Kasih Abadi

Kasih Abadi
BAB 6 Sekaleng Soda Dingin


__ADS_3

"Abadi lepas! Tangan gue


sakit."


Abadi pun yang tanpa sadar


mencengkram pergelangan Kasih begitu kuat setelah mendengar teriakan Kasih ia


segera melepaskan cengkramannya. Namun karena terburu-buru ia justru


melemparnya dengan kasar.


"Aauu." Rintih Kasih.


Abadi hanya melirik sekilas pergelangan Kasih yang


terlihat sedikit lebam. Abadi tahu semua itu kesalahannya. Apa perlu gue kompres tangannya Kasih? Ih tapi nanti dia GR.


"Bad, lu mau ngapain sih ngajak


gue ke lapangan basket panas-panas gini? Kalau mau berjemur di pantai jangan di


sini."


Abadi pun melihat sekeliling dan benar saja ia berada


tepat di tengah lapangan basket. Lah


ngapain juga gue bawa Kasih ke lapangan basket.


"Woi Abadi." Teriak Kasih


tepat di samping telinga Abadi.


"Kasih itu mulut apa toa sih?"


"Lu ngapain nyeret gue


kesini?"


"Iseng doang."


"Tanggung jawab lu. Bentar lagi


udah mau masuk. Perut gue masih kosong."


"Makan lah."


"Yaelah kalo sekarang gue jalan


ke kantin pun udah ke buru masuk Bad."


Abadi pun merogoh kantong celananya dan menemukan


permen mint di sana. Tanpa berpikir panjang Abadi memberikan permen tersebut


pada Kasih.


"Nih. Buat ganjel perut."


"Lu kasih permen sebungkus juga


gue nggak bakal kenyang Abadi."


"Kalau nggak mau ya sudah."


Kata Abadi sambil beranjak pergi.


Belum sempat melangkah Kasih segera menghentikan Abadi.


"Mana?"


Setelah memberikan permen, bel masuk berbunyi Abadi


pun kembali ke kelasnya.


***


"Kasih, si Abadi ngajak lu


kemana sih? Makan siang." Tanya Sedia.


"Ya kali makan siang, orang Kasih


diseret udah kayak karung beras gitu." Kata Senja.


"Senja lu kalau ngomong suka


ngeselin ya." Jawab Kasih.


"Yang penting kan bener."


"Sekarang lu jelasin kemana aja


lu tadi?."


Kasih pun tersenyum malu.


"Lah malah senyum-senyum nggak


jelas." Kata Sedia.


"Jangan-jangan Abadi nembak elu


ya?."


"Suka aja kagak apalagi


nembak."


"Senjaaa." Rengekan Kasih.


"Lu kalau ngomong emang suka


bener ya." Kata Sedia yang disambut dengan tawa Senja.


"Stoop! Tadi itu si Abadi nyeret


gue ke tengah lapangan basket."


"Ngapain? Hormat bendera?"


Tanya Senja.


"Iseng doang katanya."


"Terus makan siang lu


gimana?"


"Ya gue nggak sempat makan


siang."


"Dan yang bikin lu senyum senyum


nggak jelas tadi kenapa? Lu diseret ke lapangan basket dengan alasan cuma iseng


doang dan nggak sempat makan siang pula. Senengnya itu dimananya Kasih?"


"Gue dikasih permen sama Abadi."


Sedia dan Senja yang mendengar alasan konyol Kasih pun


hanya bisa terdiam.


"Freak lu." Kata Sedia yang


melanjutkan kegiatannya menyalin tugas milik Senja. Senja pun melanjutkan

__ADS_1


kegiatan membaca buku-bukunya yang membosankan. Dan Kasih? Tentu saja masih


tersenyum manis entah apa yang memenuhi pikirannya.


            Setelah


berjam-jam di kelas Kasih mulai mengantuk. Apalagi saat jam istirahat tadi ia


tidak sempat makan siang. Lengkap sudah penderitaannya kali ini. Perlahan mata


Kasih mulai menutup.


            “Kasiiih.”


Teriak Sedia tepat di samping telinga Kasih.


            “Apaan


sih. Diem napa! Tar ketahuan Bu Susi.”


            “Bu


Susi pala lu! Lu lihat nih udah pada pulang semua.”


            “Lah


kenapa? Ada rapat guru?”


            “Kasih


oon lu kebangetan ya. Lu sudah tidur satu setengah jam penuh selama pelajaran


Bu Susi. Dan gue sama Sedia udah bangunin lu selama 10 menit dan lu nggak


bangun-bangun.”


            “Lu


tidur apa pingsan sih?”


            “Fix


kayaknya gue pingsan deh soalnya gue nggak inget tuh kapan gue tidur.”


            “Namanya


bukan pingsan tapi ketiduran Kasih.”


            “Serah


deh, gue mau balik.”


Kasih pun segera membereskan mejanya


dan pergi meninggalkan Sedia dan Senja.


            “Lah


malah ninggalin.” Kata Sedia.


            “Sudah


biarin. Balik yuk.”


            “Kasih


gimana?”


            “Kasih


nggak bakal lupa jalan pulang ke rumahnya Di.”


            “Iya


juga sih hehe.”


Sedia dan Senja pun memutuskan untuk


rumah Sedia.


            Dilain


sisi Kasih dengan terburu-buru berlari pulang dan belum sempat memakai tasnya, ia


justru merasakan sakit di pergelangan tangannya sampai tasnya terjatuh.


