Kasih Abadi

Kasih Abadi
BAB 2 Antares dan Azalea


__ADS_3

Terlihat siluet seorang gadis menatap bintang bintang dari jendela kamarnya di lantai 2. Bintangnya berpijar bergantian namun selaras, bisiknya pada dirinya sendiri.


"Kasih, Mama buatin coklat panas nih." Yah gadis itu adalah Kasih.


"Iya Mama makasih ya."


"Yaudah nanti jendelanya jangan lupa ditutup. Mama ke bawah dulu."


"Iya Ma."


Saat mamanya sudah pergi, Kasih pun melanjutkan kegiatannya melihat bintang malam dan menyesap coklat panasnya sedikit demi sedikit. Tiba tiba saja wajah kesal Abadi memenuhi pikirannya. Ia teringat kembali 2 hari terakhir yang ia habiskan bersama Abadi. Dari mulai menumpahkan kopi Abadi sampai mengejar-ngejar Abadi untuk mengembalikan kopinya dalam bentuk uang.


"Ih kenapa aku jadi mikirin Abadi sih. Cowok ngeselin kayak gitu. Eem Tapi keren juga sih, apalagi pas Abadi mulai fokus sama dunianya. Ah pas basket juga, gila keren banget."


Kasih pun teringat saat ia menemani Sedia latihan dan tanpa disengaja ia juga melihat Abadi bermain basket. Meskipun Abadi bukan anggota klub basket namun ia sering latihan basket di lapangan. Kemampuan yang ia miliki pun setara bahkan lebih unggul dibandingkan anggota klub basket. Awalnya Abadi memang sering diusir karena dianggap menggangu latihan klub basket. Namun karena pelatih dan anggota klub sudah lelah menghadapi sikap Abadi yang keras kepala, akhirnya mereka membiarkan Abadi bermain basket selagi tidak mengganggu kegiatan latihan klub basket. Seketika itu juga Kasih mulai terpesona oleh aura Abadi.


"Bisa ketawa juga dia." Kata Kasih sambil memperhatikan Abadi bermain basket.


-Flashback off-


"Abadi memang beda, entah kenapa waktu aku tadi lihat dia main basket aura dia keluar banget. Abadi yang batu, ngeselin, dan nggak peduli sama keadaan sekitar berubah drastis jadi Abadi yang ceria dan mudah tertawa." Kata Kasih dalam hati.


"Ini kenapa aku jadi mikirin Abadi sih. Kenal juga nggak. Mending aku tidur." Kasih pun segera menutup jendela kamarnya dan mencoba untuk tidur. Sudah 20 menit Kasih mencoba menutup matanya namun ia tetap tidak bisa tidur, bahkan bayangan Abadi yang tersenyum masih memenuhi pikirannya.


"Aku kenapa sih? Kenapa kepalaku isinya Abadi mulu."


Karena hampir setengah jam tidak bisa tertidur Kasih pun memutuskan untuk turun kebawah dan menemui mamanya yang sedang menghadap laptop.


"Mamaaa." Kata Kasih sambil duduk di sebelah mamanya dan memeluk erat mamanya.


"Ada apa Kasih? Manja banget sih." Tanya Maya, mama Kasih sambil terkekeh pelan melihat anak semata wayangnya yang manja padanya.


"Mama sibuk nggak?"


"Kalo buat Kasih Mama pasti ada waktu."


"Ma, Kasih mau curhat nih."


"Curhat? Masalah cowok?"


"Ih kok Mama bisa tahu?"


"Hahaha kamu itu mudah ditebak."


"Semudah itu ya Ma, bahkan Sedia sama Senja juga bisa."


"Ih anak mama udah gede ya, udah mulai suka sama cowok."


"Mama aku kan nggak bilang kalau suka sama cowok. Aku cuma mau curhat sama Mama."


"Iya iya mau curhat apa kamu?"


Kasih pun menceritakan awal mulai ia bertemu dengan Abadi, mengejar-ngejar Abadi untuk mengembalikan uang, dan melihat Abadi yang berbeda ketika bermain basket.


"Kasih merasa kalau Abadi yang batu itu bukan Abadi Ma."


"Kalo bukan Abadi siapa Kasih? Hantu?"


"Ih bukan Mama, aku kan belum selesai cerita."


Maya memang sengaja menggoda anaknya, ia masih tak menyangka anak yang ia besarkan sekarang diri kini sudah tumbuh menjadi remaja yang sedang menyukai seseorang.


"Ya sudah lanjutin gih."


"Abadi yang biasa Kasih kenal. Eh nggak maksud aku Abadi yang biasa aku amati itu kayak punya dinding pembatas antara dia sama orang lain sedangkan Abadi pas main basket itu beda. Aku kayak lihat tanaman yang hampir mati terus hidup lagi."


