
Di parkiran café semesta, Magenta merasa ada yang aneh dengan Abadi. Apa mungkin?
“Dave?” panggil Magenta dan Abadi
menoleh kearahnya.
Abadi
yang menoleh kearah Magenta menatap Magenta dengan penuh kecurigaan. Namun
Magenta langsung saja menyapa seseorang di belakang Abadi.
“Apa
kabar Dave?”
“Magenta?
Lo nongkrong di sini juga?”
“Yoi
ini mau balik. Gue duluan ya. Yuk Bad.”
Abadi
pun mengikuti Magenta di belakang.
***
Setelah Abadi dan Magenta pulang,
Kala juga berpamitan pulang.
“Gue balik dulu ya.”
“Hati-hati.” Kata Kasih.
Kini
perhatian Kasih dan Sedia tertuju pada Senja yang wajahnya kembali normal setelah
Magenta pulang. Bahkan sekarang ia bisa tersenyum manis mengingat perkataan
Magenta sebelum pulang.
“Hahahaha.” Terdengar tawa Kasih
yang sangat keras.
“Lo
kenapa Kas?” Tanya Sedia heran.
“Gila
udah pengen ketawa aja gue dari tadi lihat tampangnya si Senja.”
“Wkwkwkwk
sama anjir. Ngakak banget gue hampir seharian tuh muka pucat pasi.”
“Apaan
sih lo pada?”
“Itu
muka udah kayak lagi nahan kentut.”
“Kasih
stop deh. Kayak lo nggak pernah aja.”
“Gue
nggak separah lo.”
“Btw
Kas, lo balik duluan aja. Gue mau mampir beli sesuatu dulu.” Kata Sedia.
“Nah
gue ikut Dia aja deh.” Kata Senja.
“Oke
jadi gue balik sendiri nih?”
“Lo
kan mau dijemput Tante Maya. Gue mau beli sesuatu dulu, tempatnya rada jauh
dari sini. Takut ngerepotin gue kalo nebeng lo sama Tante Maya.”
“Senyaman
kalian dah.”
Senja
dan Sedia pun meninggalkan Kasih Sendirian. Sudah hampir 30 menit Kasih
menunggu mamanya. Namun ia belum menemukan tanda-tanda keberadaan mamanya di sekitarnya.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan tertera nama mamanya dilayar ponselnya.
“Halo
Ma.”
“Kasih
kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan?”
“Nggak
apa-apa kok. Mama lembur ya?”
“Nggak.
Ini mama lagi kejebak macet. Kayaknya bakal lama. Kamu pulang duluan aja dari pada
bosen nungguin mama.”
“Iya
Mama.”
“Hati-hati
ya nak.”
“Siap
Ma.”
Setelah
menutup telepon dari mamanya, Kasih segera berjalan menuju halte busway
terdekat. Namun ketika ia berjalan, ia melihat seseorang yang tidak asing
baginya. Tepat diseberang Kasih berdiri saat ini terlihat Kala yang berada di
bengkel sepeda motor. Kala yang menyadari tengah diperhatikan mencari seseorang
tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat Kasih yang tengah memandanginya di seberang
jalan. Kala pun melambaikan tangannya sambil memanggil nama Kasih. Kala juga
memutuskan untuk menyeberangi jalan yang menghalangi pandangannya dari Kasih.
“Motor
lo mogok?” tanya Kasih.
“Bannya
bocor Kas. Lo balik sendiri?”
“Iya
nih.”
“Lah
si Sedia sama Senja mana? Katanya mau main ke rumah lo?”
“Mereka
lagi mampir beli sesuatu.”
“Nyokap
lo?”
“Mama
__ADS_1
lagi kejebak macet jadi gue balik sendiri. Dari pada bosen nungguin.”
“Mau
gue anter aja?”
“Nggak
usah. Gue bisa balik sendiri kok.”
“Yaelah
nggak apa-apa kali. Lagian mas-mas bengkelnya judes banget. Males gue, Nggak
ada temen ngobrol.”
“Jadi
lu nganterin gue cuma modus biar nggak bosen nih.”
“Ya
bisa dibilang gitu.” Kata Kala yang disambut dengan tawa riang Kasih.
Dan
tawa Kasih itu pun tak luput dari perhatian Kala.
“Gue
jadi pelampiasan nih ceritanya.”
“Ya
nggak lah. Masak cewek secantik lo jadi pelampiasan.”
