Kasih Abadi

Kasih Abadi
BAB 7 Sebungkus Permen Mint


__ADS_3

Malam harinya seperti biasa Kasih membuka


jendela kamarnya dan duduk di dekatnya sambil memandang langit malam yang indah.


Lalu ia mengambil buku diary-nya dan tersepu malu. Ia beranjak dari tempat


ternyamanya untuk mengambil tas sekolahnya dan duduk kembali ke tempat awal.


Kasih mengambil bungkus permen mint bertuliskan “I miss you” dan kembali


tersenyum malu-malu. Ia masih tidak habis pikir bagaimana seorang Abadi yang


batu bisa berbuat seromantis ini. Gila. Kepala


Abadi kebentur apaan ya kok bisa semanis tadi. Ya meskipun rada cuek sih tapi


dia kan udah bantuin ngompres pergelangan tangan gue. Oh my God, please Kasih lo


jangan sampe kegeeren dulu, takutnya besok Abadi jutek lagi. Kasih pun


membuka buku diary miliknya dan menempelkan bungkus permen mint yang diberikan


Abadi. Bodo amat di bilang lebay yang


penting gue suka, kata mama kan gue harus mengikuti apa kata hati gue. Jadi


mulai sekarang gue memutuskan untuk melakukan apapun yang gue suka selagi nggak


merugikan orang lain.


Di sisi lain Abadi baru saja sampai rumah dan


segera menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Abadi memutuskan untuk segera


membersihkan diri dan mandi. Setelah selesai, ia berbaring di ranjang tempat


tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Perlahan ia meletakan lengannya


diatas matanya. Kemudian ia tersenyum malu, entah apa yang sedang ia pikirkan. Kemudian


ia teringat seorang gadis bernama Kasih yang keberadaannya berhasil mengusiknya,


sekarang justru menjadi sebuah keharusan untuknya. Rasanya Kasih sudah menjadi


pelengkap dalam kehidupannya selama sekolah berlangsung. Sedang enak-enaknya


Abadi memikirkan peristiwa yang ia lewati dengan Kasih, namun tiba-tiba mamanya


datang dan membuyarkan semuanya.


“Adi, kamu kemana aja kok baru pulang?”


“Kenapa? Mau Adi nggak pulang sekalian?”


“Kamu ngomongnya jangan gitu dong sama mama.”


“Peduli apa Mama sama Adi.”


“Orang tua mana sih yang nggak peduli sama


anaknya sendiri.”


“Orang tua kayak mama.”


“Adi.” Rena pun membentak Abadi karena


perlakuan Abadi yang sudah berlebihan.


“Apa? Seumur hidup aku, aku nggak pernah


merasakan kepedulian Mama. Yang Mama peduliin cuma ambisi Mama dengan


nilai-nilai sekolahku.”


“Karena itu penting untuk masa depan kamu Di.”


“Yang penting buat Mama belum tentu penting


buat aku.”


“Kamu bergaul sama siapa sih? Kenapa kamu jadi


kurang ajar gini sama mama.”


“Mama tenang aja aku nggak punya teman.”


“Oke Adi, hari ini mama nggak mau berantem sama


kamu. Mama cuma mau mengingatkan kamu kalau kamu udah kelas 3 Di. Dan mulai


besok juga kamu ada ujian sekolah kan? Mama nggak mau nilai kamu turun ya.”


Abadi pun tersenyum sinis sambil menatap


mamanya.


“Yang Mama pertahankan selama ini bukan aku


tapi Dave. Karena Dave bisa memberikan apa yang Mama inginkan yang selama ini


nggak bisa Mama dapatkan dari aku.”


“Iya mama memang butuh Dave. Mama nggak mau


reputasi keluarga yang sudah mama bangun hancur begitu saja.”


“Mama tenang aja, besok yang ada di rumah ini


cuma Dave bukan Abadi.”


Setelah berdebat panjang dengan mamanya, Abadi


mengambil tasnya dan memutuskan untuk meninggalkan rumah.


“Mama nggak peduli kamu mau kemana yang penting


mama mau besok Dave yang pulang.”


Abadi yang mendengar perkataan mamanya pun


semakin marah dan membanting pintu rumahnya. Entah kemana malam ini Abadi


pergi.


