
Aaauu. Teriak seseorang saat Kasih
sedang pemanasan untuk jogging di lapangan basket dekat rumahnya. Kasih pun
mencari sumber suara, betapa terkejutnya Kasih melihat Abadi yang sedang
memegang pergelangan kakinya yang sedikit membiru. Kasih pun berlari kearah Abadi
dan memecah keramaian yang mengelilingi Abadi.
"Abadi? Lo nggak apa-apa?"
Tanya Kasih cemas.
Abadi pun hanya menatapnya bingung. Kasih tak menanggapi
tatapan Abadi dan berusaha membopong Abadi dengan tubuh mungilnya.
"Bantuin kali. Kenapa pada diem
semua." Teriak Kasih kepada teman Abadi yang hanya melihatnya kesusahan
membopong tubuh Abadi. Akhirnya Kasih pun mendapatkan bantuan. Sesampainya di
pinggir lapangan Kasih memegang kaki Abadi yang terluka.
"Sakit?" Tanya Kasih.
"Iyalah memar gini masak nggak
sakit."
"Ih kok nyolot sih."
"Iya maaf. Oh iya lo cewek yang
pernah ngejar-ngejar gue kan?"
"Dih sok keren banget sih."
"Yee lo yang ngejar gue. Sampai
sekarang nih gue nggak inget pernah ngasih duit atau minjemin duit ke elo.
Kenal juga kagak."
"Lah kan udah kenalan, sombong
banget sih. Nih ya gue itu pernah numpahin kopi lo di parkiran, pas kopinya
jatuh lo bilang sepuluh ribu gue. Ya gue kira harganya sepuluh ribu, yaudah
dari pada ribet beli kopi mending gue balikin pake duit aja."
"Mana nggak lo balikin kan?
Akhir akhir ini lo juga nggak pernah ngejar-ngejar gue."
"Capek kali ngejar mulu, gue
sebagai cewek punya harga diri dong. Dan gue juga udah balikin kopi lo."
"Lah kapan? Gue nggak merasa
nerima kopi dari lo."
"Dih kalau mau kopi gratisan jangan
sama gue Bad. Udah gue balikin kali kamis kemarin pas di parkiran."
"Masak sih? Kok gue nggak ingat
ya."
"Lo pinter tapi pikun yak."
"Itu di samping lo apaan?"
Tanya Abadi mengalihkan pembicaraan.
"Kopi Bad. Mau lu?"
"Boleh."
Kasih pun memberikan kopi yang ia bawa kepada Abadi.
"Ih kemanisan nih. Gue kan nggak
suka latte."
"Lo plin plan banget sih. Pas
gue ngasih kopi di parkiran lo bilangnya suka latte."
"Sejak kapan gue suka
latte?"
"Tanya sama diri lo sendiri,
aneh banget sih. Jangan jangan lo punya kembaran ya? Yang gue Kasih kopi waktu
itu kembaran lo? Iya kan?"
"Gue nggak punya kembaran."
"Atau bagian dari diri lo yang
lain?"
Abadi pun kaget mendengar ucapan Kasih dan tanpa
sengaja menyemburkan kopi yang sedang ia minum.
"Jorok banget sih." Kata Kasih
sambil memberikan selembar tissue untuk Abadi.
"Sorry."
"Btw kaki lo masih sakit?"
"Masih lah, kan nggak diobatin.
Lo nya ngomong mulu."
"Gini deh lo ikut ke rumah gue
ya."
"Lah ngapain?"
"Mau diobatin nggak? Lo lihat
sendiri kan di sekitar sini nggak ada warung. Mau beli es batu kemana
gue."
"Es batu buat apaan?"
"Lah buat kompres kaki lo Bad. Kok
gue jadi nggak percaya kalo lo siswa paling pinter di kelas tiga."
"Bawel lo. Jadi mau ke rumah lo
naik apa?"
"Taksi online aja."
Kasih pun membopong Abadi dan membantunya masuk ke
mobil setelah taksi online pesenannya datang.
***
Sesampainya di rumah, Kasih membantu Abadi
untuk duduk di sofa ruang tamunya dan meninggalkan Abadi.
"Mau kemana lo?" Tanya Abadi
sambil menahan pergelangan tangan Kasih. Hal itu pun membuat Kasih semakin
gugup dan jantungnya semakin berdetak lebih kencang. Sebenarnya hal tersebut
sudah dirasakan oleh Kasih sejak ia membopong Abadi.
"Ambil air es buat kompres luka
lo."
Abadi pun mengerti dan melepaskan genggamannya.
Setelah Kasih pergi Maya mamanya Kasih menghampiri Abadi. Abadi pun terlihat
gugup, baru kali ini ia berkunjung ke rumah cewek. Entah apa yang membuatnya
menuruti perkataan Kasih tadi. Di dalam hati kecilnya ia menyesal sudah
membiarkan Kasih menolongnya.
"Temannya Kasih ya?" Tanya
Maya.
Oh namanya Kasih. Nama yang lumayan bagus. Kata Abadi
dalam hati.