Kasih
yang merasa canggung dengan ucapan Kala pun hanya bisa membalasnya dengan
senyuman. Untung saja busway datang, Kasih dan Kala pun berlari agar tidak
ketinggalan. Dan tanpa mereka sadari sedari tadi Abadi memperhatikan interaksi
Kasih dan Kala dari kejauhan. Abadi tengah menatap kosong kebersamaan Kasih dan
Kala. Bahkan sekotak Americano coffee yang ada di tangan Abadi tumpah karena
genggamannya yang terlalu kuat. Saat melihat mereka berdua menaiki busway Abadi
pun mengikuti mereka tanpa sepengetahuan Kasih dan Kala. Saat di dalam busway
mata Abadi tidak pernah teralihkan dari kebersamaan Kasih dan Kala.
“Kenapa
gue ngikutin meraka sih? Untungnya di gue apa? Dasar bodoh banget lo Bad.
Lagian Kasih juga ngapain pulang bareng Kala. Tadi katanya dijemput Tante Maya.
Ini kenapa jadi gue yang repot? Kenapa gue juga nggak suka lihat mereka seakrab
itu? Dan kenapa gue sama Kasih nggak bisa sedekat itu.” Batin Abadi.
Setelah
beberapa menit Kasih dan Kala pun turun dari busway. Dan tentu saja Abadi masih
mengikuti mereka. Abadi menyudutkan dirinya sedikit jauh dari Kasih dan Kala
agar keberadaannya tidak diketahui oleh mereka.
“Kok
lo ikut turun sih?” tanya Kasih pada Kala.
“Kan
mau nganterin lo pulang.”
“Yaelah
gue bisa pulang sendiri Kal.”
“Nanggung
udah sampe sini Kasih.”
“Lagian
gue juga masih inget jalan pulang ke rumah gue.”
masih jauh?”
“Ya
lumayan sih. Mending lo balik deh. Tuh ada taksi biar cepet. Lagian ban motor
lo kayaknya udah selesai dibenerin.”
“Tapi
Kas...” ucapan Kala pun terpotong karena Kasih sudah menghentikan taksi
untuknya. Tanpa mendengarkan ucapan Kala, Kasih segera membukakan pintu taksi
dan mendorong pelan Kala untuk masuk ke dalam taksi.
“Balik
gih!! Udah malem tar dicariin emak bapak lo.”
“Iya
tapi kalau lo udah sampe rumah kabarin ya.”
“Iya
bawel.” Jawab Kasih sambil menutup pintu taksi.
Setelah
itu Kasih melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia tidak mau kalau mamanya datang
sebelum Kasih sampai rumah. Ia juga harus memasak makan malam untuk mamanya.
Kasih memang sering memasak makan malam untuk mamanya. Mau bagaimana lagi Kasih
tinggal berdua bersama mamanya jadi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak
merepotkan mamanya. Dan lagi-lagi Abadi mengikuti Kasih dari jauh. Ia hanya
ingin melihat Kasih sampai di rumah dengan selamat.
“Kasih gue nungguin lo dari tadi. Gila gue kira
lo diculik.” Teriak Sedia yang sudah menunggu Kasih cukup lama
“Siapa
yang mau culik cewek secerewet Kasih Di?” Kata Senja.
“Mulut
lo Senja. Depan gue doang nih ngomong kayak gini. Coba tadi pas ada Bang Magen,
diem kan lo.” Sindir Kasih pada Senja.
“Ni
bocah jago kandang doang Kas.”
Kasih
dan Sedia pun tertawa bersama sedangkan Senja ngambek dan berjalan sendirian
menuju rumah Kasih.
Abadi yang melihat tingkah Kasih dan
teman-temannya hanya bisa tersenyum tipis. Entah kenapa melihat Kasih membuat
hatinya menjadi tenang.
***
“Dave,
Kamu dari mana saja?” Tanya Rena, mamanya Abadi.
Abadi
yang mendengar ucapan mamanya hanya melewati mamanya dan naik ke lantai dua.
Masih di tengah-tengah anak tangga mamanya meneriakinya.
“Adi.”
Teriak Rena.
Abadi
__ADS_1
pun membalik badannya dengan malas.
“Mana Dave?”
“Aku
nggak tahu Ma.”
“Kamu
apain dia? Kamu bilang hanya ada Dave di rumah ini.”
