
Hari ini pembagian nilai Penilaian harian pertama. Nina memandangi kertas hasil ulangannya. Semuanya bertabur angka 70an. Syukurnya nilai kelulusan adalah 70, tapi ini pasti tidak akan memuaskan mamanya. Nina membayangkan wajah kecewa mamanya saat dia menyimpan kertas-kertas ulangannya ke dalam folder.
"Mamaku pasti kesal aku dapat nilai jelek di pelajaran olahraga." ucap Lia.
"Kamu masih mending nilai olahraga yang jelek, aku ga dapat nilai 80 di pelajaran apapun." ucap Nina sedih.
"Sabar ya Nina." ucap Lia. "Tapi aku heran deh, kenapa sih guru olahraga kita pelit banget kasih nilai. Mana soal ulangannya susah lagi. Siapa juga yang hafal ukuran lapangan sepak bola, lapangan voli, itu ga ada faedahnya sama sekali di hidupku deh." Lia melanjutkan ocehannya tentang pelajaran olahraga.
Nina mengangguk-anggukkan kepalanya seolah-olah mendengar, namun pandangannya mengarah ke arah yang lain. Di luar pintu, terlihat sekelompok siswa lelaki kelas sebelah bergerombol berjalan melewati kelasnya. Nina mencari sosok Rey, dan benar saja dia ada di antara mereka. Rey menoleh ke dalam kelasnya. Apa dia mencariku? Ah, aku kegeeran, pikir Nina. Tapi Rey benar memandangnya, dan Rey ter-se-nyum. Ups! Jantung Nina seperti berhenti berdetak. Nina tersenyum kikuk. Dan Rey memalingkan wajahnya dan memandang ke depan kembali.
Nina memandang ke bawah kursi. Rey tersenyum, bajunya masih rapi dan rambutnya agak berantakan. Dia ganteng tapi kenapa dia harus ramah kepadaku? Dia ga boleh ramah kepadaku, karena aku cewek gendut, dan rata-rata cowok phobia kepada cewek gendut. Nina sampai mau menangis akan pemikiran ini.
"Trus ya Nina, aku rasa guru olahraga kita itu perlu di demo, dia taunya cuma lempar-lempar bola sama kita, suruh kita lari keliling lapangan berkali-kali, tapi begitu ulangan. Abrakadabra, Prank, soal-soalnya aneh dan ajaib." Lia ternyata masih lanjut berceloteh dan buku-bukunya belum selesai dibereskan.
Nina memandang sahabatnya. Coba saja aku memiliki wajah setirus Lia, mungkin aku tidak akan setakut ini untuk dekat dengan Rey. Nina mengambil satu-persatu buku Lia dan memasukkannya ke dalam tas sahabatnya itu.
__ADS_1
"Oh ya, hari ini kamu pulang sama Rey lagi?" tanya Lia tiba-tiba.
"Ah, apa? Masa?"
"Ya iya dong, tadi kan bareng, masa pulang sendiri-sendiri?"
"Ga mungkin kami bareng, ga mungkin kami bareng. Dia itu ganteng dan aku ya sudahlah."
"Lho ada apa dengan kamu, Nina. Kamu cewek yang keren, sahabatku yang paling baik dan menyenangkan yang pernah ada. Cantik itu disini." ucap Lia sambil menekan telunjuknya di dada Nina. "Bukan disitu." ucap Lia sambil menunjuk bangku Celine.
***
Nina dan Lia berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Sepeda motor roda tiga milik Rey berhenti di depan mereka. Wajah Nina terkejut dan agak pucat pasi.
"Nina, ayo. Lia, kami duluan ya." Ucap Rey dengan semangat.
__ADS_1
Lia mendorong Nina ke arah motor Rey. "OK, kalian hati-hati ya."
"Aku bisa pulang sendiri Rey, aku bisa jalan kaki hari ini." Ucap Nina terbata. Dia belum menyusun kata-kata dan deru nafasnya sendiri.
"Nina ngomong apa sih, hahaha." Lia tertawa melihat Nina yang salah tingkah. "Aku udah dijemput mama, bye-bye Nina."
Nina dan Rey sama-sama melihat kepergian Lia yang berlari-lari ke arah mobil mamanya.
"Ayo Nina."
"Ok."
Ada ada sebenarnya ini? Nina duduk di boncengan Rey. Matanya bergantian memandangi punggung Rey, rambut belakang Rey, dan keringat yang mengalir di pelipis lelaki itu. Kenapa Rey sangat ramah gini terhadap aku. Entahlah, biarin saja waktu yang menjawab, pikir Nina. Dia melemaskan badannya dan angin menggeraikan rambut panjangnya. Rey yang duduk di depan merasa sangat bersemangat dan berjanji dalam hati akan membuat perjalanan pulang Nina akan menjadi perjalanan pulang sekolah yang paling nyaman yang pernah ada. Dari kejauhan, Celina sangat kesal melihat Rey dan Nina berboncengan, bibir kecilnya mengerucut. Hari ini dia berbohong pada orang tuanya kalau dia akan pulang sekolah dengan Rey, tapi ternyata dia harus memesan ojek online untuk bisa pulang kerumah.
__ADS_1