Kasih Abadi

Kasih Abadi
BAB 9 Siapa Dave Sebenarnya


__ADS_3


Di parkiran café semesta, Magenta merasa ada yang aneh dengan Abadi. Apa mungkin?


            “Dave?” panggil Magenta dan Abadi


menoleh kearahnya.


Abadi


yang menoleh kearah Magenta menatap Magenta dengan penuh kecurigaan. Namun


Magenta langsung saja menyapa seseorang di belakang Abadi.


“Apa


kabar Dave?”


“Magenta?


Lo nongkrong di sini juga?”


“Yoi


ini mau balik. Gue duluan ya. Yuk Bad.”


Abadi


pun mengikuti Magenta di belakang.


***


            Setelah Abadi dan Magenta pulang,


Kala juga berpamitan pulang.


            “Gue balik dulu ya.”


            “Hati-hati.” Kata Kasih.


Kini


perhatian Kasih dan Sedia tertuju pada Senja yang wajahnya kembali normal setelah


Magenta pulang. Bahkan sekarang ia bisa tersenyum manis mengingat perkataan


Magenta sebelum pulang.


            “Hahahaha.” Terdengar tawa Kasih


yang sangat keras.


“Lo


kenapa Kas?” Tanya Sedia heran.


“Gila


udah pengen ketawa aja gue dari tadi lihat tampangnya si Senja.”


“Wkwkwkwk


sama anjir. Ngakak banget gue hampir seharian tuh muka pucat pasi.”


“Apaan


sih lo pada?”


“Itu


muka udah kayak lagi nahan kentut.”


“Kasih


stop deh. Kayak lo nggak pernah aja.”


“Gue


nggak separah lo.”


“Btw


Kas, lo balik duluan aja. Gue mau mampir beli sesuatu dulu.” Kata Sedia.


“Nah


gue ikut Dia aja deh.” Kata Senja.


“Oke


jadi gue balik sendiri nih?”


“Lo


kan mau dijemput Tante Maya. Gue mau beli sesuatu dulu, tempatnya rada jauh


dari sini. Takut ngerepotin gue kalo nebeng lo sama Tante Maya.”


“Senyaman


kalian dah.”


Senja


dan Sedia pun meninggalkan Kasih Sendirian. Sudah hampir 30 menit Kasih


menunggu mamanya. Namun ia belum menemukan tanda-tanda keberadaan mamanya di sekitarnya.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan tertera nama mamanya dilayar ponselnya.


“Halo


Ma.”


“Kasih


kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan?”


“Nggak


apa-apa kok. Mama lembur ya?”


“Nggak.


Ini mama lagi kejebak macet. Kayaknya bakal lama. Kamu pulang duluan aja dari pada


bosen nungguin mama.”


“Iya


Mama.”


“Hati-hati


ya nak.”


“Siap


Ma.”


Setelah


menutup telepon dari mamanya, Kasih segera berjalan menuju halte busway


terdekat. Namun ketika ia berjalan, ia melihat seseorang yang tidak asing


baginya. Tepat diseberang Kasih berdiri saat ini terlihat Kala yang berada di


bengkel sepeda motor. Kala yang menyadari tengah diperhatikan mencari seseorang


tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat Kasih yang tengah memandanginya di seberang


jalan. Kala pun melambaikan tangannya sambil memanggil nama Kasih. Kala juga


memutuskan untuk menyeberangi jalan yang menghalangi pandangannya dari Kasih.


“Motor


lo mogok?” tanya Kasih.


“Bannya


bocor Kas. Lo balik sendiri?”


“Iya


nih.”


“Lah


si Sedia sama Senja mana? Katanya mau main ke rumah lo?”


“Mereka


lagi mampir beli sesuatu.”


“Nyokap


lo?”


“Mama

__ADS_1


lagi kejebak macet jadi gue balik sendiri. Dari pada bosen nungguin.”


“Mau


gue anter aja?”


“Nggak


usah. Gue bisa balik sendiri kok.”


“Yaelah


nggak apa-apa kali. Lagian mas-mas bengkelnya judes banget. Males gue, Nggak


ada temen ngobrol.”


“Jadi


lu nganterin gue cuma modus biar nggak bosen nih.”


“Ya


bisa dibilang gitu.” Kata Kala yang disambut dengan tawa riang Kasih.


Dan


tawa Kasih itu pun tak luput dari perhatian Kala.


“Gue


jadi pelampiasan nih ceritanya.”


