
Selesai menemukan kado pilihan. Letih berkeliling. Akhirnya Logi dan Lunacy kembali ke rumah hunian. Angin pantai mau siang atau malam terus saja ribut menerpa halus kadang kasar.
"Huh! udara dingin banget!"
Keluh Lunacy memeluk sendiri tubuhnya. Sedikit gemataran ia membuka pengunci pintu dan segera mereka berdua memasuki ruangan. Udara cukup hangat di dalam ruang tamu.
"Lunacy, sebaiknya cepat beristirahat."
"Eum.."
Logi menyibakan sesuatu di jaket kulitnya. Sepertinya ada barangnya yang hilang atau tertinggal di salah satu toko.
"Astaga!"
"Lunacy sebentar aku harus keluar ada barangku yang hilang!"
__ADS_1
Kemudian ia bergegas keluar dari pintu. Lunacy hendak mencegah tetapi langkah pria itu sangat cepat. Barang itu begitu penting salah satu bukti benda kasus yang baru-baru ini di selidikinya.
"Hm... dia selalu begitu"
Lunacy menghela nafas. Udara dingin masuk dari pintu yang terbuka ia memeluk ringan dirinya sendiri. Sembari melihat lampu mobil sedan hitam berputar balik arah kemudian pergi.
"Ya sudahlah..."
Iapun segera menutup pintu. Atau akan mengigil dengan udara dingin yang teramat berat masuk ke pernafasan. Logi sudah sampai di perempatan tempat ia memakirkan mobil secara umum di tempat parkiran kendaraan umum. Ia bergegas turun dari mobil dan segera meyambangi lokasi toko sebelumnya ia merasa meninggalkan barang. Tetapi tiba saja tetesan air mengenai dahinya. Dan semakin banyak semakin banyak. Kemudian hujan turun dengan deras. Hujan pengantar duka, Logi baru ingat hari ini ada yang meninggal secara tidak lazim. Mungkin di belahan dunia lain juga begitu. Hujan ini menandakan duka orang yang sudah mati. Namun kebahagiaan bagi yang hidup.
Ia berlari kecil segera mencari tempat untuk berteduh. Ia berteduh di pinggiran latar ruko yang sudah tutup.
Gumam Logi. Udara semakin dingin. Logi bersin sesekali. Kemudian memeluk tubuhnya sendiri yang sedikit merinding mengigil karna udara dingin dan hujan yang sangat lebat. Kedua bola matanya mengawasi sekitar. Kendaraan di jalan raya masih lalu lalang ramai. Namun di seberang...
Mata Logi melotot berusaha mengenali seseorang di seberang sana berjalan di balik hujan yang amat deras. Jalannya begitu tertatih santai sangat lambat. Pakaian yang di kenakan... sama seperti...
__ADS_1
"Kouchi-san apa yang dia lakukan di sana?"
Sebenarnya Logi enggan menyentuh dinginnya air hujan lagi. Rasa penasaran mengelabuinya. Bergegas ia menerobos derasnya air hujan. Hendak menyebrangi jalan raya dengan mobil ataupun motor melaju lalu lalang. Berhati hati ia melewati lalu lintas menyebrang. Sampai di seberang, Logi segera mengejar langkah Kara dan menghampirinya. Jarak mereka masih sekitar 1 meter. Namun Logi langsung memanggil Kara.
"Kouchi-san!"
Seketika Kara berhenti melangkah, dan menoleh perlahan. Logi di buat terkaget menerka, Wajah Kara sangat pucat membiru. Pakaian yang di kenakannya sangat basah sepertinya yang membuatnya seperti itu bukan air hujan. Senyum yang tersungging terbaca getir. Kenapa dia sangat menderita?
"Logi-kun..."
Lirih bibirku menyahuti. Tapi tubuhku kehilangan daya keseimbangan, aku hendak terlelap. Logi bergegas berlari menangkap tubuh wanita yang sekarang sedang berada di puncak kerapuhannya.
"Kouchi-san apa yang terjadi!"
Logi terus menyerukan nama marga wanita tersebut. Namun Kara telah kehilangan 100% kesadarannya. Logi masih menahan tubuh Kara dalam posisi hampir terjatuh. Wajah Kara sangat pucat tidak ada waktu berpikir. Logi tahu apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
"Tenanglah Kouchi-san aku akan segera membawamu ke rumah sakit!"
Logi berusaha tidak termakan kepanikan, ia menggendong tubuh Kara ala bridestyle. Tubuhnya cukup ringan dalam sekali angkat. Wanita bertubuh mungil dengan paras imut itu. Dalam keadaan menderita secara rohani.