Kasih Abadi

Kasih Abadi
BAB 4 Sinyal Baik


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Kasih yang sedang membacakan puisinya diiringi petikan gitar. Tentu saja Kala tak akan melewatkan perform Kasih kali ini. Ia selalu berada di tempat yang sama dan masih memakai seragam sekolahnya. Kasih pun mengakhiri performnya dengan lagu kuingin kau tau dari the overtunes. Sebelum menuruni panggung Kasih tersenyum manis pada Abadi yang seolah mengatakan bahwa performnya kali ini khusus untuk Abadi. Ya entah bagaimana Abadi bisa duduk santai di cafe semesta. Setelah menuruni panggung Kasih pun mencoba mencari Abadi, namun ia tak lagi melihatnya. Yang ia temui justru Kala yang tengah tersenyum manis padanya.


"Hai, Kasih."


"Eh lo, lihat cowok yang tadi duduk di sini nggak?"


"Nggak tahu, gue kan tadi cuma merhatiin lo. Emang siapa tu cowok?"


"Bukan siapa siapa. Btw ngapain lo di sini?"


"Lah kan gue fans pertama l yang selalu setia melihat perform lo secara suka rela."


"Iya deh iya percaya gue."


"Btw lo pulang naik apa?"


"Busway kayaknya."


"Lah motor lo kemana Kas?"


"Tadi pas gue mau berangkat bannya bocor. Ya sudah gue bareng nyokap gue aja."


"Mau nebeng gue nggak?"


"Ngga deh, nanti gue ngerepotin."


"Yaelah santai aja kali."


Saat Kasih ingin menanggapi perkataan Kala, Maya pun datang menghampiri Kasih.


"Kasih."


"Eh Mama, Mama ngapain di sini?"


"Mama jemput kamu lah."


"Tadi katanya Mama mau lembur."


"Nggak jadi Mama kepikiran sama kamu. Nanti aja dikerjain di rumah."


"Ya sudah nanti Kasih bantuin."


"Ini, Abadi ya?"


"Bukan Ma."


"Kala tante." Kata Kala memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Maya.


"Eh maaf ya tante salah orang."


"Iya tante nggak apa apa."


"Wah ternyata anak mama banyak juga yang minat."


"Diskon kali ah, pulang yuk Ma. Kala gue balik dulu ya."


Kasih pun segera mengajak mamanya pulang sebelum mamanya membongkar banyak hal tentang dirinya.


"Tante duluan ya Kala."


"Iya tante hati hati ya. See you Kasih." Kata Kala yang dibalas senyuman Maya dan anggukan dari Kasih.


Malam pun tiba dan Kasih menepati janjinya untuk membantu pekerjaan mamanya. Tiga jam sudah berlalu semenjak ia membantu mamanya.


"Kasih, kamu nggak ada tugas ya?"


"Nggak ada Ma. Aku juga heran bisa nggak ada tugas sama sekali."


"Ya mungkin masih hari tenang karena kamu kan baru masuk sekolah. Masih pemanasan kali."


"Udah kayak olahraga aja Ma. Ada pemanasan segala."


"Oh iya yang tadi itu temen kamu siapa namanya? Mama lupa."


"Oh si Kala."


"Oh iya Kala, kayaknya dia suka deh sama kamu."


"Ih nggak mungkin lah Ma. Lagian Kala itu adek kelas aku, ya kali aku suka sama berondong."


"Apa salahnya sama adek kelas Kasih? Lagian kamu cuma selisih setahun masak dibilang berondong. Kalau kamunya kuliah terus pacar kamu anak SMP baru tuh doyan berondong."


"Hahaha Mama bisa aja ya."


"Kelihatan banget lho kalau dia suka sama kamu, percaya deh sama mama."


"Ih Mama dukung aku sama Abadi atau sama Kala sih."


"Ya kali aja kamu udah nyerah gitu sama Abadi. Kan bisa sama Kala."


"Kala jadi pelampiasan dong. Mama kok ngajarin yang nggak bener sih."

