Kasih Abadi

Kasih Abadi
BAB 8 Americano or Latte


__ADS_3

Saat bel istirahat berbunyi Kasih segera keluar kelas dan tanpa diduga di depan kelas sudah ada


yang menunggunya. Bukan Abadi tapi Kala.


“Hai


Kasih.”


“Kala


ngapain lo di sini?”


“Gue


mau tanya sesuatu sama lo.”


Tanpa


Kala dan Kasih sadari ada dua pasang mata yang menemukan keberadaan mereka.


Mungkin saja dua pasang mata tersebut mulai mencurigai pembicaraan mereka.


“Senjaa.”


Bisik Sedia sambil menarik lengan Senja.


“Kenapa


sih Di?”


“Makanya


itu buku simpen dulu.”


“Yee


terserah gue lah.”


“Woi


modelan kayak gini mau dapetin abang gue?”


“Gini-gini


gue pinter kali.”


“Otak


pinter tapi nggak bisa ngomong depan abang gue. Ditikung baru tahu rasa lo.”


“Apa


gunanya gue punya temen adiknya gebetan gue.”


“Ssst.”


“Lo


kenapa sih? Ini kenapa kita ngumpet. Udah kayak maling aja.”“Emang


mau nyolong.”


“Dosa


woi.” Kata Senja sambil memukul belakang kepala Sedia.


“Sakit


anjir. Mau nyolong info maksudnya. Tuh lihat ada Kala sama Kasih.”


“Lah


terus? Samperin lah.”


“Senja


oon banget sih lo. Ini kita mau nguping.”


“Ngapain?


Mending dengar langsung.”


“Gue


ada firasat kalo Kala suka sama Kasih.”


“Ya


terus? Apa hubungannya sama kita.”


“Berisik


lo. Diam aja, dengerin tuh mereka ngomong apa.”


Sebenarnya


Kala sempat ragu untuk mendatangi Kasih. Entah kenapa Kala merasa Kasih sudah


membangun tembok kokoh di antara mereka. Padahal Kala belum sempat


memperlihatkan pesonanya. Kala juga merasakan tatapan yang berbeda antara Kasih


dan Abadi. Tatapan mereka memancarkan kebencian namun saling membutuhkan.


Tatapan yang sangat asing untuk Kala kenali.


“Lo


nanti ke Café Semesta Kan?”


“Iya


dong. Lo mau mampir kesana juga?”


“Pasti.


Gue udah kangen banget sama puisi buatan lo.”


“Emang


paling bisa ya. Btw lo nggak ke kantin?”


“Ini


mau ke kantin.”


“Sendiri?”


“Berdua


kalo sama lo.” Kata Kala sambil memberikan senyuman manisnya.


“Berempat


aja kali ya. Sedia, Senja kuy ke kantin.”


Kala


pun menyadari keberadaan Sedia dan Senja. Keberadaan Kasih memang membawa


pengaruh besar untuk Kala. Bahkan Sedia dan Senja pun terabaikan olehnya.


“Kalian


ngapain di situ?”


“Nyari


contekannya si Senja yang jatuh.” Jawab Sedia yang dipotong Kasih.


“Ya


kali Senja nyontek.”


“Kali


aja khilaf. Kantin yuk.” Balas Sedia dan segera mengalihkan pembicaraan.


Mereka


berempat pun menuju kantin bersama. Terlihat sepasang bola mata yang sangat


penasaran siapa lagi kalau bukan Abadi. Awalnya ia juga ngin mengajak Kasih ke

__ADS_1


kantin bareng namun niatnya terkubur karena melihat Kala dan Kasih yang tampak


akbrab. Ia pun semakin penasaran hubungan seperti apa yang dimiliki Kasih dan Kala.


“Bad


ngapain lo di sini?” tanya Magenta


Keberadaan


mereka pun menjadi pusat perhatian. Bagaimana bisa mereka yang terkenal dingin


dan tidak tertarik dengan wanita sedang berada di gedung kelas XI. Sebenarnya


apa yang mereka cari.


            “Ke kantin yuk.” Ajak Abadi yang


dibalas dengan anggukan Magenta.


