
Saat bel istirahat berbunyi Kasih segera keluar kelas dan tanpa diduga di depan kelas sudah ada
yang menunggunya. Bukan Abadi tapi Kala.
“Hai
Kasih.”
“Kala
ngapain lo di sini?”
“Gue
mau tanya sesuatu sama lo.”
Tanpa
Kala dan Kasih sadari ada dua pasang mata yang menemukan keberadaan mereka.
Mungkin saja dua pasang mata tersebut mulai mencurigai pembicaraan mereka.
“Senjaa.”
Bisik Sedia sambil menarik lengan Senja.
“Kenapa
sih Di?”
“Makanya
itu buku simpen dulu.”
“Yee
terserah gue lah.”
“Woi
modelan kayak gini mau dapetin abang gue?”
“Gini-gini
gue pinter kali.”
“Otak
pinter tapi nggak bisa ngomong depan abang gue. Ditikung baru tahu rasa lo.”
“Apa
gunanya gue punya temen adiknya gebetan gue.”
“Ssst.”
“Lo
kenapa sih? Ini kenapa kita ngumpet. Udah kayak maling aja.”“Emang
mau nyolong.”
“Dosa
woi.” Kata Senja sambil memukul belakang kepala Sedia.
“Sakit
anjir. Mau nyolong info maksudnya. Tuh lihat ada Kala sama Kasih.”
“Lah
terus? Samperin lah.”
“Senja
oon banget sih lo. Ini kita mau nguping.”
“Ngapain?
Mending dengar langsung.”
“Gue
ada firasat kalo Kala suka sama Kasih.”
“Ya
terus? Apa hubungannya sama kita.”
“Berisik
lo. Diam aja, dengerin tuh mereka ngomong apa.”
Sebenarnya
Kala sempat ragu untuk mendatangi Kasih. Entah kenapa Kala merasa Kasih sudah
membangun tembok kokoh di antara mereka. Padahal Kala belum sempat
memperlihatkan pesonanya. Kala juga merasakan tatapan yang berbeda antara Kasih
dan Abadi. Tatapan mereka memancarkan kebencian namun saling membutuhkan.
Tatapan yang sangat asing untuk Kala kenali.
“Lo
nanti ke Café Semesta Kan?”
“Iya
dong. Lo mau mampir kesana juga?”
“Pasti.
Gue udah kangen banget sama puisi buatan lo.”
“Emang
paling bisa ya. Btw lo nggak ke kantin?”
“Ini
mau ke kantin.”
“Sendiri?”
“Berdua
kalo sama lo.” Kata Kala sambil memberikan senyuman manisnya.
“Berempat
aja kali ya. Sedia, Senja kuy ke kantin.”
Kala
pun menyadari keberadaan Sedia dan Senja. Keberadaan Kasih memang membawa
pengaruh besar untuk Kala. Bahkan Sedia dan Senja pun terabaikan olehnya.
“Kalian
ngapain di situ?”
“Nyari
contekannya si Senja yang jatuh.” Jawab Sedia yang dipotong Kasih.
“Ya
kali Senja nyontek.”
“Kali
aja khilaf. Kantin yuk.” Balas Sedia dan segera mengalihkan pembicaraan.
Mereka
berempat pun menuju kantin bersama. Terlihat sepasang bola mata yang sangat
penasaran siapa lagi kalau bukan Abadi. Awalnya ia juga ngin mengajak Kasih ke
__ADS_1
kantin bareng namun niatnya terkubur karena melihat Kala dan Kasih yang tampak
akbrab. Ia pun semakin penasaran hubungan seperti apa yang dimiliki Kasih dan Kala.
“Bad
ngapain lo di sini?” tanya Magenta
Keberadaan
mereka pun menjadi pusat perhatian. Bagaimana bisa mereka yang terkenal dingin
dan tidak tertarik dengan wanita sedang berada di gedung kelas XI. Sebenarnya
apa yang mereka cari.
“Ke kantin yuk.” Ajak Abadi yang
dibalas dengan anggukan Magenta.