“Ya


nggak lah. Masak cewek secantik lo jadi pelampiasan.”


Kasih


yang merasa canggung dengan ucapan Kala pun hanya bisa membalasnya dengan


senyuman. Untung saja busway datang, Kasih dan Kala pun berlari agar tidak


ketinggalan. Dan tanpa mereka sadari sedari tadi Abadi memperhatikan interaksi


Kasih dan Kala dari kejauhan. Abadi tengah menatap kosong kebersamaan Kasih dan


Kala. Bahkan sekotak Americano coffee yang ada di tangan Abadi tumpah karena


genggamannya yang terlalu kuat. Saat melihat mereka berdua menaiki busway Abadi


pun mengikuti mereka tanpa sepengetahuan Kasih dan Kala. Saat di dalam busway


mata Abadi tidak pernah teralihkan dari kebersamaan Kasih dan Kala.


“Kenapa


gue ngikutin meraka sih? Untungnya di gue apa? Dasar bodoh banget lo Bad.


Lagian Kasih juga ngapain pulang bareng Kala. Tadi katanya dijemput Tante Maya.


Ini kenapa jadi gue yang repot? Kenapa gue juga nggak suka lihat mereka seakrab


itu? Dan kenapa gue sama Kasih nggak bisa sedekat itu.” Batin Abadi.


Setelah


beberapa menit Kasih dan Kala pun turun dari busway. Dan tentu saja Abadi masih


mengikuti mereka. Abadi menyudutkan dirinya sedikit jauh dari Kasih dan Kala


agar keberadaannya tidak diketahui oleh mereka.


“Kok


lo ikut turun sih?” tanya Kasih pada Kala.


“Kan


mau nganterin lo pulang.”


“Yaelah


gue bisa pulang sendiri Kal.”


“Nanggung


udah sampe sini Kasih.”


“Lagian


gue juga masih inget jalan pulang ke rumah gue.”


masih jauh?”


“Ya


lumayan sih. Mending lo balik deh. Tuh ada taksi biar cepet. Lagian ban motor


lo kayaknya udah selesai dibenerin.”


“Tapi


Kas...” ucapan Kala pun terpotong karena Kasih sudah menghentikan taksi


untuknya. Tanpa mendengarkan ucapan Kala, Kasih segera membukakan pintu taksi


dan mendorong pelan Kala untuk masuk ke dalam taksi.


“Balik


gih!! Udah malem tar dicariin emak bapak lo.”


“Iya


tapi kalau lo udah sampe rumah kabarin ya.”


“Iya


bawel.” Jawab Kasih sambil menutup pintu taksi.


Setelah


itu Kasih melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia tidak mau kalau mamanya datang


sebelum Kasih sampai rumah. Ia juga harus memasak makan malam untuk mamanya.


Kasih memang sering memasak makan malam untuk mamanya. Mau bagaimana lagi Kasih


tinggal berdua bersama mamanya jadi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak


merepotkan mamanya. Dan lagi-lagi Abadi mengikuti Kasih dari jauh. Ia hanya


ingin melihat Kasih sampai di rumah dengan selamat.


“Kasih gue nungguin lo dari tadi. Gila gue kira


lo diculik.” Teriak Sedia yang sudah menunggu Kasih cukup lama


“Siapa


yang mau culik cewek secerewet Kasih Di?” Kata Senja.


“Mulut


lo Senja. Depan gue doang nih ngomong kayak gini. Coba tadi pas ada Bang Magen,


diem kan lo.” Sindir Kasih pada Senja.


“Ni


bocah jago kandang doang Kas.”


Kasih


dan Sedia pun tertawa bersama sedangkan Senja ngambek dan berjalan sendirian


menuju rumah Kasih.


            Abadi yang melihat tingkah Kasih dan


teman-temannya hanya bisa tersenyum tipis. Entah kenapa melihat Kasih membuat


hatinya menjadi tenang.


***


“Dave,


Kamu dari mana saja?” Tanya Rena, mamanya Abadi.


Abadi


yang mendengar ucapan mamanya hanya melewati mamanya dan naik ke lantai dua.


Masih di tengah-tengah anak tangga mamanya meneriakinya.


“Adi.”


Teriak Rena.


Abadi

__ADS_1


pun membalik badannya dengan malas.


            “Mana Dave?”


“Aku


nggak tahu Ma.”


“Kamu


apain dia? Kamu bilang hanya ada Dave di rumah ini.”