            Sebenarnya


hubungan Abadi dan mamanya memang tidak dekat sejak ia masih kecil. Namun dulu


ada papanya yang selalu membela Abadi. Sedangkan sekarang Abadi berjuang


seorang diri. Sedari kecil Abadi sudah mengetahui bahwa mamanya sangat


terobsesi dengan nilai sekolahnya. Bahkan mamanya pun selalu menyuruhnya


mengikuti les tambahan sepulang sekolah. Obsesi mamanya pun semakin menjadi


setelah papa Abadi meninggal. Karena tidak ada lagi orang yang bisa menentang


keinginannya. Dan hal itu pula yang menjadi Abadi semakin memberontak.


            Keesokan


paginya ada seseorang yang mirip Abadi memasuki rumah Rena, Mama Abadi. Rena


saat itu sedang menyiapkan sarapan di ruang makan. Setelah mengetahui keberadaan


seseorang yang mirip Abadi tanpa berpikir panjang Rena segera menyambutnya


dengan senyuman hangat. Senyuman yang bahkan tidak pernah dilihat Abadi seumur


hidupnya.


            “Dave,


akhirnya kamu datang juga. Mandi gih setelah itu sarapan bareng mama.”


Dave pun hanya menjawabnya dengan senyuman


manis dan segera memasuki kamar Abadi. Anehnya apa yang dilakukan Dave di kamar


Abadi? Dan siapa Dave? Bagaimana bisa Dave mirip seratus persen dengan Abadi.


Hanya gaya berpakaian dan karakternya yang sangat bertolak belakang.


***


            Beberapa hari kemudian Kasih sedang


menunggu seseorang di parkiran sekolah. Sebenarnya ia sedikit khawatir sudah


lima hari ia tidak melihat Abadi di seluruh penjuru sekolah. Sudah lima hari


pula Kasih selalu menunggu kedatangan Abadi di parkiran sekolah. Lima hari


kemarin Kasih menunggu Abadi sejak pukul 06.30 WIB karena ia tahu kebiasaan


Abadi yang selalu berangkat siang ke sekolah namun kali ini ia sengaja menunggu


Abadi sejak pukul 06.00 WIB. Dari kejauhan Kasih melihat siluet yang sangat ia


kenali. Ya siapa lagi kalau bukan Abadi. Kasih pun menyiapkan diri dengan


menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangannya dan mengecek riasan wajahnya


dengan cermin kecil yang selalu ia bawa. Kalau


ketemu Abadi gue harus ngomong apa ya, hai apa kabar? Duh udah basi. Em atau


gue langsung marah aja, ya kali habis ngasih gue permen mint yang ada


tulisannya I miss you dia langsung hilang nggak ada kabar. Eh tapi nanti kalau


gue marah-marah dikira gue kegeeran. Ogah ah sok jual mahal dikit dong, gue kan


cewek. Saat sedang asyiknya Kasih bermonolog hingga tanpa disadari Abadi


sudah berjalan mendekat. Saat Abadi berjalan tepat dihadapannya Kasih hendak


melambaikan tangannya namun segera diurungkan karena Abadi melewatkan


keberadaannya entah itu disengaja atau tidak. Lah si Abadi kok kayak nggak kenal gue. Ih ngeselin banget sih. Tahu


gitu nggak gue tungguin. Mana kaki gue pegel banget. Kata Kasih dalam hati


sambil menunduk, hingga tiba-tiba ia melihat sepasang sepatu berhenti

__ADS_1


dihadapannya. Entah siapa pemiliknya. Kasih tanpa ragu mendongakan kepalanya


dan betapa terkejutnya Kasih, ia melihat Abadi berada tepat dihadapannya.


            “Hai Latte Girl.” Sapa Abadi sambil


tersenyum manis kepada Kasih dan kemudian pergi meninggalkan Kasih.


Kasih


pun yang masih terkejut dengan perlakuan Abadi kembali dikejutkan dengan keberadaan


Sedia dibelakangnya.


            “Woi Kasih.”


            “Apaan sih lo ngagetin gue aja.”


            “Nah elu sendiri ngapain di


parkiran? Bawa motor lo?”


            “Enggak.”


            “Kas kenapa muka lo merah gitu.


Sakit ya? Atau lo demam?” tanya Sedia sambil meletakkan punggung tangannya di


dahi Kasih yang kemudian ditangkis oleh Kasih.


            “Gue nggak apa-apa. Ke kelas yuk.”


Kata Kasih dan segera melangkah pergi.