Sesampainya
di kantin Abadi mulai mengedarkan pandanganya. Ia mulai mencari Kasih dan
teman-temannya. Ketemu. Abadi pun
melangkah mendekati mereka dan duduk di samping Kasih dan dengan otomatis
menggeser tempat Kala yang awalnya duduk di sebelah Kasih. Kasih yang tidak
menduga perilaku Abadi pun tersedak. Abadi yang melihat kondisi Kasih segera
memberikan sekotak good day rasa vanilla latte yang ia genggam dari tadi.
“Minum.”
Kata Abadi sambil menepuk pelan punggung Kasih untuk meringankan kondisi Kasih.
Kala
yang melihat situasi itu pun terkejut. Bagaimana bisa tatapan Abadi kepada
Kasih berubah secepat itu. Kala mengenali tatapan itu. Tatapan rasa penasaran
yang menuntut untuk lebih dekat. Kala merasa memiliki saingan yang cukup berat
sekarang.
Berbeda dengan Kasih yang
diperhatikan banyak orang, Sedia hanya memandang satu objek saja yaitu Kala.
Sedia semakin yakin cara Kala memandang Kasih sangat berbeda dengan cara Kala
memandangnya. Apa Kala benar-benar menyukai Kasih? lalu perasaan aneh apa yang
ia rasakan sekarang? Rasanya Dadanya sesak entah apa penyebabnya. Tiba-tiba
saja tangan dingin yang menggenggam tangan kanannya membuat Sedia terkejut. Ia
menoleh kearah berasalnya tangan tersebut. Dan betapa terkejutnya Sedia melihat
Senja yang sudah pucat pasi. Awalnya Senja khawatir dengan kondisi temannya,
namun setelah melihat ke samping Senja ia hanya bisa menghela napas. Ia melihat
abangnya tengah menatap tajam kearah Senja. Sedia memahami kondisi Senja. Ia pun
jika berada di posisi Senja akan merasa tidak nyaman dengan tatapan menusuk
milik abangnya.
“Bang,
kedip! Mau gue colok” Kata Sedia memecahkan suasana yang rumit.
“Temen
lo kenapa? Sakit? Maagnya kambuh?”
“Lo
yang bikin dia sakit.” Perkataan Sedia pun dibalas dengan genggaman Senja yang
semakin erat.
“Kenapa
“Ya
karena lo di sini.”
Senja
yang mendengar perkataan Sedia pun segera menendang kaki Sedia.
“Aaaau.”
“Kenapa dek?” Tanya Magenta khawatir.
Bahkan perhatian Kala dan Abadi pun mulai teralihkan. Kini semua mata tertuju
pada Sedia.
“Kaki gue ditendang semut.”
“Badak
kali.” Kata Kasih hingga membuat semua orang tertawa.
“Btw
Kas lo tadi bawa baju ganti kan?” Tanya Sedia mencoba mengalihkan perhatian
Senja. Agar Senja tidak gugup lagi.
“Ya
kali gue perform pake seragam.”
“Perform
apaan?” Tanya Abadi penasaran.
“Jadi
Kasih itu kerja part time di café semesta.” Kata Sedia
“Oh
iya? Nyayi?”
“Bukan,
baca puisi ya kan Kas?” Tanya Kala yang dijawab Kasih dengan acungan jempol.
“Nanti
habis pulang sekolah?” Tanya Abadi pada Kasih dan mengabaikan perkataan Kala
sebelumnya.
“Iya.
Mampir aja kalau sempat.”
“Tanpa
lu suruh juga gue bakal mampir.”
Kasih
menyadari bahwa sedari tadi Abadi masih saja memperhatikannya. Ia mulai merasa ada
yang aneh. Sebenarnya apa yang terjadi pada Abadi. Bagaimana bisa seseorang
berubah dalam semalam. Abadi kenapa sih?
Kok aneh gini? Kenapa dia berubah sebaik ini sama gue? Dan cara dia melihat gue juga beda. Biasanya hanya ada kemarahan dan
kebencian tapi gue juga melihat ada kehangatan dibalik tatapan Abadi. Tapi
sekarang cara Abadi melihat gue sangat lembut dan penuh dengan rasa penasaran.
