
Dari Ummu kultsum RA ia berkata"Saya tidak pernah mendengar Rasulullah Saw memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam tiga hal:Orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan, orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (Mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)".
(HR.Muslim).
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
MENCEGAH..
Andini terus memperhatikan Tiara yang nampak gelisah sejak pulang dari majelis ramadhan semalam. Ia hendak bertanya namun selalu saja takut jika Tiara selalu mengelak darinya .
"Kamu kok liat aku sampai begitu Din?" Tanya Tiara heran .
Andini terkekeh geli dibalik niqobnya.
"Kamu sadar gak kalau ekspresi mu itu lebih mengherankan dari pada caraku melihatmu" Tanya balik Andini .
Tiara tidak menjawab nanmun kembali mengintip luar jendela rumah pondok yang mereka tinggal. Andini mendekat.
"Kamu mau ngintip santri" Goda Andini
Tiara pun refleks mencubit lengang Andini karena gemes, Andini mengiris pelan .
"Sembarangan kamu!! Kamu bukan mau mengintip santri... Aku cuma mau memastikan jika Akh Odi tidak berbuat macam-macam sama Akh Salman" Jelas Tiara.
"Jadi kamu ngintip Akh Odi?? Jadi akh Odi bukan santri ya??" Sindir Andini .
Tiara bertambah gemes sama Andini
"Andini!! bukan itu tujuannya!!"
Andini kembali terkekeh, lalu menarik tangan Tiara untuk duduk di sofa berdua.
"Jelaskan kepadaku kenapa kamu berfikir jika Akh Odi akan berbuat macam-macam kepada Akh Salman?" Tanya Andini .
Tiara menarik nafas sesaat sebelum menjelaskan apa yang ia dengar semalam.
"Jadi.. semalam itu.."
Flashback On.
Salman turun mimbar yang disambut oleh Ardi, Arsyad, dan Firman seperti biasanya. Odi, Setyo dan Vanno pun mendekatinya .
"Afwan Akh Salman ..., Syukron karena telah menyindir kami secara terang-terangan!!! Tapi ingat jika Akh Tio melakukan sesuatu hal buruk dan kami terkena getahnya lagi , maka Akh Salman yang akan bertanggung jawab atas hal tersebut!!!" Ancam Odi.
Salman hanya menatapnya , Firman hendak maju dihadapan Odi namun ditahan oleh Ardi dan Rasyad. Mereka pun membubarkan diri.
Tiara keluar lebih dulu untuk melihat kemana perginya Odi, Fanno, dan Setyo . Mereka ternyata berkumpul di samping timur masjid yang membicarakan sesuatu .
Tiara mendekat diam-diam.
"Pokoknya , kita harus membuat Akh Salman jera!!! Dan tidak berani lagi untuk ceramah macam-macam!!!" Ujar Setyo
"Besok aku akan mengambil ponsel Tio .. terus aku SMS Salman supaya mereka berdua temuan di belakang pesantren. Rokok udah siap , mereka berdua tinggal kita adukan sama Abah" Usul Vanno .
"Ya.. dan setelah itu tamatlah riwayat Salman dan Tio!!! Mereka berdua akan di keluarkan langsung oleh Abah tanpa dipertimbangkan lagi" Tambah Odi.
Flashback Off.
Andini mengepalkan kedua tangannya kesal karena mendengar apa yang Tiara katakan .
"Ayo.. Kita sekarang pergi ke rumah Ukhti Sarah dan Ukhti Nilam . Kalau benar apa yang kamu katakan benar . Maka kita harus segera menyelamatkan Akh Salman dan Akh Tio" Ajak Andini .
Tiara menurut dan segera mengikuti langkah Andini menuju ke rumah Sarah dan Nilam. Ketika mereka sampai di sana, mereka pun menceritakan apa yang Tiara dengan semalam .
"Astaghfirullah hal adzhim!!! Kenapa baru sekarang ukhti Tiara menyampaikan kepada kami???" Tanya Sarah marah .
"Afwan ukhti, saya takut di bilang menyebar fitnah , jangan sampai merek tidak jadi melakukan rencananya, lalu saya yang akan disalahkan" Jawab Tiara
"Ukhti Tiara hanya ingin memastikan dulu ukhti Sarah... Apa yang mereka lakukan itu benar karena perkara fitnah itu bukanlah hal yang remeh" Ujar Andini .
"Ukhti Sarah, sebaiknya kita segera memberitahukan kepada Abah dan Bu-nyai tentang perkara ini, Akh Salman dan Akh Tio mungkin masih sempat kita selamatkan jika kita berbicara kepada mereka" Saran Nilam.
"Baiklah mari kita semua ke rumah Bu-Nyai" Jawab Sarah
Mereka pun menuju rumah Bu-Nyai , namun Andini melihat Salman yang sedang berjalan dari arah pondok santri dengan ponsel berada di tangannya.
"Ukhti... Kalian semua saja yang pergi ke tempat Bu-Nyai , ada yang harus mencegah Akh Salman keluar dari area pesantren, saya akan mencari Akh firman, Akh Rasyad, atau Akh Ardi" Ujar Andini .
