
Malam harinya seperti biasa Kasih membuka
jendela kamarnya dan duduk di dekatnya sambil memandang langit malam yang indah.
Lalu ia mengambil buku diary-nya dan tersepu malu. Ia beranjak dari tempat
ternyamanya untuk mengambil tas sekolahnya dan duduk kembali ke tempat awal.
Kasih mengambil bungkus permen mint bertuliskan “I miss you” dan kembali
tersenyum malu-malu. Ia masih tidak habis pikir bagaimana seorang Abadi yang
batu bisa berbuat seromantis ini. Gila. Kepala
Abadi kebentur apaan ya kok bisa semanis tadi. Ya meskipun rada cuek sih tapi
dia kan udah bantuin ngompres pergelangan tangan gue. Oh my God, please Kasih lo
jangan sampe kegeeren dulu, takutnya besok Abadi jutek lagi. Kasih pun
membuka buku diary miliknya dan menempelkan bungkus permen mint yang diberikan
Abadi. Bodo amat di bilang lebay yang
penting gue suka, kata mama kan gue harus mengikuti apa kata hati gue. Jadi
mulai sekarang gue memutuskan untuk melakukan apapun yang gue suka selagi nggak
merugikan orang lain.
Di sisi lain Abadi baru saja sampai rumah dan
segera menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Abadi memutuskan untuk segera
membersihkan diri dan mandi. Setelah selesai, ia berbaring di ranjang tempat
tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Perlahan ia meletakan lengannya
diatas matanya. Kemudian ia tersenyum malu, entah apa yang sedang ia pikirkan. Kemudian
ia teringat seorang gadis bernama Kasih yang keberadaannya berhasil mengusiknya,
sekarang justru menjadi sebuah keharusan untuknya. Rasanya Kasih sudah menjadi
pelengkap dalam kehidupannya selama sekolah berlangsung. Sedang enak-enaknya
Abadi memikirkan peristiwa yang ia lewati dengan Kasih, namun tiba-tiba mamanya
datang dan membuyarkan semuanya.
“Adi, kamu kemana aja kok baru pulang?”
“Kenapa? Mau Adi nggak pulang sekalian?”
“Kamu ngomongnya jangan gitu dong sama mama.”
“Peduli apa Mama sama Adi.”
“Orang tua mana sih yang nggak peduli sama
anaknya sendiri.”
“Orang tua kayak mama.”
“Adi.” Rena pun membentak Abadi karena
perlakuan Abadi yang sudah berlebihan.
“Apa? Seumur hidup aku, aku nggak pernah
merasakan kepedulian Mama. Yang Mama peduliin cuma ambisi Mama dengan
nilai-nilai sekolahku.”
“Karena itu penting untuk masa depan kamu Di.”
“Yang penting buat Mama belum tentu penting
buat aku.”
“Kamu bergaul sama siapa sih? Kenapa kamu jadi
kurang ajar gini sama mama.”
“Mama tenang aja aku nggak punya teman.”
“Oke Adi, hari ini mama nggak mau berantem sama
kamu. Mama cuma mau mengingatkan kamu kalau kamu udah kelas 3 Di. Dan mulai
besok juga kamu ada ujian sekolah kan? Mama nggak mau nilai kamu turun ya.”
Abadi pun tersenyum sinis sambil menatap
mamanya.
“Yang Mama pertahankan selama ini bukan aku
tapi Dave. Karena Dave bisa memberikan apa yang Mama inginkan yang selama ini
nggak bisa Mama dapatkan dari aku.”
“Iya mama memang butuh Dave. Mama nggak mau
reputasi keluarga yang sudah mama bangun hancur begitu saja.”
“Mama tenang aja, besok yang ada di rumah ini
cuma Dave bukan Abadi.”
Setelah berdebat panjang dengan mamanya, Abadi
mengambil tasnya dan memutuskan untuk meninggalkan rumah.
“Mama nggak peduli kamu mau kemana yang penting
mama mau besok Dave yang pulang.”
Abadi yang mendengar perkataan mamanya pun
semakin marah dan membanting pintu rumahnya. Entah kemana malam ini Abadi
pergi.
