Kaulah Jodohku

Kaulah Jodohku
Bagian 1


__ADS_3

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, cinta yang terhadap apa yang diinginkan , berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik"


(QS. Ali Imran :14)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


SEPULUH TAHUN KEMUDIAN.


Kehidupan Andini.


Tok.. tok.. tok..


Suara kutukan pintu terdengar dari arah depan rumah pondok pesantren Al-muslimun Pagi-pagi sekali. Seorang wanita berusia muda bergegas membukakan pintu setelah memakai niqob-nya dengan rapi. Di depan pintu tersebut berdirilah seorang wanita muda lainnya yang sedang tersenyum di balik niqob-nya yang berwarna coklat muda .


"Assalamualaikum Ukhti Tiara, maaf kalau aku mengganggu aktivitas Ukhti Tiara pagi-pagi sekali seperti ini", Ujar Ria santriwati termudah dari pondok pesantren tersebut.


Tiara membalas senyumannya.


"Wa'alaikum salam Ukhti Ria , Tidak masalah , ada perlu apa pagi-pagi begini Ukhti?" Ujar Tiara .


"Aku disuruh Bu-Nyai untuk memanggil Ukhti Tiara dan Ukhti Andini. Beliau mengatakan bahwa ada hal yang ingin disampaikan terkait pembahasan dalam acara istighosah nanti malam" Jawab Ria menjelaskan .


Andini keluar dari dapur dan segera bergabung bersama Ukhti Tiara dan Ukhti Ria di teras . Wanita itu nampak sangat anggun dengan gamis berwarna merah maroon dan hijab panjangnya berwarna coklat muda . niqob yang ia kenakan pun berwarna senada dengan warna gamisnya . Ria tersenyum kearahnya dan segera mendapat sambutan berupa pelukan hangat dari wanita itu.


"Assalamualaikum Ukhti Ria , sudah sarapan? Ayo kita sarapan bersama-sama" Ajak Andini


"Wa'alaikum salam Ukhti Andini , Alhamdulillah saya sudah sarapan bersama Ukhti Nilam dan Ukhti Risya . Syukron untuk ajakannya , tapi afwan karena aku sudah kenyang Ukhti" Jawab Ria .


Andini hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya tanda ia sudah mengerti . Tiara menatapnya seraya tersenyum dari balik niqob-nya.


"Bu-Nyai memanggil kita berdua , Beliau ingin membicarakan pembahasan untuk acara istighosah untuk nanti malam" Ujar Tiara memberitahu.


"Oh yah? Kenapa kamu gak bilang dari tadi Tia??? ayo kita ke rumah Bu-Nyai sekarang, jangan buat beliau menunggu" Ajak Andini yang masih terkutak dengan rasa terkejutnya.


Tiara dan Ria pun mengangguk dan mengikuti langkah Andini menuju rumah Bu-Nyai. Sementara di rumah Bu-Nyai yang memiliki nama asli Hajjah Dewi Nur Hasanah , Istri dari Kiayi Haji Yusuf Al-qodri sang pemilik pondok pesantren Al-muslimun , sedang bersantai usai tadabbur alam bersama Putri bungsunya bernama Zahra .


"Ummi boleh aku pake baju gamisku yang baru untuk acara istighosah nanti malam?" Tanya Zahra


Bu-Nyai tersenyum dibalik niqobnya pada putri bungsunya itu .


"Asalkan bukan untuk pamer kepada orang lain, kamu boleh pake baju gamis yang barumu" Jawab Bu-Nyai memperingati .


Zahra tersenyum dan mengangguk kepada ibunya . Andini dan Tiara pun tiba di depan rumah Bu-Nyai , Zahra pun bergegas untuk membukakan Pajar untuk mereka berdua .


"Assalamualaikum Ummu Zahra... Bu-Nyai..." Ujar Andini dan Tiara bersamaan .


"Wa'alaikum salam" Jawab Zahra dan Bu-Nyai bersamaan .


"Mari masuk Ukhti Andini.. Ukhti Tiara..." Zahra mempersilakan .

__ADS_1


"Syukron Ummu" Jawab Andini.


Zahra memiliki perbedaan umur yang jauh dengan Andini dan Tiara , sehingga banyak para santri dan santriwati memanggilnya dengan sebutan 'Ummu' untuk menggantikan kata ibu dalam bahasa Indonesia. Hal itu membuatnya memiliki banyak anak meskipun belum menikah .


Andini dan Tiara duduk di hadapan Bu-Nyai setelah mereka mencium tangan wanita paruh baya yang amat dihormati di semua santri dan santriwati. Bu-Nyai tersenyum kedua pada kedua santriwati itu.


"Nanti malam saat acara istighosah berlangsung ,saya mau diantara salah satu dari kalian berdua membawakan sebuah materi tentang 'Haramnya Memandang Kedalam Rumah Orang Lain' " Pinta Bu-Nyai.


Andini dan Tiara saling memandang beberapa saat lalu dan kembali menatap Bu-Nyai .


