
"Apa kau baik-baik saja?"
Seru Logi, semula Kara mematung di tempat kemudian dengan perlahan menoleh lalu menunjukan senyum buatan. Tetapi sangat menyakinkan.
"Aku baik-baik saja! kalian bersenang senanglah!"
Kara pergi melanjutkan langkah sembari melambaikan tangan sekejab. Logi terdiam. Meski Lunacy langsung menyadarkannya.
"Jadi tidak mencari kado!"
"Ah, iya jadi kok!"
Logi menoleh ke arah Lunacy yang sudah memasang wajah cemberut. Akan tetapi ia menghela nafas. Melepaskan gandengan dari tangan Logi perlahan. Lunacy jadi kasihan terhadap Kara. Ia menjadi wanita serakah menguasai dua lelaki sekaligus. Tetapi ia masih belum mau menyelesaikan permainannya dengan Diego. Maafkan aku nona klasik. Aku harus melukai perasaanmu nantinya...
"Senyummu sangat jahat?"
Mendengar ucapan Logi. Lunacy tersadar dari lamunan mengerikannya. Dan menoleh terkekeh sopan.
"Benarkah apa aku jelek seperti ini?"
"Tidak sama saja..."
__ADS_1
"Lalu kenapa kau bilang jahat?"
"Terkadang incubuspun tersenyum manis untuk menggoda mangsanya..."
"Apa kau sedang mengejekku iblis?"
"Kau iblis kesayanganku!"
Logi kemudian memeluk mesra tubuh Lunacy dengan manja sangat erat. Membuat Lunacy Yang sempat berpikir negatif kembali ke zona positif. Aku kira pria ini sedang berpikir buruk tentangku.
Logi pria tampan dengan perawakan yang sangat menggoda. Aku tidak tahan jika terus berada di sisinya. Aku merasa iri dengan wanita di Masalalunya. Pasti senang sekali mendapatkan sentuhan lebih di atas ranjang atau sofa dengan menggila. Lunacy mengigit bibir bawahnya.
Uh! beri aku kesempatan saja hanya sekedar semalam melihat seberapa tangguhnya Logi ketika bergulat di atas ranjang. Lunacy wanita yang benar-benar seperti jelmaan Incubus. Padahal Logi sebisa mungkin mengontrol hasrat dan nafsunya. Ia tak ingin mengulangi kesalahan masalalunya itu.
Aku ingin lebih baik berangkat mengajar lagi di sekolah aku harap ini bukan liburan. Aku ingin melihat kekocakan anak muridku ketika di kelas. Mungkin saat ini candaan mereka bisa meringankan kemarahanku kekesalanku yang tertahan ini. Kara menendang kaleng minuman kosong ke arah tong sampah. Menyebabkan bunyi dentingan kosong mengisi kesunyian.
"Besok aku menikah..."
"Besok aku menikah..."
"Besok aku menikah..."
__ADS_1
Kara mengulangi perkataannya terus menerus seperti sedang berhitung. Kelihatannya kesabarannya sedang di kuras habis-habisan di uji tanpa henti.
Aku rindu dengan keluarga juga semuanya aku rindu mereka...
rindu sekali...
di saat seperti ini....
Kara tanpa sadar meneteskan air mata kemudian mulai terisak menangis tersedu sedu.
Aku ingin menyudahi perasaanku...
Ingin menyudahinya...
Aku lelah...
Kara berjalan dengan suara isakan tersembunyi ia tutupi mulut dengan tangan kanannya. Tidak ingin seseorang mendengar suara keputusasaannya. Ia sedang menghadapi pria yang 2 tahun lalu bersikap manis dan romantis kepadanya. Hanya kurun seminggu pria itu berubah drastis sering sibuk dan membentaknya.
Bahkan Kara mematikan ponsel mengganti wallpaper layar ponselnya yang semula gambar couple dirinya dan Diego. Perasaan Kara ikut berubah saat ini. Jika tidak ingin menikah kenapa Diego harus melamarnya dengan sangat fantastis dan romantis.
Membungkuk di depan khalayak. Tempat yang sangat di hias indah. Bunga bertaburan lilin kecil yang di nyalakan dengan sangat sempurna. Bentuk hati yang besar. Nama dan ucapan MAUKAH KAU MENIKAH DENGANKU.
__ADS_1
Peristiwa saat itu sangat bersejarah bagi Kara...