Sebenarnya
hubungan Abadi dan mamanya memang tidak dekat sejak ia masih kecil. Namun dulu
ada papanya yang selalu membela Abadi. Sedangkan sekarang Abadi berjuang
seorang diri. Sedari kecil Abadi sudah mengetahui bahwa mamanya sangat
terobsesi dengan nilai sekolahnya. Bahkan mamanya pun selalu menyuruhnya
mengikuti les tambahan sepulang sekolah. Obsesi mamanya pun semakin menjadi
setelah papa Abadi meninggal. Karena tidak ada lagi orang yang bisa menentang
keinginannya. Dan hal itu pula yang menjadi Abadi semakin memberontak.
Keesokan
paginya ada seseorang yang mirip Abadi memasuki rumah Rena, Mama Abadi. Rena
saat itu sedang menyiapkan sarapan di ruang makan. Setelah mengetahui keberadaan
seseorang yang mirip Abadi tanpa berpikir panjang Rena segera menyambutnya
dengan senyuman hangat. Senyuman yang bahkan tidak pernah dilihat Abadi seumur
hidupnya.
“Dave,
akhirnya kamu datang juga. Mandi gih setelah itu sarapan bareng mama.”
Dave pun hanya menjawabnya dengan senyuman
manis dan segera memasuki kamar Abadi. Anehnya apa yang dilakukan Dave di kamar
Abadi? Dan siapa Dave? Bagaimana bisa Dave mirip seratus persen dengan Abadi.
Hanya gaya berpakaian dan karakternya yang sangat bertolak belakang.
***
Beberapa hari kemudian Kasih sedang
menunggu seseorang di parkiran sekolah. Sebenarnya ia sedikit khawatir sudah
lima hari ia tidak melihat Abadi di seluruh penjuru sekolah. Sudah lima hari
pula Kasih selalu menunggu kedatangan Abadi di parkiran sekolah. Lima hari
kemarin Kasih menunggu Abadi sejak pukul 06.30 WIB karena ia tahu kebiasaan
Abadi yang selalu berangkat siang ke sekolah namun kali ini ia sengaja menunggu
Abadi sejak pukul 06.00 WIB. Dari kejauhan Kasih melihat siluet yang sangat ia
kenali. Ya siapa lagi kalau bukan Abadi. Kasih pun menyiapkan diri dengan
menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangannya dan mengecek riasan wajahnya
dengan cermin kecil yang selalu ia bawa. Kalau
ketemu Abadi gue harus ngomong apa ya, hai apa kabar? Duh udah basi. Em atau
gue langsung marah aja, ya kali habis ngasih gue permen mint yang ada
tulisannya I miss you dia langsung hilang nggak ada kabar. Eh tapi nanti kalau
gue marah-marah dikira gue kegeeran. Ogah ah sok jual mahal dikit dong, gue kan
cewek. Saat sedang asyiknya Kasih bermonolog hingga tanpa disadari Abadi
sudah berjalan mendekat. Saat Abadi berjalan tepat dihadapannya Kasih hendak
melambaikan tangannya namun segera diurungkan karena Abadi melewatkan
keberadaannya entah itu disengaja atau tidak. Lah si Abadi kok kayak nggak kenal gue. Ih ngeselin banget sih. Tahu
gitu nggak gue tungguin. Mana kaki gue pegel banget. Kata Kasih dalam hati
sambil menunduk, hingga tiba-tiba ia melihat sepasang sepatu berhenti
__ADS_1
dihadapannya. Entah siapa pemiliknya. Kasih tanpa ragu mendongakan kepalanya
dan betapa terkejutnya Kasih, ia melihat Abadi berada tepat dihadapannya.
“Hai Latte Girl.” Sapa Abadi sambil
tersenyum manis kepada Kasih dan kemudian pergi meninggalkan Kasih.
Kasih
pun yang masih terkejut dengan perlakuan Abadi kembali dikejutkan dengan keberadaan
Sedia dibelakangnya.
“Woi Kasih.”
“Apaan sih lo ngagetin gue aja.”
“Nah elu sendiri ngapain di
parkiran? Bawa motor lo?”
“Enggak.”
“Kas kenapa muka lo merah gitu.
Sakit ya? Atau lo demam?” tanya Sedia sambil meletakkan punggung tangannya di
dahi Kasih yang kemudian ditangkis oleh Kasih.
“Gue nggak apa-apa. Ke kelas yuk.”
Kata Kasih dan segera melangkah pergi.