“Kok pergelangan


tangan gue sakit banget ya. Oh iya ini kan gara-gara si Abadi. Lagian itu


tangan apa rindu sih berat banget. Eh kok rindu hahaha wah udah eror nih otak gue.


Maksud gue itu tangan apa besi panas, udah kayak melepuh aja tangan gue.”


 Saat Kasih sedang asyik


dengan pikirannya sendiri, ia tidak sadar ada seseorang yang mendekat dan


menempelkan benda yang terasa dingin di pipi Kasih


            “Aaaaaa.”


Kasih yang terkejut pun berteriak sangat kencang.


Seseorang tersebut tidak tinggal


diam, ia langsung membekap mulut Kasih dengan tangannya. Kasih yang


diperlakukan secara tiba-tiba menggigit tangan seseorang itu dan hendak lari.


Namun saat Kasih mengambil tasnya ia merasa mengenali wajah seseorang yang


membekapnya tadi.


            “Abadi.


Lu ngapain di sini? Mau culik gue ya.”


            “Nggak


ada untungnya gue culik elu.”


            “Lah


terus ngapain pake bekap mulut gue segala?”


            “Lu


teriaknya kekencangan nanti dikira gue ngapain-ngapain lu lagi.”


            “Sorry


gue kirain tadi hantu.”


            “Nggak


ada hantu yang seganteng gue.”


            “Dih


pede banget lu.”


            “Ikut


gue yuk.” Ajak Abadi.


            “Kemana?”


            “Bentaran

__ADS_1


doang.”


            “Jangan


diseret kayak tadi, lu kira gue karung beras.”


            “Mirip


sih.” Jawab Abadi sambil berjalan terlebih dahulu.


Kasih pun yang mendengar respon Abadi


hanya bisa cemberut dan mengikuti langkah Abadi dari belakang. Setelah berjalan


sebentar sampailah mereka di bangku samping parkiran motor.


            “Duduk!”


perintah Abadi.


            “Yah


sudah nggak dingin lagi kan. Bentar lu tunggu di sini, awas jangan


kemana-mana.” Lanjut Abadi. “


“Lah ini si Abadi


kenapa sih? Jadi banyak ngomong gitu. Itu bocah kan biasanya kalo sama gue


judes banget. Kenapa hari ini aneh banget ya.”


Abadi pun kembali dengan membawa


sekaleng soda di tangannya.


            “Tangan


lu mana?” Kasih pun mengulurkan tangan kanannya.


            “Bukan


yang ini. Yang lebam tadi.” Kasih pun segera mengulurkan tangan kirinya.


            “Mau


lu apain?”


            “Dikompres


biar nggak bengkak.”


Abadi pun menempelkan sekaleng soda


dingin yang ia beli tadi ke tangan Kasih yang sedikit memerah karena


perbuatannya tadi.


“Ini si Abadi


kesambet apaan sih? Kok jadi baik gini?” Batin Kasih.


“Lu


jangan kepedean gue kompresin karena gue mau elu bahas masalah tanggung jawab.


Gue nggak mau ya besok lu cerewet bilang gue nggak bertanggung jawab cuma


gara-gara nggak gue obatin.”


            “Yaelah


gue nggak sepicik itu kali Bad.”


            “Faktanya


gitu kan. Meskipun cuma sekali lu pasti kepikiran buat ngomong kayak gitu.”


Kasih pun yang mendengar Abadi


berkata seperti itu hanya bisa terdiam. Ya faktanya Kasih memang sempat


berpikir seperti itu tadi.


            “Nih


minum!” kata Abadi sambil memberikan soda yang membuat Kasih menggigit


tangannya tadi.


            “Ini


soda yang lu tempelin ke pipi gue tadi kan?”


            “Iya.”


Kasih pun membuka soda dan menikmati


soda yang sudah tidak terasa sedingin tadi. Kemudian Kasih teringat bahwa ia


sempat menggigit tangan Abadi.


            “Bad


tangan lu yang gue gigit tadi mana?”


Abadi pun mengulurkan tangannya pada Kasih.


Tanpa terduga Kasih mulai mengkompres tangan Abadi. Dan disaat itu juga Abadi


terkejut. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia sendiri bingung dengan apa


yang ia rasakan.


“Ini kenapa


jantung gue detaknya makin cepet ya? Padahal gue lagi duduk nggak lagi lari.


Apa gue perlu kedokter. Atau apa karena Kasih?” Batin Abadi.


            “Bad


pipi lu kenapa merah gitu? Demam?” tanya Kasih sambil menempelkan punggung


tangannya ke dahi Abadi. Abadi yang tidak siap dengan perlakuan Kasih pun


segera berdiri.


            “Nggak


usah sok peduli. Gue balik dulu. Lu bisa pulang sendiri kan?”


Kasih pun hanya bisa mengangguk dalam


diam.


“Kirain bakal


dianterin pulang toh rumah gue sama dia searah. Aduh Kasih sadar dong yang lu


harapin itu Abadi, nggak mungkin lah dia mau anterin gue pulang.” Batin Kasih.


            Malam


harinya seperti biasa Kasih membuka jendela kamarnya dan duduk di dekatnya


sambil memandang indahnya langit malam. Kemudian ia mengambil buku diary-nya


dan tersepu malu.

__ADS_1



__ADS_2