__ADS_1


"Iya iya maaf mama bercanda sayang. Lagian mata kamu udah merah gitu, pasti ngantuk ya."


"Tapi ini kan belum selesai semua Ma."


"Udah nggak apa-apa. Kamu mau bantuin aja mama udah seneng."


"Ya udah aku tidur dulu ya. Good night Mama." Kata Kasih sambil mencum pipi mamanya.


***


Keesokan harinya maya dikejutkan oleh Kasih yang sedang membuat kopi di dapur.


"Kamu pagi pagi mau minum kopi? Perasaan yang begadang kemarin mama."


"Ini buat Abadi Ma. Kasih mau ngembaliin kopi Abadi yang Kasih tumpahin tempo hari."


"Oh iya itu mama siapin bekal buat kamu juga. Dibawa ya."


"Ih tumben Mama baik banget sama Kasih."


"Iya dong sayang, mama bakal sering bawain kamu bekal biar nggak telat makan kamu."


"Mama nggak usah khawatir kalau soal makanan. Diperutku ini bisa menampung apapun. Mama berangkat gih, nanti macet lho."


"Iya mama berangkat dulu. Kamu hati hati ya nanti."


"Mama juga hati hati." Teriak Kasih.


***


"Abadi." Teriak Kasih.


Sesampainya Kasih di sekolah tanpa diduga ia melihat Abadi yang beranjak pergi dari parkiran motor. Karena ia tidak mau kehilangan jejak Abadi lagi, ia pun memanggil Abadi dengan suara yang lantang.


"Lo siapa?" Tanya Abadi.


"Lo pinter tapi pikun ya. Gue Kasih."


"Oh Kasih. Mau ngapain ya?"


"Nih gue mau ngasih lo kopi. Tapi"


Kasih pun tak melanjutkan perkataannya karena ia melihat Abadi saat ini tengah meminum kopi buatannya. Oh my god mimpi apa gue, kok bisa dia berubah sedrastis itu. Kenapa Abadi jadi baik gini ya. Kata Kasih dalam hati.


"Makasih ya kopinya enak. Gue suka." Kata Abadi sambil tersenyum. Kasih pun dibuat cengo oleh senyumannya. Bagaimana tidak ia masih tak membayangkan bisa melihat senyum Abadi yang jarang ia tunjukan. Bahkan Abadi senyum tepat dihadapannya.


"Tapi waktu itu yang gue jatuhin americano, gue pikir lo nggak suka minum latte makanya tadi gue sedikit khawatir."


"Oh iya? Tapi gue lebih suka latte kok."


"Masak sih? Kok gue nggak inget ya? Mungkin karena gue lagi banyak pikiran kali ya jadi rada kasar ke lo dan mungkin karena itu juga gue belinya americano bukan latte."


"Iya juga ya. Gue nggak kepikiran sampai ke situ."


"Maaf ya kalau gue sempet kasar sama lu. Btw makasih lattenya gue ke kelas dulu. Sudah mau bel."


Kasih pun hanya menanggapi ucapan Abadi dengan seyuman manis dan anggukan kepala.


Gila tu anak kenapa jadi baik banget sih? Kesambet apa coba? Eh bukannya ini sinyal baik ya buat gue, jadi gue ada peluang buat deketin Abadi. Tapi kok rasanya ada yang ngeganjel gitu ya. Perubahan Abadi itu terlalu mendadak.


Kasih yang tengah berdebat dengan pikirannya pun harus berhenti karena bel masuk sekolah telah berbunyi.


"Bodo amat, yang penting gue nggak punya hutang lagi."


Tapi kalo hutang gue udah lunas, gue nggak ada alasan buat dekatin Abadi dong. Duh bego banget Kasih. Kenapa gerakan tangan gue lebih cepat dari pada otak gue sih.


***


“Kas, lu kenapa sih?” tanya Sedia.