Sesampainya


di kantin Abadi mulai mengedarkan pandanganya. Ia mulai mencari Kasih dan


teman-temannya. Ketemu. Abadi pun


melangkah mendekati mereka dan duduk di samping Kasih dan dengan otomatis


menggeser tempat Kala yang awalnya duduk di sebelah Kasih. Kasih yang tidak


menduga perilaku Abadi pun tersedak. Abadi yang melihat kondisi Kasih segera


memberikan sekotak good day rasa vanilla latte yang ia genggam dari tadi.


“Minum.”


Kata Abadi sambil menepuk pelan punggung Kasih untuk meringankan kondisi Kasih.


Kala


yang melihat situasi itu pun terkejut. Bagaimana bisa tatapan Abadi kepada


Kasih berubah secepat itu. Kala mengenali tatapan itu. Tatapan rasa penasaran


yang menuntut untuk lebih dekat. Kala merasa memiliki saingan yang cukup berat


sekarang.


            Berbeda dengan Kasih yang


diperhatikan banyak orang, Sedia hanya memandang satu objek saja yaitu Kala.


Sedia semakin yakin cara Kala memandang Kasih sangat berbeda dengan cara Kala


memandangnya. Apa Kala benar-benar menyukai Kasih? lalu perasaan aneh apa yang


ia rasakan sekarang? Rasanya Dadanya sesak entah apa penyebabnya. Tiba-tiba


saja tangan dingin yang menggenggam tangan kanannya membuat Sedia terkejut. Ia


menoleh kearah berasalnya tangan tersebut. Dan betapa terkejutnya Sedia melihat


Senja yang sudah pucat pasi. Awalnya Senja khawatir dengan kondisi temannya,


namun setelah melihat ke samping Senja ia hanya bisa menghela napas. Ia melihat


abangnya tengah menatap tajam kearah Senja. Sedia memahami kondisi Senja. Ia pun


jika berada di posisi Senja akan merasa tidak nyaman dengan tatapan menusuk


milik abangnya.


“Bang,


kedip! Mau gue colok” Kata Sedia memecahkan suasana yang rumit.


“Temen


lo kenapa? Sakit? Maagnya kambuh?”


“Lo


yang bikin dia sakit.” Perkataan Sedia pun dibalas dengan genggaman Senja yang


semakin erat.


“Kenapa


“Ya


karena lo di sini.”


Senja


yang mendengar perkataan Sedia pun segera menendang kaki Sedia.


            “Aaaau.”


            “Kenapa dek?” Tanya Magenta khawatir.


Bahkan perhatian Kala dan Abadi pun mulai teralihkan. Kini semua mata tertuju


pada Sedia.


            “Kaki gue ditendang semut.”


“Badak


kali.” Kata Kasih hingga membuat semua orang tertawa.


“Btw


Kas lo tadi bawa baju ganti kan?” Tanya Sedia mencoba mengalihkan perhatian


Senja. Agar Senja tidak gugup lagi.


“Ya


kali gue perform pake seragam.”


“Perform


apaan?” Tanya Abadi penasaran.


“Jadi


Kasih itu kerja part time di café semesta.” Kata Sedia


“Oh


iya? Nyayi?”


“Bukan,


baca puisi ya kan Kas?” Tanya Kala yang dijawab Kasih dengan acungan jempol.


“Nanti


habis pulang sekolah?” Tanya Abadi pada Kasih dan mengabaikan perkataan Kala


sebelumnya.


“Iya.


Mampir aja kalau sempat.”


“Tanpa


lu suruh juga gue bakal mampir.”


Kasih


menyadari bahwa sedari tadi Abadi masih saja memperhatikannya. Ia mulai merasa ada


yang aneh. Sebenarnya apa yang terjadi pada Abadi. Bagaimana bisa seseorang


berubah dalam semalam. Abadi kenapa sih?


Kok aneh gini? Kenapa dia berubah sebaik ini sama gue? Dan cara dia melihat gue juga beda. Biasanya hanya ada kemarahan dan


kebencian tapi gue juga melihat ada kehangatan dibalik tatapan Abadi. Tapi


sekarang cara Abadi melihat gue sangat lembut dan penuh dengan rasa penasaran.