“Aku
juga maunya gitu. Aku udah capek sama sikap Mama. Aku capek menghadapi mama
yang selalu terobsesi dengan nilai sekolahku.”
“Mama
udah bilang berapa kali yang mama pikirin itu masa depan kamu Di.”
“Ma,
masa depan aku yang menentukan diriku sendiri. Masa depanku cuma milik aku.”
“Kamu
anak mama jadi masa depan kamu ada ditangan mama.”
Abadi
yang lelah menghadapi mamanya pun melanjutkan jalan ke kamarnya.
“Mama peringatin sama kamu ya Di,
minggu depan kamu ada ujian dan mama mau Dave yang melakukan segalanya. Mama
nggak mau kejadian tahun lalu terulang lagi.
***
Tahun
lalu.
“Kamu
lihat rapor kamu? Kamu kalah dari Magenta. Dan ini karena Dave nggak muncul.”
“Mama
bisa berhenti ngomongin Dave.”
“Perbaiki
diri kamu dulu atau kamu harus sepintar Dave kalau kamu mau mama berhenti
ngomongin Dave.”
“Ma,
Dave bukan siapa-siapa.”
“Kamu
bilang Dave bukan siapa-siapa? Adi, Dave adalah bagian dari diri kamu. Kamu
yang menghadirkan Dave di keluarga ini.”
“Ma,
Adi juga nggak mau keadaannya seperti ini.” Teriak Abadi sambil melemparkan vas
bunga. Dan tanpa sengaja pecahan kaca tersebut mengenai tangan Rena. Rena pun
meringis kesakitan. Ia masih tidak percaya bagaimana bisa Abadi semarah itu
padanya. Saat itu juga Tatapan Abadi semakin menajam. Rena merasakan angin
dingin berhembus ditengkuxknya. Rasanya tatapan anaknya saat ini bukan milik
Abadi. Siapa lagi dia?
“Mama
bisa obatin sendiri kan?” tanya Abadi dengan tatapan dinginnya sambil tersenyum
sinis kearah mamanya.
Abadi
berjalan keluar rumah dan dengan sengaja menginjak kaki mamanya hingga sebagian
kecil dari pecahan kaca masuk ke sepatunya.
“Ups sorry.” Kata Abadi kepada
mamanya dan melangkah pergi.
Rena
yang melihat sikap Abadi pun tanpa sadar mengeluarkan air mata. Baru kali ini
ia menangis setelah kematian suaminya. Setelah kehilangan suaminya Rena
berjuang mati-matian hingga bisa menempati posisi tinggi di kantornya. Ia
bahkan rela meninggalkan Abadi di rumah sendirian ketika ia sedang sibuk
bekerja.
“Ada apalagi dengan Adi? Tatapan
mata itu bukan milik Adi. Apa mungkin Dave? Dave yang sebaik itu bahkan sudah
menjadi anak yang selama ini aku idamkan justru berperilaku seperti itu? Apa
ini akibat dari aku yang terlalu mengandalkan Dave?”
***
Magenta
saat ini sedang menatap kosong televisi yang sedang menyala. Pikirannya sedang
tertuju kepada kondisi temannya, Abadi. Ia masih terkejut saat teringat
kejadian di depan café tadi. Bagaimana bisa seorang Abadi menengok ketika
dipanggil dengan nama Dave. Dan siapa Dave sebenarnya? Abadi Dirgantara. Tidak
ada kata Dave di dalamnya.
“Woi.”
Teriak Sedia dibelakang Magenta.
Magenta
pun yang tidak bisa menghindar hingga ia terjungkal ke depan.
“Adeek.” Teriak Magenta sambil
memeganggi pinggangnya yang kesakitan.
“Lagian kenapa sih ngelamun nggak
jelas?”
“Bukan apa-apa.”
“Abang lagi mikirin cewek ya? Iya
kan”
“Nggak, lo jangan ngaco deh. Oh iya
temen lo tadi gimana? Udah mendingan?”
“Tuh kan? Abang lagi mikirin Senja
ya?”
“Gue cuma khawatir dek.”
“Lo nggak pernah khawatir sama teman
gue. Bahkan lo nggak peduli dengan apa yang dilakukan temen-temen gue.”
“Gimana nggak kepikiran tiap ketemu gue
pucat pasi gitu.”
“Takut kali sama lo.”
“Gue bukan hantu Di.”
“Tapi lebih menyeramkan dari pada
hantu.”
__ADS_1