Hari ini Sedia memang sengaja duduk di sebelah Kasih karena teman sebangku Kasih tidak masuk sekolah. Senja? Mana peduli dia, yang terpenting bagi Senja adalah lingkungan yang nyaman untuk dia fokus belajar. Saat ini sedang berlangsung pelajaran matematika dengan guru yang sangan killer.


“Kas... Kasih!” bisik Sedia pelan namun tidak dijawab oleh Kasih.


Sedangkan yang Kasih lakukan saat ini adalah melihat papan tulis dengan tatapan kosong. Entah apa yang memenuhi pikirannya.


“Woi Kasiih!” Teriak Sedia tanpa sengaja dan mengagetkan seluruh penghuni kelas tak terkecuali guru matematika.


Kasih yang mendengar teriakan keras Sedia pun kaget dan memandang Sedia dengan tatapan bingung.


“Kamu yang teriak dan teman yang kamu panggil keluar sekarang juga!” Perintah guru matematika.


Sedia yang mendengar perintah guru matematika itu pun segera berdiri melewati Kasih sambil melemparkan tatapan membunuhnya. Kasih yang diliputi rasa bersalah segera mengekor Sedia. Ketika mereka sampai di depan kelas, mereka meminta maaf kepada guru matematika dan keluar dari kelas. Kasih masih mengekor Sedia hingga tanpa sadar ia sampai di koridor dekat kantin.


“Waah akhirnya gue bisa keluar juga.” Kata Sedia dengan ceria berbanding terbalik dengan ekspresinya ketika keluar kelas tadi. Tatapannya seakan siap menerkam Kasih hidup-hidup.


“Apa-apaan nih kok lo seneng?”


“Senenglah akhirnya gue bisa ke kantin. Lapar banget perut gue belum sarapan.”


“Jadi lo dari tadi ngerjain gue? Gila, udah was-was aja gue kirain bakal kena semprot dari lo.”

__ADS_1


“Yee ngapain juga. Makan yuk Kas, lapeer.” Kata Sedia sambil menarik lengan Kasih.


Sedia dan Kasih pun memesan nasi pecel untuk sarapan.


“Di, lo yakin mau makan di kantin? Tar kalo keciduk sama OSIS terus masuk BK gimana? Ogah gue.”


“Yaelah santai Kas. Lo kira gue ngajak lo bolos tanpa pertimbangan.”


Kasih yang mendengar penjelasan Sedia pun semakin penasaran. Hal gila apa lagi yang akan dilakukan Sedia. Dan betapa terkejutnya Kasih melihat Sedia duduk lesehan di bawah meja tempat ibu penjual nasi pecel.


“Lo mau ngapain di situ?”


“Makan lah.”


“Di kolong meja?”


“Ini tempat teraman Kas. Udah jangan ngomong mulu lo. Perut gue makin keroncongan.”


Kasih pun dengan sedikit terpaksa mengikuti Sedia. Kasih bahkan masih sempat meminta izin ibu penjual nasi pecel. Untung saja si ibu baik hati.


“Di, kalo gue pikir-pikir sekali lagi nih kok gue ngerasa dimanfaatin ya. Mana kalo ingat tatapan mata lo gue, pengen gue colok.”


“Nah elo mata ke papan tulis pikiran ke yang lain.”


“Kalau gue nggak melamun sekali pun, lo pasti tetap teriakin nama gue kan? Mana berani lo teriakin nama Senja.”


“Iya elo lah siapa lagi. Takut gue kalau Senja. Takut nggak dicontekin hahaha.”


Setelah selesai makan, Kasih pun bingung kemana lagi tujuannya kali ini. Sedangkan jam istirahat masih 1 jam lagi.


“Di, tanggung jawab dong. Mau kemana nih? Masih sisa satu jam.”


“Ke lapangan yuk.”


“Ngapain?”


“Kelas Bang Magenta kan hari ini olahraga. Ya walaupun waktunya udah habis, tapi biasanya Abang main basket dulu sama Abadi.”