"Iya tante, saya Abadi."
Kata Abadi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Oh ini yang namanya Abadi. Kata Maya di dalam hati.
"Maya, mamanya Kasih."
__ADS_1
Jawab Maya yang memperkenalkan dirinya juga.
"Kaki kamu kenapa Abadi?"
Lanjut Maya.
"Keseleo Tante, pas main basket
tadi."
"Wah udah dikompres? Makanya
lain kali kalau main basket hati-hati."
"Belum dikompres Tante. Iya lain
kali Abadi akan hati hati."
"Kamu santai aja sama saya, nggak
perlu pake bahasa seformal itu."
"Baik Tante."
"Oh iya belum dikompres ya. Saya
ambilin air dingin ya."
"Udah diambilin Kasih kok Tante."
"Oh gitu, kamu tadi udah
sarapan?"
"Belum."
"Ya sudah kamu tunggu di sini ya
biar saya siapin sarapan sama sekalian panggil Kasih."
"Waduh nggak usah repot repot
tante."
"Santai aja Abadi. Anggap seperti
rumah kamu sendiri."
Ini adalah suasana rumah yang selama ini Abadi
inginkan Tante. Kata Abadi dalam hati.
"Kasih lama banget sih? Sudah
ditungguin Abadi tuh."
"Ih mama kok tahu?"
"Iya dong. Apa sih yang nggak
mama tahu."
"Kasih ke depan dulu ya Ma."
Maya pun hanya menanggapi Kasih dengan anggukan dan
senyuman lembutnya.
"Maaf Bad rada lama tadi. Nih
diminum dulu."
"Lo emang biasa ngasih tamu air
putih Kas?"
"Ya nggaklah. Lo itu baru
selesai olahraga, nggak baik buat kesehatan kalau langsung minum es. Yaudah sih
tinggal minum aja."
"Iya iya bawel banget."
Kasih pun duduk di samping Abadi sambil mengompres
kaki Abadi dengan air dingin.
"Oh iya kok lo main manggil gue Abadi
sih? Kan gue senior lo."
"Masih jaman istilah senior
junior. Harusnya lu itu suka gue panggil Abadi. Kan serasa seumuran, lumayan
kan hemat setahun umur lo."
"Serah lo deh."
terdiam dan Kasih fokus mengompres kaki Abadi.
"Kasih, Abadi sarapan dulu
yuk."
"Eh nggak usah Tante, Abadi
ngerepotin lagi."
"Sudah nggak apa-apa santai aja
kalo sama saya."
"Udah yuk sarapan, kalau lo
pingsan gue yang repot."
Abadi pun mengikuti Kasih dan maya menuju ruang makan.
Mereka pun makan sambil berbincang.
"Abadi nanti saya anterin
sekalian ya."
"Waduh nggak usah Tante. Abadi
udah banyak ngerepotin hari ini."
"Nggak apa-apa kok Abadi, saya
sama Kasih sekalian mau jalan jalan."
Abadi pun menuruti permintaan Maya dan pulang diantar
Maya.
***
Kasih, nama yang nggak pernah
terbayangkan bakal hadir dalam hidupku. Bawel, satu kata yang melekat pada
dirinya. Orang pertama yang memperhatikanku lebih dari mama. Orang yang selalu
mengejarku selama beberapa hari terakhir ini. Dan saat dia berhenti, tanpa
sadar aku kehilangan kehadirannya. Baik, cantik, senyumnya manis, perfect
banget.
"Ini kenapa gue jadi mikirin Kasih
ya. Dan kenapa senyum tu bocah manis banget. Abadi apa-apaan sih lo. Ini otak
berhenti bentar bisa nggak sih. Capek mikir gue."
Abadi pun terus bergulung dengan selimutnya. Iya
semakin sebal karena Kasih telah memenuhi pikirannya.
"Dan kenapa jantung gue jedug
jedug kagak jelas ya. Kayak habis lari maraton."
Setelah satu jam bertengkar dengan pikirannya, Abadi pun
tertidur pulas.
*****
Dudududu...dududududu...
Senandung Kasih saat berjalan di
koridor sekolah menuju kelasnya. Ia bersenandung sambil loncat loncat
kegirangan. Masa bodoh orang lain mau berkata apa. Yang terpenting, hari ini Kasih
gembira. Dan tanpa disangka Kasih pun tersandung kaki kursi dan terjatuh tepat
dihadapan seseorang yang sedang duduk di sana.
"Aaau." Rintih Kasih.
"Makanya jalan yang bener."
Kata Abadi sambil melanjutkan membaca buku yang sempat tertunda karena Kasih.
"Ini kalau di drakor gue pasti
udah ditangkep. Jadi nggak sakit gini."
"Ya lo ngebayanginnya di drakor.
Drakor sama real life beda kali."
__ADS_1
"Nah panjang juga ngomongnya.
Bantuin gue berdiri dong." Kata Kasih sambil menjulurkan tangannya ke Abadi.