Sesampainya
di kelas, Kasih pun segera melemparkan dirinya ke tempat duduknya. Haah si Abadi kesambet apaan lagi sih? Kok
pagi-pagi udah bikin jantung gue senam gini. Mana senyumannya manis banget
lagi. Andai si Abadi kayak gitu tiap hari.
“Woi Kasih, gila punya temen cantik
gini malah ditinggalin.” Kata Sedia sambil berjalan menuju tempat duduknya yang
tepat didepan Kasih.
“Lah dari mana aja lo?”
“Elo yang jalan kayak kereta api.
Cepet banget.”
“Btw
anak-anak yang lain kenapa pada sibuk mondar-mandir sih? Emang ada tugas apaan?
“Lagi
ngerjain tugas dari Bu Susi yang disuruh bikin makalah?”
“Lah
serius? Kok gue nggak pernah dengar yak?”
“Lo
molor terus.” Jawab Senja.
“Yah
terus gimana dong nasib gue?”
“Santai
tugasnya kan kerja kelompok Kas.”
“Gue
kelompok siapa dong.”
“Lah
pake nanya? Ya kelompok gue sama Senja lah. Mau sama siapa lagi lo.”
“Terus
lo pada kapan ngerjain makalahnya? Kok gue nggak dikabarin sih?”
“Lima
hari yang lalu, gue ngerjain di rumahnya Sedia.”
“Kok
gue nggak diajak?”
“Lupa.”
Jawaban singkat Senja yang membuat Kasih semakin kesal.
“Jelasin
ke gue kenapa kalian bisa lupa sama gue.”
gini ceritanya...” Sedia pun bersiap untuk bercerita.
Flashback
Sepulang sekolah setelah Sedia dan
Senja yang berusaha membangunkan Kasih mereka justru ditinggal oleh Kasih.
Mereka pun memutuskan untuk pergi ke rumah Sedia dan mengerjakan tugas
kelompok.
“Lah malah
ninggalin.” Kata Sedia.
“Udah
biarin. Balik yuk.”
“Kasih
gimana?”
“Kasih
nggak bakal lupa jalan pulang ke rumahnya Di.”
“Iya
juga sih hehe.”
“Di
gue ke rumah lo ya, sekalian ngerjain tugas yang tadi.”
“Lo
mau ketemu Abang gue kan?”
“Apaan
sih lo orang gue mau ngerjain tugas.”
“Modus
lo payah. Gampang ditebak.”
“Bodo
amat. Gimana boleh nggak?”
“Ya udah ayo.”
Sesampainya
di rumah Sedia, Sedia mengajak Senja untuk ke kamarnya.
“Yah ngerjain tugas di kamar lo
nih?”
“Ya nggak lah. Tar lo nggak bisa
lihat kegantengan abang gue hahaha.” Kata Sedia samb tertawa.
“Terus ngapain di sini Di?”
“Ganti baju Senja, biar lo juga
ngerjain tugasnya nyaman.”
Senja
pun menuruti perkataan Sedia. Setelah itu mereka segera menuju ruang tamu untuk
mengerjakan tugas.
“Senja, lo ngerasa ada yang
ketinggalan nggak sih?”
“Apaan? Nggak ada.”
“Ih gue ngerasa ada yang aneh gitu.”
Senja
pun berusaha keras berpikir dan mengingat-ingat siapa tahu ada barangnya yang
tertinggal di sekolah.
“Nggak ada Di.”
“Ya udah deh gue ambilin cemilan
dulu.”
Sedia
__ADS_1
bergegas menuju dapur untuk mengambil stok cemilan miliknya. Di sisi lain Senja
juga merasa ada yang janggal. Entah apa yang ia lupakan. Ya Tuhan kalau pun ada yang kelupaan semoga bukan barang yang penting. Tiba-tiba
Senja melihat Magenta dengan pakaian santai menuju ke dapur. Ia semakin gugup
ketika mata miliknya dan Magenta tanpa sengaja saling menatap. Meskipun hanya
secepat kilat namun ia tak bisa mengendalikan degup jantungnya yang semakin
cepat. Aaa kenapa Kak Magen makin ganteng
ya kalau pake baju rumahan gitu. Dan kenapa jantung gue maraton gini. Sedia
pun datang dan meletakkan camilannya di meja.
“Senja lo kenapa? Kok keringatan
gitu.”