Sesampainya


di kelas, Kasih pun segera melemparkan dirinya ke tempat duduknya. Haah si Abadi kesambet apaan lagi sih? Kok


pagi-pagi udah bikin jantung gue senam gini. Mana senyumannya manis banget


lagi. Andai si Abadi kayak gitu tiap hari.


            “Woi Kasih, gila punya temen cantik


gini malah ditinggalin.” Kata Sedia sambil berjalan menuju tempat duduknya yang


tepat didepan Kasih.


            “Lah dari mana aja lo?”


            “Elo yang jalan kayak kereta api.


Cepet banget.”


“Btw


anak-anak yang lain kenapa pada sibuk mondar-mandir sih? Emang ada tugas apaan?


“Lagi


ngerjain tugas dari Bu Susi yang disuruh bikin makalah?”


“Lah


serius? Kok gue nggak pernah dengar yak?”


“Lo


molor terus.” Jawab Senja.


“Yah


terus gimana dong nasib gue?”


“Santai


tugasnya kan kerja kelompok Kas.”


“Gue


kelompok siapa dong.”


“Lah


pake nanya? Ya kelompok gue sama Senja lah. Mau sama siapa lagi lo.”


“Terus


lo pada kapan ngerjain makalahnya? Kok gue nggak dikabarin sih?”


“Lima


hari yang lalu, gue ngerjain di rumahnya Sedia.”


“Kok


gue nggak diajak?”


“Lupa.”


Jawaban singkat Senja yang membuat Kasih semakin kesal.


“Jelasin


ke gue kenapa kalian bisa lupa sama gue.”


gini ceritanya...” Sedia pun bersiap untuk bercerita.


Flashback


            Sepulang sekolah setelah Sedia dan


Senja yang berusaha membangunkan Kasih mereka justru ditinggal oleh Kasih.


Mereka pun memutuskan untuk pergi ke rumah Sedia dan mengerjakan tugas


kelompok.


“Lah malah


ninggalin.” Kata Sedia.


            “Udah


biarin. Balik yuk.”


            “Kasih


gimana?”


            “Kasih


nggak bakal lupa jalan pulang ke rumahnya Di.”


            “Iya


juga sih hehe.”


            “Di


gue ke rumah lo ya, sekalian ngerjain tugas yang tadi.”


            “Lo


mau ketemu Abang gue kan?”


            “Apaan


sih lo orang gue mau ngerjain tugas.”


            “Modus


lo payah. Gampang ditebak.”


            “Bodo


amat. Gimana boleh nggak?”


            “Ya udah ayo.”


Sesampainya


di rumah Sedia, Sedia mengajak Senja untuk ke kamarnya.


            “Yah ngerjain tugas di kamar lo


nih?”


            “Ya nggak lah. Tar lo nggak bisa


lihat kegantengan abang gue hahaha.” Kata Sedia samb tertawa.


            “Terus ngapain di sini Di?”


            “Ganti baju Senja, biar lo juga


ngerjain tugasnya nyaman.”


Senja


pun menuruti perkataan Sedia. Setelah itu mereka segera menuju ruang tamu untuk


mengerjakan tugas.


            “Senja, lo ngerasa ada yang


ketinggalan nggak sih?”


            “Apaan? Nggak ada.”


            “Ih gue ngerasa ada yang aneh gitu.”


Senja


pun berusaha keras berpikir dan mengingat-ingat siapa tahu ada barangnya yang


tertinggal di sekolah.


            “Nggak ada Di.”


            “Ya udah deh gue ambilin cemilan


dulu.”


Sedia

__ADS_1


bergegas menuju dapur untuk mengambil stok cemilan miliknya. Di sisi lain Senja


juga merasa ada yang janggal. Entah apa yang ia lupakan. Ya Tuhan kalau pun ada yang kelupaan semoga bukan barang yang penting. Tiba-tiba


Senja melihat Magenta dengan pakaian santai menuju ke dapur. Ia semakin gugup


ketika mata miliknya dan Magenta tanpa sengaja saling menatap. Meskipun hanya


secepat kilat namun ia tak bisa mengendalikan degup jantungnya yang semakin


cepat. Aaa kenapa Kak Magen makin ganteng


ya kalau pake baju rumahan gitu. Dan kenapa jantung gue maraton gini. Sedia


pun datang dan meletakkan camilannya di meja.


            “Senja lo kenapa? Kok keringatan


gitu.”


