor.


Drakor sama real life beda kali."

__ADS_1


"Nah panjang juga ngomongnya.


Bantuin gue berdiri dong." Kata Kasih sambil menjulurkan tangannya ke Abadi.


Dan tanpa diduga Abadi pun membantunya berdiri.


“Mending gue bantu kali ya. Daripada


nyinyir mulu ni bocah.” Kata Abadi dalam hatinya.


“Wah kesambet apan Abadi. Bisa baik


juga ternyata. Atau udah mulai luluh sama gue ya.” Kata Kasih dalam hati.


"Woy, bengong mulu lo. Gih sono


pergi."


"Eh gue lagi mikir aja sejak


kapan seorang Abadi Dirgantara baik ke gue."


"Jangan lebay deh. Anggep aja


kita impas. Kan kemarin lo udah tolongin gue."


"Serah lo deh."


Tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundak Kasih.


"Ngapain lo di sini?" Tanya


Kala.


"Eh Kala, habis jatuh gue."


Jawab Kasih.


"Makanya jalan jangan sambil


loncat loncat."


"Dih kok lo tau?"


"Apa sih yang nggak gue


tau."


Kasih pun membalas dengan senyuman manisnya yang


membuat Abadi semakin kepanasan.


“Ini anak siapa sih. Main nyerobot


aja, Kasih kan punya gue. Eh bentar kok kayak ada yang salah sama kosa kata gue


ya.” Batin Abadi.


"Bocah lo anak kelas satu kan? Nggak


ada sopan ya manggil Kasih langsung sebut nama dikasih embel embel kek."


"Eh kakak kelas galak. Dikasih


embel embel apa nih? Kasih sayang gitu." Jawab kala yang langsung


dihadiahi jitakan di kepalanya oleh Kasih.


"Lo kalau ngomong pake rem


napa."


"Kakak kek, mbak, teteh, cece


gitu."


"Udah santai aja Bad, gue aja


santai kok."


"Tuh si Kasih aja panggil lo


langsung nama. Nggak ada embel embelnya kakak kek, mas, aa, koko gitu."


Abadi pun terkejut dengan perkataan Kala. Hatinya


semakin panas melihat kedekatan Kasih. Kasih yang melihat amarah Abadi mulai


memuncak pun menyeret Kala pergi.


"Abadi, gue ke kelas dulu


ya."


“Itu bocah kok bisa deket banget sih


sama Kasih. Gila kenapa gue yang marah. Please bad sadar, jangan kepancing


emosi. Kendalikan diri lu sendiri.”


*****


Teng...teng...teng bel istirahat pun


berbunyi.


"Guys, gue mau cerita."


"Males gue dengar lo cerita


ngejar ngejar Abadi." Jawab Sedia.


"Iya lo yang ngejar gue yang


capek." Sambung Senja.


"Ih ini tuh bagai gayung


bersambut."


"Apa sih lo jangan sok pinter


deh. Bawa bawa gayung pula." Kata Sedia.


"To the point aja." Kata Senja.


"Jadi kemarin itu gue pergi


joging ke taman deket rumah gue, eh nggak sengaja ketemu si Abadi yang kakinya


keseleo. Gue bantu deh gue ajak ke rumah. Nah pas di rumah ada mama dong,


diajak sekalian makan sama mama terus dianterin pulang."


"Eh lo bawa pulang, lo Kasih


makan, lo kira si Abadi kucing? Nggak lo obatin?" Tanya Sedia.


"Gila aja lo, ya gue obatin


lah."


"Oh gitu doang. Kantin yuk laper


gue." Kata Senja sambil melangkah pergi dan diikuti oleh Senja.


"Dih nyebelin banget sih."


Teriak Kasih sambil mengikuti mereka.


Sesampainya di kantin Kasih dkk disuguhkan dengan


pemandangan kantin yang penuh.


"Gara-gara lo nih Kas. Cerita


mulu." Kata Senja.


"Ya lo sendiri yang mau


dengerin."


"Kalau nggak didengerin, lo yang


ngambek anjir." Kata Sedia.


"Duduk dimana nih?" Tanya Senja.


Kasih pun yang berusaha melihat dari


kejauhan menemukan dua meja kosong yang ditempati Kala dan Abadi. Tentu saja Abadi


tidak sendirian, Magenta duduk di sampingnya. Setelah berpikir lama Kasih pun memutuskan


untuk pergi ke meja Kala. Untuk masalah makan. Gue mau makan dengan tenang. Tar


kalau sama Abadi ribut mulu. Kasian lambung gue nggak bisa mencerna makanan


dengan baik. Tanpa Kasih sadari sedari tadi Abadi memandanginya. Di dalam hati


kecil Abadi, ia berharap Kasih duduk dihadapannya. Makan bersama dia, namun


pada kenyataannya ia melihat Kasih pergi kearah kala. Baru saja Kasih duduk,


bahkan ia belum sempat memesan makanan. Abadi tiba-tiba saja berada di belakangnya


dan menyeretnya keluar dari kantin yang penuh itu.


"Ikut gue!" Perintah Abadi


dengan nada dingin yang tak terbantahkan.


"Eh mau kemana?" Tanya Kasih


yang tidak dijawab Abadi.


__ADS_1


__ADS_2