Kasih pun terus menceritakan Abadi, Abadi dan Abadi juga yang membuatnya sulit tidur. Genap satu jam penuh Kasih bercerita tentang Abadi kepada mamanya.


“Oke kesimpulan Mama apa?"


"Kamu suka sama Abadi."


"Nggak mungkin Mama, masak Kasih suka sama cowok kayak Abadi."


"Kenapa nggak? Buktinya sudah satu jam penuh kamu cerita tentang Abadi sama mama. Mama nggak pernah lihat kamu cerita tentang cowok sampai se excited ini"

__ADS_1


Kasih pun terdiam dan melihat jam dinding. Benar juga saat ini jam sjdah menunjukkan pukul 22.00 sedangkan Kasih ingat betul ia menemui mamanya pukul 20.55 dan tidak butuh waktu lebih dari 5 menit untuk menuruni tangga dan menemui mamanya.


"Tapi Ma masak aku suka sih sama Abadi? Aku aja baru ketemu kemarin. Aku cuma kepo aja Ma. Baru kali ini aku ketemu orang kayak Abadi."


"Kasih, kamu itu nggak bisa mengendalikan perasaan. Kamu nggak akan tahu siapa, kapan, dimana dan apa yang membuat hati kamu tertarik. Bahkan logika pun nggak bisa memilih pada siapa hatimu akan tertuju."


"Sekarang aku tau kenapa aku bisa kerja part time di cafe semesta."


"Lho kok kamu jadi mengalihkan pembicaraan sih. Mama serius loh ini."


"Aku juga serius Ma. Ternyata bakat menulisku, aku dapat dari Mama."


Kasih pun menghembuskan napas lega dan melanjutkan perkataannya.


"Akhirnya terjawab sudah teka teki terbesar di hidup aku." Maya yang mendengarkan celotehan anaknya hanya bisa tersenyum dan memeluk erat Kasih.


"Jadi intinya aku suka sama Abadi Ma?."


"Kalau dari yang mama lihat sih iya. Kamu konfirmasi sendiri sama hati kamu deh."


"Ih mama lucu deh. Gimana coba caranya konfirmasi hati." Kata Kasih sambil menguap pelan.


"Tidur gih kamu. Udah jam 11 lho, besok kan sekolah."


"Ya ampun Ma, jadi aku udah 2 jam curhat ke Mama?"


"Iya sudah gih tidur."


"Mama juga tidurnya jangan malam-malam, besok kan kerja."


"Iya sayang."


Kasih pun menyelesaikan sesi curhatnya dengan mencium pipi kanan mamanya dan mengucapkan selamat malam kepada mamanya.


"Selamat malam Mama, semoga Mama tidur nyenyak dan nggak mimpi apapun. Aku nggak akan biarin mimpi membuat Mama berpikir lebih keras lagi bahkan saat Mama tidur."


"Makasih sayang, mama juga berharap semoga hubungan kamu sama Abadi lancar ya."


"Iiih mamaa." Teriak Kasih sambil berlari menuju kamarnya.


***


"Itu mulut mercon banget sih Kas, rame bener." Kata Sedia menanggapi teriakan Kasih.


"Masih pagi Kas, jangan bikin ulah deh." Lanjut Senja.


"Justru karena masih pagi Senja, gue masih semangat semangatnya nih."


"Oke. Sekarang berita baik apa yang lu bawa?" Tanya Sedia pada Kasih.


"Kalian tebak dong."


"Eem, lu menang lomba puisi? Puisi lu bakal diterbitin?" Tebak Senja.


"No."


"Jabatan lu makin tinggi di cafe? Lu naik gaji? Atau nyokap lu yang naik gaji? Dibeliin mobil?" Tebak Sedia


"Tetoot. Salah semua."


"Terus apa Kasih?"


"Sini deh gue bisikin."


Secara otomatis Senja dan Sedia pun merapatkan diri pada Kasih agar dapat mendengar ucapan Kasih.


"Gue suka sama Abadi." Kata Kasih pelan dan jelas.


"Apa?" Teriak Sedia pada Kasih.


"Sedia lu jangan teriak di kuping gue dong."


"Berita gini doang lu bilang penting?"


"Ini soal hati gue Senja. Penting dong buat gue."

__ADS_1


"Gila Kasih lu masih waras kan? Nggak sakit kan lu? Lu tadi berangkat lewat kuburan mana? Kesambet ya lu?" Kata Sedia tanpa jeda.


"Di lu bisa biasa aja nggak sih. Wajar kali gue suka sama cowok."


"Ya masalahnya yang lu suka itu Abadi Kas. Abadi."