Dan tanpa diduga Abadi pun membantunya berdiri.
“Mending gue bantu kali ya. Daripada
nyinyir mulu ni bocah.” Kata Abadi dalam hatinya.
“Wah kesambet apan Abadi. Bisa baik
juga ternyata. Atau udah mulai luluh sama gue ya.” Kata Kasih dalam hati.
"Woy, bengong mulu lo. Gih sono
pergi."
"Eh gue lagi mikir aja sejak
kapan seorang Abadi Dirgantara baik ke gue."
"Jangan lebay deh. Anggep aja
kita impas. Kan kemarin lo udah tolongin gue."
"Serah lo deh."
Tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundak Kasih.
"Ngapain lo di sini?" Tanya
Kala.
"Eh Kala, habis jatuh gue."
Jawab Kasih.
"Makanya jalan jangan sambil
loncat loncat."
"Dih kok lo tau?"
"Apa sih yang nggak gue
tau."
Kasih pun membalas dengan senyuman manisnya yang
membuat Abadi semakin kepanasan.
“Ini anak siapa sih. Main nyerobot
aja, Kasih kan punya gue. Eh bentar kok kayak ada yang salah sama kosa kata gue
ya.” Batin Abadi.
"Bocah lo anak kelas satu kan? Nggak
ada sopan ya manggil Kasih langsung sebut nama dikasih embel embel kek."
"Eh kakak kelas galak. Dikasih
embel embel apa nih? Kasih sayang gitu." Jawab kala yang langsung
dihadiahi jitakan di kepalanya oleh Kasih.
"Lo kalau ngomong pake rem
napa."
"Kakak kek, mbak, teteh, cece
gitu."
"Udah santai aja Bad, gue aja
santai kok."
"Tuh si Kasih aja panggil lo
langsung nama. Nggak ada embel embelnya kakak kek, mas, aa, koko gitu."
Abadi pun terkejut dengan perkataan Kala. Hatinya
semakin panas melihat kedekatan Kasih. Kasih yang melihat amarah Abadi mulai
memuncak pun menyeret Kala pergi.
"Abadi, gue ke kelas dulu
ya."
“Itu bocah kok bisa deket banget sih
sama Kasih. Gila kenapa gue yang marah. Please bad sadar, jangan kepancing
emosi. Kendalikan diri lu sendiri.”
*****
Teng...teng...teng bel istirahat pun
berbunyi.
"Guys, gue mau cerita."
"Males gue dengar lo cerita
ngejar ngejar Abadi." Jawab Sedia.
"Iya lo yang ngejar gue yang
capek." Sambung Senja.
"Ih ini tuh bagai gayung
bersambut."
"Apa sih lo jangan sok pinter
deh. Bawa bawa gayung pula." Kata Sedia.
"To the point aja." Kata Senja.
"Jadi kemarin itu gue pergi
joging ke taman deket rumah gue, eh nggak sengaja ketemu si Abadi yang kakinya
keseleo. Gue bantu deh gue ajak ke rumah. Nah pas di rumah ada mama dong,
diajak sekalian makan sama mama terus dianterin pulang."
"Eh lo bawa pulang, lo Kasih
makan, lo kira si Abadi kucing? Nggak lo obatin?" Tanya Sedia.
"Gila aja lo, ya gue obatin
lah."
"Oh gitu doang. Kantin yuk laper
gue." Kata Senja sambil melangkah pergi dan diikuti oleh Senja.
"Dih nyebelin banget sih."
Teriak Kasih sambil mengikuti mereka.
Sesampainya di kantin Kasih dkk disuguhkan dengan
pemandangan kantin yang penuh.
"Gara-gara lo nih Kas. Cerita
mulu." Kata Senja.
"Ya lo sendiri yang mau
dengerin."
"Kalau nggak didengerin, lo yang
ngambek anjir." Kata Sedia.
"Duduk dimana nih?" Tanya Senja.
Kasih pun yang berusaha melihat dari
kejauhan menemukan dua meja kosong yang ditempati Kala dan Abadi. Tentu saja Abadi
tidak sendirian, Magenta duduk di sampingnya. Setelah berpikir lama Kasih pun memutuskan
untuk pergi ke meja Kala. Untuk masalah makan. Gue mau makan dengan tenang. Tar
kalau sama Abadi ribut mulu. Kasian lambung gue nggak bisa mencerna makanan
dengan baik. Tanpa Kasih sadari sedari tadi Abadi memandanginya. Di dalam hati
kecil Abadi, ia berharap Kasih duduk dihadapannya. Makan bersama dia, namun
pada kenyataannya ia melihat Kasih pergi kearah kala. Baru saja Kasih duduk,
bahkan ia belum sempat memesan makanan. Abadi tiba-tiba saja berada di belakangnya
dan menyeretnya keluar dari kantin yang penuh itu.
"Ikut gue!" Perintah Abadi
dengan nada dingin yang tak terbantahkan.
"Eh mau kemana?" Tanya Kasih
yang tidak dijawab Abadi.
__ADS_1