"Bukankah malam nanti yang seharusnya membawakan materi adalah Akh Salman Bu-Nyai ?" Tanya Tiara.


Bu-Nyai tersenyum lagi lalu menggelengkan kepalanya dengan tatapan tak percaya kearah kedua santriwatinya tersebut .


"Alhamdulillah Rabby 'alamin. Saya sangat bersyukur karena telinga kalian berdua dijaga oleh Allah SWT , sehingga tak secuil pun kabar buruk sampai pada kalian berdua" ujar Bu-Nyai .


"maksudnya Bu-Nyai?" Tanya Andini yang masih belum mengerti .


"para santri saat ini sedang mendapatkan sanksi dari Abah. Banyak diantara mereka yang kedapatan berusaha mengintip ke dalam rumah pondok santriwati" Jelas Bu-Nyai


"Termaksud Akh Salman Bu-Nyai?" Tiara terdengar tidak percaya .


"Salman gak ikut-ikutan, tapi yang namanya sanksi dari Abah ya pasti semua santri akan kena getahnya".


Tiara terkekeh pelan seraya menundukkan kepalanya. Andini hanya tersenyum kecil, Yang sudah jelas tidak diketahui oleh siapapun karena ia memakai niqob. Bu-Nyai kembali menatap mereka dengan serius .


"Ukhti Andini Bu-Nyai..." Tiara buru-buru menjawab.


Andini menatap sekilas ke arah Tiara yang sukses membuatnya terpojok. Wanita itu selalu tahu jika dirinya tak bisa menolak permintaan Bu-Nyai . Bu-Nyai menatap ke arah Andini , seakan meminta persetujuan .


"Iya Bu-Nyai saya yang akan membawakan materi nanti malam". Mantap Andini .


*****


Malam mulai merayap di kota Tangerang . Para santri dan santriwati sudah bersiap-siap untuk menuju ke mesjid Agung pesantren Al-muslimun . Acara istighosah akan dilaksanakan beberapa saat lagi .


Firman berjalan bersama Ardi, Rasyad, dan Salman dari arah rumah pondok santri . Mereka sengaja memisahkan diri dari para santri lainnya, agar mereka bisa berbincang sebelum acara istighosah dimulai .


"Seandainya bukan karna Akh Tio kedapatan berusaha mengintip kedalam rumah pondok santriwati , pasti mam ini kamu yang akan membawakan materi Akh Salman" Ujar Rasyad yang terdengar kecewa .


Salman hanya tersenyum ikhlas , ia tidak menyalakan Akh Tio ataupun santri lainnya karena gagal membawa materi dalam acara istighosah , ia merangkul Rasyad dengan santai .


"Gak apa-apa Akh, jadikan semua ini sebagai pelajaran agar kita tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Akh Tio. Lagipula Akh Tio memang salah karena sudah mengintip kedalam rumah pondok santriwati" Ujar Salman


"Betul itu Akh, Haram hukumnya jika kita berusaha melihat wajah akhwat yang tertutup oleh niqob, kecuali kalau dia sudah menjadi mahram kita, baru kita boleh melihat wajah mereka" Tambah Ardi .


"Ya sudah , kita akan melanjutkan Pembahasan mengenai 'intip mengintip' ini setelah acara istighosah selesai. Sekarang Ayo, kita ke mesjid " Ajak Firman


Mereka segera memasuki mesjid beberapa saat setelah acara di mulai. MC, yang memandu acara istighosah malam itu adalah Ummu Aliyah Putri Bu-Nyai yang ke dua . Salman duduk berdampingan dengan Firman , sementara Rasyad sudah jelas duduk bersama Ardi .Mereka berdua memang tak pernah di pisahkan selama menjadi santri di pondok pesantren Al-muslimun .

__ADS_1


"Alhamdulillah pembacaan ayat suci Alquran oleh Ukhti Sarah telah selesai dengan baik . Sekarang mari kita lanjutkan dengan pembahasan materi yang akan dibawakan oleh Ukhti Andini Najwa Khamid" Ujar Aliyah mempersilahkan Ukhti Andini untuk maju .


Salman mengangkat wajahnya yang Tertunduk sejak tadi ketika mendengar nama Andini disebut oleh Aliyah . Firman yang duduk di sampingnya menyikut lengan Salman untuk menggodanya, sedangkan Ardi dan Arsyad memberi kode dari balik punggung Salman .Pria itu tersenyum diam-diam .


Andini malam itu menggunakan baju berwarna biru muda dan hijab panjang berwarna biru gelap terlihat sangat anggun . Niqob berwarna senada dengan warna bajunya pun menghiasi wajah wanita itu. Dada Salman seakan bergemuruh ketika melihat mata milik Andini. yang tentu saja tak mengarah kepadanya .Wanita itu sangat menjaga pandangannya , terutama pandangan dari pria yang bukan mahramnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu" Ujar Andini beberapa saat setelah sampai di mimbar .


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatu" Jawaban serentak dari seluruh santri dan santriwati .


"Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala Ali Syaidina Muhammad, wa 'ala Alihi wa shohbihi ajma'in Anna ba'du"


Andini menarik nafas sesaat .


"Malam ini saya di muinta langsung oleh Bu-Nyai untuk membawakan materi tentang'Haramnya Memandang Kedalam Rumah Orang Lain' " Ujar Andini .


Deg!!


Sontak Salman pun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Andini tentang materi pembahasan malam itu . Begitu pula dengan Firman, Ardi , Arsyad , dan beberapa santri santri lainnya .


Dam hadist riwayat Sahal bin Sa'ad As-Saidi Radhiyallahu Anhu, Beliau mengatakan bahwa seorang lelaki yang mengintip lubang pintu Rasulullah Shalallahu alayhi wasallam . Ketika itu Rasulullah Shalallahu alayhi wasallam membawa sisir yang beliau gunakan untuk menggaruk kepala. Pada waktu Rasulullah Shalallahu alayhi wasallam melihat orang itu , Beliau bersabda 'seandainya aku tahu engkau memandang ku tentu aku tusukkan sisir ini ke matamu' . Rasulullah Shalallahu alayhi wasallam juga bersabda 'Sesungguhnya disyariatkan minta izin itu ketika memasuki rumah hanyalah untuk menghindari penglihatan' Hadits Riwayat Muslim"


Semua orang mendengarkan dengan khidmat .


"Jika Rasulullah Shalallahu alayhi wasallam,yang sudah jelas bahwa ia adalah seorang Ikhwan , Terhadap Ikhwan lain pun beliau melarang untuk mengintip kedalam rumahnya . Lalu bagaimana jika di dalam rumahnya itu di penuhinya adalah seorang akhwat ??? Bukan lagi Haram tetapi dosa yang begitu amat besar akan diterima oleh Ikhwan tersebut yang mengintip kedalam rumah seorang akhwat" Jelas Andini.


Salman kembali menundukkan kepalanya karena merasa malu terhadap apa yang dilakukan oleh Tio .


"Seorang akhwat yang benar-benar menutup dirinya dari maksiat harus di lindungi. Bagaimana cara melindunginya??? Dengan menjaga kehormatan akhwat tersebut. Bukan karna menodai kehormatannya!! Seorang akhwat yang menutup dirinya dari hijab , menutup wajahnya dengan niqob, menandakan bahwa akhwat tersebut harus wajib di lindungi , bukan untuk di permalukan".


Diva kembali menarik nafas sejenak .


"Mengintip kedalam rumah seorang akhwat dan berharap bisa melihat wajahnya yang selalu di tutupi oleh niqob, adalah perbuatan yang paling tercela dalam kehidupan seorang Ikhwan . Ikhwan yang terhormat adalah Ikhwan yang mampu menjaga kehormatan seorang akhwat dari maksiat apapun , termasuk maksiat kedua mata . Bukankah semua ini kita sudah tahu, bahwa melihat wajah akhwat yang bukan mahramnya adalah perbuatan dosa??? Lalu kenapa kalian begitu penasaran ingin melihat wajah akhwat yang bukan mahram kalian ??? Apa kalian ingin merasakan bara api neraka di letakkan kedua bola mata kalian???" Tanya Andini .


Para santri menundukkan kepalanya secara serentak, beberapa dari mereka terlihat seakan mereka berfikir keras dan menyesali apa yang mereka perbuat .


"Apa kalian sadar bahwa apa yang kalian lakukan adalah sebagian dari pada Zina??? Allah Subhanahu wa ta'ala telah melarang dengan jelas dalam Al-Quran surah Al-isra Ayat tiga puluh dua , Walaa taqrobuz zinaa, innahuu kaana faahisyataw wasaa,a sabiilaa. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Apakah larangan itu masih kurang jelas untuk kalian???" Tanya Andini lagi.


Bu-Nyai tersenyum dari tempatnya duduk dalam mesjid itu. Ia benar-benar tidak salah pilih ketika meminta Tiara atau Andini agar membawakan materi . ia merasa sangat puas .


"Maka dari itu agar kita terhindar dari dosa dan maksiat , marilah kita bersama-sama memperbaiki diri . Untuk Akhwat , berusahalah dengan lebih keras untuk menjaga kehormatan kalian, dan untuk Ikhwan , Tolong bantu para akhwat untuk menjaga kehormatan mereka. Sekian pembahasan dari saya , Wabillahi taufik wal hidayah , assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Andini mengakhiri pembahasannya.


Tatapan kagum yang tertuju ke arah Andini , saat wanita itu turun dari mimbar , Salman kembali menatapnya diam-diam . Ia mengikuti setiap langkah wanita itu hingga tak terlihat lagi karena Andini sudah bergabung dengan santriwati lain di mesjid itu .


'Mengapa disetiap kali mendengar namamu, rasanya ada yang begitu bergemuruh hebat dalam dadaku???'


*****


Jangan lupa tinggalkan jejak 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2