“Hah? Nggak gue nggak apa-apa kok.”
“Hahaha lo gugup ya ketemu abang
gue?”
Senja
pun bisa menjawabnya dengan tersenyum pasrah.
“Saran gue sih lo jangan terlalu aktif
deketin abang gue.”
“Emang kenapa?”
“Dia orangnya suka risih.”
Perhatian
Senja semakin teralihkan dengan keberadaan Magenta yang semakin mendekatinya
sambil membawa dua minuman kaleng.
“Nih.” Kata Magenta sambil
memberikan minuman kaleng kepada Sedia dan kemudian duduk santai dihadapan
Senja.
Aduh kenapa Kak Magen malah duduk di
depan gue sih? Kenapa nggak pergi aja? Kemana kek,kan konsentrasi gue jadi
buyar. Gimana gue bisa fokus bikin makalah kalo dihadapan gue disediain
pemandangan langka yang nggak bisa gue lihat setiap hari.
Magenta
pun membuat dirinya semakin nyaman dengan rebahan di sofa sambil membaca buku.
“Tumben nggak lengkap?” tanya
Magenta.
“Kenapa
hemat banget sih ngomongnya” Batin Senja.
“Hah? Emang iya?” Tanya Sedia.
“Si Kasih kemana?”
“Oh iya pantesan kayak ada yang kelupaan.”
Senja
pun kaget kenapa ia bisa lupa dengan temannya.
“Temen sendiri masak lupa.”
“Namanya orang lupa Bang.”
Perhatian
Magenta teralihkan dengan keadaan Senja yang membuatnya tidak nyaman.
“Senja lo kenapa? Sakit?” Tanya
Magenta.
“Nggak Kak.” Jawab Senja dengan
gugup.
“Kok keringat gitu?”
Sedia
yang melihat kondisi Senja pun sangat terheran-heran. Bagaimana bisa siswa
sepintar Senja gugup menghadapi kakaknya.
“Muka lo galak sih. Temen gue jadi
takut.” Kata Sedia menggantikan Senja.
“Emang iya?” Tanya Magenta yang
tanpa sadar mendekatkan wajahnya kearah Senja.
Sedia
yang kaget segera menoyor dahi abangnya.
“Nggak usah deket-deket kali. Tar
suka.”
Magenta
yang mendengarkan ucapan adiknya pun kembali ke posisi awalnya dan melanjutkan
kegiatannya membaca buku.
“Kalau sakit pulang aja? Jangan
nyusahin orang.” Kata Magenta kepada Senja tanpa melihat Senja dan tetap fokus
dengan buku yang ia baca.
Senja
yang diperlakukan seperti itu pun semakin terkejut dan tidak tahu harus
menjawab seperti apa. Sedia yang sadar dengan keadaan tersebut berusaha
mencairkan suasana.
“Ke kamar sana Bang! Ngapain di sini,
ganggu orang belajar aja.”
“Serah gue rumah-rumah gue kenapa
jadi lo yang protes.”
“Ya lo merusak pemandangan mata gue.
Pergi sono.”
“Bawel banget sih. Teman lo aja
nggak protes.”
“Pergi Bang, atau gue seret lo ke
kamar.”
“Senja gue nggak apa-apa kan di sini?
Gue diem deh nggak bakal ngomong sama sekali.”
Senja
pun menerima penawaran Magenta. Untuk pertama kali dalam hidupnya Magenta
meminta sesuatu kepadanya.
“Iya Kak.”
Sedia
yang mendengar jawaban Senja pun semakin kesal. Aaa bodo banget sih si Senja kalau abang gue di sini dia nggak bakal
fokus ngerjain tugas. Huuft suasana macam apa ini?
Kasih
yang mendengarkan cerita Sedia pun tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha
wah harusnya gue ada di situ. Gue pengen tahu gimana muka si Senja kalo lagi
gugup.”
“Seumur
hidup gue baru kali ini gue lihat Senja keringat dingin gitu.” Kata Sedia.
“Diam
lo pada. Gimana nggak gugup kalo orang yang selama ini lo suka ada dihadapan lo?”
“Iya,
bercanda doang Senja. Sensi banget sih”
“Btw
guys, nama gue ada di makalah kan?”
“Ada,
__ADS_1
santai aja. Lagian salah gue sama Senja juga bisa lupa sama lo.”