
Bersamaan dengan dokter yang menangani sekilas kondisi Kara keluar dari ruangan. Di saat itu Diego muncul dengan berlari kecil ke arahnya.
"Astaga apa yang terjadi!"
Diego terngengah engah dengan langkahnya kemudian menengok ke arah dokter wanita tersebut.
"Apa kalian keluarganya?"
"Saya pacarnya!" Diego langsung menyela.
"Benar dia pacarnya..." Logi ikut membenarkan.
"Baiklah... kondisi nona Kara di picu karna kekurangan asupan energi. Sepertinya ia mengurangi jatah makan sehat dalam sehari atau mungkin telat makan. Karna asam lambungnya naik. Sepertinya pacar anda penderita mag akut."
Dokter itu menjelaskan perincian kenapa Kara bisa pinsan seperti tadi. Logi menghela nafas bersyukur tidak terjadi hal yang fatal, sekarang permasalahannya hanya Kara tidak makan seharian atau telat makan. Tapi apa yang memicu Kara sehingga dia berbuat demikian. Logi melirik Diego berbincang sesuatu dengan Dokter tersebut. Rautnya terlihat sekilas khawatir lalu mereda. Kemudian dokter itu pergi meninggalkan keduanya. Waktunya Logi mengintrogasi melempar sebuah pertanyaan seputar Kara seharusnya.
"Brother... apa kau tahu jika pacarmu telat makan sampai kehilangan separuh energinya aku kira kau selalu menghubunginya?"
__ADS_1
"Aku terlalu sibuk sampai aku lupa kalau Kara juga membutuhkan perhatian..."
"Besok hari pernikahanmu apa tidak apa bersikap egois seperti itu..."
"Aku sibuk.. kau tahukan kerjaanku menumpuk..."
"Aku juga... tapi ini keterlaluan, bisakah kau mengosongkan waktu sampai hari esok. Besok adalah hari sakral untukmu!"
Logi mulai menegaskan perkataannya. Percakapan mereka berhenti sampai di situ, raut Diego di hujami dengan rasa bersalah. Logi menghela nafas menepuk pelan bahu kiri Diego.
"Ku harap kau bisa lebih mengerti sedikit. Sudah resikonya jika kau ingin menjalankan kehidupan rumah tangga. Berubah lah menjadi satu tingkat lebih dewasa."
"Baiklah sepertinya dia sudah siuman, jaga baik-baik calon istrimu itu temani dia sampai hari esok tiba..."
Logi melihat sekilas dari jendela ruangan kaca tersebut. Kara sedang terbaring dan dia sudah tersadar.
"Aku harus kembali ke rumah Lunacy, dia pasti menungguku saat ini aku tidak mau membuatnya khawatir.
__ADS_1
Mendengar nama Lunacy, ekspresi Diego langsung berubah tegang. Atmosfer berbeda itu juga di rasakan Logi, namun dia tak mungkin mencurigai orang yang esoknya akan menikah. Belum lagi juga Diego sahabat terbaiknya. Tidak mungkin melakukan merahasiakan hal menyakitkan di belakangnya.
"Oh ya hati-hati di jalan, besok pagi aku akan menghubungimu untuk membantu persiapan!"
"Aku akan senang hati..."
Logipun meninggalkan Diego seorang diri, yang kemudian memasuki ruangan berhati hati membawa langkahnya. Dan sampai di ruangan Kara mengalihkan pandangannya. Rasa kesal Kara belum mereda. Diego memasang badan penuh rasa bersalah. Ia menarik kursi di sebelah tak jauh dari ranjang Kara di baringkan, dan duduk di sini. Perlahan kedua tangannya meraih tangan Kara.
"Maafkan aku Honey..."
"Aku menyesal..." tambahnya.
Kara menolehkan kepalanya dengan alis menyatu mau mengekspresikan kemarahanpun, kondisinya masih belum memungkinkan.
"Kau tahu aku lelah sendirian, mempersiapkan pernikahan yang mendadak ini sendirian. Mengingat kau akan ada perpindahan perusahaan di luar negeri selama 2 tahun, dari awal kalau tidak siap kenapa kau melamarku!"
Akhirnya pertanyaan itu terlontar menjadi sebuah pukulan berat bagi Diego. Ia menunduk terdiam mengigit bibir bawah, lalu mendongak memaksa senyum.
__ADS_1
"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, besok akan jadi hari paling bahagia untuk kita..."