__ADS_1
Tatapan Abadi semakin asing. Apakah ini pertanda baik dalam hubungan gue dan
Abadi?
***
Kemarin
aku menerima permen kiss bertuliskan “I miss you”
Dan
ku jawab “I miss you too”
Entah
untuk siapa aku membalasnya
Ku
rasa si pemilik permen kiss mencoba merayuku
Namun
aku tidak yakin
Entah
apakah bisa sebongkah es besar tiba-tiba mencair dalam sekejap?
Namun
faktanya itu yang saat ini ku rasa
Atau
hanya aku saja yang terlalu perasa?
Dan
betul saja besoknya si pemilik permen kiss berpaling dariku
Bahkan
saat ia berada tepat beberapa meter di sampingku
Aku
merasa ia berada di sisi lain dari bumi
Namun
tiba-tiba saja aku ingat dengan sekaleng soda dingin yang ia berikan padaku
beberapa hari lalu
Aku
masih tidak percaya bagaimana bisa sekaleng soda dingin menjadi hangat di tanganku
Lalu
apakah karaktermu yang dingin bisa hangat dalam genggamanku?
Aneh. Kenapa Abadi nggak bereaksi
apa-apa? Yang sedang gue sampaikan adalah kisah gue sama dia. Ekspresi apa itu?
Apa Abadi pura-pura lupa? Tapi ekspresi di wajahnya menggambarkan kalo Abadi
nggak tahu apa-apa. Ada apa ini? Kenapa gue merasa dia bukan Abadi. Dengan
segala pemikirannya yang tak berujung Kasih berjalan menuju satu meja. Di sana
ada Senja, Sedia, Kala, Magenta dan tentu saja Abadi.
“Puisi
lo bagus banget Kas.” Kata Kala.
“Thanks
Kala.”
Tanpa
sengaja mata Kasih bertemu dengan Abadi.
“Gue nggak nyangka lo punya bakat
sehebat itu. Jangan-jangan yang tadi itu pengalaman pribadi lo ya?” Sanjung
Abadi.
Kasih
pun terkejut dengan ucapan Abadi.
“Sama mantan lo ya?” tanya Kala.
“Jangan ngaco lo! Kasih itu belum
pernah pacaran.”
Belum
sempat Kala menjawab seorang waiters mendatangi mereka dan membawa minuman
pesanan Kasih. waiters itu membawa satu matcha, tiga latte dan dua americano.
“Siapa yang pesen nih?” tanya Sedia.
“Gue yang pesen.”
“Tumben-tumbenan.”
“Buruan
di minum atau gue suruh bayar lo.”
Sedia
pun segera mengambil latte, Senja mengambil matcha kesukaannya, Kala mengambil
latte kesukaannya, Magenta mengambil Americano dan Abadi mengambil latte juga.
Kasih pun kembali terkejut beberapa hari lalu Abadi mengatakan ia tidak
menyukai latte dan sekarang ia memilih untuk meminum latte. Abadi juga terlihat
sangat menikmati minumannya.
“Kas, lo tumben pesan Americano?”
Tanya Sedia
“Gue penasaran aja.”
Mereka
pun melanjutkan percakapan mereka hingga pukul 17.00 WIB. Magenta pun
memutuskan untuk pulang. Awalnya ia ingin mengajak Sedia untuk pulang bareng
namun ditolak Sedia dengan alasan Sedia, Senja dan Kasih akan kerja kerja
kelompok di rumah Kasih.
“Gue balik dulu ya.” Pamit Abadi.
“Jangan lupa minum obat. Ya kali
tiap kita ketemu, lo sakit mulu.” Kata Magenta yang dibalas anggukan oleh
Senja.
Di parkiran café semesta, Magenta
merasa ada yang aneh dengan Abadi. Apa mungkin?
“Dave?” panggil Magenta dan Abadi
menoleh kearahnya.
__ADS_1
“Shit, apa-apaan ini?” Batin
Magenta.