
Nina secara hati-hati turun dari motor.
"Sudah sampai, terimakasih ya Rey."
"Ok."
"Ini helmnya." Ucap Nina sambil menyodorkan.
"Tunggu dulu." Rey bukannya mengambil helm dari tangan Nina malah mengeluarkan handphonenya.
"Ada apa?" Nina bingung.
"Aku minta no handphone kamu."
"Buat apa?"
"Ya biar aku simpan di hp aku."
Nina merasa bingung tapi tetap menyebutkan nomor hpnya.
"Ini helmnya." Ucap Nina lagi.
Rey tidak menggubris malah menekan tombol dial di hpnya. Alhasil hp Nina berbunyi.
"Ok, sudah aku miscall ya." Ucap Rey tersenyum sambil menyalakan motornya.
"Helmnya?"
"Pegang aja dulu, besok aku jemput. Hpnya diaktifin ya."
"Wait, what?"
__ADS_1
"Bye, Bye Nina." Ucap Rey sambil tersenyum.
"Ya..bye-bye-terimakas..ih" Nina terbata sambil melihat kepergian Rey.
Dia terdiam sebentar, melihat jalan dan melihat helm yang dia pegang. Dengan perasaan tidak percaya dia kemudian masuk ke dalam rumah.
Nina masuk kerumah dan langsung menuju kamarnya. Ah, aku lelah banget, pikirnya. Nina meletakkan tasnya di kursi dan kemudian helm pemberian Rey di atas meja. Masih merasa tidak percaya kalau Rey akan menjemputnya besok. Belum lagi mereka tadi bertukar nomor telepon. Apa yang terjadi sekarang? Rey itu termasuk cowok favorit di sekolahnya, sementara dirinya? Bagaimana mungkin mereka bisa sedekat itu? Ah, terserahlah. Nina membaringkan tubuh gendutnya di atas kasur.
Rey sedang berkumpul dengan teman-teman cowoknya. Mereka tampaknya membicarakan sesuatu yang seru.
"Coba tebak, aku dapat no hp siapa?"
Temannya tertawa riang, saling menyebutkan nama-nama murid perempuan yang populer di sekolah.
"Kalian semua salah. Aku dapat nomor hape Nina, hahahha."
"Buat apa Rey?" teman-temannya bingung.
"Oh ya, Benar! Buat didaftarin ke biro jodoh."
" Pokoknya didaftarin ke iklan-iklan yang sering ganggu kalo lagi main game."
"Hahaha, boleh juga tuh."
Mereka tertawa terbahak-bahak.
Nina tidak sengaja lewat dan mendengar hal tersebut. Dia terkejut dan sangat marah hingga ingin menangis. Handphonenya tiba-tiba berdering kencang dan iklan-iklan aneh masuk ke akun whatsappnya. Nina marah dan dia langsung berlari ke arah Rey. Dengan kuat dia menjambak rambut Rey. Rey tidak sanggup menghadapi Nina, dan dia terjerembab dari kursi begitu pula Nina. Mereka berdua jatuh ke lubang yang dalam.
"Nina! Ada apa?"Teriak Mami cemas, dia membuka pintu kamar Nina.
Nina terjatuh di atas lantai tempat tidur. Dia terbangun dengan rasa kaget. Handphonenya berdering kencang dan mami berdiri di pintu dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Nina mimpi buruk Ma."
Mami menggelengkan kepala.
" Lagian kamu tidur jam 6 sore gini. Baju belum diganti, belum mandi pula."
Nina melihat jam dan melihat baju sekolah yang dipakainya.
" Ayo mandi, habis itu makan malam. Oh, lihat tuh hp bising amat. Siapa yg nelpon? Pacar kamu?"
"Apaan sih ma?" Ucap Nina sambil bangkit meraih handphonenya.
Nina melihat layar hp, dan sebuah nomor telpon muncul sebagai panggilan tak terjawab. Nomor handphone dengan foto profil wajah Rey. Nina terkejut dan melempar handphonenya.
"Wah, ada apa?"Ucap mami heran melihat kelakuan anak gadis satu-satunya.
"Ga ada ma. Aku mandi dulu."
Nina mengambil handuk dengan pikiran yang masih shock. Mami mengangkat bahu dan kemudian pergi keluar dari kamar.
Sehabis mandi, Nina merasa tubuhnya sangat segar. Dengan perasaan segar ini, aku mungkin sudah bisa menghadapi kenyataan, pikirnya. Walaupun mimpi buruk tadi masih menghantui, Nina memberanikan diri melihat handphonenya. Terlihat pesan whatsapp.
Nina, ini nomor hp aku ya.
Rey
Ninapun menekan tombol balas dan mulai mengetik.
Ok
Nina mengetik tombol send.
__ADS_1