Mendengar kata Abadi membuat mata Kasih berbinar. Sorot mata itu tak luput dari pengihatan Sedia.


“Gila lo seriusan suka sama Abadi. Sampai segitunya dengar nama Abadi doang.”


“Yuk!” Ajak Kasih sambil melingkarkan lengannya ke lengan Sedia.


“Kemana?”


“Lihat Abadi main basket.”


Sedia pun menghembuskan nafas berat dan mengikuti setiap langkah Kasih. Ya hitung-hitung membayar hutang budinya pada Kasih yang suda menemaninya bolos.


“Dia, lo bohong ya? Mana si Abadi? Nggak ada tuh.”


“Ya mana gue tahu. Lo kira gue emaknya.”


“Yaah mau ngumpet kemana dong kita?”


“Perpus aja yuk Kas!”


“Ngapain ke perpus, yang ada gue ngantuk.”


“Emang tujuan gue mau tidur.” Jawab Sedia sambil berjalan menuju perpustakaan dan meninggalkan Kasih yang masih mencerna perkataannya. Kasih pun segera mengikuti Sedia.


Sesampainya di perpustakaan Sedia menuju tempat paling belakang yang nyaman untuk tidur. Namun anehnya kali ini Sedia tidak mengantuk. Pemandangan di sebelahnya membuat rasa kantuknya menghilang seketika. Lagi-lagi ia melihat Kasih sedang melamun.


“Kas, lo mikirin apaan sih? Tadi di kelas juga lo ngelamun mulu?”


“Abadi.”


“Astaga bucin banget lo.”


“Nggak masalah bucin. Gue tadi pagi kan bawa Americano coffee buat Abadi, dan lo tahu apa yang dilakukan Abadi? Dia senyum ke gue anjir, dia jelasin kenapa selama ini kasar ke gue.”


“Serius lo? Tumben si Abadi baik banget?”


“Dan begonya gue kenapa gue ngasih kopinya hari ini. Kan jadi nggak ada alasan gue buat dekat sama Abadi lagi.”


“Itu doang yang lo pikirin dari tadi?” Tanya Sedia yang dijawab anggukan pelan.


“Kasiih lu polos apa pura-pura polos sih. Mungkin pertemuan pertama lo sama Abadi itu kebetulan doang. Dan lo mau berharap berapa banyak kebetulan itu bakal datang ke elo? Usaha dong Kas. Bikin momen yang bisa lo lalui sama Abadi. Kayak si Senja tuh. Gila sekutu bukunya Senja dia masih paham sama masalah beginian. Nah elo yang puitisnya setinggi gunung malah nggak ngerti.”


“Jadi intinya gue harus ngejar Abadi nih? Kok gue kesannya murahan banget ya.” Jawab Kasih yang dibalas Sedia dengan tamparan pelan di bibirnya


“Woi, itu mulut dijaga. Ya kalau dekatin jangan terlalu agresif Kas. Bikin momen sealami mungkin. Atau bikin Abadi notice keberadaan lo.”


“Iya iya gue usahain.”


“Btw kenapa lo bisa naksir sama manusia se-freak Abadi sih.”


“Karena gue cerita ke mama tentang Abadi. Dan mama bilang gue suka sama Abadi.”


Penjelasan polos Kasih pun membuat Sedia tertawa terbahak-bahak hingga seluruh penghuni perpustakaan melihatnya. Sedia yang sadar bahwa keberadaannya di perpustakaan mulai terancam, ia pun bergegas meminta maaf.

__ADS_1


Tanpa Kasih dan Sedia sadari di rak bagian paling belakang, terlihat Abadi sedang tersenyum sinis setelah mendengarkan semua perakapan Kasih dan Sedia.


“Menarik.” Kata Abadi sambil tersenyum sinis dengan tatapan tajam seperti biasa. Namun ada sedikit yang berbeda dari tatapannya. Di matanya terpancarkan aura kejahatan yang tak pernah Nampak di mata Abadi sebelumnya.


__ADS_2