“Aku


juga maunya gitu. Aku udah capek sama sikap Mama. Aku capek menghadapi mama


yang selalu terobsesi dengan nilai sekolahku.”


“Mama


udah bilang berapa kali yang mama pikirin itu masa depan kamu Di.”


“Ma,


masa depan aku yang menentukan diriku sendiri. Masa depanku cuma milik aku.”


“Kamu


anak mama jadi masa depan kamu ada ditangan mama.”


Abadi


yang lelah menghadapi mamanya pun melanjutkan jalan ke kamarnya.


            “Mama peringatin sama kamu ya Di,


minggu depan kamu ada ujian dan mama mau Dave yang melakukan segalanya. Mama


nggak mau kejadian tahun lalu terulang lagi.


***


Tahun


lalu.


“Kamu


lihat rapor kamu? Kamu kalah dari Magenta. Dan ini karena Dave nggak muncul.”


“Mama


bisa berhenti ngomongin Dave.”


“Perbaiki


diri kamu dulu atau kamu harus sepintar Dave kalau kamu mau mama berhenti


ngomongin Dave.”


“Ma,


Dave bukan siapa-siapa.”


“Kamu


bilang Dave bukan siapa-siapa? Adi, Dave adalah bagian dari diri kamu. Kamu


yang menghadirkan Dave di keluarga ini.”


“Ma,


Adi juga nggak mau keadaannya seperti ini.” Teriak Abadi sambil melemparkan vas


bunga. Dan tanpa sengaja pecahan kaca tersebut mengenai tangan Rena. Rena pun


meringis kesakitan. Ia masih tidak percaya bagaimana bisa Abadi semarah itu


padanya. Saat itu juga Tatapan Abadi semakin menajam. Rena merasakan angin


dingin berhembus ditengkuxknya. Rasanya tatapan anaknya saat ini bukan milik


Abadi. Siapa lagi dia?


“Mama


bisa obatin sendiri kan?” tanya Abadi dengan tatapan dinginnya sambil tersenyum


sinis kearah mamanya.


Abadi


berjalan keluar rumah dan dengan sengaja menginjak kaki mamanya hingga sebagian


kecil dari pecahan kaca masuk ke sepatunya.


            “Ups sorry.” Kata Abadi kepada


mamanya dan melangkah pergi.


Rena


yang melihat sikap Abadi pun tanpa sadar mengeluarkan air mata. Baru kali ini


ia menangis setelah kematian suaminya. Setelah kehilangan suaminya Rena


berjuang mati-matian hingga bisa menempati posisi tinggi di kantornya. Ia


bahkan rela meninggalkan Abadi di rumah sendirian ketika ia sedang sibuk


bekerja.


            “Ada apalagi dengan Adi? Tatapan


mata itu bukan milik Adi. Apa mungkin Dave? Dave yang sebaik itu bahkan sudah


menjadi anak yang selama ini aku idamkan justru berperilaku seperti itu? Apa


ini akibat dari aku yang terlalu mengandalkan Dave?”


***


Magenta


saat ini sedang menatap kosong televisi yang sedang menyala. Pikirannya sedang


tertuju kepada kondisi temannya, Abadi. Ia masih terkejut saat teringat


kejadian di depan café tadi. Bagaimana bisa seorang Abadi menengok ketika


dipanggil dengan nama Dave. Dan siapa Dave sebenarnya? Abadi Dirgantara. Tidak


ada kata Dave di dalamnya.


“Woi.”


Teriak Sedia dibelakang Magenta.


Magenta


pun yang tidak bisa menghindar hingga ia terjungkal ke depan.


            “Adeek.” Teriak Magenta sambil


memeganggi pinggangnya yang kesakitan.


            “Lagian kenapa sih ngelamun nggak


jelas?”


            “Bukan apa-apa.”


            “Abang lagi mikirin cewek ya? Iya


kan”


            “Nggak, lo jangan ngaco deh. Oh iya


temen lo tadi gimana? Udah mendingan?”


            “Tuh kan? Abang lagi mikirin Senja


ya?”


            “Gue cuma khawatir dek.”


            “Lo nggak pernah khawatir sama teman


gue. Bahkan lo nggak peduli dengan apa yang dilakukan temen-temen gue.”


            “Gimana nggak kepikiran tiap ketemu gue


pucat pasi gitu.”


            “Takut kali sama lo.”


            “Gue bukan hantu Di.”


            “Tapi lebih menyeramkan dari pada


hantu.”

__ADS_1


__ADS_2