            “Hah? Nggak gue nggak apa-apa kok.”


            “Hahaha lo gugup ya ketemu abang


gue?”


Senja


pun bisa menjawabnya dengan tersenyum pasrah.


            “Saran gue sih lo jangan terlalu aktif


deketin abang gue.”


            “Emang kenapa?”


            “Dia orangnya suka risih.”


Perhatian


Senja semakin teralihkan dengan keberadaan Magenta yang semakin mendekatinya


sambil membawa dua minuman kaleng.


            “Nih.” Kata Magenta sambil


memberikan minuman kaleng kepada Sedia dan kemudian duduk santai dihadapan


Senja.


Aduh kenapa Kak Magen malah duduk di


depan gue sih? Kenapa nggak pergi aja? Kemana kek,kan konsentrasi gue jadi


buyar. Gimana gue bisa fokus bikin makalah kalo dihadapan gue disediain


pemandangan langka yang nggak bisa gue lihat setiap hari.


Magenta


pun membuat dirinya semakin nyaman dengan rebahan di sofa sambil membaca buku.


            “Tumben nggak lengkap?” tanya


Magenta.


“Kenapa


hemat banget sih ngomongnya” Batin Senja.


            “Hah? Emang iya?” Tanya Sedia.


            “Si Kasih kemana?”


            “Oh iya pantesan kayak ada yang kelupaan.”


Senja


pun kaget kenapa ia bisa lupa dengan temannya.


            “Temen sendiri masak lupa.”


            “Namanya orang lupa Bang.”


Perhatian


Magenta teralihkan dengan keadaan Senja yang membuatnya tidak nyaman.


            “Senja lo kenapa? Sakit?” Tanya


Magenta.


            “Nggak Kak.” Jawab Senja dengan


gugup.


            “Kok keringat gitu?”


Sedia


yang melihat kondisi Senja pun sangat terheran-heran. Bagaimana bisa siswa


sepintar Senja gugup menghadapi kakaknya.


            “Muka lo galak sih. Temen gue jadi


takut.” Kata Sedia menggantikan Senja.


            “Emang iya?” Tanya Magenta yang


tanpa sadar mendekatkan wajahnya kearah Senja.


Sedia


yang kaget segera menoyor dahi abangnya.


            “Nggak usah deket-deket kali. Tar


suka.”


Magenta


yang mendengarkan ucapan adiknya pun kembali ke posisi awalnya dan melanjutkan


kegiatannya membaca buku.


            “Kalau sakit pulang aja? Jangan


nyusahin orang.” Kata Magenta kepada Senja tanpa melihat Senja dan tetap fokus


dengan buku yang ia baca.


Senja


yang diperlakukan seperti itu pun semakin terkejut dan tidak tahu harus


menjawab seperti apa. Sedia yang sadar dengan keadaan tersebut berusaha


mencairkan suasana.


            “Ke kamar sana Bang! Ngapain di sini,


ganggu orang belajar aja.”


            “Serah gue rumah-rumah gue kenapa


jadi lo yang protes.”


            “Ya lo merusak pemandangan mata gue.


Pergi sono.”


            “Bawel banget sih. Teman lo aja


nggak protes.”


            “Pergi Bang, atau gue seret lo ke


kamar.”


            “Senja gue nggak apa-apa kan di sini?


Gue diem deh nggak bakal ngomong sama sekali.”


Senja


pun menerima penawaran Magenta. Untuk pertama kali dalam hidupnya Magenta


meminta sesuatu kepadanya.


            “Iya Kak.”


Sedia


yang mendengar jawaban Senja pun semakin kesal. Aaa bodo banget sih si Senja kalau abang gue di sini dia nggak bakal


fokus ngerjain tugas. Huuft suasana macam apa ini?


Kasih


yang mendengarkan cerita Sedia pun tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha


wah harusnya gue ada di situ. Gue pengen tahu gimana muka si Senja kalo lagi


gugup.”


“Seumur


hidup gue baru kali ini gue lihat Senja keringat dingin gitu.” Kata Sedia.


“Diam


lo pada. Gimana nggak gugup kalo orang yang selama ini lo suka ada dihadapan lo?”


“Iya,


bercanda doang Senja. Sensi banget sih”


“Btw


guys, nama gue ada di makalah kan?”


“Ada,

__ADS_1


santai aja. Lagian salah gue sama Senja juga bisa lupa sama lo.”


__ADS_2