
..."Dari mana datangnya (Kekalahan) Ini? Katakanlah, itu dari (Kesalahan) dirimu sendiri. Sungguh. Allah maha kuasa atas segala sesuatu"...
^^^(Q.S Ali Imran: 165)^^^
Sesal
Ahmad memarkirkan mobilnya di hadapan depan rumah orang tua Andini, ia datang dengan harapan akan melihat Andini kembali
Selalu begitu, meskipun tak pernah ada hasil. Ahmad masih saja tak pernah putus asa
Tok...! Tok...! Tok...!
Pintu rumah itu terbuka beberapa saat kemudian, wajah Ratih, Ibu mertuanya muncul dari balik pintu
"Assalamualaikum Bu" Ujar Ahmad seraya mencium punggung tangan Ratih
"Wa'alaikumsalam Nak. Gimana kabarmu dan ibumu? Sehat?" Tanya Ratih
"Alhamdulillah Bu. Aku dan Ibu sehat. Bapak di mana Bu?" Tanya Ahmad
"Ada di belakang sama Salwah" Jawab Ratih
"Salwah? Siapa Salwah Bu?" Ahmad kebingungan
"Kakak sepupu Andini yang kami kirim untuk sekolah di Al-Azhar. Dia baru saja pulang seminggu yang lalu" Jelas Ratih
Ahmad menganggukkan kepalanya lalu bergegas menuju ke halaman belakang untuk menemui Gunawan- Bapak mertuanya
"Assalamualaikum Pak" Sapa Ahmad sambil mencium punggung tangan Gunawan
"Wa'alaikumsalam. Kamu kemana saja Mad? Kok baru datang hari ini?" Tanya Gunawan
"Maaf Pak, saya agak sibuk dengan jadwal mengajar" Jawab Ahmad
"Oh begitu.... Kenalkan, Ini Salwah, kakak sepupunya istrimu" Ujar Gunawan
Ahmad menatap Salwah sekilas. Salwah mengulurkan tangannya pada Ahmad seraya tersenyum
"Salwah" Ujarnya
Ahmad menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk membalas uluran tangan Salwah
__ADS_1
"Ahmad... Maaf... kita bukan mahram, jadi tidak bisa saling bersentuhan" Ahmad mencoba menjelaskan
Salwah kehilangan senyumnya dan menarik tangannya dari hadapan Ahmad. Gunawan terkekeh
"Kamu sekolah di Al-Azhar, tapi kok tidak tahu hal-hal remeh seperti itu. Kamu betul-betul sekolah atau tidak?" Sindir Gunawan
"Paman bicara apa sih? Aku sekolah kok" Jawab Salwah agak kesal
Ahmad menatapnya tajam.
"Apa kamu menyekolahkan mulutmu juga di Al-Azhar? Bicara pada orang tua harus pake sopan santun! Jangan membentak!" Ahmad memberi peringatan
Salwah terdiam, Gunawan menepuk punggung Ahmad agar pria itu tidak bertambah marah
"Sudah Mad... Mari... kita ke kamar Bapak dan bicara di sana" Ajak Gunawan
Ahmad mengikuti langkah Gunawan menuju kamarnya, sementara Salwah tak berhenti menatap punggung pria itu dengan kesal
"Tunggu... Kmu akan melihat bagaimana aku membalas bentakanmu itu!!"
****"
"Andini belum juga kembali, jika itu yang ingin kamu tahu" Ujar Gunawan
"Maafkan aku Pak, ini semua salahku" Ujar Ahmad, untuk kesekian kalinya
Gunawan menatap menantunya itu dengan iba
"Ini juga salah Bapak juga Mad... Seandainya hari itu Bapak tidak mengusir Andini karena berani kembali ke rumah setelah menikah denganmu, mungkin kalian tetap bisa bersatu saat ini" Ujar Gunawan, menyesal
Ahmad tetap terdiam. Gunawan menatap keluar jendela kamarnya, mengingat masa lalu
Flashback On
Sepuluh tahun yang lalu
"Mau apa kamu kembali ke rumah? Cepat kembali ke rumah mertuamu!!" Bentak Gunawan pada Andini
"Maaf Pak, tapi saya tidak akan kembali ke sana. Kak Ahmad sudah mengusir saya, dia tak mencintai saya Pak dan dia akan menikah dengan perempuan lain" Jelas Andini
Gunawan menatap Andini dengan murka
"Bapak tidak mau mendengar alasan apapun!! Pokoknya, kamu harus kembali ke rumah mertuamu dan tinggal di sana. Urusan Ahmad mau menikah lagi, tidak menjadi masalah!! Memangnya Islam melarang laki-laki untuk poligami??"