__ADS_1
"Baiklah Ukhti..." Balas Nilam .
Andini pun bergegas berlari mengusul langkah Salman yang sudah hampir mendekati gerbang samping pesantren. Pria itu masih memegang ponselnya. Tak ada waktu untuk meminta bantuan siapapun.
"Akh Salman!!!" Panggil Andini dengan lantang. Ia menyadari bahwa dirinya gak sanggup menyamai langkah Salman . Salman pun menoleh ke arah Andini dan kembali berdiri ke arah Andini berdiri .
"Ada apa Ukhti Andini??? Kenapa ukhti memanggil saya seperti ada yang salah??" Tanya Salman yang merasa khawatir dengan Andini .
Andini memutar otaknya dengan cepat .
"Afwan Akh Salman...., Afwan karena saya berteriak ketika memanggil Akh Salman. Saya tidak mampu mengejar Akh Salman yang berjalan terlalu cepat" Jawab Andini dengan nafas yang masih terputus-putus.
Seketika , Salman merasa bersalah karena berjalan terburu-buru.
"Afwan Ukhti saya tidak bermaksud membuat ukhti berlari mengejar saya , lagipula ada apa , sehingga ukhti harus mengejar saya?" Tanya Salman lagi .
"Be..begini Akh Salman saya diminta Bu-Nyai untuk memanggil akh Salman ke gudang samping rumah pondok santri bagian timur. Beliau menunggu Akh Salman untuk mengatakan sesuatu " Andini terpaksa berbohong .
Salman pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju ke arah gedung di samping rumah pondok santri . Andini mengikuti langkah pria itu dari belakang. Salman menoleh sesaat .
"Ukhti Andini ikut bersama saya?" Tanya Salman menyakinkan diri .
"Ya.. Akh Salman , saya harus menemani Akh Salman ke gudang untuk menemui Bu-Nyai" Jawab Andini
Mau tidak mau, Salman pun tersenyum . Ia tahu, bahwa sesungguhnya Andini sedang berbohong kepadanya.
Mereka berdua tiba di depan gudang samping rumah pondok santri . Salman melirik ke arah Andini sesaat .
"Jadi.. Bu-Nyai ada di dalam?" Tanya Salman sekali lagi .
"Ya, Akh Salman bu-nyai ada di dalam sedang menunggu akh Salman" Jawab Andini .
Salman pun membuka pintu gudang lebar-lebar, ia melihat tidak ada siapapun berada di gudang itu, ia kembali tersenyum .
"Ukhti... Apa ukhti yakin kalau..."
Brukk!!!
Salmanpun terjerembab ke dalam gudang setelah Andini mendorong punggungnya dengan keras dan cepat . Andini pun buru-buru menutup pintu lalu menguncinya rapat-rapat.
Salman berlari ke pintu .
"Ukhti Andini !! Buka pintunya Ukhti!!" Teriak Salman
****
Odi, Setyo dan Vanno menghadap pada Abah di rumahnya. Mereka duduk berhadapan secara langsung .
"Jadi... benar kalau Tio dan Salman bertemu dihalaman pesantren saat ini?" Tanya Abah.
"Benar Abah, kami liat sendiri. Mereka sedang merokok bersama di belakang pesantren" Jawab Setyo .
Abah mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan santainya . pria paruh baya itu meminum tehnya dalam cangkirnya.
"Ayo Bah, kita tangkap basah mereka. Mereka tidak akan mampu mengelak lagi kalau kita tangkap sekarang" Odi berapi-api.
Abah terkekeh.
"Kenapa buru-buru sekali?, pelan-pelan... Supaya kita benar-benar tahu letak permasalahannya sebenarnya" Ucap Abah .
"Pergi kemana?? Dari tadi saya ada disini!!!" Ujar Tio dari arah pintu dapur rumah Abah .
Mereka pun terpaku di tempatnya .
*****
"Ukhti Andini... tolong... buka pintunya ukhti" Pinta Salman pelan-pelan.
"Afwan Akh Salman , jangan salah paham . Saya tidak bermaksud jahat , saya hanya berusaha menolong Akh Salman" Ujar Andini ditengah kekalutan hatinya .
Salman berusaha mendengarkan dengan baik dari balik pintu gudang .
"Saya tidak marah ukhti , percayalah. Tapi saya butuh penjelasan dari apa yang ukhti lakukan saat ini" Ujar Salman .
Andini berusaha menenangkan hatinya sesaat , ia bersandar dari balik pintu luar gudang itu .
"Pertama..., tolong maafkan saya yang telah berbohong kepada Akh Salman" Ujar Andini
__ADS_1
Salman tersenyum dari balik pintu bagian dalam gudang .
"Iya ukhti ... saya sudah memaafkan ukhti . Saya tahu sejak awal kalau ukhti sudah berbohong, jadi saya tidak terkejut". Balas Salman .
"Ini pertama kalinya saya berbohongsecara frontal, rasanya seperti saya sudah melukai fisik seseorang. Apa Akh pernah Merasakan hal seperti ini" Tanya Andini .
