Kemungkinan

Kemungkinan
Episode 2


__ADS_3

Lelah, Nina mencampakkan badannya di ataa kasur. Sekolah sangat melelahkan, pikirnya. Belajar 7 jam, dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore, ekskul sampe jam 5. Emang aku robot apa? Habis ini mengerjakan PR.


"Nina, ganti baju, jangan tiduran mulu." terdengar teriakan cempreng mami dari luar kamar.


"Astaga mami! Baru aja sampai. "


"Cepat mandi."


"Ya Mamiiiii.."


"Ingat hari ini Les Inggris."


Oh ya, hari ini ada les bahasa inggris. Sumpah, udah kayak robot, ujar Nina dalam hati. Dengan berat hati Nina turun dari tempat tidur.


Di tempat les masih sangat sepi. Mami terlalu cepat mengantarnya. Itu karena mami mau segera pergi ke acara pertemuan ibu-ibu sekompleks. Nina duduk sambil bengong melihat papan tulis putih. Pintu kelas terbuka, ada seseorang yang masuk. Itu Rey, cowok yang tadi siang menepuk pundaknya di sekolah.


"Hey, kamu kok disini?" Ucap Rey


"Aku udah lama les disini."


"Wah, untung ketemu kamu disini."


Ucap Rey sambil langsung duduk di sampingnya.


Kelas sudah penuh dengan murid-murid. Instruktur bahasa inggrispun memulai pelajaran. Sesekali mereka melakukan dialog, dan Nina wajib berpasangan dengan Rey. Terlebih lagi saat ada permainan bahasa inggris. Mereka berdua terlihat seperti sudah berteman lama. Kami seperti ini cuma di tempat les aja, di sekolah pasti ga bisa seakrab ini, pikir Nina.


Les bahasa inggris selesai, Rey dan Nina berjalan bersama keluar. Nina celingukan mencari mobil maminya. Tidak ada mobil mami, Ninapun menelepon maminya.


"Mi, dimana?"


"Tunggu disana dulu ya Nina, setengah jam lagi Mami otw."


"Yah, mami. Nina kan ada PR."

__ADS_1


"Ya sabar Na, mami masih ada pertemuan ini."


Nina mematikan telponnya dengan kesal.


"What happened, Na?" Tanya Ms Riris, pengajar di tempat les.


"Mom said she will pick me up in 1 hour, Ms."


"Your mom must be busy."


"I drive you home." tiba-tiba Rey menawarkan mengantarkan Nina kerumah.


"Wow, great idea." ucap ms Riris.


" We are classmate." ucap Rey lagi yang artinya kami teman sekelas.


"You are driving car?"


Kamu mengemudi mobil?


Bukan mobil, tapi motor, motor elektrik.


"Owh, you should say riding a bike."


Owh, harusnya kamu bilang mengendarai motor. Ms Riris mengoreksi.


"Ya ms, Ride a bike."


Nina mengikuti Rey keluar tempat les. Sebuah motor dengan 3 roda.


"Nanti ban motornya kempes gara-gara badanku." Nina merasa gelisah.


"Duh motorku ga selemah itu." Rey berkata sambil tersenyum bangga.

__ADS_1


"Ok, karena kamu yang ngajak, jangan minta ganti rugi kenapa-kenapa ya. Uang jajanku cuma 20ribu sehari."


"Tidak akan ada apa-apa."Rey berkata dengan nada pelan.


Motor menyala dan mereka berangkat. Ini adalah pertama kali seseorang memboncengnya dengan motor. Nina memandangi sekitar namun kemudian terhenti pada tengkuk Rey. Tengkuk orang cakep. Tengkuk Rey dan rambutnya, sekilas terlihat bulir keringat di lehernya. Tangan Nina gatal ingin melap leher Rey. Stop Nina! teriaknya dalam hati. Nina menduga-duga apa pendapat Lia kalo tau dia dibonceng Rey hari ini.


Tiba-tiba handphone Nina berbunyi.


"Aku boleh angkat telpon ga?" tanya Nina pada Rey.


"Ya, angkat aja."


Rey memelankan motornya dan Ninapun menjawab telpon.


"Ya mi?"


"Tunggu lima menit lgi ya sayang."


"Nina lagi dalam perjalanan ke rumah, Mi."


"Sama siapa?"


"Sama teman les."


"Cowok?"


"Iya Mi."


"Perhatian banget, pacar ya?"


"Engga mi, engga mungkin. "


Rey yang didepan bisa mendengar pembicaraan itu. Dia tertawa kecil hingga helmnya berembun.

__ADS_1


"Oke deh, Nina. Bilangin pacarmu buat hati-hati ya. Bye-Bye." Tuuut.


Duh, mami! Nina merasa kesal sekaligus malu.


__ADS_2