"Ya apa salahnya sih suka sama Abadi. Abadi ganteng kok, pinter, jago main basket pula." Tanggapan Senja tentang Kasih yang suka pada Abadi.


"Ganteng iya, pinter iya, jago main basket juga iya. Tapi dia itu aneh tau nggak? Kasih lu lihat sendiri kan kemarin gimana ekspresi Abadi pas main basket. Beda banget sama dia yang biasanya. Kayak ada dua orang di dalam satu tubuh."


"Dan itu yang bikin gue tertarik sama dia."


"Wah, gila selera lo aneh banget. Lo juga Senja."


"Dan secara nggak langsung lo mengakui kalo abang lo aneh. Tapi tenang aja gue tetap suka kok." Kata Senja.


Belum sempat Sedia membalas perkataan Senja, guru untuk pelajaran pertama memasuki kelasnya dan membuat Sedia mau tak mau harus meredam kembali emosinya.


***


Disaat jam istirahat seperti biasa Kasih, Senja dan Sedia pergi ke kantin untuk makan siang. Kali ini Kasih membawa bekal yg sudah disiapkan mamanya.


"Tumben lo bawa bekal Kas." Tanya Senja.


"Iya nyokap yang masak tadi pagi."


"Kenapa gue makin sayang sama nyokap lo ya." Kata Sedia yang dihadiahi Kasih dengan jitakan di kepala.


"Nyokap gue Sedia. Kok lo yang baper."


"Ya gue kan udah menganggap Tante Maya kayak nyokap gue sendiri. Lo tahu sendiri kan nyokap bokap gue sibuknya minta ampun. Weekand aja belum tentu di rumah."


"Yaelah Di udah ah kenapa jadi menye-menye gini. Makan yuk laper gue."


"Perut mulu yang lo pikirin." Jawab Sedia ketus.


"Yee masalah perut mah nomor satu."


"Abadi lo kemanain?" Tanya Sedia.


"Kalo perut gue kosong gue nggak bisa ngejar Abadi dong. Makanya perut itu nomor satu."


"Terserah lo Kas. Lo pada pesen apa? Biar gue yang pesenin." Kata Senja.


Kasih dan Sedia pun memesan hal yang sama dengan Senja.


"Di, lo kalau sepi di rumah ke rumah gue aja. Udah lama juga lo sama Senja nggak main ke rumah."


"Uuu baik banget sih." Kata Sedia sambil memeluk Kasih.


Senja pun datang membawa makanan pesanan mereka dibantu oleh mamang yang jualan. Saat di tengah-tengah kegiatan makan mereka Kasih teringat bahwa kemarin Senja dan Magenta pulang bersama. Ia pun mulai bertanya pada Senja bagaimana perkembangan hubungannya dengan Magenta.


"Senja lo kemarin gimana sama Bang Magen?" Kata Kasih.


"Seneng banget gue, dag dig dug mulu pas dibonceng. Rasanya rumah gue sama sekolah deket  banget, masak baru dibonceng udah diturunin aja. Terus pas di jalan juga dia nyuruh gue meluk pinggangnya. Dan pas Kak Magenta mau balik, dia bilang ke gue jangan lupa makan gitu. Huaa seneng banget, gue yakin pasti hubungan gue sama dia sekarang bakal makin deket."


"Lo jangan berharap terlalu tinggi Senja. Nih ya kalau gue sakit juga abang nyuruh gue peluk dia biar gue nggak jatuh dari motor. Pas abang mau balik itu dia marahin lo bukan perhatian sama lo. Dia cuma nggak mau lo nyusahin dia lagi." Jelas Sedia.


"Lo kok gitu sih Di, lo nggak mau gue jadian sama abang lo?"


"Yee sensi banget sih. Gue itu cuma nggak mau lo berharap terlalu tinggi, jatuhnya sakit."


"Setuju gue sama Dia. Lo baper boleh bego jangan." Lanjut Kasih.


Mereka pun melanjutkan mengobrol hingga bel masuk berbunyi.


***


Sore ini, kusampaikan sebuah kisah resah dari Azalea salah satu flos yang mampu menarik perhatian Antares si penduduk angkasa.


"Azalea, aku berada di bagian selatan langit bumi. Semua orang melihatku, namun tidak denganmu." - Antares -


"Aku hanya penikmat langit, yang mengagumimu tanpa harus bertemu denganmu." - Azalea -


"Aku merah bukan berarti aku marah, aku sadar aku jauh hingga tak tersentuh. Kita berjarak bahkan tak ada yang mulai bergerak." - Antares -

__ADS_1


"Jauh itu tidak dekat, rinduku makin pekat sedangkan rasi bintangmu makin tak terlihat. Bahkan sekedar menyapa pun tak sempat." - Azalea -


__ADS_2