__ADS_1


Tatapan Abadi semakin asing. Apakah ini pertanda baik dalam hubungan gue dan


Abadi?


***


Kemarin


aku menerima permen kiss bertuliskan “I miss you”


Dan


ku jawab “I miss you too”


Entah


untuk siapa aku membalasnya


Ku


rasa si pemilik permen kiss mencoba merayuku


Namun


aku tidak yakin


Entah


apakah bisa sebongkah es besar tiba-tiba mencair dalam sekejap?


Namun


faktanya itu yang saat ini ku rasa


Atau


hanya aku saja yang terlalu perasa?


Dan


betul saja besoknya si pemilik permen kiss berpaling dariku


Bahkan


saat ia berada tepat beberapa meter di sampingku


Aku


merasa ia berada di sisi lain dari bumi


Namun


tiba-tiba saja aku ingat dengan sekaleng soda dingin yang ia berikan padaku


beberapa hari lalu


Aku


masih tidak percaya bagaimana bisa sekaleng soda dingin menjadi hangat di tanganku


Lalu


apakah karaktermu yang dingin bisa hangat dalam genggamanku?


            Aneh. Kenapa Abadi nggak bereaksi


apa-apa? Yang sedang gue sampaikan adalah kisah gue sama dia. Ekspresi apa itu?


Apa Abadi pura-pura lupa? Tapi ekspresi di wajahnya menggambarkan kalo Abadi


nggak tahu apa-apa. Ada apa ini? Kenapa gue merasa dia bukan Abadi. Dengan


segala pemikirannya yang tak berujung Kasih berjalan menuju satu meja. Di sana


ada Senja, Sedia, Kala, Magenta dan tentu saja Abadi.


“Puisi


lo bagus banget Kas.” Kata Kala.


“Thanks


Kala.”


Tanpa


sengaja mata Kasih bertemu dengan Abadi.


            “Gue nggak nyangka lo punya bakat


sehebat itu. Jangan-jangan yang tadi itu pengalaman pribadi lo ya?” Sanjung


Abadi.


Kasih


pun terkejut dengan ucapan Abadi.


            “Sama mantan lo ya?” tanya Kala.


            “Jangan ngaco lo! Kasih itu belum


pernah pacaran.”


Belum


sempat Kala menjawab seorang waiters mendatangi mereka dan membawa minuman


pesanan Kasih. waiters itu membawa satu matcha, tiga latte dan dua americano.


            “Siapa yang pesen nih?” tanya Sedia.


            “Gue yang pesen.”


“Tumben-tumbenan.”


“Buruan


di minum atau gue suruh bayar lo.”


Sedia


pun segera mengambil latte, Senja mengambil matcha kesukaannya, Kala mengambil


latte kesukaannya, Magenta mengambil Americano dan Abadi mengambil latte juga.


Kasih pun kembali terkejut beberapa hari lalu Abadi mengatakan ia tidak


menyukai latte dan sekarang ia memilih untuk meminum latte. Abadi juga terlihat


sangat menikmati minumannya.


            “Kas, lo tumben pesan Americano?”


Tanya Sedia


            “Gue penasaran aja.”


Mereka


pun melanjutkan percakapan mereka hingga pukul 17.00 WIB. Magenta pun


memutuskan untuk pulang. Awalnya ia ingin mengajak Sedia untuk pulang bareng


namun ditolak Sedia dengan alasan Sedia, Senja dan Kasih akan kerja kerja


kelompok di rumah Kasih.


            “Gue balik dulu ya.” Pamit Abadi.


            “Jangan lupa minum obat. Ya kali


tiap kita ketemu, lo sakit mulu.” Kata Magenta yang dibalas anggukan oleh


Senja.


            Di parkiran café semesta, Magenta


merasa ada yang aneh dengan Abadi. Apa mungkin?


            “Dave?” panggil Magenta dan Abadi


menoleh kearahnya.

__ADS_1


            “Shit, apa-apaan ini?” Batin


Magenta.


__ADS_2