__ADS_1
Andini menatap tak percaya ke arah Gunawan
"Bapak yang memaksaku menikah di usia yang masih muda, dan sekarang Bapak memaksaku untuk menerima kalau aku akan di madu? Apa yang bapak pikirkan sebenarnya?" Tanya Andini dengan air mata yang sudah tak mampu lagi ia tahan
"Yang bapak inginkan adalah kamu kembali ke rumah mertuamu! Kalau kamu menolak, silakan pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali! Kamu bukan anakku lagi kalau menantang apa yang bapak mau!" Ucapan Gunawan yang terakhir kalinya sebelum Andini benar-benar pergi dan menghilang tanpa jejak. Ya... Andini tak pernah lagi kembali sejak saat itu.
Flashback off
Ahmad menyesap tehnya lalu berpamitan dengan Gunawan untuk pulang. Ia menuruni anak tangga menuju lantai bawah rumah itu. Salwah telah menunggunya
"Andini tidak akan pernah kembali.. Jadi terima saja nasibmu yang terombang-ambing" Ujarnya tajam
Ahmad berbalik menatap ke arah Salwah dengan marah. Salwah tersenyum atas kemenangannya karena berhasil membuat Ahmad marah
Salwah berjalan mendekat ke arah Ahmad
"Al-jaza min jinsil amal. Balasan akan di dapat sesuai dengan amal perbuatan! Jadi... orang yang berbuat baik, akan mendapat balasan kebaikan dan orang yang berbuat jahat, akan mendapat balasan yang buruk. Itulah ketentuan ilahi. Salah satu prinsip dari banyak prinsip yang menegaskan bahwa Allah maha adil dan maha bijaksana" Ujar Salwah
Ahmad terdiam di tempatnya
"Kamu di jodohkan dengan Andini tanpa syarat apapun, tapi kamu malah menyia-nyiakan dia, mengusir dia, berpoligami tanpa persetujuannya.. Sekarang lihat.. Apa yang kamu dapat atas perbuatanmu itu? Karma!!" Cibir Salwah secara terang-terangan
Ahmad ingin membalas, namun apa yang dikatakan Salwah itu adalah benar
"Oh yah... Satu kekejaman lagi yang kamu perbuat.. Kamu belum pernah menyentuh Andini sama sekali sejak kalian menikah" Tambah Salwah
Ahmad kembali menatap Salwah, kali ini dengan tatapan terkejut
"Bagaimana kamu tahu tentang hal itu?" Tanya Ahmad
Salwah tertawa pelan.
"Aku lebih mengenal adikku sendiri dari pada kamu mengenalnya. Dia tidak akan semudah itu pergi dari sisimu kalau kamu sudah menyentuhnya. Dia adalah tipe wanita yang terikat. Tapi karena kamu belum menyentuhnya.. Maka ikatan itu tidak pernah ada" Jawab Salwah
"Aku berdoa bahwa Andini diberikan jodoh yang jauh lebih baik dari pada kamu.. Karena aku yakin.. dia kan lebih bahagia tanpa kamu?" Tegas Salwah dengan lantang
Ahmad hanya bisa melarikan diri dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Sesaat setelah pintu mobil tertutup, Ahmad menatap lagi ke arah foto pernikahannya dengan Andini
"Itu tidak benar kan? Kamu akan kembali ke padaku kan? Cintamu hanya untuk aku kan? Andini!!"
*****
###Bersambung
__ADS_1