"Ya... Saya pernah merasakannya ukhti. Saya ini manusia biasa yang pernah berbohong dalam keadaan tersudut seperti yang ukhti lakukan, ukhti tak perlu merasa bersalah , saya tahu kalau ukhti melakukan ini untuk kebaikan.. Allah itu maha pengampun ukhti... Allah tahu segalanya" Jawab Salman .
Andini menarik nafas dalam-dalam. Berusaha melepaskan rasa sesak yang menghimpit kedalam dadanya.
"Saya tidak punya pilihan lain Akh.., saya tidak tahu bagaimana caranya supaya Akh Salman tidak melangkah keluar dari area pesantren, hanya berbohong yang bisa saya lakukan untuk mencegah hal itu" Jelas Andini .
"Ada apa kalau saya keluar ukhti?? Apa yang terjadi jika saya keluar?"Tanya Salman .
"Afwan Akh Salman, saat ini saya gak bisa mengatakan yang sebenarnya. Saya tahut terjadi fitnah jika saya mengatakan karena hal tersebut belum terbukti" Jawab Andini .
"Hal apakah itu Ukhti... Beritahu saja pada saya .. saya tidak akan menyalakan ukhti" Pinta Salman .
"Tunggu saja Aku Salman , saya akan memberitahukan jika sudah terbukti" Balas Andini .
"Bagaimana caranya membuktikannya ? sementara ukhti ada didepan pintu gudang ini dan saya berada di dalam ..." Salman kebingungan.
"Ya Allah... Tolong Jauhkan hambamu yang shaleh ini dari fitnah yang keji. Aku mohon berikanlah kebaikanMu di setiap langkahnya, berikanlah rahmatMu di setiap waktu dan berikanlah perlindungMu di manapun dia berada, Amin".
Andini terus berdoa tanpa henti , sementara Salman duduk di lantai seraya bersandar pada pintu gudang .
"Ukthi.." Panggil Salman
"Ya, Akh Salman ... " Jawab Andini .
"Tolong jangan pergi.." Pinta Salman
Andini terdiam .
"Tolong tetap di depan pintu dan temani saya sampai tiba waktunya untuk saya keluar dari sini" Lanjutnya .
"Ya.. saya tidak akan kemana-mana Akh Salman , saya akan tetap disini , insyaallah" Jawab Andini .
Salman tersenyum bahagia .
"Apakah jawabanmu akan sama jika aku memintamu untuk tetap bersamaku sampai akhir hayat?" Batinnya.
"Ukhti Andini!!!" Panggil Tiara seraya berlari menghampiri Andini di depan gudang.
Keduanya berpelukan beberapa saat. Sarah, Nilam dan beberapa santri lain mengikuti langkah mereka.
"Ukhti Andini dimana Akh Salman?" Tanya Firman
Andini segera membukakan pintu gudang dan mengeluarkan Salman dari dalam sana. Firman pun segera memeluknya dengan erat .
"Alhamdulillah Ya Allah.. tidak terjadi apapun kepada sahabatku ini" Ujar Firman .
Rasyad dan Ardi pun terlihat memegangi Odi , Fanno dan Setyo di belakang Abah .
"Alhamdulillah Allah masih menyertai langkah Salman dan melindunginya melalui Ukhti Tiara dan Ukthi Andini .Allah selalu bersama orang-orang yang berhati bersih" Ujar Abah .
Salman masih kebingungan .
"Tunggu dulu.. Ada apa ini sebenarnya!!!" Tanya Salman .
****
Sore itu Abah mewakili Tiara dan Andini menceritakan segalanya kepada Salman secara detail tentang apa yang terjadi. Salman tidak berhenti mengucapkan syukur dalam hatinya karena masih diselamatkan oleh Allah dari fitnah yang keji, melalui kebaikan hati Tiara dan Andini .
Ardi merangkul Salman ketika mereka kembali menuju rumah pondok santri bersama Rasyad dan Firman .
"Akh Salman seharusnya liat sendiri, bagaimana Ukhti Tiara berlari ke rumah pondok santri bagian barat untuk mencari Akh Tio" Ujar Ardi .
"Benar Akh... Ukthi Tiara benar-benar panik luar biasa hanya demi menyelamatkan Akh Tio dari fitnah Akh Odi, Vanno dan Setyo. Kami saja sampai panik..." Tambah Rasyad .
Salman tersenyum.
"Kalian juga seharusnya liat sendiri bagaimana Ukhti Andini mengejarku demi menghentikan aku agar tidak keluar dari area pesantren. Bahkan aku tak habis pikir , betapa nekatnya dia mengunci aku di dalam gudang" Ujar Salman .
Mereka tersenyum.
"Tak ada yang tahu bagaimana isi hati seseorang. Begitu juga dengan mereka yang kita pikir tak pernah memperhatikan apapun. Nyatanya.. merekalah menyelamatkan Akh Salman hari ini" Ujar Firman .
__ADS_1
'Ya... Aku takkan melupakan hari ini .Hari dimana kau uang tak pernah menatapku namun selalu ada dalam doaku , menunjukkan rasa pedulimu padaku , dengan caramu sendiri'